Apa Arti Jilbab Bagimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 8 September 2017

Ada sebuah pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan pada setiap wanita muslimah, yang menyatakan bahwa dirinya adalah orang islam. Apa arti jilbab bagimu? Aku benar-benar penasaran mengenai hal itu. Apa yang mereka pikirkan tentang jilbab? Apa itu jilbab?

Pada suatu hari, saat aku sedang berdiri di pinggir jalan raya menunggu angkutan umum melewat. Ketika itu dua orang yang kuyakini adalah seorang mahasiswi sedang berjalan di seberang sana.
Mereka mengenakan pakaian yang mungkin mereka pikir biasa saja. Namun saat itu aku tak memikirkan bahwa itu biasa saja. Mereka memang mengenakan kerudung. Tapi, apa mereka tak merasa risih mengenakan pakaian yang sangat ketat seperti itu? Mereka mempertontonkan lekuk tubuh mereka pada orang lain, mereka membiarkan orang lain melihat aurat-aurat mereka. Apa mereka tak tahu cara menutup aurat? Atau mereka tak peduli orang lain meliahat aurat mereka? Apa arti jilbab bagi mereka?
Aku sangat ingin menanyakan hal-hal semacam itu. Hanya saja angkutan umum yang kutunggu sudah datang, jadi aku belum sempat mendekati kedua orang mahasiswi itu.

Kemudian, pada hari dan waktu yang lain. Saat itu aku sedang dalam perjalana kembali pulang ke rumah dari warung yang sebenarnya cukup jauh dari rumah. Ketika itu sekumpulan murid SMP melewatiku.
Aku hanya bisa beristighfar dalam hati. Kenapa mereka hanya mengalungkan kerudung mereka di leher? Kenapa mereka tak menggunakanya? Mereka membiarkan rambut mereka terurai begitu saja, bukankah rambut itu termasuk aurat? Kenapa mereka tak menutupnya dengan kerudung yang mereka punya? Apa mereka tak tahu cara berkerudung? Apa arti jilbab bagi mereka?
Aku sangat ingin menegur mereka. Hanya saja waktu itu hujan akan segera turun, aku bisa saja kehujanan, jadi aku harus segera sampai ke rumah.

Sebenarnya sangat banyak kejadian seperti itu yang terjadi padaku, sangat sering. Terkadang aku bingung dengan orang-orang yang tak peduli untuk menutup aurat mereka. Sungguh, sebenarnya apa arti jilbab bagi mereka? Dan menurutmu, bagaimana dengan dirimu? Apa arti jilbab bagimu?

CTAK!
“Selesai!” terdengar sebuah suara sorakan tenang dari dalam kamar.
Kamar tersebut memperlihatkan seorang remaja perempuan yang sedang sibuk berkutat dengan laptop hitamnya.
“Seharusnya mereka membaca postinganku dan segera sadar untuk menutup aurat mereka.”
Dia mematikan laptopnya dan kemudian menidurkan dirinya di balik selimut.

“Nana! Aku membaca postinganmu kemarin malam!”
Merasa terpanggil Nana menolehkan kepalanya. Menampakkan seorang Lisa sedang tersenyum bangga padanya.
“Na, postinganmu benar-benar keren meskipun menurutku sedikit menyebalkan.”
Nana manunjukkan raut wajah bingung. “Menyebalkan? Apa aku menulis banyak kata aneh? Atau terlalu banyak kesalahan?”
“Sebenarnya bukan kesalahan penulisan. Hanya saja kalimat terakhir di setiap cerita yang ada pada postinganmu kemarin benar-benar mempermainkan pembacanya.”
Nana tersenyum mengerti kemudian tertawa ketika Lisa menatap kesal padanya.
“Apalagi bagian dimana kau menulis, ‘Hanya saja angkutan umumnya sudah datang jadi belum sempat untuk bertanya’. Kukira kau akan berkata seperti ‘Hanya saja aku tak bisa melakukannya karena aku bukanlah apa-apa’. Seharusnya lebih disedih-sedih kan, agar pembaca merasa hal itu tidaklah mudah.”
“Aku tak selebay itu Lis, itu hanya dirimu. Lagi pula aku hanya menulis apa yang sebenarnya memang terjadi saat itu.”
“Aku tahu, tapi itu sungguh menyebalkan, kau seperti mempermainkanku. Saat aku merasa terharu tiba-tiba muncul perkataan seperti itu. Sangat mengganggu.”
Nana hanya bisa tertawa melihat Lisa kesal dengan postingannya semalam. Sebenarnya yang dia posting memang bukan sesuatu yang mengharukan, Lisa memang selalu berlebihan. Dia hanya ingin tahu, sebenarnya apa yang orang pikirkan mengenai jilbab? Mengapa banyak orang yang tak begitu peduli dengan adanya perintah mengenakan jilbab? Dia sungguh penasaran dengan hal itu.

“Lis, menurut kamu arti jilbab itu apa?”
“Menurutku jilbab itu adalah pakaian longgar yang menutupi tubuh sampai kaki,” kemudian Lisa tertawa.
“Itu pengertian jilbab, aku juga tahu itu,” Nana kesal, seolah-olah Lisa mempermainkan pertanyaannya.
“Maaf. Habisnya kamu kelihatan penasaran sekali sama arti jilbab bagi semua orang. Padahal aku belum pernah mengira kamu menanyakannya hal itu padaku juga. Sekalian balas dendam aja, itu yang aku rasain waktu baca postingan kamu, lagi serius akhirnya dibuat jadi kesal”
Nana tetap menunjukan raut wajah kesalnya, meskipun akhirnya sadar kalau postingan dia bisa buat banyak orang jadi kesal.
“Tapi, aku juga jadi penasaran gara-gara postingan kamu. Buat orang lain arti jilbab itu apaan? Apa mereka bakalan ngaejawab pengertiannya juga?”
“Semoga mereka tidak menjawab dengan sangat menyebalkan seperti jawaban kamu,” perkataan Nana membuat Lisa tertawa kembali.
“Jangan marah terus, Nana marah itu benar-benar menakutkan.”
Nana hanya mengangguk kemudian tersenyum, seolah-olah mengatakan bahwa dirinya sudah tidak marah lagi.
“Kalau menurut kamu, arti jilbab itu apa Na?”
Nana terdiam, dia tak pernah berpikir akan mendapat pertanyaan seperti itu. “Aku tak tahu, itu lah mengapa diriku menanyakannya di postingan kemarin Lis.”
Sebenarnya Nana sendiri bingung. Apa arti jilbab baginya?

Nana membuka kembali postinganya. Dia ingin tahu jawaban orang-orang mengenai pertanyaanya.
Ada sebelas orang yang berkomentar pada postingannya.
‘Neng Nuri: Sekarang memang banyak sekali orang-orang yang suka memamerkan aurat mereka. Bagi saya jilbab itu adalah suatu keharusan dan kewajiban seorang wanita muslim untuk mengenakannya. Postingan anda sangat bermanfaat pasti bisa membuat banyak orang tersadar’
‘Jadi jilbab itu kewajiban kita untuk mengenakannya? Lalu bagaimana agar orang-orang melakukan kewajibannya itu?’ pertanyaan yang langsung terpikirkan oleh Nana ketika membaca komentarnya.
‘Destriana Al Khoiriyah: Jilbab itu pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh hingga mata kaki kan? Hahaha maafkan aku, aku bukanya bermaksud untuk bercanda. Tapi, kamu menanyakan arti jilbab bagiku, jadi itu jawabannya’
Jawaban itu mengingatkannya pada Lisa. Ternyata ada juga yang menulis pengertiannya. Sepertinya Nana salah membuat pertanyaan.
‘Sherlyana: Maaf sebelumnya, tapi bukankah jilbab itu hanya pilihan? Jika kita ingin mengenakanya silakan dan jika tidak ingin kan tidak apa-apa. Lagi pula bukankah yang penting itu akhlaknya baik kan’
Nana terkejut dengan komentar yang baru saja dibacanya, kemudian dia beristighfar. Bagaimana mungkin jilbab tidak apa-apa jika tidak digunakan?
Nana kembali membaca komentar yang sangat panjang balasan komentar dari Sherlyana.
‘Ria Maulani: Wahai saudariku, tahukah engkau bahwa jilbab itu adalah sebuah kewajiban bagi setiap wanita muslimah untuk mengenakanya. Bukankah Allah Swt. mewajibkan kita semua wanita muslimah untuk menutup aurat mereka, mengapa engkau mengatakan jilbab adalah sebuah pilihan? Meskipun saya tahu tidak setiap wanita yang berjilbab memiliki akhlak yang baik, tetapi saya yakin bahwa setiap wanita yang memiliki akhlak baik pasti akan berjilbab.
Nana mengangguk setuju setelah membaca balasan tersebut. Memang benar kan? Tidak semua wanita berjilbab memiliki akhlak baik tetapi setiap wanita yang memiliki aklak baik pasti akan berjilbab karena tahu bahwa jilbab adalah perintah, suatu kewajiban dan suatu keharusan yang harus dikenakan setiap wanita muslimah.
‘Reanna N: Jilbab itu salah satu perintah dari Allah Swt. kepada kita semua wanita muslimah. Jadi bagiku jilbab itu adalah bagian dari diriku. Makanya, jika diriku tak berjilbab artinya bagian dari diriku menghilang, intinya aku bukanlah aku jika aku tak mengenakan jilbab’
Bagian dari diriku? Tanpa jilbab aku bukanlah aku? Nana berharap semua orang berpikiran sama seperti Reanna N.
Namun ada sebuah komentar yang sangat membuatnya terkejut. Bahkan dia berkali-kali bedoa dalam hatinya agar yang berkomentar diberikan jalan yang lurus.
‘Diah Amalia: Pakai jilbab itu gerah, jadi kerasa panas banget, nanti bikin rambut aku rontok gimana? Emangnya mau tanggung jawab’
Nana benar-benar tak menyangka. Bahkan foto profil Diah Amalia tak mengenakan kerudung, rambutnya dibiarkan tergerai dan pakaian sangat pendek dan ketat. Kenapa dia tak malu mengumbar-umbarkan auratnya?
Kemudian Nana membaca balasan komentarnya yang sangat banyak.
‘Raina H: Astaghfirulloh. Apakah kau telah menolak untuk melaksanakan perintah Allah?’
‘Diah Amalia: Aku masih melaksanakan kewajibanku untuk shalat dan shaum. Berarti aku masih melaksanakan perintah Allah kan?’
‘Raina H: Tidakkah kau tahu Allah Swt. memerintahkan kita semua wanita muslimah juga untuk berjilbab. Jika salah satu perintahnya tidak dilaksanakan maka itu adalah termasuk dosa besar.’
Diah Amalia: Apaan sih, jangan sok ceramahin orang. Lagi pula aku yang dapat dosa besar kenapa kamu harus repot. Jangan sok ngurusin orang lain, sok alim banget.’
‘Ria Maulani: Wahai saudariku, apakah engkau tak peduli jika auratmu di lihat oleh orang lain apalgi bukan mahrammu? Auratmu adalah perhiasanmu, maka engkau harus menjaganya, jangan biarkan seseorang pun melihatnya atau bahkan menyentuhnya. Jika alasan engkau hanya karena gerah atau kepanasan, ketahuilah bahwa panasnya matahari yang sekarang engkau rasakan tidak sebanding dengan panasnya Neraka Jahannam yang kelak akan engkau rasakan. Dan jika alasan engkau akan takutnya rambut indahmu rontok, percayalah bahwa sebenarnya jilbab dapat melindungi rambutmu. Karena itu segeralah mengenakan jilbab sebelum terlambat.’
Entah mengapa tiba-tiba Nana berpikir bahwa membaca komentar dan balasan lainnya lebih menarik, dari pada postingan dari dirinya.
Nana tak pernah mengerti jalan pikir kebanyakan orang yang menolak untuk berjilbab. Apakah mereka tak takut pada siksa Allah Swt di Neraka kelak? Apakah mereka tak ingin merasakan nikmatnya Surga Allah Swt kelak? Mengapa mereka melalaikan perintahnya?

DRRT DRRT
Nana merasakan ponselnya bergetar, ada telepon dari Lisa.
“Assalamualaikum Lisa. Ada apa malam-malam begini nelpon?”
“Waalaikumsalam. Aku baru membaca komentar-komentar di postinganmu Na! Itu sangat banyak”
“Itu hanya sebelas, banyak karena kau melebih-lebihkannya. Lagi pula aku juga sedang membacanya.”
“Tapi, komentarnya keren-keren. Ada yang positif dan ada juga yang negatif nya parah. Aku jadi ingin ikut berkomentar.”
“Silakan lakukan, kenapa tidak?”
“Aku tak bisa berkata keren seperti mereka, haha.”
“Haruskah aku ikut untuk membalas komentar mereka?”
‘Lakukan saja karena kau juga keren, hahaha.”
Nana ikut tertawa pada candaan yang sebenarnya tak lucu dari Lisa. Nana hanya menghargai, meskipun memang sedikit lucu. Hahahaha…

CTAK KLIK
“Enter! Selesai! Akhirnya tamat juga ceritanya.”
Aku tersenyum senang melihat karyaku yang begitu panjang. Aku menulis cerita keren dari sahabat terbaikku.
“Apa yang sedang kau lakukan?” sahabatku bertanya.
“Ceritamu yang keren itu,” jawabku.
Aku mematikan laptop dan meminum teh manis yang kuyakini sudah menjadi dingin. Wajar saja, karena aku meninggalkannya selama dua jam empat puluh tujuh menit. Melakukan sesuatu yang kau sukai benar-benar akan membuatmu lupa waktu.
“Cerita keren yang mana? Apa yang kau maksud keren itu?” sahabatku menatapku bingung.
Aku tersenyum kemudian berkata. “Cerita mengenai kau mewawancarai banyak orang untuk mendapatkan materi dakwah.”
“Oh yang itu. Tunggu, apa kau juga menulis nama asliku?” dia menatapku dengan tatapan tajamnya.
“Jangan menuduh sembarangan. Aku sedang mengarang cerita jadi namamu kusamarkan.”
Dia terlihat menghela napas lega. Apa dia benar-benar tak ingin nama aslinya kusebarkan? Padahal dia itu orang yang sangat keren. Apalagi ketika dia menjawab semua komentar yang menolak berjilbab di postingannya. Seharusnya dia bangga dengan kekerenannya.

“Kenapa kau mengatakan kalau ceritaku itu keren? Padahal aku hampir menyerah ketika mereka berperang di postinganku.”
Aku tertawa kecil, dia benar-benar merasa tertekan saat itu. “Justru itulah kerennya dirimu. Kau masih bisa melawan mereka meskipun kau sedang ingin menyerah.”
“Kurasa orang yang tidak bisa ditebak sepertimu lah yang lebih keren,” aku hanya bisa tertawa melihat dia menggerutu.
Aku kembali meminum teh manis yang masih tersisa banyak. Menenangkan pikiranku karena terlalu banyak berpikir membuat kepalaku sedikit sakit. Dan tiba-tiba sebuah pertanyaan hinggap di pikiranku.
“Sekarang, aku ingin bertanya. Apa arti jilbab bagimu?”
“Jilbab?”
Dia menatapku dan berdiri kemudian tersenyum bangga, dia percaya diri. Dia bahkan menjawabnya dengan suara lantang dan sangat yakin. Aku tahu kalau dia keren.
“Jilbab itu bukan hanya sekedar penutup kepala untuk menjaga rambut, bukan hanya sekedar agar kulitmu tidak terkena matahari, bukan hanya sekedar mengikuti tren kebanyakan, bukan hanya sekedar formalitas atau keterpaksaan karena harus mengenakannya. Tetapi jilbab adalah pakaian longgar yang digunakan untuk menutupi tubuh hingga mata kaki. Jilbab adalah suatu perintah dari Allah Swt kepada wanita muslimah untuk menutup auratnya, karena Allah Swt mencintai kita. Dan Jilbab adalah pelindung harga diri seorang wanita dari banyaknya godaan syaithan yang terkutuk dan dari para laki-laki yang akan menjadi calon dari penghuni neraka.”

PROK PROK PROK
Suara tepuk tangan terdengar. Orang-orang berdiri memberikan ucapan selamat pada juara dakwah kali ini.
“Nana Aurellia! Selamat atas dakwahmu yang menakjubkan. Sebagai penghargaan kami akan memberikan sebuah piagam untukmu.”
Nana tersenyum. Dia menerima piagam dan memberikan salam pada Ustadzah yang menyerahkan penghargaan.
“Jadi ingatlah untuk selalu berjilbab teman-teman. Jangan sampai kalian melepaskan jilbab kalian. Jagalah aurat kalian, karena Allah Swt akan cemburu jika kita membiarkan orang lain melihat perhiasannya.”

Semua temannya bertepuk tangan, bahkan tepukan tangan Lisa terdengar paling keras. Nana tersenyum bangga. Dia senang apa yang dilakukannya bermanfaat untuk banyak orang, dia senang bisa membuat banyak orang bangga karenanya, karena dirinya. Nana sangat senang untuk banyak alasan.

Jadi, apa arti jilbab bagimu?

TAMAT

Cerpen Karangan: Lamia N S
Facebook: Lamia N Monbebe

Cerpen Apa Arti Jilbab Bagimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati

Oleh:
Di sebuah gang yang tampak kumuh. Abi yang dikenal sebagai anak yang bermoral bejat dan durhaka sedang asyik-asyikan berpesta mir*s bersama dua kawannya, Iwan dan Danu. Botol-botol besar berisi

Uzlah Adalah Solusi

Oleh:
Di petilasan hanya ada cakil dan abi. Mereka berdua lagi asyik membaca buku-buku yang ada di petilasan. Di petilasan itu banyak sekali buku khazanah islam dan buku novel filsafat

Senyuman Via

Oleh:
Livia Maharani Alfaro atau yang lebih dikenal dengan ‘VIA’ adalah seorang gadis SMA yang amat cantik, kulitnya kuning langsat, tubuhnya langsing, tinggi semampai, rambutnya yang panjang dipirang berwarna merah

Bahasa Arab Oh, Bahasa Arab

Oleh:
Dan. Akhirnya aku yang harus mengalah. “ngapain juga sih kang kudu belajar bahasa arab lagi. Lagian di sekolah juga udah belajar, apa gak lebih baik bahasa inggris aja. Kuliah

Saint Lucia

Oleh:
Salam kedua terdengar syahdu, menandakan salat berjamaah telah usai. Setiap subuh speaker di masjid selalu mengumandangkan adzan dan semua kegiatan salat berjamaah dari awal sampai akhir. Ya, karena dewan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Apa Arti Jilbab Bagimu”

  1. Vina says:

    Keren… Dr dl aq ingin berhijab. Tp sll ad perasaan malu. Takut di pandang org “ah… Shalatnya aja lum benar, sok2an berhijab” tau sendiri lah, org2 mah sll mencari kejelekan org aj. Tp Alhamdulillah,awal ramadhan kemarin aq mantapkan untuk berhijab. Dalam hati qu “kemana aq harus malu, bukankah ini perintah Allah”. Dan smoga smakin kdpn, cara berhijab qu smkin baik. Izin share d fb y

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *