Bila Tuhan Berkehendak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 19 August 2016

Gumpalan mendung bergelayut di langit kelam. Mendung-mendung itu terlihat bagai bongkahan batu yang menggelinding tak menentu karena terdorong oleh terjangan angin di pelataran cakrawala. Kilat tiada henti bersabung dengan latar langit pekat kemudian diikuti gelegar petir yang memekakkan telinga. Pusaran angin meliuk ke bumi mencerabuti pepohonan dan bebangunan yang menancap di wajah bumi. Dalam sekejap pepohonan itu berjumpalitan. Bangunan-bangunan itu pun roboh bersenggama dengan tanah.

“Subhanallah!” ungkapku saat melihat angin yang mengamuk sambil memorakporandakan rumah-rumah, bangunan-bangunan serta semua benda yang diterjangnya. Genting rumah beterbangan di angkasa laksana kawanan burung yang terbang lantas dihempas angin yang dasyat. Genting-genting itu lalu diberondongkan ke bumi bagai batu-batu neraka yang dilemparkan ababil ke ubun-ubun para tentara Abrahah. Air hujan bercampur genting menghujami diriku yang semula berteduh di bawah teras warung. Darah pun mengalir dari pelipisku bercampur air hujan yang mengguyurku. Serpihan-serpihan genting telah mengiris-iris kulit kepalaku hingga menyisakan luka rata di kepala. Gigi dan rahangku remuk terhantam kayu yang tiba-tiba melesat mengenai diriku. Aku tak berdaya lalu tersungkur di pelataran warung yang tak beratap lagi.

Beginilah bila Tuhan sudah berkehendak. Tak ada manusia yang mampu menolaknya. Jika kita menghadapi bencana, maka kekuatan, pikiran serta kepintaran yang kita bangga-banggakan, yang kita sombongkan selama ini tidak berguna sama sekali. Kekuatan dan kepintaran kita tiada arti bila berhadapan dengan kekuasaan Tuhan. Kita hanya bisa menangis ketakutan, mengerang kesakitan kemudian kita hanya pasrah menerima kematian jika telah ditakdirkan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa bila Tuhan yang berkehendak.

Lalu-lalang orang melintasi diriku yang masih tertelungkup di bawah timbunan genting. Mereka tidak ada yang tahu bahwa di balik timbunan genting masih ada nyawa yang membutuhkan uluran tangan mereka. Aku hendak berseru meminta pertolongan mereka, namun tulang-belulang mulutku sudah tak terstruktur seperti semula hingga tak mampu menghasilkan suara. Aku hendak bangkit, akan tetapi tulang tanganku tak berdaya menyangga tubuhku yang tambun ini. Akhirnya, aku hanya pasrah menanti keputusan Tuhan. Tuhan menjemput ajalku atau masih memberiku kesempatan hidup dengan mendatangkan sukarelawan yang menolongku.

Kurang ajar sekali anak-anak ini. Mereka berdiri sambil melompat-lompat kegirangan di atas timbunan genting lantaran tumpukan serpihan genting yang menindih tubuhku terasa empuk dan bisa memantul-mantulkan tubuh mungil mereka. Mereka semakin menjadi-jadi dengan lompatannya. Tawa girangnya menyatu dengan suara tangis ketakutan orang-orang yang melintas di samping mereka.

“Asem!” umpatku dalam hati karena salah satu dari anak-anak itu ada yang mengencingiku.
Aku bermaksud mengusap air kencing anak-anak dengan kedua tanganku namun tulang-belulang ini tak mampu menggerakkan tanganku. Aku membiarkan air kencing mereka merembeti bibirku yang tak utuh ini.
“Tolong…!!!” suara pelanku tak menjangkau pendengaran mereka. Tak ada satu pun dari mereka yang mendengarku. Seruanku itu ternyata hanya bersuara dalam hatiku. Tidak sampai ke mulutku yang tak berbentuk lagi.

Aku lemah. Aku tak memiliki daya dan upaya. Aku jadi teringat pada nasihat-nasihat yang disampaikan oleh ustadzku dulu. Menurutnya bahwa manusia itu sebenarnya tidak memunyai daya dan upaya kecuali atas pertolongan Tuhan. Manusia ibarat wayang kulit. Dia bergerak memerankan karakter jika dimainkan oleh dalangnya. Tanpa dalang wayang hanyalah benda yang hanya menancap pada potongan-potongan batang pisang. Demikian halnya manusia, tanpa pertolongan dari Tuhan manusia hanyalah seonggok daging yang meringkuk dalam timbunan beban genting seperti yang kualami saat ini.
“Anakku, istriku, bagaimana keadaan mereka?” tiba-tiba aku yang tak berdaya mengingat istri

Cerpen Karangan: Ahmad Zaini
Facebook: ilazen[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Bila Tuhan Berkehendak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekeping Debu Dua Hari Yang Lalu

Oleh:
Rabu, 20 Oktober 2015 Pukul 11.05 WITA Malam ini lelah menggelayut manja di pundakku. Ku baringkan tubuhku di atas hamparan kasur yang mulai menipis termakan waktu. Berat rasanya mata

Disana Aku Berada

Oleh:
Ponorogo, 12 Juni 2000 Suara dentuman keras benda itu begitu menggelegar, alunan melodinya sangat dahsyat ternyata itu adalah suara lonceng alat peringatan di setiap melakukan aktifitas agar lebih teratur

Ketika Doa Ibu Menembus Langit

Oleh:
Terik matahari menyinari kampung itu. Allahu Akbar, Allahu Akbar… Allahu Akbar, Allahu Akbar! Siang itu, terdengar naungan suara Adzan Dzuhur. Terlihat sebuah rumah yang bangunannya tidak terlalu besar. Seorang

Arti Sebuah Pengorbanan

Oleh:
Kisah ini terjadi beberapa minggu yang lalu. Mungkin menurut sebagian orang, tak ada intisari apapun dari apa yang akan aku torehkan di sini, namun menurutku hal ini memiliki arti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *