Ayahku, Raja Hatiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 May 2016

Segala deritanya kini telah sirna. Penyakitnya sudah Allah angkat. Ada aura bahagia terpancar dari raut wajahnya. Perjuanganku telah berbuat manis dengan cara-Nya. Kini Ayah sembuh, Ayah sehat.

Mari ku perkenalkan anggota keluargaku, dimulai dari sosok yang paling hebat dan sangat dekat denganku, Ayah. Bagiku, Ayah adalah seseorang yang sangat sederhana dan bijaksana. Ia adalah seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah Sekolah Dasar di kampung seberang. Selepas ia pulang dari mengajar di SD, ia lalu bergegas pergi ke sebuah masjid yang berada di dekat rumahku untuk mengajarkan Al-Qur’an dan mengisi kajian islam bagi siapa pun yang berminat. Ayahku ikhlas mengajar di sini tanpa dibayar sepeser pun. Karena, memang niat Ayahku ini semata-mata hanya ingin menolong agama Allah. Kata Ayah, biasanya awal-awal ada 20 orang yang ikut. Namun makin ke sini, lama-lama makin berkurang.

Meski gaji Ayah sangat kecil sekali, tidak pernah ku dengar Ayah mengeluh. Ia tidak pernah patah semangat. Ia selalu mengajarkan keluarganya untuk tetap selalu bersyukur bagaimanapun kondisinya. Mungkin Ayah benar, terbukti sampai detik ini pun rezeki Ayah tidak pernah putus, selalu saja datang dari mana pun. Umurku kini sudah hampir menginjak kepala 3, sama seperti halnya Ayah, aku pun juga masih sendiri. Ibuku pergi begitu cepat, ia meninggal sejak umurku masih belia, 5 tahun. Bahkan, aku sendiri sudah lupa bagaimana raut wajahnya. Hanya foto Ibu yang bisa ku lihat, ia cantik sekali seperti bidadari. Andai waktu bisa ku putar kembali, aku ingin sekali memeluk Ibu dengan erat dan merasakan kehangatan kasihnya.

Ibu meninggalkan kami karena mengidap kanker rahim stadium akhir. Sejak itulah Ayah sangat berjuang menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk para buah hatinya. Anak Ayah ada tiga. Kakak pertamaku namanya Rizka. Meski seorang perempuan, ia adalah tulang punggung keluargaku yang utama. Ia bekerja sebagai seorang Manager di sebuah perusahaan swasta terkenal di Jakarta. Atasannya adalah mantan murid Ayah di SD tempat Ayah mengajar. Sehingga, tak heran apabila atasan Kak Rizka sangat dekat dengan keluarga kami. Kakak keduaku, Kak Hanif. Kata Ayah, Kak Hanif lahir dua bulan lebih awal, sehingga ia terlahir dengan fisik yang lemah. Meskipun laki-laki, ia tak pernah kuat untuk melakukan sesuatu yang berat, apalagi bekerja, ingatannya saja kurang kuat. Karena kekurangannya itu, Ayah tidak pernah menyuruh Kak Hanif untuk bekerja.

Di sisi lain, ku lihat kelebihan Kak Hanif terdapat pada agamanya. Hampir setiap hari, Kak Hanif menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Qur’an dan membaca buku tentang agama. Tak jarang ia menemani Ayah untuk mengajar mengaji di masjid. Aku bahkan masih ingat ketika bulan lalu ia berhasil menjadi seorang Hafidz Qur’an. MashaAllah kami sekeluarga sangat bangga kepadanya. Jujur saja, dulu aku pernah kecewa karena anak laki-laki Ayah ini tidak bisa mencari uang. Namun, dengan seiring berjalannya waktu, aku sadar, bahwa di balik kekurangannya, ada sosok yang sangat baik hati, yang rela merawat Ayah di rumah ketika sakit.

Nah, anggota keluarga terakhir yang belum ku perkenalkan adalah diriku sendiri. Namaku Dinda. Anak perempuan terakhirnya Ayah yang baru saja memulai untuk hijrah memakai hijab. Aku sekarang bekerja sebagai seorang karyawati di sebuah perusahaan online shop yang terletak di pinggiran Jakarta. Dulu aku sangat benci memakai hijab, namun sejak Kak Rizka memberikan arti hijab sesungguhnya, hatiku seakan tersentuh begitu saja. Ya, Ayah memang tidak pernah memaksaku untuk memakai hijab, namun beliau selalu memberikanku nasihat tentang kewajiban muslimah menutup aurat. Banyak juga cerita seramnya tentang azab wanita yang tidak mau menutup aurat selama ia hidup. Aku mendengarnya sambil berjalan menjauh, karena ngeri mendengarnya. Oh Ayah, aku tahu suatu hari nanti aku pasti berhijab, meski aku tak tahu kapan, tapi pasti akan.

Dari ketiga anak Ayah inilah, perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Kami bertigalah yang berjuang membantu Ayah untuk ke luar dari deritanya. Sudah tiga tahun Ayah divonis dokter mengidap penyakit diabetes. Ini membuat kami bertiga harus kerja ekstra demi kesembuhan Ayah. Sudah 25 tahun Ayah mengajar, tapi ternyata Ayah tak punya tabungan sepeser pun, apalagi sebuah Asuransi Kesehatan, sudah pasti ia tidak punya. Entah bagaimanapun caranya, yang penting Ayah sembuh dan selalu berada di sisi kami. Jauh dalam lubuk hatiku, aku berjanji akan berjuang semampuku. Demi Ayah, aku mengambil lembur setiap hari. Aku bahkan rela pulang larut malam, meski terkadang ada rasa takut menghampiri setiap aku pulang kerja, karena aku tahu bahwa semakin malam tingkat kriminalitas semakin tinggi, apalagi bagi seorang wanita sepertiku.

Ayah terlalu baik untuk menderita, jika aku boleh mengajukan satu permintaan, aku ingin sekali menanggung segala penderitaan Ayah selama ini, sehingga aku bisa melihat wajahnya yang ceria lagi. Aku tak pernah mendengar Ayah mengeluh sedikit pun tentang kondisinya, bahkan ia selalu tidak ketinggalan untuk mengerjakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Masih terngiang di kepalaku kata-kata Ayah, bahwa sesakit apa pun meski sepahit apa pun kenyataan yang kita hadapi, tetaplah bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Sudah dua bulan ini Kak Hanif mulai bekerja di Pesantren Darul Muttaqien. Pemilik pesantren itu adalah teman Ayah, ia yang memberikan amanah kepada Kak Hanif untuk mengajar Al-Qur’an di sana. Alhamdulillah, aku sangat senang mendengarnya. Ah Kak Hanif, aku sangat bangga kepadamu. Sejak Kak Hanif bekerja, Ayah mengajak dua keponakannya dari Jogja untuk tinggal bersama kami. Kedua keponakannya disekolahkan oleh Ayah.

Usai salat Tahajud, ku pandangi sosok Ayah yang sedang tertidur pulas di kamarnya. Terbuai dalam lamunanku bagaimana ia tertawa, tersenyum, dan nasihat-nasihat panjangnya tanpa aku minta. Adalah Ayah pemeran utama dalam lamunanku malam ini. Waktu sudah menunjukkan tepat 10 pagi. Ini adalah hari minggu, sehingga semua anggota keluarga sedang berada di rumah. Kata Kak Rizka, Ayah tiba-tiba kangen masakan Jogja, maka pergilah kami di sebuah restoran Jogja, Ayah makan sangat lahap dan banyak sekali. Aku terharu melihatnya sambil berkata dalam hati, “Sehat terus ya Yah. Aku sayang Ayah,” sambil ku usap air mataku yang tak tertahankan ini dengan tissue di depanku.

Masih terbayang bagaimana raut wajah bahagia Ayah tadi. Ia seperti mendapatkan segalanya yang ia inginkan, sangat bahagia. Ku lihat ke arah meja di kamarku, ada sebuah hijab merah jambu milik Kak Rizka. Aku lalu berpikir tentang hijab. Apakah dengan aku berhijab, Ayah akan lebih senang? Aku pernah dengar, bahwa rasa bahagia dapat memulihkan sakit seseorang. Demi Ayah, akan ku coba. Selesai salat subuh, ku hampiri Kak Rizka di kamarnya. Ku utarakan niat berhijabku ini. Kak Rizka sangat baik, ia sangat mendukung niat baikku ini. Bahkan, ia memberikan satu box yang berisi beberapa kerudung, gamis dan manset. Ya Allah, aku sangat bahagia mempunyai Kakak seperti Kak Rizka. Aku Diana, dan hari ini aku mantap berhijab karena Allah. Ayah datang menghampiriku dan memelukku sangat erat.

“Putriku sayang, kamu cantik sekali dengan hijab ini. Ayah bangga padamu,” Ada suasana haru dan air mata yang tak terbendung di wajah aku dan Ayah. Adalah Ayah orang pertama yang ku mintakan dukungan setelah Allah. Andai aku bisa menerjemahkan arti peluknya, mungkin berjuta rasanya, hingga ku tak sanggup menyebutkannya satu per satu.

Ujianku kini dimulai, perusahaanku kalah tender, sehingga banyak karyawan yang diPHK, termasuk diriku. Hatiku hancur, apa yang harus ku katakan kepada Ayah? Sudah sebulan aku menjadi pengangguran. Entahlah, rasanya seperti sulit sekali mencari pekerjaan setelah ku pakai hijab ini. Hari-hari ku lalui dengan bimbang, karena aku selalu memikirkan biaya pengobatan Ayah. Sampai pada akhirnya, ada seorang teman dekat Ayah dulu sewaktu di bangku SMA datang berkunjung ke rumahku untuk bersilahturahmi. Pak Akmal namanya. Beliau kini sudah sukses, ia mempunyai bisnis manufaktur, dan sudah banyak sekali cabangnya di berbagai wilayah. Kebetulan sekali ia sedang membutuhkan seorang karyawan di bagian keuangan. Atas seizin Allah dan tentunya Ayah, kini aku mulai bekerja di sana.

Bersamaan dengan hal itu, Ayah tiba-tiba meminta untuk berobat ke akupuntur Eyang Salam. Katanya, ia melihat di televisi banyak sekali orang yang cocok dengan berobat ke sana. Dan terlebih lagi, ia bilang kepadaku kalau sudah bosan dengan obat-obat dari dokter. Pikiranku mulai bercabang, bingung harus bagaimana. Katanya biaya pengobatan di sana jauh lebih besar dibanding biaya pengobatan Ayah di Rumah Sakit. Sedangkan, aku baru saja mulai bekerja hari ini. Tidak mungkin jika aku meminta gaji di hari awal aku bekerja, lalu bagaimana aku bisa membantu Ayah untuk berobat.

Jika dihitung-hitung, biaya berobat Ayah ditambah biaya transport dan makanan khusus untuk Ayah adalah dari Kak Rizka. Maklum, penyakit diabetes Ayah mengharuskan tidak mengonsumsi sembarangan makanan. Tidak ada pilihan lain, aku segera bergegas ke toko perhiasan untuk menjual kalung pemberian dari Almarhum Ibuku untuk biaya berobat Ayah. Maafkan aku Ibu, semua ini ku lakukan demi Ayah, semoga Ibu mengerti keadaan ini. Bersama Kak Hanif dan Kak Rizka, Ayah diantar ke sana. Aku mengurungkan niat untuk ikut, karena aku tak sanggup melihat Ayah menyembunyikan wajah kesakitannya di dalam sebuah ketabahan pada dirinya.

Mereka berangkat naik taksi yang sudah ku pesan beberapa menit yang lalu. Tetangga-tetanggaku yang melihat Ayah saat naik taksi pun menatap dengan penuh iba. Mereka saling mencuri pandang dan saling berbisik. Sampai ada seorang laki-laki separuh baya nyeletuk. “Wah neng, itu Bapaknya mau dibawa ke mana? Kasihan sekali lagi sakit begitu,”
Ayah dengan sakit diabetesnya yang sudah akut dan napasnya yang sesak seraya tersenyum dan menjawab, “Iya nggak apa-apa kok, saya kuat,” Ya Allah ujian apalagi ini. Aku sungguh tidak tega melihat kejadian ini.

Tak disangka, pengobatan akupuntur Eyang Salam ternyata murah. Ayah juga mendapat obat-obatan herbal yang kurang lebih hampir 15 butir ia minum setiap hari. Allah berkehendak lain, kesehatan Ayah semakin menurun. Itu dikarenakan, Ayah lebih banyak tidur daripada melakukan aktivitas lainnya. Yang ia lakukan hanyalah makan lalu tidur, begitu seterusnya. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kak Rizka membangunkanku. Ia bilang padaku kalau luka di kaki Ayah pecah. Mendengarnya aku hampir pingsan, ingin rasanya ku datangi akupuntur itu dan memarahinya. Kami sekeluarga kebingungan. Akhirnya lagi-lagi kali ini Kak Rizka yang harus berkorban, ia menjual perhiasannya demi Ayah.

“Ayah, ayo kita ke dokter,” bujukku padanya.
“Nggak usah sayang, biaya yang dikeluarkan untuk Ayah sudah terlalu banyak,” tolak Ayah dengan nada lembut.
“Sudah Ayah, Ayo kita ke Rumah Sakit sekarang,” tegas Kak Rizka.

Ya Allah, semakin tambah sakit, Ayah masih begitu tabah luar biasa. Aku teringat kata-kata Dokter, kalau penderita diabetes yang memiliki luka di kaki dan luka itu pecah, maka akan sulit sekali untuk diselamatkan. Dokter ke luar dari ruang UGD, ia memberitahu kami semua bahwa kadar gula Ayah semakin tinggi. Ya Allah, ya Rabb.. aku ini sudah berhijab, sudah penuhi semua keinginan Ayah, sudah menjaga Ayah dari dosanya.. Lalu mengapa ujian-Mu datang bertubi-tubi dan tak pernah usai? Entah mengapa aku menyalahkan hijab. Pikiranku, hatiku, semuanya sudah sangat kacau. Aku merasa menjadi wanita paling menyedihkan, aku merasa apa yang ku lakukan demi kesembuhan Ayah selama ini sia-sia.

Kondisi Ayah semakin parah. Keluarga di sana semuanya hanya bisa mengaji, Kak Rizka dan Kak Hanif saling membisikkan sesuatu di telinga Ayah.
“Ayah, ini Rizka, Hanif dan Dinda di sini.. Ayah bangun,” Kak Rizka menggenggam tangan Ayah dengan erat. Ayah akhirnya terbangun, dengan selang infus serta oksigen melekat pada tubuhnya. Ia juga memkai selang untuk buang air.
“Sekarang jam berapa Nak? Ayah belum salat,” Kami melarang Ayah untuk bergerak, dan akhirnya ia justru meminta kami semua untuk lebih membaca doa yang banyak untuk dirinya.

Banyak sekali orang-orang yang datang ke rumah sakit untuk mendoakan Ayah. Aku terharu melihatnya, mungkin benar kata Pak Ustaz, jika seseorang itu baik hati, maka saat ia tertimpa musibah maka banyak yang menolongnya. Aku sangat haus, sejak bangun tadi pagi aku belum sempat minum. Akhirnya aku bergegas ke kantin untuk membeli minum sebentar. Sekembaliku dari kantin, ku lihat kamar Ayah sudah ditutup. Ada apa ini sebenarnya ya Allah. Kak Rizka bilang, Ayah sedang dalam penanganan dokter. Aku intip dari balik jendela, aku takut masuk. Sampai akhirnya seorang perawat ke luar dari kamar Ayah dan memanggil kami anak-anaknya..

Tamat sudah penderitaan Ayah. Ayah sudah sehat dan bahagia, terlihat ada senyuman yang terpancar dari wajahnya. Ayah sekarang sudah bahagia bersama Ibu di alam sana. Iya, Ayah sudah tutup usia. Ku kecup kening Ayah terakhir kalinya sembari memeluk hijab panjangku ini. Ayah semoga hijab panjangku ini bisa mengantarkanmu ke surganya Allah. Terima kasih atas segalanya yang kau ajarkan padaku selama ini, sungguh sampai kapan pun engkau akan tetap menjadi Raja hatiku.

SELESAI

Cerpen Karangan: Evitera Rosyari Dewi
Facebook: Evitera R Dewi

Cerpen Ayahku, Raja Hatiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seruling Di Senin Petang

Oleh:
Sore ini nampak begitu sendu. Angin bertiup sepoi-sepoi. Pohon-pohon dengan riang memainkan daunnya, menghasilkan satu-dua bunyi desis ramah di telinga. Saat ini senin petang. Ada kebiasaan unik nan aneh

Tanah Merah

Oleh:
Aku masih diam membisu, berteman dengan duka aku sendiri. Melihat keramaian kota di atas bukit paling tinggi, hamparan rumput hijau dan angin merdu sudah lama menjadi temanku. Duduk di

Ibu

Oleh:
Terkadang segala sesuatu itu tak semudah yang kita bayangkan. Kehidupan berjalan terasa begitu cepatnya. Awalnya aku merasa masih sangat muda tak terasa usiaku semakin bertambah. Aku takut tak bisa

Jalan Pulang

Oleh:
Samar-samar kudengar dehasan nafas Ayahku. Kami sedang mendaki sebuah gunung menuju rumah tempat kami bercerita, tempat kami melepas piluh, tempat kami tertawa. “Ayah, biarkan Aku Jalan sendiri Yah.” mintaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *