Burung Penari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 23 February 2018

Burung-burung hitam terbang rendah kesana-kemari layaknya seorang penari balerina kecil. Semuanya terlihat bahagia menyambut datangnya titik hujan dari atas, entah kenapa ada aura aneh setiap kali bertemu dengan awan yang bergulung. Perasaan yang ia rasakan seakan sirna berganti dengan rasa penasaran yang teramat mendalam menusuk ke dalam tulangnya.

Tubuh kecil itu kembali berjalan cepat menyusuri tepian rumah bercat putih, di sebelah kanannya terlihat ada rentetan semut merah yang berbaris di dinding berlumut itu. Mereka akur satu sama lain tetapi ada satu hal yang mengusik dirinya, kenapa mereka harus bertegur sapa ketika bertemu.

Pandangannya teralih dengan pemandangan seekor induk kucing sedang menggigit seseuatu di mulutnya, terlihat seperti seekor anak kucing. Terlintas di benaknya “apakah kucing besar itu akan memakan kucing kecil itu?” pikirnya, hanya dengan membayangkannya saja ia menjadi merasa bulu kuduknya merinding. Ia mendekap erat kitab suci Al Qur’an di dalam pelukannya lalu mulai berlari kecil menuju tempat mengajinya bersama anak-anak yang seusia dengan dirinya.

Sesampainya di dalam ia langsung bergabung dengan anak-anak yang lain mengikuti bacaan ayat-ayat kursi dan surat pendek, semua anak duduk dua banjar dengan berhadapan satu sama lain. Mereka antri menuju tempat sang ustadzah duduk, wanita berkerudung menyelubungi dirinya terlihat anggun duduk di balik meja kecil tempat anak didiknya biasa meletakan kitab suci mereka kemudian membacanya. Mereka tidak malu membaca dengan suara keras hingga memenuhi seluruh ruangan mushola kecil desa itu, suara mereka terdengar sayup dari luar setiap kali ada orang berlalu.

Pandangan mata coklat itu beredar ke seliling menatap sekitarnya apakah ada hal baru yang dapat ia amati kali ini, otaknya mulai berfikir mengelola informasi visual yang ditangkap indra penglihatannya. Tetapi kali ini pandangannya justru lebih tertarik pada objek di luar ruangan, terletak cukup dekat, nampak jelas oleh matanya tetapi tidak dapat ia raih dengan tangan mungil itu. Ditatapnya lekat-lekat rombongan barikade penari burung-burung kecil nan hitam seakan barisan burung itu mengikuti ke mana gadis kecil itu pergi. Indra penglihatnya menatap dengan sedikit memicing menerobos jendela berbingkai kayu hijau itu, burung-burung penari tengah memainkan tarian diiringi dengan desis angin. Dahan-dahan pohon seakan memberikan sorak sorai mereka melalui dedauanan yang bergoyang kanan kiri, beberapa helai terbang mengiringi burung-burung penari terlihat seperti para kumpulan penari yang mendapatkan lemparan bunga dari para penonton setia mereka, ya para pepohonan itulah penonton setia mereka. Burung-burung itu berduyun-duyun bergoyang ke kanan dan ke kiri, merentangan sayap mereka menembus memecah udara dan terjun bebas dari ketinggian yang tak terkira menuju daratan atau dahan kecil.

Gadis berjilbab ini terhanyut dengan pemandangan di hadapannya hingga tidak menyadari di mana ia berada, kepala kecil itu bergoyang ke kanan ke kiri mengikuti gerakan sang burung. Hingga bahu kecil miliknya bergerak mengikuti arah gerak kepalanya.

“karina…. karina… karina…?” terdengar suara seseorang sayup nan lembut menyadarkan lamunan bocah kecil ini “sekarang giliranmu mengaji” sambung sosok anggun itu tersenyum, ia dapat mengetahuinya sekalipun wajah cantik itu tersembunyi di balik cadar tetapi pancaran senyum itu tergambar jelas di kedua matanya yang membengkok ke bawah dan terdapat beberapa kerutan di ujung matanya karena efek tersenyum. Gadis kecil ini segera menggeser tubuhnya beringsut menuju posisi menekuk kedua kakinya silang satu sama lain lalu memulai membaca tiap ayat dengan suara khas anak-anak.

Selesai mengaji beberapa ayat suci Al Qur’an kemudian ia bergeser menuju barisan terujung untuk membiarkan anak di sebelah kirinya menempati tempat dirinya duduk tadi. Kembali kepada pemandangan yang tengah asik ia amati, terlihat awan gelap meyingkir menampakan cahaya merah jingga bercampur kuning menghiasi background para penari kecil itu. Seberapa lamapun tidak akan terasa ketika kita menikmati waktu yang berjalan cepat lurus kedepan, kejadian ini juga berlaku kepadanya.

“karina… karina…” panggil ustadzahnya kembali untuk menarik anak gadis ini kembali ke dunia nyata. “ah, maafkan karin mba Aina. a-ayo kita lanjutkan membaca do’a sebelum pulang” ucap Karina gugup memekarkan tawa polos miliknya. “sebelum itu, mba mau bertanya. Sebenarnya sedari tadi apa yang membuat Karina termenung?” tanya sosok itu dengan nada selembut sutra, gadis bergamis merah muda ini memainkan jemarinya menyadari kali ini ia sedang berada dalam masalah karena ulahnya yang sering sibuk dengan pikirannya sendiri. Semua mata tertuju padanya membuat ia semakin gugup, dengan terpatah-patah menjelaskan “itu… se-sebenarnya Karin penasaran apa menyebabkan para burung di udara itu terbang dengan begitu rendah?, mereka terlihat sangat bahagia padahal suasana saat ini mendung” ucapnya dengan pandangan yang terkunci ke lantai putih mushola.

Beberapa detik sang ustadzah terdiam berusaha menyusun kalimat yang akan dipahami oleh bocah sekolah dasar ini, alis indah itu terlihat sedikit berkerut dengan bola mata bergerak ke pojok kanan. “nah, semuanya dengarkan penjelasan mba. Semua makhluk hidup di dunia ini selalu bersyukur atas rahmat yang di berikan oleh Allah SWT, hujan juga termasuk rahmat-Nya. Dan burung-burung di angkasa juga salah satu mahluk Allah SWT, jadi wajar jika mereka bersyukur karena akan diturunkan hujan” jelas sang ustadzah tetapi semua wajah polos itu menengadah tak memahami sedikitpun, “jadi begini, para burung-burung itu menari di angkasa karena mereka senang akan datangnya hujan. Mereka bersyukur dan berdo’a kepada-Nya agar hujan lekas turun ke bumi” sambung sosok ini kembali, beberapa detik kemudian para wajah polos itu terlihat berbinar terutama wajah Karina. Gadis kecil ini terlihat sangat senang dan puas atas jawaban sang ustadzah.

“mba Aina, apa Karin perlu menari menemani mereka untuk berdo’a agar hujan lekas turun ke bumi kita? Karena sawah kakek kering” ucap Karina bertanya penuh harap. Wanita berhijab ini membelai puncak kepala anak yang masih polos ini penuh kasih “Karina kita memiliki cara tersendiri untuk bersyukur dan berdo’a agar hujan lekas turun” ucapnya “bagaimana caranya mba Aina?” tanya karina menyela, “dengan berdo’a setelah sholat, beramal, berbuat kebaikan dan juga mengaji seperti yang saat ini kalian lakukan. Ini termasuk berdo’a kepada Allah SWT” lanjutnya dengan nada lembut. “benar sekali, kalau begitu Karin akan lebih rajin dalam mengaji maupun sholat juga berdo’a.” Ucap gadis kecil ini bersemangat.

Acara mengaji selesai setelah sholat maghrib berjamaah dengan masyarakat lainnya, anak-anak ini kembali menenteng mukena dan kitab suci Al Qur’an di dalam dekapan lengan kecil mereka penuh keceriaan. Mereka melambai mengucapkan salam dengan nada penuh semangat meninggalkan ustadzahnya yang akan melanjutkan pengajian dengan jamaah anak-anak remaja sekolah menengah. Suara mereka jauh berbeda dengan suara anak-anak tadi sore yang mengaji, kali ini burung-burung itu telah kembali ke sarang mereka masing-masing seperti para anak kecil ini.

Suara terdengar beradu merdu dan menenangkan para remaja putri mengaji dengan sepenuh hati ditemani oleh cahaya pucat rembulan yang menerobos masuk jendela berbingkai hijau itu, jendela yang tadi sore sempat menyita segala perhatian Karina kecil dengan meneruskan cahaya merah jingga bercampur kuning dari matahari yang hendak kembali ke peraduan.

Selesai.

Cerpen Karangan: Milda
Blog: Mirrudachan.blogspot.com
salam kenal, saya milda dan baru saja bergabung. tolong dimaklumi apabila cerpen yang saya buat masih kurang pas atau banyak kesalahan mengetik

Cerpen Burung Penari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Akhiri Segalanya

Oleh:
Terbuai dalam dekapan malam, terpancarkan cahaya hati. Terlampiaskan akan canda tawa, terjerat kembali akan memori. Seuntai rasa segumpal hati. Berjuta cinta berjuta kasih tiada tara dalam kiasan hati. “Rasya…..ayo

One More Time

Oleh:
“Pagi…” “Oiiii, Felly Keyoo!!!,” seru Riska saat Felly masih ada di depan kelas untuk melepas sepatunya. Lalu berjalan ke arah Riska. “Lagi ngerumpi apaan sih cin, kayak serius banget?”

Lima Pemuda Mengangkatnya (Part 1)

Oleh:
“DOR!” Fatih tersentak. Kaget bukan buatan, baru saja akan ia tempelkan sebuah cerita karangannya di majalah dinding sekolah kala langit sore tiba, malah tertangkap basah. Jari telunjuk dan jempol

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *