Bersama Kita Menuju Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 May 2017

Ayu terdiam. Angin sore itu berhembus dengan lembut membuat dedaunan pohon di sekitar taman pondok bergoyang-goyang sehingga, siapapun yang merasakannya akan langsung ingin terlelap. Ayu yang sedang duduk di kursi taman itu seakan tak terpengaruh dengan keadaan seperti ini. Saat ini pikirannya sedang tak bersamanya. Dia bimbang, bingung, dan mulai putus asa. Entah, dengan cara apa lagi untuk membujuk sahabtnya agat tetap bertahan di pondok yang sedang di dalaminya saat ini.

“Kamu kenapa? tumben.” Tanya seseorang dari arah belakang Ayu.
“Eh Annisa. Gak apa-apa kok, Nis.” Jawab Ayu dengan sedikit terkejut.

Ayu. Seorang cewek alim yang bernama lengkap Nurul Rahayu mempunyai perawakan kulit putih, badan ideal, tinggi semampai. Dia dikenal dengan senyumnya, akhlaknya dan selalu ceria. Jadi, wajar saja kalau dia lagi murung banyak orang yang heran. Namun, Ayu orangnya sulit tertebak jika lagi punya masalah karena seakan-akan masalahnya dia selalu pendam sendiri. Dia mempunyai seorang sahabat, namanya Mutmainnah Dzakiyyah atau yang biasa disapa Izah. Ya, saat ini mereka tinggal di pondok Riyadussholihin.

“Bagaimana mungkin kamu gak apa-apa? Ayolah Ayu, kamu jangan terlalu menjadi seorang yang tertutup. Kita kan sudah tinggal seatap, masa kamu punya masalah tapi kita sebagai teman hanya tinggal diam?.” Bujuk Nisa.
Ayu tetap diam tak bergeming dengan raut wajah yang flat, tapi dia tetap mendengarkan perkataan Annisa. Tatapannya terfokus pada dedaunan yang masih terus bergoyang seakan ingin menghibur kegundahan hati Ayu. 1 menit berlalu, 2 menit… 3 menit… tetap tak ada yang berbicara. Terlihat dari raut wajah Annisa sudah mulai lelah. Juga kening Annisa mulai basah oleh keringat.

“Ya sudah kalau kamu tak ingin bercerita denganku. Mungkin aku bukan orang yang tepat untuk berbagi masalah, tapi kalau kamu sudah ingin berbagi cerita datanglah saja kepadaku. Aku selalu siap mendengar ceritamu. Maaf aku menganggu kesendirianmu.” Ujar Annisa sambil berlalu pergi seakan paham kalau Ayu sedang ingin sendiri.
“Annisa,” panggil Ayu membuat langkah Annisa terhenti. ”Maafkan aku. Terima kasih karena kamu paham keadaanku saat ini. Aku memang sedang butuh teman untuk mencari solusi, tunggu aku di kamarmu. Aku akan datang 15 menit lagi, Nis. Sekali lagi, terima kasih.” Lanjutnya,
“Baiklah.” Annisa berlalu pergi.

Lalu, Ayu kembali berpikir bagaimana agar Izah tetap di pondok bersamanya. Ia menyayangi Izah, begitupun sebaliknya. Namun, karena hanya sebuah masalah yang menurut Ayu bisa di selesaikan dengan cara yang baik-baik. 10 menit berlalu, Ayu belum juga menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalahnya. Akhirnya, ia segera beranjak pergi ke kamar Annisa. Ia memperbaiki perasaannya lalu berjalan menyusuri lorong-lorong di sekitar tempat itu untuk menuju ke kemar Annisa.

“Asslamu ‘alaykum waramatullahi wabarakatuh” Ucap Ayu saat memasuki kamar Annisa
Annisa yang sedang asyik menyelesaikan tugasnya segera merespon Ayu
“Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh Ayu, sini Yu. Ayo masuk.” Ujar Annisa sambil merapikan tugas-tugasnya lalu melayani Ayu dengan sopan
“Kamu lagi sibuk ya? Ya udah nanti aja aku cerita takut ganggu.”
“Aduh gak kok Yu. Cerita aja, cepet. Aku gak sabar dengar cerita kamu semoga saja aku bisa membantumu” Ucap Annisa sangat antusias
“Bener?”
Annisa hanya menganggukan kepala dengan semangat.

Terlihat dari ujung pagar pondok berdiri seorang anak cewek dengan pakaian celana jeans, baju setinggi paha dan jilbab paris tipis. Mungkin dia malu. Lalu, salah satu santri pondok tersebut menghampirinya.
“Asslamu ‘alaykum, nama kamu siapa? dan mau apa di sini? kenalkan aku Mutmainnah Dzakiyyah, panggil aja Izah.” Ucapnya seraya mengulurkan tangan kepada cewek itu
Dengan malu, cewek itu menggapai tangan Izah.
“Namaku Nurul Rahayu, panggil aja Ayu. Aku akan di masukkan dalam pondok yang sepertinya menyeramkan ini.” Jawabnya dengan wajah yang polos
“Loh kenapa menyeramkan?”
“Aku terpaksa masuk sini dan memang aku tak pernah ingin dimasukkan di pondok”
Izah sedikit bingung. Dia lalu mengalihkan pembicaraan yang mnurutnya sangat menyinggung ini
“Ya udah, ayo kita coba jalan-jalan sekitar pondok ini. Siapa tahu kamu langsung suka, kan.”
Ayu hanya mengikut saja. Lalu, di tengah-tengah mereka asyik berkeliling, Izah sempat saja bertanya
“Kok kamu pakai pakaian ketat? nanti kalau kamu masuk sini gak boleh ya pakai pakaian gitu?”
Plakk..
Seakan ditusuk pedang, dadanya sesak. Menyinggung sekali, pikirnya dalam hati.
“Ya..” Jawabnya singkat dengan wajah flat
Dan semenjak kejadian itu, Ayu mulai dekat dengan Izah. Layaknya saudara. Dan sedikit demi sedikit cara berpakaiannya mulai semakin syar’i bahkan dia pernah menjadi santri yang patut diteladani. Tentu, hal itu tak lepas dari usaha Izah yang terus memotivasi Ayu.

“Lalu, yang membuat kamu galau, bingung gitu apa?” Tanya Nisa
“Yang jadi masalah sekarang itu Izah akan dipindahkan ke pondok yang di kota untuk mengajar. Pondok ini kan sistemnya kalau udah selesai hafalannya, mereka akan dipindahkan atau tetap di sini sebagai bentuk pengabdian. Izah kan udah selesai hafalannya dan dia termasuk santri yang akan dikirim ke pondok lain untuk mengajar” Lirih Ayu dengan mimik yang hampir menangis lalu menunduk.
Terlihat dari wajah Ayu memerah seperti menahan sesuatu dan Annisa paham, Ayu sedang menahan air matanya jatuh. Annisa kebingungan, dia tak sanggup melihat Ayu sampai berderai air mata.
“Kan cuman beberapa tahun aja Yu. Ya, aku paham kamu pasti merasa kehilangan tapi kamu akan semakin merasa kehilangan jika sahabatmu tidak sukses. Bukankah itu juga sebagai bentuk pengumpulan pahalanya agar bisa masuk surga kelak? Kan yang seperti kita ketahui, seorang teman kelak akan menjadi syafaat bagi diri sendiri, nah kamu mau kan masuk surga bersama Izah?” Jelas Annisa juga menahan butiran hangat jangan sampai jatuh membasahi pipinya
Ayu hanya mengangguk pelan, dia menangis di punggung Annisa.
“Kamu tau gak Yu? Aku juga dulu punya sahabat seperti Izah, dia juga seorang hafidzoh namanya Aisyah. Tapi, dia ternyata dipanggil duluan oleh Allah. Dia meninggal ketika sedang menyetorkan hafalan terakhirnya karena memang dia punya penyakit Leukimia stadium 4. Dan memang Allah selalu paham keadaan hambaNya, Aisyah betul-betul tak sanggup lagi menahan penyakitnya. Saat menyetor saja dia sudah sesak, dan ketika dia selesai dia lalu terjatuh secara perlahan dan aku menyaksikan hal itu. Sakit pasti, ya aku merasakan sangat sakit kehilangan sahabat,” Annisa berhenti sebentar, butiran hangat itu sudah sejak tadi membasahi pipinya. Dia menghapus air matanya, lalu melanjutkan, “Dan aku yakin, pasti itu yang terbaik untuk kita. Hingga saat ini pun aku belum terlalu bisa move on dan aku selalu merasa bahwa Aisyah selalu menemaniku. Jadi, aku mohon kamu jangan terlalu meratapi dan bersedih tentang Izah, In syaa Allah kalian pasti akan ketemu lagi dalam keadaan iman yang semakin bertambah.” Lirihnya seraya menghapus air mata ayu yang terus mengalir
Ayu hanya diam. Dia mulai sedikit tenang dan sudah tak menagis lagi. Sedangkan Annisa juga menenangkan dirinya sendiri, dia kembali merindukan Aisyah, sahabatnya. Selama 30 menit tak ada yang berbicara di antara mereka. Lalu, tak terasa sebentar lagi masuk waktu dzuhur.
“Ayu, yuk kita siap-siap sholat dulu.” Ajak Nisa
“Iyya, Jazakillah khairan katsiran Annisa telah melegakan sedikit masalahku. Aku doakan semoga kamu juga bisa bertemu sahabatmu, Aisyah di surga dan untuk kita semua juga.” Balas Ayu
“Allahumma aamiin.”
Mereka saling berpelukan.

Beberapa hari kemudian, tibalah hari di mana Izah akan diberangkatkan untuk ke suatu pondok di luar kota. Tapi, sejak persiapan keberangkatan Izah, Ayu tak pernah kelihatan batang hidungnya. Ke mana dia? Izah sudah sangat risih. Dia terus bertanya kepada seluruh santri tentang keberadaan Ayu, tapi tak ada yang mengetahuinya. Dan Izah baru ingat tempat biasanya jika Ayu sedang sedih, di taman pondok. Dia lalu, bergegas ke sana dengan penuh harap dia bisa bertemu Ayu sebelum keberangkatannya. Dan benar, ternayata Ayu ada di sana.

“Ayu..” Lirih Izah
Ayu tak menoleh. Ia tau siapa yang memanggilnya.
“Ada apa? Kenapa kamu belum berangkat? Kamu menungguku? Kamu pergi saja gak usah ketemu sama aku. Aku doakan semoga kamu sukses dan kembali dengan keadaan selamat dan semoga tidak melupakanku. Terima kasih hari-hari serunya dan kebersamaannya. Jujur, aku menyayangimu dan sedih tentang keberangkatanmu tapi tak apalah, ini demi sukses akhiratmu. Sekali lagi semoga kau tak melupakanku” Balas Ayu dengan tetap tak menoleh sedikit pun.
Izah hanya diam terpaku. Air matanya mulai mengalir. Apa maksud Ayu? Apakah dia berpendapat bahwa aku seorang pengkhianat? Pikir Izah. Ia lalu berlari ke arah Ayu dan memeluknya.
“Aku juga menyayangimu sebagaimana layaknya seorang sahabat. Aku takkan melupakanmu.”
“Bagaimana kau berjanji tak melupakanku? Aku yakin, kamu pasti akan semakin banyak mendapatkan teman-teman yang shalihah.” Lirih Ayu sambil sebentar melirik ke arah Izah lalu kembali menunduk
“Jujur ini yang kusuka dari dirimu, kamu terlalu sensitif selalu saja berpikir buruk tentangku. Kamu tak yakin dengan ucapanku? Kita kan udah lama sahabatan dan aku begitu mempercayaimu. Lalu kamu? Ah sudahlah, aku tak ingin ada dendam di antara kita. Dan aku minta maaf karena perkataanku ini sedikit kasar dan semoga juga tak ada dendam di hatimu juga di hatiku.” Aku Izah sambil melihat jam tangannya
Ayu hanya diam. Dia semakin menunduk sepertinya butiran hangat dari matanya mulai berjatuhan.
“Ya sudah, sepertinya tak ada hal yang ingin kamu sampaikan. Maafkan aku Ayu sahabat tercintaku, aku takkan melupakanmu dan aku akan tetap kembali sebagaimana Izah yang hanya punya satu sahabat terbaik dan shalihah. In syaa Allah.”
Izah pun berlalu pergi, dia juga sedang menahan air matanya. Tapi, tidak! Dia harus tegar depan sahabatnya. Karena sahabat yang baik adalah sahabat yang senantiasa menegur kesalahan sahabatnya. Di sisi lain, Ayu merasa tak enak hati dengan Izah. Ia membiarkan Izah pergi dengan meningglkan luka di hatinya. Bodohnya. Sesalnya dalam hati. Apa yang mesti dilakukannya? Izah sudah pergi dan dia belum meminta maaf. Semoga dia masih ada. Pikir Ayu, lalu ia segera berlari menyusul Izah yang belum lama meninggalkannya.

Ayu dengan sedikit ngos-ngosan berlalu lalang mencari Izah. Yap!!! Terlihat izah sedang menaiki mobil yang akan mengantarkannya ke pondok yang ditujunya. Ayu lalu berlari dan berharap Izah melihatnya.
“Izah…” Panggilnya
Dan Izah menoleh. Mata mereka bertemu. Izah yang juga menyadari kejadian ini segera berlari menghampiri Ayu, sahabt tercintanya. Mereka berpelukan
“Aku minta maaf Zah.. apakah kamu mau memaafkanku?” Tanya lirih Ayu
“Pasti. Aku tak marah padamu, itu bukti aku menyayangimu sebagai sahabatku bahkan lebih dari sahabat. Kita kan saudara. Sudahlah, jangan terlalu lebay dengan keberangkatanku. Yakin, aku akan kembali dengan diriku yang tetap seperti ini, in syaa Allah.” Jawab Izah sambil menghapus air mata sahabatnya
Ayu mengangguk pelan.
“Ya sudah, aku berangkat ya. Pesanku satu, jangan lebay, hehe.”
“Uh, dasar.” Ucap Ayu sambil menyenggol Izah
“Ih, kan emang. Ya udah, aku berangkat ya. Kamu harus tetap istiqomah. Dan semangat!! Asslamu ‘alaykum sahabat tercintaku.” Lirih Izah sambil mencubit pipi Ayu lalu menyunggingkan senyum.
Izah berlalu pergi menuju mobil tadi. Tak lama, Izah pun berangkat. Mereka saling melambaikan tangan, begitu juga santri lainnya. Semakin lama, mobil yang ditumpangi Izah mulai tak terlihat dan ya, Izah benar-benar pergi untuk mengamalkan ilmunya.

Suasana agak berbeda jika tak ada Izah. Itu yang dirasakan Ayu saat ini dan sepertinya santri lainnya juga merasakan hal yang sama. Izah memang sangat berperan penting pondok itu. Banyak kenangan indah jika bersamnya yang akan terus terukir. Sudahlah, Izah sudah pergi dan Ayu sepertinya saat ini mulai terbiasa dengan keadaan tanpa Izah. Namun, dia tak akan pernah melupakan sahabatnya itu.
“Kita harus bersama-sama menuju surga.” Ucap mereka suatu hari

Epilog
“Assalamu ‘alaykum gadis manis. Sedang apa? Apakah kamu sudah siap dengan hari istimewamu ini?” Ucap seorang cewek berkulit sawo matang ini di sertai senyumnya yang begitu manis
“In syaa Allah.” Jawabnya singkat dengan sedikit menganggukkan kepala
“Gak usah nervous Yu. Kamu sangat beruntung di iznkan Allah jadi penjaga al-qur’annya”
“Aku gak nervous Nis. Aku cuman lagi merindukan seseorang yang sangat ku harap kedatannya.” Ucapnya lirih
“Siapa? Orangtuamu? Bukankah orangtuamu memang sudah datang? Atau kamu menunggu keluarga lainmu?” Tanya Annisa membuat Ayu semakin sedih
“Bukan. Aku memang mengharapkan kedatagan mereka namun ada seorang lagi yang sangat kuharapakn datang tapi, sampai saat ini belum datang. Aku merindukan Izah.” Jawab Ayu dengan mata berkaca-kaca
“Oh, maafkan aku. Aku juga sangat mengharapkan kedatangannya. Tadi dia sudah dihubungi, katanya dia minta maaf. Dia gak bisa datang karena kendala waktu dan keadaan.”
Plak..!!!
Seakan jatuh dari langit. Ayu begitu terhempas mendengar perkataan Annisa. Apakah di hari istimewanya ini, di hari di mana dia akan membuktikan hafalannya di khalayak umum. Begitu sempurnya, tapi bagi Ayu ini belum sempurna. Dia merindukan Izah.
“Ah, kenapa Izah begitu jahat? Apakah dia lupa dengan janjinya? Tidak, tidak. Izah pasti ingat janjinya. Ayu kamu hrus husnudzon” Pikir Ayu dalam hati
Hatinya terus memberontak. Lama sekali ia berpikir untuk menenangkan hatinya.

“Rupanya kamu di sini, ayo acaranya hampir di mulai. Kan kamu yang di tunggu-tunggu.” Ucap Annisa membuat lamunan Ayu tersadarkan.
Ayu hanya mengikut saja. Ketika Ayu sedang melafalkan hafalannya,tiba-tiba ada yang memanggilnya. Konsentrasi Ayu sedikit terganggu. Namun, ia berusaha tetap fokus. Setelah acara selesai, ayu mencari seseorang yang memanggilnya tadi. Ketika ia sibuk mencari, tiba-tiba ada yang memgang kedua pundaknya. Ayu menoleh sedikit, dan ternyata dia adalah Annisa.
“Ih, kukirain siapa. Bikin kaget aja. Eh Nis, kamu tau gak siapa yang tadi manggil aku?” Tanyanya
Annisa hanya cengingisan sambil menjawab,
“Aku tadi yang manggil kamu. Aku mau kasi tau sesuatu yang penting. Yang buat kamu sangat senang.”
“Apa?”
“Sesuatu deh.”
“Apa sih?”
“Ayo ikut aku.”
“Untuk?”
“Ikut aja.”
Ayu sedikit kesal. Akhirnya ia menurut saja dengan kata-kata Annisa.

Sesampai di tempat yang di maksud Annisa ternyata di sana ada seorang wanita bercadar kelihatannya menunggu seseorang.
“Izah..” Panggil Annisa membuat ayu heraan
Izah? Apakah Izah ada di sini? Katanya dia gak mau datang? Pikir Ayu.
Wanita bercadar itu lalu menoleh, ia membuka cadarnya. Dan benar itu adalah Izah. Izah sahabat Ayu. Kini dia telah bercadar dan ayu juga sebentar lagi akan memakai cadar.
“Izaaaaah..” Panggil Ayu sambil menuju ke arah Izah
Ia memeluk Izah.
“Aku sangat merindukanmu.” Aku Izah
“Terlebih aku.” Balas Ayu
“Alhamdulillah, aku juga ikut senang kamu telah jadi penghafal qur’annya Allah. Semoga bisa diamalkan ya sayang.” Izah merangkul Ayu
“Alhamdulillah, terima kasih sayang.”
Akhirnya mereka kembali bertemu dalam keadaan dan di tempat yang baik. Beruntung sekali mereka. Mereka wanita-wanita akhir zaman yang taat dan calon penghuni surga.
“Bersama kita menuju surga” Ucap mereka suatu hari

Cerpen Karangan: Wafiq Azizah Annisa R.
Facebook: Wafiq Azizah Annisa
Pendidikan: SD Negri 12 pakalli, SMP IT Al-Ishlah Maros, SMA Islam Athirah Boarding School Bone
Cita-cita: Hafidzah dan sastrawan
Prinsip: Jika engkau mengejar Akhirat, maka dunia akan mengikutimu. Maka, teruslah berjuang demi kehidupan yang abadi kelak, in syaa Allah. Semangat!!!

Cerpen Bersama Kita Menuju Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepasang Mata Dari Sahabat

Oleh:
Suasana malam ini begitu dingin, tapi tidak untukku. Aku merasa gelisah, keringat dingin membasahi seluruh badanku. Malam ini begitu hening, yang terdengar hanya suara jarum jam yang terus berdetak.

Diary Ajaib Fero!

Oleh:
Fero termasuk anak yang pintar dikelas tina padahal waktu SD dulu fero itu biasa saja sama seperti tina dan anak anak lainnya tapi semenjak masuk SMP rengkingnya melejit dan

Sorry, Mom

Oleh:
Sudah tiga tahun lamanya, sejak ayah dan ibu berpisah. Hari itu tanggal 20 Agustus 1998 bertepatan dengan ulang tahunku. Ayah pergi meninggalkan aku dan ibu setelah pertengkaran dashyat pada

Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Aku (Rangga), Rio dan Randi adalah 3 sekawan sehidup semati. Kemana-mana kita pasti bareng. Kita kuliah di satu kampus yang sama, tempat makan favorit kami pun sama. Akan tetapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *