Cerita Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 June 2017

Matahari belum menampakkan kilauan cahayanya. Padahal sekarang sudah menunjukkan pukul setengah lima, subuh. Banyak warga yang banyak melakukan aktivitas subuh ini. Dari yang berjualan sayur di pasar dekat kampung juga pembeli yang semakin kemeruyup karena mereka percaya bahwa jika membeli sayur di pasar pada subuh-subuh akan mendapatkan harga murah.

Tak begitu dengan pria tambun berpakaian kombor-kombor itu, ia hanya berdiam diri di sudut pasar sambil cegukan. Wajahnya musam dan aroma alkohol tercium dari badannya. Pria itu tengah mabuk. Orang-orang acuh pada pria itu, tak berani mengusirnya. “Haha! Enak ya punya uang banyak? apa-apa semuanya serba bisa!” Celotehnya dengan membawa botol di tangan kirinya. Ia menumpahkan isi botol pada mulutnya, tak ada air setetes pun menandakan botol itu kosong.

Hingga ada seorang berpakaian baju koko berpeci menghampiri pria mabuk itu. “Mas, pulang gih. Hari sudah mulai pagi,” Pria berpeci itu menepuk pundak pria mabuk. Tak salah lagi, pria berpeci itu Haji Asrafi. Sedangkan pria mabuk tadi tetangga Pak Haji Asrafi, namanya Pak Wadli.
“Ahh!! ganggu saja!! uang saya banyak pak! saya paling kaya di dunia!!!” Wadli semakin meracau lalu ia meludah, Haji Asrafi menggeleng pelan. “Mas, sadar. Seharusnya anda tau jika anda sudah bangkrut karena ulah anda sendiri. Assalamu’alaikum..” Haji Asrafi pun meninggalkannya, menuju rumahnya.

Matahari mulai menampakkan kilauan cahayanya. Burung-burung saling bersahutan akan kicauannya. Angin berhembus pelan dan ranting terjatuh dari pohonnya. Di balik pohon itu ada warung jahe Bu Terim yang terkenal di kampung itu. Segerombol ibu-ibu sudah berada di sana. Membahas sesuatu.
“Eh, tau gak bu. Si Wadli bangkrut! ia juga ditinggal istrinya. Duhh.. padahal dulunya dia bos emas!” Cerutuk salah satu ibu di salah satu wedang jahe di kampung. “Iya nih bu! tadi pagi ia mabuk di pasar!” Sahut Bu Denok sambil menyeruput jahe hangatnya. “Maklumi aja deh bu! lagian dia juga pernah pakai ilmu hitam,” Bisik Bu Sayuti dengan gigi tonggosnya. Mereka satu sama lain bergosip yang aneh-aneh tentang Wadli. Bu Terim sang penjual wedang jahe hanya menggelengkan kepalanya mendengar ibu-ibu kampung bergosip.

Tiba-tiba seorang nenek tua menghampiri dari arah barat, pakaiannya lusuh dan sambil menangis.
“Assalamu’alaikum.. apa ibu hiks tau di mana keberadaan hiks Wadli? Di mana rumahnya?” Nenek itu bertanya ke Bu Terim sambil sesegukan. “Eh, waalaikum salam. Maaf, ibu ini siapa?” Jawab Bu Terim sambil membuatkan jahe hangat untuk nenek tersebut. “S-saya ibunya! tolong beritahu saya di mana Wadli anak saya?” Mulut nenek itu sedikit bergetar, wajahnya terlihat sangat khawatir. Ibu-ibu yang sedari tadi bergosip terdiam melihat nenek itu. Dan kembali berbisik-bisik sambil melirik nenek tersebut. “Bu, ini diminum jahe hangatnya, nanti saya akan beri tau ibu..” Bu Terim menenangkan nenek itu, “Apa benar yang dikatakan ibu-ibu ini tentang Wadli??” Nenek itu semakin menangis. Ibu-ibu bergosip tadi terdiam, dan pulang satu persatu. “Tidak bu, nanti ibu akan tau sendiri..” Senyum Bu Terim untuk menghibur hati nenek itu.

Tepat pukul delapan pagi, Bu Terim mengantarkan nenek itu ke pasar, utamanya di sudut pasar. Wadli masih di sana, memejamkan kedua matanya sambil terus meracau. Nenek itu tersenyum lebar.

“Wadli??” Nenek itu berjalan lambat menuju Wadli.
“I-ibu??” Wadli tercengang melihat ibunya mendatanginya. Tak disangka, ia langsung sadar dari mabuknya.
“Wadli anakku??” Nenek itu tersenyum, wajah keriputnya tak merubah kasih sayangnya ke anaknya.
“Ibuuuu!!” Wadli berdiri sesegera mungkin dan memeluk ibunya.
“Wadli, bagaimana denganmu nak??” Secuil kebahagiaan didapatkan nenek itu, alias Ibu Wadli karena anaknya sudah mengingat dan mengenalnya kembali.

Wadli menceritakan semuanya, semua tentang apa yang terjadi pada dirinya. Ia benar-benar menyesal detik ini, ia mengaku ini semua adalah salahnya. Semua berawal dari Wadli yang meninggalkan ibunya sendirian di rumah butut dan tak merawat ibunya. Wadli yang korupsi, menggunakan nark*ba, dan berzina. Wadli yang penuh dengan dosa, Wadli yang benar-benar dibenci Allah. Pelukan dan kasih sayang ibunya menjadikannya seorang hamba Allah yang akan kembali ke jalan yang benar. Mulai saat itu Wadli berubah. Ia kembali ke rumah ibunya, ia bertaubat nasuha. Hingga suatu hari ia mendapatkan pekerjaan yang layak dan mendapat pendamping hidup.

Memang, Ibu itu takkan pernah berhenti mencintai anaknya. Kasih sayangnya masih akan tetap ada kapanpun.

Cerpen Karangan: Latania Rokhim
Facebook: Latania Rokhim
Penulis pemula yang ingin mengembangkan cerpen. Ingin mengasah cerpen supaya alurnya padu.

Cerpen Cerita Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abu Abu Setelah Biru

Oleh:
Aku terdiam di sudut ruangan menyandarkan tubuhku yang kurasakan amat lelah. Lututku ku tekuk kemudian ku peluk. Pandanganku kosong. Aku sibuk menikmati suasana hati yang bergemuruh. Teringat semua ucapan

Mbah Lanang

Oleh:
Senja menyapa malu-malu di balik sang mega. Pekatnya jadi penghalang senyum perpisahan. Terang mengintip samar. Salam perpisahan terucap semburat jingga. Selamat sore!! Dimana ada api, disitulah akan timbul asap.

Perjalanan Seorang Santri

Oleh:
Gue gak pernah kefikiran untuk tinggal yang namanya di pesantren. Dan menjadi seorang santri (ngapain juga tinggal di pesantren, mana enak disuruh ngaji terus). Waktu itu adik gue baru

Salah Sangka

Oleh:
“Waalaikumsallam.” Lalu aku memasuki mobil. Pak Budi sopir pribadi keluargaku sudah berada di dalam mobil. Pak Budi menghidupkan mobil dan segera berangkat. Aku memasuki ruang kelasku dengan terburu buru.

Jangan Biarkan Indonesia Pecah

Oleh:
“Lihat deh teman-teman aku baru saja membeli tas. Langsung dari London lo.” Pamer Sisylia. Yup, dia paling senang pamer segala barang-barangnya. Mulai dari pensil lah, buku lah, penghapus lah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *