Berandalan Desa Yang Taubat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Saat aku menginjakkan kakiku melewati pintu depan rumahku, ternyata sore itu pemandangannya begitu indah sekali. Kemudian aku pun duduk di sebuah jembatan yang berada tepat di depan rumahku, aku duduk sambil memasukkan kakiku ke dalam air sungai yang begitu bersih.

Saat itu di desaku mengalami banjir, sehingga air yang berada di sungai sampai berada di halaman rumahku. Aku bersyukur sekali karena lantai rumahku berada dua jengkal di atas tanah, jadi jika air sungai rendah tidak akan membuat rumahku sampai kebanjiran. Tapi jika hujan datang begitu derasnya dan terjadi setiap malam, maka air yang berada di halaman rumah naik memasuki rumahku. Terkadang saat aku hendak pergi ke sekolah aku selalu kesulitan, karena pada saat itu jalannya amat sangat becek. Di setiap sisi jalan itu banyak sekali lubang yang dipenuhi oleh air, jalan yang digunakan oleh warga desa pun dipenuhi oleh air yang begitu dalam.

Aku teringat bahwa pernah satu ketika saat aku hendak pergi ke sekolah aku tiba-tiba terjatuh, karena ban kereta yang kukendarai masuk ke dalam lubang yang dalam, rok dan sepatuku basah seketika. Walau demikian aku tetap berangkat ke sekolah, karena hal itu tidak menutup kemungkinan aku untuk tidak pergi ke sekolah. Menurutku apa yang kualami saat itu adalah sebagian kecil dari sebuah perjuangan untuk sukses. Bahkan dahulu kedua orangtuaku harus berjalan kaki untuk melewati jalan yang rusak itu, hal itu mereka alami setiap hari, tetapi mereka tidak sedikit pun mengeluh akan keadaan itu. Menurutku saat ini aku sudah sangat mudah dalam aku menggapai ke suksesan, sekarang tergantung perjuanganku saja dan aku tak boleh mundur sampai di sini saja.

Sore ini aku sangat bahagia dapat melihat perubahan warna mentari yang hendak terbenam di ufuk barat. Pemandangan begitu indah sekali, langit biru yang terbentang luas serta kicau suara burung-burung menambah indahnya pemandangan sore itu. Bersatunya warna antara langit dan matahari terpancar begitu indah cahayanya di dalam air sungai. Air itu belum tercampur oleh zat apa pun sehingga siapa pun dapat melihat bayangan dirinya sendiri, bayangan dedaunan, bahkan pantulan sinar matahari pun dapat dilihat dalam air sungai itu.

Setelah lama aku mengagumi indahnya pemandangan desaku pada saat itu, aku terkejut pada saat itu langit sudah berubah gelap, warna mentari berubah menjadi oranye dan hilang secara perlahan, angin mulai menghembus begitu kencang, membuat aku jadi menggigil sangat dingin. Aku seketika tersadar kemudian aku bangkit dari dudukku, hendak menuju rumah. Tiba-tiba ada suara kereta yang sangat keras, suara dari kereta itu sampai menyakiti telingaku, aku sangat penasaran sekali sambil bertanya di dalam hati “Siapa sih orang yang mengendarai kereta itu, sampai-sampai membuat sakit telingaku”. Suara itu semakin keras dan semakin mendekat, aku begitu sangat penasaran tetapi aku sangat takut untuk menoleh ke belakang.

Tiba-tiba suara kereta itu berhenti, bahkan mereka malah memperkuat suara kereta mereka. Dengan rasa penasaranku yang amat sangat kuat dan rasa gondok di dalam hati, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Tiba-tiba aku sangat terkejut ternyata sumber suara tadi datang dari segerombolan Geng Motor yang ada di desaku. Dengan pakaian berwarna hitam ala anak Panky dan menggunakan ikat kepala warna merah serta rambut mereka yang panjang dan memiliki berbagai warna di setiap sisi rambutnya. Motor yang mereka kendarai pun sangat sesuai dengan gaya yang mereka gunakan. Mereka geng motor yang sangat meresahkan warga desa setempat, bahkan warga desa seberang. Mereka dengan sengaja mencolok-colokkan (menggeber-geber) kereta mereka. Para warga sempat memberontak mereka bahkan menghancurkan tempat nongkrong mereka, tapi mereka malah balik memberontak bahkan mengancam warga setempat. Oleh sebab itu, para warga takut pada mereka yang seenaknya memperlakukan orang lain. Tak jarang mereka berkelahi dalam keadaan mabuk, mereka selalu menindas orang yang sebaya dengan mereka bahkan lebih tua dari mereka. Karena sikap mereka, tak ada satu orang pun yang mau menasehati mereka, bahkan kedua orangtua mereka pun sudah tidak lagi menasehati mereka.

Aku kemudian melihat ada seorang bapak-bapak yang hendak pergi ke Masjid, bapak itu melewati tempat mereka berhenti. Dengan pakaian berwarna putih serta lobe(peci) yang dikenakan bapak itu, dan wangi-wangian yang halal dibawa ke Masjid, pertanda bahwa bapak itu adalah seorang ulama. Pada saat bapak itu lewat dari hadapan mereka semua, mereka tidak berani mengatakan sepatah kata pun, bahkan mereka tenang dan diam, bagai air yang mengalir di sungai. Bapak itu berhenti dan berkata pada mereka “Hai anak muda untuk apa kau sia-sia kan waktumu sambil minum-minum. Pulanglah kemudian salat lah, ingatlah kedua orangtua kalian yang sudah membesarkan kalian, mereka menunggu anak-anaknya pulang ke rumah untuk makan malam bersama anaknya”. Kemudian bapak itu berpaling lalu pergi meneruskan langkah kakinya menuju Masjid.

Bapak itu mengumandangkan suara azannya yang begitu merdu, setelah mendengar suara azan itu mereka bergegas pulang, begitu pula aku langsung menuju pintu rumahku. Hal itu setiap hari dilakukan oleh bapak ulama itu, begitu juga mereka yang pulang setelah mendengar suara azan bapak ulama itu. Dan terkadang bapak ulama itu datang lebih awal dan mengajak mereka ke Masjid untuk belajar mengaji dan salat, dan mereka tetap diam sambil meminum-minuman mereka.

Sampai suatu ketika mereka menunggu bapak ulama itu datang sampai jatuh waktu magrib, tetapi bapak itu tidak datang juga. Sehingga suara kumandang azan yang biasa mereka dengar sudah berubah dan asing mereka dengar. Karena bingung mereka pun memutuskan untuk datang ke rumah bapak ulama itu, pada saat istri ulama itu mendengar ada suara orang yang mengetuk pintu rumah mereka, kemudian dia pun bergegas bangkit dari duduknya untuk membuka pintu, sebelum dia membuka pintu, dia terkejut melihat bayangan anak berandalan itu di kaca jendelanya, dengan rasa takut dia bertanya kepada suaminya “pak kenapa anak-anak motor itu datang ke rumah kita?”, bapak tersenyum sambil menjawab ‘mungkin mereka ingin bersilaturahmi, bukalah pintunya himbaulah mereka untuk masuk”.

Istri ulama itu membuka pintu kemudian mempersilahkan mereka masuk dan duduk, istri ulama itu bertanya ‘apakah ada hal penting sehingga membuat kalian datang ke gubuk kami?”, mereka menjawab “datangilah bapak ada di kamar sekarang’. Mereka pun segera masuk dan mereka terkejut, ternyata bapak ulama itu terbaring sakit bahkan memakai tabung oksigen dan kantong penambah darah yang berada di atas kepalanya, tapi bapak itu tetap saja melaksanakan salat.

Setelah dia selesai salat, bapak tersenyum melihat kedatangan mereka sambil mempersilahkan mereka untuk duduk, mereka bertanya “Kenapa di tengah sakit bapak seperti ini bapak tetap salat?”, bapak itu menjawab dengan senyum begitu lebar “Salat adalah kewajiban setiap muslim, jadi saya harus salat karena saya masih bisa salat dengan cara berbaring”. Kemudian mereka terdiam dan bapak itu balik bertanya “Apakah bapak boleh meminta sesuatu kepada kalian semua?”, mereka menjawab “Apa itu pak?”, “maukah kalian menggantikan bapak untuk mengumandangkan azan ke Masjid, dan menjadi imamnya” jawab bapak ulama itu dengan sebuah harapan yang amat besar kepada mereka, mereka menjawab “kami tidak bisa melakukannya pak, bahkan salat pun kami tidak tau”, “Bapak yang akan mengajari kalian sampai kalian bisa’. setelah lama berfikir mereka pun menyetujui permintaan semua itu dan mereka belajar mengaji, wudu, serta salat, sampai mereka bisa.

Tiba-tiba suatu ketika bapak ulama itu bertambah sakit parah dan berkata kepada mereka semua “Azanlah nak srulah semua orang agar hendak mengerjakan kewajiban mereka, sudah saatnya waktu magrib dan sudah saatnya kalian berubah, bnggakanlah kedua orangtua kalian termasuk juga bapak, bapak ingin sekali mendengar suara azan kalian di sisa hidup bapak”, mereka pun langsung pergi ke masjid untuk melakukan azan.

Bapak ulama itu pun bahagia di sisa terakhir hidupnya dia dapat mendengar suara kumandang azan dari muridnya, bapak ulama itu tersenyum bahagia sambil menghembuskan nafas terakhirnya. Pada saat mereka melewati rumah bapak ulama itu mereka melihat banyak orang yang berada di rumah itu, dan mereka mendengar langsung dari istri ulama itu bahwa bapak ulama yang telah membuat mereka sadar atas kesalahan mereka telah meninggal dunia. Pada saat itu mereka setiap hari pergi ke masjid untuk mengaji dan melaksanakan salat. Banyak warga yang tidak menyangka bahwa berandal yang ada di desa mereka sekarang sudah insaf, dan taubat.

Cerpen Karangan: Nurhaya
Facebook: Hayya Deasabel A Taurus
penulis adalah seorang pelajar kelas 2 SMA. Bertempat tinggal di Bandar Minggu dusun 1x desa. Anak pertama dari tiga bersaudara.

Cerpen Berandalan Desa Yang Taubat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayahku (bukan) Ustaz Badut

Oleh:
“Ayah lucu kayak badut!” ujar adikku yang terkecil. Sakit hatiku mendengar kalimat itu meluncur deras dari bibir mungil adik bungsuku yang belum mengerti apa-apa. “Bagaimana kalau kita panggil saja

Sudah Saatnya

Oleh:
Aku berlari kecil menghindari hujan sambil memayungi kepalaku dengan kedua tangan, meski percuma tetap saja tubuhku basah. Air berkecipak di kakiku. Membasahi celana jeans panjang yang kupakai. Setelah sampai

2,5 Persen Saja

Oleh:
“Intinya setiap harta yang kita miliki, wajib kita zakati. Sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW”. Terang Pak Aji di tengah penjelasannya, saat menyampaikan materi hadits bab

Bidadari Dalam Mimpi (Part 1)

Oleh:
“Astagfirullah”, aku terbangun secara tiba-tiba dari tidurku, “MasyaAllah”, “mimpi ini lagi”, batinku. Sudah lebih dari satu bulan ini aku terus mendapat mimpi aneh ini, yah walaupun tidak setiap hari,

Tergantung Niat

Oleh:
Lembayung senja menemani langkah Fatin. Bergegas ia menuju ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum yang akan mengantarnya pulang ke rumah. “Lagi dan lagi, saya sendiri.” Ucap Fatin lirih.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *