Antara Tiga Matahari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 May 2017

Siang itu ketukan palu di meja hijau telah merenggut segalanya.. aku pun keluar dari ruang sidang utama dengan membawa kepiluan.. aku bertarung dengan rasa cinta yang telah tertanam di sanubariku bukan hanya untukku saja tapi juga untuk ketiga matahariku. Ya, mereka adalah Afrel dan kedua adik kembarnya bulan dan bintang.

Cerita bemula dari sebuah keinginan yaitu sowan ke rumah ibu yang telah mengandungku. Rengekanku malam itu berujung manis, suami menyetujui dan hendak mengantar. Pagi itu aku pun berkemas dengan hati riang, sebuah nasyid sholawat buah karya Opick terlantun dari bibir sembari mengemasi beberapa helai baju untuk keperluan menginap. Sore hari sepulang kerja suamiku pulang untuk mengantar. Bulan digendong ayahnya sembari menyetir motor sedang bintang terbuai nyenyak dalam pangkuanku. Dengan alasan repot kami meninggalkan Afrel tetap tinggal di rumah bersama neneknya (ibu mertuaku –red). “Nanti ayah pulang lagi jemput mbak ya kalo sudah nganter adik”, tutur ayah.

Sesampainya di rumah ibuku ayah bergegas menuju ke kamar menidurkan Bulan di ranjang. Aku letakkan pula Bintang di samping bulan. Aku melihat ada sesuatu yang janggal, semacam ada firasat tak enak di hatiku. Di situ ayah menatap kedua putranya dengan lirih, tak lama kemudian mengecup kening mereka dalam-dalam seperti ingin berpamitan jauh. Kemudian ia beranjak dan berpamitan menjemput putri sulungku. Malam itu kami tidur bertiga, walau sesekali ibuku terjaga untuk sekedar memastikan keadaanku dan anak-anakku, namun hati ini masih gelisah dan cemas.

Hari itu hari yang membuat penat pikiran, aku menunggu suami dan putriku yang tak kunjung datang, seperti mengharap senja yang datang menggantikan teriknya matahari. “Suami dan putriku, di manakah gerangan kalian berada tak sadarkah aku seorang diri mengeja kata demi kata lirih rindu dalam sanubari”, ujarku sendu.

Siang telah berganti malam, namun aku masih dalam penantian. Begitu ada suara sepeda motor yang tak asing lagi, rasa cemas berangsur hilang berganti kebahagiaan yang tersirat dalam senyum. Aku pun buru-buru keluar kamar menuju pintu. Benar saja yang datang adalah suami, beserta ayah dan ibunya, tanpa Afrel. Sebuah tanda tanya besar kembali memenuhi otakku, ada apakah gerangan?. Aku persilahkan mereka masuk dan duduk.

Tuhaaan… kedatangan mereka adalah untuk mengakhiri mahligai rumah tanggaku yang sudah kulalui selama 8 tahun. Suamiku mengembalikanku pada oangtuaku tanpa alasan yang jelas. Pertengkaran remeh temeh kami yang sudah belalu ia ungkap, tanda kekesalan dan alasan tak sanggup menghadapi sikapku yang kekanak-kanakan dan egois menjadi sebuah senjata paling mematikan untukku. Malam itu aku serasa menunggu bom waktu yang tiap detiknya mendekat dan segera meledak.. boom!!! “Hak asuh anak semua kuserahkan padamu, aku janji Afrel segera bersamamu ketika akta cerai telah terbit”. Ujar suamiku datar.

Berhari-hari aku menjadi orang linglung, segala cara kulakukan agar kami tidak bepisah. Tapi Takdir bekata lain, jodoh kami hanya sampai di sini. Duhai suamiku, sudah pasti tiadalah kau tau tentang hati ini. layaknya merpati yang di rundung sepi terus mencari tempat kembali, sebesar apapun cinta yang kau miliki tetaplah aku akan berakhir seorang diri. Aku harus tetap menjalani kehidupan tanpamu demi ketiga matahariku karena matahari itulah yang selalu menutupi gelapnya hati ini.

Perlahan aku mulai menata hati dan menatap masa depan.. mereka butuh aku! Ujarku tegas. Mereka tidak butuh ibu yang lemah dan sakit-sakitan. Maka aku beanjak dari tempatku melamun, kuambil air wudhu kemudian shalat 2 rakaat. Kubuka Al Quran secara acak, ada banyak jawaban atas tanda tanya besarku selama ini. Kudapati sebuah ayat, Allah tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuan umatnya, kemudian berlanjut di surat al insirah sesudah kesulitan itu ada kemudahan terulang sampai dua kali.. akhirnya aku menatap kedua putraku yang tertidur pulas aku tatap mereka dalam dalam, rasa haru menyelimutiku dalam hati terucap syukur..

Ya Allah..
Terima kasih untuk kurnia terindah ini
Terima kasih untuk anugerah tidak ternilai ini
Maaf telah sempat meragukan ke Esa-an Mu dan ke Maha an Mu
Ya Allah
Tak seharusnya aku bersedih..
Karena semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dan kehendakmu
Sehelai daun yang jatuh terputus dari rantingnya pun adalah sesuai dengan kehendak dan izin Mu

Engkau merencanakan semuanya hanya untuk kebaikan umatmu…
Tiadalah Engkau membebaniku kecuali engkau telah tau bahwa aku sanggup menopangnya

Ya Allah…
Engkau tidak tidur, Engkau dekat dengan umatmu.. sedekat urat nadi di leherku
Engkau maha mendengar dan melihat apa yang aku rasakan

Sejak itu segala cara aku tempuh untuk mencukupi kebutuhan.. memberikan secercah harapan untuk ketiga matahariku. Mulai dari berjualan pulsa, menerima ketikan, membuat dan menjual makanan untuk dititipkan ke kantin kantin sekolah, menjadi buruh cuci, sampai menjadi guru les privat ala coba-coba. Bagiku semua pekerjaan harus dicoba, harus dilakukan dengan penuh semangat dan tak lupa berdoa.

Saat ini aku merasa Allah memberikan jalan terang dalam kehidupanku di dunia. Aku berhasil menyekolahkan anak-anak ke SD dan TK tanpa bantuan orangtuaku, dan aku bisa membeli rumah kecil untuk kami berempat tinggal tentunya atas izin dan kehendakNya.

Para pembaca sekalian, maka yakinlah jika Allah mengurangkan sesuatu padamu maka Ia akan melebihkan sesuatu yang lain padamu. Yakinlah jika Allah mengambil sesuatu yang baik darimu maka Allah akan gantikan dengan yang lebih baik, karena Ia sangatlah penyayang..

Cerpen Karangan: Nining Winarsih
Facebook: Nining Winarsih

Cerpen Antara Tiga Matahari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Sorry

Oleh:
Aku adalah seorang superstar yang sedang naik daun. Namaku Aldy saputra Septiansyah, nama“septiansyah” di ambil dari nama ayahku. Aku memiliki seorang sahabat, namanya Denies Firdaus. Dia juga seorang superstar

Gamis Lebaran Untuk Ibu

Oleh:
“boleh kak baju nya silahkan di lihat-lihat” “ayo kak boleh bajunya murah” Ramainya suasana pasar menjelang lebaran diwarnai dengan pedagang yang bersaing menjajakan baju dagangannya dan terlihat pembeli yang

Aku Dan Kairo

Oleh:
Tepat pada pukul 02.00 itu aku dibangunkan oleh ibuku. Aku harus berangkat ke bandara sekitar pukul 03.30, karena aku harus pergi ke Kairo untuk melanjutkan pendidikanku di sana. Sungguh

Dalam Ranum Kekhawatiran

Oleh:
Tak ada seorang ibu yang rela kehilangan buah hatinya. Tak ada mereka yang pernah merawatnya, membiarkannya begitu saja pergi tanpa adanya sedikitpun salam. Tak ada di antara mereka yang

Mansobaro Zhafira

Oleh:
Mentari bersinar lebih terang hari ini, seakan akan mendukung keberangkatan silma ke pondok barunya, dengan ihlas dia menuruti keinginan orangtuanya itu. Satu persatu ia datangi kerabatnya, untuk sekedar perpisahan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *