Bangkitnya Abrahah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 21 June 2022

Dari kejauhan, nun jauh di kota Shan’a sana. Makkah dan Yaman dibentangkan oleh jarak ratusan mil. Seorang raja yang baru saja mengkudeta paksa dengan caranya yang licik yaitu membunuh sedang membangun sebuah tempat suci yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat untuk menunaikan ibadah haji orang-orang yang masih mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, Tauhid. Sedari dulu, para ahli kitab sangat muak terhadap ajaran Tauhid yang memang sudah diajarkan oleh para nabi sejak Nabi Adam. Namun banyak sekali manusia yang mengingkari akan adanya Nabi Adam sebagai manusia pertama. Sangat tidak jarang manusia yang mengakui dirinya bukan sebagai anak cucu Adam. Mereka lebih bangga sebagai anak cucu monyet bernama Pitegentropus erectus. Padahal Nabi Adam adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah yang sama sekali tidak membutuhkan evolusi. Jika saja Nabi Adam adalah seekor orang utan tentu saja anak cucunya mirip dengan orang utan. Begitulah pemikiran manusia yang mengejek kaum yang katanya hanya membaca manual books alias Al-Quran, sedangkan mereka sendiri telah tertipu mentah-mentah oleh dogma abadi yang disampaikan oleh Darwin, yang tidak lain adalah orang Yahudi.

Begitu pun dengan anak-anak zaman sekarang dipaksa untuk mempelajari dan meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa makhluk pertama yang menghuni bumi adalah reptil raksasa yang bernama Dinosaurus dan burung dodo. Dan untuk memperkuat hal itu, para ahli Sains yang menjadikan Al-Quran sebagai kitab Sains, padahal Al-Quran bukanlah demikian, mereka merekayasa fosil-fosil tulang yang seolah-olah merupakan hasil penemuan di masa lalu agar masyarakat meyakininya. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan hanya untuk membelotkan kaum Mukminin agar membaca kitab suci buatan mereka yang bernama jurnal dan makalah dan mendaulat mereka sebagai Tuhan Ilmu Pengetahuan. Maka dengan demikian, di dunia tidak akan ada seorang pun kaum Mukminin yang membaca manual books karena sudah menyibukkan dirinya dengan membaca artikel-artikel penuh kepalsuan. Namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa Allah Maha Melihat karena hati mereka tidak dapat melihatNya. Ayat-ayatNya sekali lagi diwahyukan kepada hamba-hambaNya untuk membantah dogma-dogma mereka yang lemah.

Tak jauh beda dengan Abrahah, raja yang kini berdiri dengan penuh kekaguman pada genetik yang mengalir di dalam tubuhnya sebagai keturunan Pitegentropus erectus yang pernah menguasai separuh dunia di zamannya. Ia dengan penuh kebanggaan memuji-muji bangunan berundak yang dibangun oleh para petani dan budak. Para budak dan petani itu dipaksa, jadi tanam paksa bukan hanya terjadi di negeri bernama Hindia Belanda saja, namun sudah ada sejak zaman batu dulu. Ia berharap bahwa bangunan sucinya itu nantinya akan mengarahkan para penganut agama Ibrahim untuk beribadah di sana.
“Sebuah bangunan yang sangat megah,” katanya dengan tersenyum penuh kebanggaan. “Aku akan mengarahkan penganut agama Ibrahim agar melaksanakan ibadah haji ke candiku ini.”

“Maaf, Paduka Raja. Bukanlah sebuah perkara yang mudah untuk melenyapkan ajaran-ajaran dari gurun pasir itu. Meskipun mereka telah lama ditinggalkan oleh Ibrahim bukan berarti dogma-dogma sesat yang diajarkannya akan mudah dilenyapkan begitu saja. Mereka terlalu kuat untuk dimusnahkan. Apalagi penganut agama Ibrahim paling banyak dianut oleh kaum kita sendiri,” kata perdana menterinya kala itu yang berdiri tidak jauh dari rajanya.

Saat itu, otak Abrahah yang sudah dipenuhi dengan wahyu yang berasal dari Iblis segera berputar. Mencari jalan keluar untuk memusnahkan ajaran-ajaran Ibrahim sekalian meluluhlantakkan bangunan kubus alias black box yang bernama Ka’bah itu. Rupanya, raja bengis itu sama sekali tidak menyadari atau kedua matanya telah dibutakan oleh kesombongan dan kebanggaan yang menggumpal-gumpal di dalam hatinya bahwa bangunan suci berundak tujuh miliknya yang serupa dengan Piramida itu juga terbuat dari batu. Bahkan proses pembangunannya pun mirip dengan Piramida yang pernah dibangun oleh para pendahulunya, Firaun. Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Piramida Mesir kuno dibangun oleh orang-orang Israil yang merupakan tawanan setelah Horebhep meluluhlantakkan Kota Amarna yang dijadikan sebagai Ibu Kotanya Firaun Anakhaton yang menganut agamanya Nabi Yusuf. Orang-orang Israil yang dijadikan budak itu dipaksa untuk mengangkut batu-batu berukuran besar hanya untuk membangun bangunan suci bernama Piramida. Konon, Piramida-Piramida itu dibangun oleh Firaun tujuannya untuk melihat Tuhannya Nabi Yusuf dan Nabi Musa yang bernama Allah itu. Begitu juga dengan Abrahah yang membangun candi berundak tujuh tujuannya juga sama, yaitu ingin melihat Tuhannya Nabi Ibrahim.

“Cara satu-satunya untuk membelokkan ajaran penganut agama Ibrahim adalah menghancurkan Ka’bah yang ada di Makkah sana,” ujar Abrahah setelah mendapat wahyu dari dewanya, Iblis.
“Paduka, adalah suatu perbuatan yang sangat mustahil apabila Panjenengan mau menghancurkan Ka’bah. Tentu saja Allah akan melindungi rumahNya,” sahut perdana menterinya dengan memasang wajah resah.
“Apakah kamu tidak yakin kalau Tuhan kita akan menyokong kita dalam memerangi kebatilan? Apakah kamu tidak mau menyadarkan umat kita dari kekafiran yang jelas-jelas nyata? Sadarlah, Perdana Menteri. Saudara-saudara kita sudah disesatkan oleh Ibrahim si Nabi Gurun itu. Sudah saatnya bagi kita untuk membangunkan mereka dari mimpi tidurnya.”
“Jika Paduka Raja memang ingin berkehendak demikian, saya akan kerahkan pasukan untuk berangkat ke Makkah untu meluluhlantakkan Ka’bah.”
“Bagus. Tolong kamu persiapkan pasukan gajah terbaik kita. Dengan gajah-gajah itu kita akan merobohkan Ka’bah dan berhala-berhala yang ada di dalamnya. Lalu kita kabarkan tentang kebenaran kitab suci kita yang berasal dari firman Tuhan,” kata Abrahah dengan penuh semangat yang membara.
“Baik, Tuanku.”

Pada saat itu, Abrahah yang sangat yakin dengan seyakin-yakinnya tertawa dengan penuh kemenangan. Ia yakin bahwa misinya untuk menghancurkan Ka’bah akan berhasil seratus persen. Ia juga sangat yakin bahwa penyebaran berita tentang kebenaran Alkitab akan mudah disampaikan sehingga saudaranya yang telah lama disesatkan selama ratusan tahun oleh dogma ajaran sesat Ibrahim akan bertaubat dan memeluk agama nenek moyangnya. Setelah pertemuan itu Abrahah kembali ke tempat tidurnya. Dan dalam mimpinya Tuhan-Tuhan yang duduk-duduk di hatinya membuainya dengan ilusi-ilusi yang seolah-olah merupakan wahyu yang suci. Juga Tuhan-Tuhan itu membangkitkan kembali kejayaan-kejayaan bangsanya di masa lalu. Kitab sucinya yang ditulis oleh para Mpu. Kata mereka, Tuhan-Tuhan itu, para Mpu lebih suci daripada seorang nabi. Para Mpu itu lebih mulia di sisi Tuhan daripada nabi. Dan nabi hanyalah manusia pembohong yang telah berdusta atas nama Tuhan.

“Aku akan menyebarkan sebuah kebenaran terhadap mereka bahwa selama ini mereka dicucuk hidungnya oleh dogma-dogma yang berasal dari ajaran-ajaran Ibrahim. Aku juga akan membangkitkan kenangan-kenangan lama tentang kejayaan mereka sebelum Ibrahim menancapkan kukunya. Aku akan membangkitkan kebanggaan-kebanggaan di hati mereka bahwa Mpu-Mpu mereka yang telah mengarang ratusan syair jauh lebih hebat daripada Ibrahim dan kroco-kroconya,” gumam Abrahah di dalam tidurnya.

“Apa yang sedang paduka bicarakan?” tanya seorang selir yang selalu memuaskan nafsu Abrahah di kala raja itu sedang ingin melampiaskan syahwatnya.
“Aku sedang berencana untuk menghancurkan rumah ibadah kaum Pagan yang selama ini dibelenggu oleh ajaran Ibrahim,” jawab Abrahah. Tangannya memeluk tubuh perempuan yang tidak ditutupi oleh sehelai kain itu.
“Sungguh rencana yang sangat brilian, Paduka. Sebab dengan dihancurkannya Ka’bah, maka akan banyak kaum penganut Tauhid yang akan beribadah di kuil suci paduka. Juga banyak domba-domba yang selama ini tersesat yang akan mendengarkan pesan-pesan sorga. Dengan begitu paduka juga akan menjadi raja diraja di atas muka bumi,” ujar perempuan itu berpendapat mengompori dada lelakinya.

Malam itu, diiringi oleh syair-syair indah yang menyentuh hati, Abrahah bercinta dengan selirnya sampai mereka berdua benar-benar puas. Berkali-kali perempuan jelita itu menjerit-jerit penuh intonasi kenikmatan. Ia sama sekali tidak sadar bahwa dinding-dinding kamar pribadinya itu, selendang-selendang yang menutupi ranjangnya itu, pelita-pelita kamarnya itu sedang berdoa untuk kehancurannya sendiri. Hatinya menginginkan penganut agama Ibrahim musnah-semusnahnya. Tapi di balik semua itu, alam semestalah yang memanjatkan doa kepada Tuhan agar berkenan memusnahkan Abrahah dari muka bumi.

Maka keesokan harinya, Abrahah yang bertindak sebagai panglima duduk dengan penuh kesombongan di atas tunggangannya. Ia memilih seekor gajah yang paling besar untuk memudahkan dirinya sebagai peroboh utama bangunan suci yang selama ini menjadi berhala bagi penganut agama Ibrahim itu. Sedangkan di belakangnya puluhan gajah berukuran lebih kecil tapi besar menunggu komando darinya untuk berangkat menjemput sorga yang dijanjikan oleh Tuhan-Tuhannya.

“Maju!” pekik Abrahah memberikan komando para pasukan gajahnya.
Lalu rombongan pasukan bergajah itu merangsek maju menuju medan jihad untuk merobohkan berhala-berhala Ibrahim. Jarak yang mereka tempuh memang sangat jauh, namun semangat untuk memberitakan kebenaran membuat jarak itu amat dekat. Bukit demi bukit, gunung demi gunung, gurun demi gurun telah mereka lalui. Lalu ketika mereka sampai di sebuah gunung yang berpasir, kedua mata Abrahah dapat melihat bangunan kubus yang dibangun dari tumpukan batu itu. Dalam hatinya ia menyinyir kedunguan kaum Mukminin, orang Mukmin itu bodoh amat. Tumpukan batu berbentuk kubus malah disembah? Bodoh amat. Rupanya setan telah menutup hatinya sehingga ia tidak sadar bahwa dirinya juga menyembah tumpukan batu bernama Candi.

“Lihatlah bangunan itu! Bangunan suci yang selama beratus-ratus tahun telah menyesatkan umat manusia telah berada di depan kita.”
Kemudian, Abrahah mengomando pasukan gajahnya agar maju. Namun saat itu, langit berubah menjadi kelam. Huru-hara. Angin kencang datang tiba-tiba sehingga memberatkan kaki para gajah itu. Bahkan sebagian gajah juga enggan ketika diarahkan ke Ka’bah.

“Kenapa dengan gajah ini?”
Pada saat itu, tampak segerombolan burung yang entah dari mana datangnya. Segerombolan burung itu muncul dari arah yang tidak disangka-sangka. Sehingga membuat manusia-manusia yang mengingkari Tuhannya menganggap bahwa segerombolan burung itu adalah pekerjaan para tukang sihir. Burung-burung itu lalu mengelilingi kepala pasukan Abrahah. Dan disaat yang sama, dari langit jatuh bebatuan panas dari neraka. Lalu batu-batu panas itu membuat kocar-kacir pasukan Abrahah. Bahkan batu-batu panas itu mengenai tubuh mereka sehingga tubuh itu bagaikan daun yang dimakan ulat. Mereka pun tewas seketika. Mayat-mayat bergelimpangan. Sementara Abrahah sendiri kebingungan. Dan Tuhannya, lari tunggang-langgang dan tidak dapat menolong dirinya. Abrahah berusaha untuk menghindar dari serangan burung-burung itu. Namun Tuhan mengirimkan penyakit yang membuat jari-jemarinya tangan dan kakinya terputus.

Aku bangkit dari dudukku. Seisi kelas seolah tenggelam dalam kisah yang kututurkan mengenai Abrahah yang bertekad untuk merobohkan Ka’bah.
“Apakah kalian dapat menghayati isi kisah yang tertulis di dalam Qs. Al-Fiil itu?” tanyaku.
Mereka menggelengkan kepala.
“Setiap kisah yang dinukil dari ayat-ayat Al-Quran sama sekali bukan dongeng apalagi cerita bohong. Sebab Allah dan rasulNya bukan pembohong. Yang pembohong itu adalah manusia. Baiklah, bahasa Al-Quran adalah bahasa kiasan. Tidak satu pun bahasa yang dapat menandingi Al-Quran. Dan bahasa Al-Quran tidak terbatas pada ilmu kalam, nahwu, shorrof dan kaidah-kaidah lainnya.”

“Abrahah yang dikisahkan oleh Al-Quran bukanlah raja yang berkuasa di Shan’a. Ia bukan seorang manusia kejam. Abrahah yang dimaksud oleh Al-Quran manusia yang tertutup hatinya dari ayat-ayat Allah. Ia menyembah kebanggaan, kesombongan, keangkuhan, khayalan-khayalan masa lampau, dan kecongkakannya yang ada di dalam dirinya. Ia berusaha untuk menghancurkan Ka’bah orang-orang mukmin, yaitu rumah Allah. Ka’bah di sini bukan bangunan kubus yang terbuat dari tumpukan batu. Benar yang dimaksud dengan tumpukan batu merupakan batu permata. Yang apabila diasah akan menjadi terang yaitu hati. Hati bukan hati yang berwarna merah namun singgasana Tuhan yang terbuat dari pancaran NurNya. Sementara bangunan kuil milik Abrahah memiliki makna filosofi hati yang keras yang selama ini dipujanya. Ia menganggap bahwa agama nenek moyanglah yang paling benar, dan agama Ibrahim yang mentauhidkan Allah adalah agama sesat. Kenapa? Karena semua ayat yang diterima oleh Ibrahim berada di luar nalar manusia. Sedangkan kitab-kitab lontarnya masih bisa ditangkap oleh akal. Sesat maknanya berada di luar akal manusia. Tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia,” aku menjelaskan dengan detail.

“Namun, lalu Allah mengirimkan pasukan burung. Burung yang dimaksud di sini bukanlah burung yang biasa terbang di langit melainkan hamba-hamba yang membawa ayat-ayatNya. Dengan ayat-ayat Qadhimnya, hamba-hamba pilihan itu memporak-porandakkan pasukan Abrahah yang menunggangi gajah. Gajah dalam hal ini berarti penguasa. Jadi, Qs. Al-Fiil mempunyai makna yang tersirat yang apabila kita urai akan membuka wawasan cakrawala pengetahuan kita akan Al-Quran. Dan sekali lagi, Allah tidak akan membiarkan rumahNya yang bersemayam di hati kaum mukminin dihancurkan oleh Abrahah-Abrahah zaman now yang kembali bangkit dari kematian panjangnya. Namun Abrahah-Abrahah itu dibutakan oleh pasukan burung huru-hara sehingga tidak dapat melihat cahaya kebenaran yang hakiki.”[]

Ruang Hampa, Juni 2022

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Blog / Facebook: @khairulazzamelmaliky

Cerpen Bangkitnya Abrahah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Untuk Aku

Oleh:
Hari beranjak siang, tapi aku masih terpekur sendiri di dalam kamar sempit dan sedikit pengap. Aku ingin sendiri saat ini, berkali-kali mama memanggilku untuk makan, tapi tak aku gubris

Saksi Mata Biru (Part 2)

Oleh:
Sepuluh tahun kemudian, pasca kemerdekaan, 9 November 1945. tepatnya di masjid pondok. Pagi itu para santri terlihat bersemangat membaca Al-quran, kabar tentang gerakan mempertahankan kemerdekaan semakin memanas, setelah kematian

Menelan Takdir Tuhan

Oleh:
Bangunan letter U berdinding gribig bambu itu mendadak membisu. Sepuhan angin sejuk dari arah selatan pegunungan sana terasa hambar. Derap langkah kaki-kaki jenjang nampak terseok berjalan ke arah masjid

The Light

Oleh:
– Cahaya negeri ini adalah kita – “Peringatan HUT RI yang ke-70 tahun ini kenapa begitu sepi? Tidak meriah seperti tahun lalu.” “Pada sibuk mungkin.” “Sibuk? Tapi setiap tanggal

Dirindu Dinginnya

Oleh:
Bau pagi yang khas menelusup masuk lewat jendela kayu kamar ku. Bau embun mulai datang. Uh! Jatuh tepat di atas kelopak mata ku. Siapa lagi kalau bukan ayah yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bangkitnya Abrahah”

  1. Ami says:

    hebatttttt….bagussss…menegangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *