Buta Tak Membatasi Segalanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 December 2013

Aku berdiri di antara kerumunan orang-orang yang berada di bandara. Aku mendengar suara manusia di sekelilingku ribut sekali. Ada canda, tawa, teriakan anak kecil, hentakkan kaki, bunyi angin dan masih banyak lagi bunyi yang aku dengar. Ya hanya suara-suara itu yang aku dengar. Aku tidak bisa mengetahui siapa yang sedang berjalan itu, siapa yang sedang bernyanyi itu. Ini semua harus aku rasakan karena kecelakaan yang menimpaku beberapa minggu lalu. Saraf otak yang terhubung dengan penglihatanku rusak. Kata dokter aku bisa sembuh tapi hanya kemungkinan kecil.

Aku tidak menyesali akan hal ini. Tapi yang menjadi permasalahan adalah pihak Universitas masih berdebat dengan kebutaan yang aku alami ini. Ada yang terus membela ku untuk tetap bertahan dan percaya bahwa kebutaan ini hanya sementara dan mereka bilang aku akan sembuh. Namun di balik itu semua ada juga yang berpendapat bahwa aku akan menjadi buta selamanya dan harus dikeluarkan dari kampus. Aku ingat perdebatan mereka itu beberapa hari yang lalu sebelum keberangkatan ini diputuskan.

“Naila ini buta. Dia tidak bisa terus bertahan di sini. Saya kuatir Bu kalau Dia tetap kita pertahankan, itu hanya akan membawa kabar buruk untuk kampus ini. Terutama Univarsitas. Apa kata orang-orang jika kita menerima mahasiswa yang buta!” Ucap Pak Rektor dengan nada tinggi. Aku hanya bisa duduk terdiam di ruangannya.
“Tapi pak…”. Bu Suryana mencoba mengelak.
“Ini lagi saya bingung. Sebentar lagi Khafilah dari Universitas ini akan segera kita berangkatkan ke Padang untuk mengikuti lomba MTQN yang ke-13.”
“Baiklah Pak. Saya terima keputusan bapak selaku Rektor di Universitas ini. Tapi izinkan lah dia untuk tetap mengikuti lomba ini. Walaupun dia buta, tapi dia tidak tuli dan bisu. Saya yakin Naila pasti bisa Pak karena cabang yang dia ikuti Hifzil Qur’an.”
“Bagaimana dia bisa tampil jika dalam keadaan seperti itu.”
“Naila bisa kita tuntun untuk kedepan. Mereka pasti mengerti. Karena kita akan sangat malu jika mengundurkan diri dari lomba ini.”
“Baiklah. Saya terima solusi ini. Tapi kalau sampai terjadi hal yang memalukan, Ibu saya salahkan.”
“InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja Pak.”

Di dalam keributan ruang tunggu, aku merasa ada yang berjalan mendekatiku. Entah siapa itu.
“Ayo dik. Pesawat yang akan kita tumpangi sebentar lagi siap untuk terbang.”
“Oh iya Kak.”
Aku tidak tau siapa yang menuntunku menaiki anak tangga pesawat. Ucapannya lembut. Aku dituntun sampai dalam pesawat hingga mendapatkan nomor kursi yang tertera di tiketku ini. Rupanya nomor urutku setelah nomor kursinya. B12.
“Maaf Kak saya tidak bisa melihat. Kalau boleh tau ini dengan Kakak siapa ya?”
“Saya Zakiya. Panggil aja Kak Zak.”
“Makasih ya Kak sudah membantu saya.”
“Sama-sama Dik.”

Pukul 17.30 kami sampai di bandara Minangkabau dan langsung menaiki bus jemputan dari Universitas Padang yang siap mengantarkan rombongan kami ke tempat penginapan. Katanya kami akan ditempatkan di Asrama Haji. Aku bisa merasakan betapa segarnya udara di sini. Kata Kak Zak pemandangannya bagus. Membuat mata ini tidak ingin berkedip. Andai aku juga bisa melihat suasananya, Ya itu semua hanya bisa dirasakan dengan kata andai yang sangat menyesakkan diri ini.

Ba’da Isya Kak Zak dan yang lainnya mengajakku untuk menikmati suasana malam di sekitar Asrama. Sejuk sekali. Aku bisa merasakan keramaian di sini. Yang pasti tidak hanya kami yang menikmati suasana malam. Akan tetapi banyak Khafilah dari Universitas lain yang juga ikut menikmatinya.
“Lihat bintangnya.”
“Iya sungguh indah. Iya kan Dik?”
“Iya sungguh indah bagi orang yang bisa melihatnya Kak. Aku kan buta. Mana bisa aku melihat bintang-bintang itu yang bertaburan di langit. Yang aku lihat hanya kegelapan disini dan suara-suara kalian.”
“Astagfirullah.. Maaf Dik saya lupa.”
“Andai kecelakaan itu datang setelah saya menyelesaikan lomba ini. Pasti saya juga bisa menikmati suasana malam dan menatap bintang-bintang itu. Entah sampai kapan mata ini akan terus merasakan dunia yang kian gelap. Rasanya sepi, sunyi tak berarti. Seperti tak ada orang di sini. Sepi sekali Kak.”
“Kami akan selalu di sampingmu Dik. Kamu jangan merasa sepi ya. Jangan sedih.” Kak Marda mencoba menghiburku,
Suasana bertambah sepi dan sunyi. Namun ada setitik kehangatan yang aku rasakan saat semuanya memelukku. Kak Zak, Kak Marda, Kak Septy, juga Kak Mutsla. Aku merasakan ada aliran bening membasahi pundakku. Banyak dan semakin banyak.

Kami semua terdiam membisu dalam keheningan malam. Terdengar suara jangkrik yang ikut merasakan apa yang kami rasakan. Rembulan begitu terang benderang tak segan-segan memberikan cahayanya untuk bumi. Dalam keheningan itu, aku mendengar hentakkan kaki yang cukup kencang menuju ke arah kami. Aku merasa takut tetapi saat Dia menyapa aku mengenali suara itu.
“So Sweet… Anak-anak apa yang kalian lakukan di sini. Ini sudah malam sebaiknya kalian semua istirahat ya. Cepat kembali ke kamar.”
“Kapan lombanya?” Tanya Kak Septy
“Kalau saya bilang besok kalian siap?”
“Sepertinya tidak.” Sahut Kak Mutsla.
“Apa? Tidak siap? Untung saja besok bukan kamu yang akan tampil. Tapi di antara kalian ada yang tampil besok.”
“Alhamdulillah. Lalu siapa Pak?”
“Iya Pak Budi kasih tau kami biar gak penasaran gitu.” Celoteh Kak Marda.
“Naila, kamu siap kan?”
Sungguh jantungku berdebar dengan cepat saat Pak Budi menyebut namaku. Aliran darahku mengalir begitu deras bagai aliran air di arum jeram. Bibirku seakan kaku. Aku bingung ingin mengatakan apa. Aku sendiri tidak tau sudah siap atau belum.
“Naila, kok diam? Kamu siap kan jika tampil besok? Soalnya kamu mendapatkan giliran tampil nomor urut 2.”
“Tidak ada yang bisa saya katakan saat ini selain InsyaAllah Pak. Saya hanya takut jika mereka mengetahui keadaan saya seperti ini, maka saya akan di diskualifikasi. Saya hanya tidak ingin membuat Unmul malu.”
“InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja.”

Tepat pukul 12.00 aku terbangun dari tidur. Aku merasa ada yang menyuruhku bangun. Seperti di panggil beberapa kali. Tapi mungkin itu cuma pendengaranku yang salah. Ada rasa takut yang menyelinap di lubuk hahtiku. Apa lagi semua yang aku lihat terasa gelap gulita. Tanganku mencoba meraba-raba mencari siapa saja yang berada di dekatku. Tetapi aku tidak menemukan siapa pun.

Angin bertiup sangat kencang. Terdengar suara petir yang menyambar-nyambar di langit. Aku mendengar pintu kamar terbuka. Entah mengapa malam ini aku sangat takut, Aku merasa sangat tidak nyaman. Mataku juga tidak bisa tertidur. Dalam kegelapan yang aku rasakan, ada sebuah cahaya yang aku lihat. Aku sempat berfikir apakah ini menandakan mataku akan sembuh kembali. Tapi yang aku lihat hanya cahaya itu tidak ada yang lain. Cahaya itu semakin mendekat dan dia berada tepat di ujung jari kakiku. Aku tidak tau apa yang ingin di lakukan cahaya itu. Aku mendengar sebuah suara entah datangnya dari mana.
“Belum waktunya. Besok Naila akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
Aku bertanya-tanya di dalam hati. Apa mungkin cahaya bisa berbicara. Apa maksud dari perkataannya? Dia bilang aku akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Apakah kebahagiaan yang di maksud adalah dengan sembuhnya mataku hingga aku merasa damai? Walaupun di selimuti rasa takut namun aku merasa bahagia. Sepertinya ini kabar baik untukku. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan hari esok. Semoga menjadi hari terindah bagiku dan orang-orang di sekitarku. Tak peduli apakah ini nyata atau hanya sekedar mimpi.

“Allahuakbar 3x…” Terdengar suara adzan subuh dari masjid yang letaknya tak jauh dari asrama. Badanku terasa panas dingin. Namun aku harus bangkit untuk melaksanakan shalat shubuh dan bersiap-siap karena hari ini aku akan berlomba dengan khafilah yang lainnya. Tidak hanya itu, aku juga tidak sabar ingin mendapatkan kebahagiaan seperti yang di katakan cahaya itu tadi malam.

“Adik apakah kamu sudah bangun?” Tanya Kak Septy yang tidur di sampingku.
“Sudah Kak. Tapi Saya gak enak badan.”
Kak septy yang kebetulan kuliah di fakultas kedokteran dengan lincah meletakkan tangannya di leher, dahi, serta ketiakku.
“Astaga badanmu panas sekali Dik.”
“Tidak usah kawatir Kak. Saya baik-baik aja kok. InsyaAllah hari ini saya akan menemukan kebahagiaan dan kedamaian.”
“Jangan di biarkan. Nanti saya telphone Pak Budi supaya nganterin kamu obat. Awas lo kalau gak di minum.”
“Terserah Kak Septy aja. Saya mau sholat dulu ya supaya bisa cepat siap-siap.”

Keadaan di luar sana yang tadi gelap kini sudah terang benderang. Dari hembusan angin pagi ini aku bisa merasakan masih banyaknya embun yang bertebaran. Aku sudah siap untuk lomba hari ini. Lihatlah aku. Kata mereka aku cantik dengan baju batik berwarna ungu yang aku kenakan ini. Aku jadi malu. Tak berapa lama Pak Budi datang dengan membawa sekantung obat penurun panas.
“Bagaimana Naila? Sudah siap? Sebaiknya kamu minum obat dulu ya?”
“InsyaAllah sudah Pak. Iya Pak.”
“Setelah ini kita langsung berangkat ya?”
“Kami juga ingin ikut Pak.”
“Boleh kan?” Tanya Kak Marda.
“Tentu.”

Universitas Negeri Padang sungguh menawan itu kata mereka. Aku tidak bisa melihat seberapa menawannya Universitas ini. Kami berada di depan gerbangnya. Hatiku mulai berdebar. Sedikit demi sedikit kami semua melangkahkan kaki memasuki gerbang dan menuju gedung di mana tempat aku akan beromba.

Suasananya sangat ramai. Aku bisa rasakan itu. Kak Zak menuntunku mencari tempat duduk. Hari ini aku sengaja memakai kaca mata agar aku terlihat seperti peserta yang lainnya.
“Kak Zak, boleh saya minta sesuatu?”
“Apa itu?”
“Kalau sudah waktunya giliran saya maju nanti, tolong jangan tuntun saya ya. Kak Zak cukup memberi tahu dari sini ke arah mana saya harus berjalan.”
“Tapi..”
“Kak percaya sama saya. Saya tidak mau nampak seperti orang cacat yang harus dituntun saat tampil. Saya ingin tampak sehat seperti yang lainnya.”
“Baiklah. Nanti dari arah sini kamu jalan aja lurus kira-kira 5 langkah. Setelah itu kamu akan menemukan anak tanggak sebanyak 3 susun. Lalu setelah menaiki anak tangga itu, kamu langsung belok ke arah kanan dan berjalan 3 langkah. Di situ ada tempat yang di sediakan untuk perserta tampil. Jangan lupa baca bismillah.”

Acara akan di mulai. Mc memberikan salam dan mulai membacakan tata tertib saat berlangsungnya lomba ini. Kemudian perserta nomor urut satu di persilakan untuk maju ke depan. Setiap peserta wajib membacakan 1 surah yang telah di pilih dewan juri dan untuk berikutnya menyambung ayat yang akan di bacakan oleh dewan juri. Kami menyimak penampilannya. Suaranya merdu dan dia melafalkan huruf dengan fasih. Namun aku tidak merasa mundur dengan hal itu. Aku yakin bisa menjadi lebih baik darinya.

Sorak tepuk tangan meriah dari penonton menandakan 1 penampilan sudah selesai. Aku merasakan denyut jantungku. Aneh sekali rasanya. Biasanya denyut jantung akan berdetak lebih kencang ketika menghadapi suasan seperti ini. Tapi denyut nadiku terasa semakin melemah. Aku juga merasa biasa saja, Seperti tidak sedang berlomba. Saat namaku di panggil aku mulai berdiri dan merasa yakin bahwa aku pasti bisa. Walaupun aku sendiri bingung harus berjalan ke arah mana. Aku mencoba mengingat-ingat petunjuk jalan yang di berikan oleh Kak Zak.

Saat kaki ku mulai melangkah, tiba-tiba saja cahaya yang tadi malam mendatangiku kini muncul di hadapanku. Aku berjalan mengikuti cahaya itu hingga sampai di tempat yang di tuju.
“Kebahagiaan itu sebentar lagi akan kau dapati Naila.”
Lagi-lagi aku mendengar suara yang berbicara tentang kebahagiaan. Ya dengan beradanya aku di tempat ini tanpa di tuntun, itu juga merupakan suatu kebahagiaan. Namun sepertinya masih ada kebahagiaan yang lainnya yang akan aku dapatkan hari ini.

Aku mulai melafalkan surah yang telah dipilihkan dewan juri untukku yaitu surah An-Naba’ ayat 1-40 untuk tantangan pertama.
“Ammayatasaa Aluun….”
Aku terus melafalkannya hingga ayat akhir, Namun aku sangat sulit melafalkan ayat ke 40 karena dada ku terasa sesak. Cahaya itu membuat aliran darahku terhenti dan detak jantungku semakin lemah. Aku ingin berteriak. Tapi tidak mungkin, aku harus menyelesaikan hafalanku.
“Tsum Tsumma… In.. In, na ‘alaina… hiii… hiiii… hiiiiii”
“Cukup-cukup. Jika tidak hafal silakan di akhiri,” Salah satu Juri memberi peringatan.
Cahaya itu kini berada di atas kepalaku.
“Tsummmm .mmma inn. Innna ‘alaina, hii …hiisa bahumm.”
“Ucapkan 2 kalimat syahadat jika kamu ingin aku tunjukkan kebahagiaan yang aku janjikan.”
“Ashadu anla Ilaa ha illaha wa Ashadu anla muhammada rasulullah.”
Walau mulutku terasa susah untuk mengucapkan ayat ke 40 dari surah An-naba’, namun begitu mudah saat aku ucapkan 2 kalimat syahadat. Dan setelah itu, tubuhku rasanya begitu dingin. Dan detak jantungku tiba-tiba saja terhenti setelah ku ucapkan kalimat itu.

Tubuhku begitu ringan. Cahaya itu membawaku untuk terbang bersamanya. Inikah kebahagiaan yang dimaksud? Ya aku sangat bahagia bisa terbang bersama cahaya. Aku melihat Bunda tersenyum padaku di atas sana dan siap menyambutku. Aku bahagia akhirnya bisa bertemu dengan Bunda lagi.

Namun aku melihat Kak Marda, Kak Zak, Kak Septy, Kak Mutsla dan Pak Budi menangis di sampingku, Aku terkejut ketika melihat tubuhku ternyata masih ada di bawah sana. Padahal aku sudah terbang jauh di sini. Aku menyaksikan suasana begitu hening dan yang terdengar hanyalah isak tangis mereka. Penonton dan para hakim ikut bersedih melihat mereka menangis.

Terima kasih banyak buat kalian semua yang sudah memberikan motivasi untukku agar bisa bangkit dan tampil dengan baik. Kini aku sudah menemukan kebahagiaan yang telah aku cari-cari. Tahukah kalian bahwa aku akan baik-baik saja bersama Bundaku disni. Kalau kalian balik ke Kalimantan, titip salam ya buat Bu Suryana yang sudah membelaku hingga aku bisa ikut lomba dan sampaikan juga ucapan terima kasihku untuk Pak Rektor yang sudah memeberikan aku kesempatan

Cerpen Karangan: Rosita Az’zahra Altafunnisa
Facebook: Rosita Az’zahra Altafunnisa

Cerpen Buta Tak Membatasi Segalanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Haramkah Berpacaran

Oleh:
Berpacaran merupakan hal yang wajar bagi sebagian remaja saat ini, padahal pacaran itu hukumnya haram, karena mendekatkan diri pada zina, itulah pendapat Rama Nugraha. Rama bersekolah di sebuah SMA,

Sepucuk Surat Putih

Oleh:
“Angga bangun!” Suara malaikat duniaku telah berbicara dan aku segera membuka mata yang berat ini. Kubuka jendela sambil menyapa dunia. Udara dingin menusuk kulit. Dingin ya sangat dingin kota

Kupu Kupu Kertas

Oleh:
“Dek, lihat nih! Kupu-kupu kertas buatan Kakak bagus kan?” Dengan bahagia Farel menunjukkan kupu-kupu kertas buatannya kepada Shafa, teman bermainnya. “Tapi lebih bagus punyaku loh, Kak.. lihat nih. Indah

Teddy Bear dari Kak Rehan

Oleh:
Di suatu pagi, di sebuah kamar yang tak begitu besar telah sesak karena dipenuhi oleh segerombolan orang. Masing-masing orang memegang 1 kotak hadiah untuk diberikan kepada seorang gadis yang

Alasan

Oleh:
Pahit begitu terasa di pengkal tenggorokannya setiap kali ia menelan air ludah. Suara bergemuruh selalu muncul dari arah perutnya memprotes kepada sang pemilik yang tidak kunjung memberikan haknya. Entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *