Apatah Arti Namaku?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 24 April 2017

Dua puluh tiga tahun yang lalu menjadi momen bahagia bagi kedua orangtuaku. Keduanya melakukan beberapa tradisi kehamilan dalam adat Jawa seperti tujuh bulanan atau yang sering disebut “Tingkeban/mitoni”. Tingkeban/mitoni merupakan upacara syukuran pada masa kehamilan wanita, masa kehamilan tersebut berkisar antara 6 – 7 bulanan dengan harapan kelak anak yang dikandung lahir dengan normal; terhindar dari bala’ (musibah); dan sehat walafiat. Acara ini dilakukan dengan memanjatkan doa kepada Tuhan; membelah cengkir; membuat kudapan khas Jawa. Biasanya selang beberapa bulan acara ini dilaksanakan, anak yang dinanti kelahirnya, terlahir ke dunia. Ya, anak yang lahir dari rahim seorang Ibu Jawa itu adalah aku, wajahku persis seperti Ayahku.

Namaku “Erik Suwandinata”. Anak laki-laki pertama dari empat bersaudara yang telah tumbuh dan berkembang selama 23 tahun. Wajahku oval, hidungku pesek, rambutku sedikit ikal, aku memiliki tinggi badan 173 cm dengan berat 55 kg. Deskripsi ini sepintas menggambarkan bahwa perawakanku kurus. Ada hal yang masih menjadi pertanyaan di benakku mengenai arti namaku. Pikirku berkata: “Apa sebenarnya yang melandasi orangtuaku memberikan nama itu ‘Erik Suwandinata’. Tak puas hasrat batinku, kumulai bertanya kepada keduanya mengenai makna namaku.
“lah, yo mboh, mamak wae ra ngerti opo maksud namamu iku le, jal takon karo bapakmu kui. Wong aku ndisek nge’i namamu iku Wandi tok, malah bapak mu kui seng ora setuju (Ibu tidak tahu menahu apa maksud namamu itu, Nak. Dahulu ibu memberi nama Wandi saja, tapi ayahmu tidak menyetujuinya, cobalah kamu tanyakan hal itu kepada beliau)”, ujar Ibuku.

Aku merasa tak puas mendengar jawaban ibu. Kuberanikan diri untuk bertanya kepada ayah. “Apatah arti namaku ini, Yah?” Pria beruban itupun menjawab “Erik itu diambil dari pemain bola, Erik Cantona, kalau Suwan itu artinya angsa, dan Dinata itu berarti menata, jika di gabungkan keseluruhan maka artinya, ‘Si Erik sedang menata angsa’, ha ha ha.” Kami pun terkekeh mendengar penjelasan ayah meskipun belum mengerti maksudnya.

Pada saat tujuh belas tahun aku dibesarkan keduanya. Allah memberiku kesempatan untuk mempelajari agama Islam di Ponpes Sirojul Mukhlasin Magelang. Sebuah “Pesantren Klasik” yang memperkenalkan aku kepada ilmu-ilmu keislaman. Sesampainya di sana aku disambut ramah oleh beberapa santri yang sudah menunggu kehadiranku, kami pun saling bertutur sapa.
Salah seorang santri menanyakan namaku: “Man ismuka yaa Akhi? (Siapa namamu, Kawan?)”.
“Apa?” Jawabku.
“Siapa nama Antum?” ujar beliau.
“O, namaku Erik, Erik Suwandinata” kataku.
Dahi mereka tampak mengkerut, Firasatku mengatakan bahwa mereka sedang mencari tahu arti namaku, mungkin mereka berpikir nampaknya namaku tak berkorelasi dengan wajahku. Wajah kejawen dengan nama kebarat-baratan. Ironisnya, ada yang berpikir bahwa aku adalah muallaf, “astagfirullah” ucapku di dalam hati.

Bulan demi bulan telah ku jalani. Ustad Samik menawarkan agar mengganti namaku. tawaran ini kusambut positif, aku berharap semoga dengan berubahnya namaku ini, rezeki dan kehidupanku semakin membaik. Apalagi nama baru ini adalah pemberian dari seorang Kiai besar, biasanya, para santri berasumsi bahwa hal apapun yang telah diberikan Kiai akan memberikan keberkahan dalam kehidupan. Ditemani Ustad Samik akupun mulai sowan ke Romo Kiai pimpinan Ponpes guna mengubah namaku.
“Ono opo nang? (Ada apa, Nak?)” tanya pak Kiai.
“Niki pak Yai, kulo bade haturaken supados pak Yai nipun gantiaken namine rencange kulo niki (Saya ingin menyampaikan kepada Pak Kiai agar nama teman saya ini diganti oleh Pak Kiai)” jawab Ustad Samik.
“Sopo jeneng’e? (Siapakah namanya?)” Pak Kiai balik bertanya.
“Erik pak Yai (Namanya Erik, Pak Kiai)” jawab Ustad Samik.
“Ha, opo?, Erik, ganti Khoiri nang, Muhammad Khoiri, opo kui jeneng kok Erik, ha ha (Apa! Erik, lebih bagus diganti Khoiri saja, Nak. Ya, Muhammad Khoiri)” Pak Kiai tertawa kekeh kelihatan giginya yang sudah banyak tanggal.
“Matursuwon sanget pak Yai (Terima kasih banyak Pak Kiai)”, kami meminta untuk pamit sambil mencium tangan beliau sebagai wujud ta’dzim (hormat) kepada beliau. Setelah sowan kubuat acara syukuran dengan membeli “nasi kucingan” sebanyak 20 bungkus dan membagikannya kepada teman sekelas.

Setahun lamanya di Ponpes. aku mulai terbiasa dengan bacaan kitab-kitab kuning (classical book) karangan ulama-ulama Islam terdahulu (tabi’ tabi’in). Kitab-kitab itu dengan mudah dapat ditemui di perpustakaan pesantren dan kamar-kamar pemondokan kami. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul untuk mencari tahu tentang hukum mengubah nama seseorang, kuambil pena dan kertas lalu bergegas pergi ke perpustakaan hingga kutemukan dua buku monumental yang sepertinya bisa menjadi landasan tentang hukum ini. Ya, kitab Tanwirul Qulub karangan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi dan kitab Hasyiyah Al-Bajuri ‘Alal Fathul Qorib Juz II karangan Syekh Al-‘Allamah Ibrohim Al-Bajuri kujumpai dan berpikir bahwa kitab-kitab ini bisa bisa menjadi landasan hukum, kumulai menulis, berikut isi karangannya:

Adapun hukumnya mengubah nama, itu adakalanya wajib apabila nama itu haram (seperti: Abdussyaitan, Tuhan, dan Iblis), adakalanya sunat apabila namanya itu makruh (seperti: himar [keledai]), dan adakalanya boleh apabila namanya itu tidak haram, juga tidak makruh diganti dengan nama yang tidak dilarang agama.

Mengubah nama-nama yang haram itu hukumnya wajib dan nama-nama yang makruh hukumnya sunnah. Dan disunahkan memperbagus nama sesuai dengan Hadis Nabi saw; “kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perbagusilah nama-nama kalian.” Dimakruhkan sesuatu yang tidak jelas eksistensinya. Haram memberikan nama dengan Abdu al-Ka’bah, Abdu al-Hasan atau Abdu Ali (Hamba Ka’bah, Hamba Hasan atau Hamba Ali). Wajib mengubah karena berarti menghilangkan kemungkaran, walaupun Imam Rahmani ragu-ragu apakah mengubah nama demikian, wajib atau sunnah.
Apa yang dikatakan kedua ulama ini sudah cukup jelas. “Alhamdulillah”, ujarku. Akhirnya aku mengetahui tentang alasan Ustad Samik menyuruhku mengganti nama. Kini, aku mempunyai dua nama.

Beberapa hari yang lalu, aku mencoba “googling” mencari tahu arti kedua namaku. Kemudian, aku mendapati artinya, berikut penjelasannya:
Erik: Raja (kata dari bahasa Skandinavia, Cekoslovakia), Penguasa abadi (bahasa Jerman dan Denmark), Sangat lucu (bahasa Afrika – Amerika)
Suwan: Berasal dari kata suwon yang berarti terimakasih (bahasa Jawa)
Dinata: Hadiah (kata dari bahasa Sunda)
Jika digabung keseluruhan katanya maka memiliki arti “Berterimakasih atas hadiah dari Penguasa Abadi.” sementara itu, nama pemberian Kiai bermakna:
Muhammad: Nama Nabi terakhir yang menjadi panutan umat
Khoiri: Baik, kebaikan (kata dari bahasa Arab)
Jika digabung kedua kata ‘Muhammad Khoiri’ maka akan memiliki makna: Nabi Muhammad yang penuh kebaikan.

Sekarang, Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku termasuk orang yang kaya karena memiliki dua nama dan aku pun sudah tidak akan bertanya lagi tentang arti dari namaku ini serta mempertemukan kepada orang-orang hebat di dalam hidupku, semoga Allah swt. merahmati mereka. Akhirnya, KTP dan SIM ku sudah tercantum nama Erik Suwandinata. Namun, aku tak mengkhususkan orang-orang harus memanggilku Erik atau Khoiri karena kedua-duanya mempunyai arti yang baik. Ah, bagaimana baik dan enaknya sajalah! Ha ha…

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Eric Suwandynata

Cerpen Apatah Arti Namaku? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Makan, Ayah

Oleh:
Aku pernah melihat orang itu. Tidak hanya satu kali. Bahkan berkali-kali. Tapi aku belum mengetahui siapa namanya. Aku hanya mengenal wajahnya saja. Melihat dia seperti melihat ayah. Wajahnya menumbuhkan

Sapa dan Salam

Oleh:
“Kak, kakak..” teriak-teriak adikku yang membangunkanku dari tidur nyenyakku. “Ada apa sih dek? Kakak lagi mimpi indah dibangunin begini” jawabku marah-marah. “Lihat kak sudah jam 8 itu” ucap adikku

Mati Dalam Angan (Part 2)

Oleh:
Kami berenam langsung berlari keluar dari lubang perlindungan menuju tempat yang direncanakan. Sementara Kapten Ade berlari ke arah lain untuk memancing perhatian regu tembak dan berhasil, semua tembakan langsung

Androidku

Oleh:
Tangan Wini sangat gatal ingin mereset gadget androidnya. Tadi hpnya dibawa untuk dibetulkan, tapi tak bisa. Wajar, ia membetulkannya ke seorang siswa SMK yang mungkin masih belajar. Wini lupa

Gara Gara Siti

Oleh:
Hari ini adalah hari dimana aku berstatus sebagai siswi SMA. Ya, setelah 3 tahun lamanya mengenyam bangku SMP aku kini berubah status. Aku kembali ke kampung setelah 3 tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *