Ceritaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 8 December 2017

“Umar!” seruku memanggil seseorang yang dari tadi kucari-cari. Kuteriakkan sekali lagi. Akhirnya, aku pun menemukan dia sedang berada di masjid.

“iya, ada apa, Khalid?. Tak usah teriak-teriak, semua orang sudah pasti tau kalau itu suaramu.” Umar mendesah pelan.
“ada panggilan dari ruang informasi. Katanya, abi kau menelepon.” aku berkata sambil ngos-ngosan. Tanpa kuulangi lagi perkataanku, Umar sudah menggenggam erat tanganku dan berlari. Umarrrrr pekikku dalam hati.

Umar bertelepon sekitar 5 menit. Dia keluar dengan mata berbinar. Kutanya, sepertinya kau senang sekali, ada apa?. Umar pun membisikkan sesuatu kepadaku. Aku menggeleng kepala.
“apakah kau yakin?. Abiku suda mengizinkan. Dan, beliau sangat berharap padamu, ayolah” umar masi berusaa untuk meyakinkan diriku.
“keluargamu begitu baik kepadaku, aku tak tau harus bagaimana membalasnya. Sudahlah, umar. Biarkan aku selama liburan semester ganjil ini berada di sini. Tapi, karena abimu begitu berharap, tak apalah untuk kali ini.” aku menangis dan akhirnya memeluk umar.
“tak apa, sobat. Yang berlalu biarlah menjadi masa lalu. Sudah, nangisnya, diliatin banyak orang, tuh. Apalagi kamu kan laki-laki.”

Aku dan Umar pun menaiki kereta saat perjalanan ke rumah Umar. Kami berhenti di stasiun Paron, tepatnya di kota Ngawi. Rumah Umar begitu asri, di sana, tinggallah Umar dengan abinya, uminya, dan kedua adiknya. Umar berkata bawa besok akan ada surprise untukku.
Daerah yang kami datangi itu bernama hargo Dumilah. Setelah kutau bawa itu adala kolam renang, dadaku sesak, napasku tak beraturan walaupun begitu, aku berusaha untuk tetap menjaga apa yang telah terjadi.

“kenapa wajah kau pucat sekali, khalid?” abi sepertinya membaca pikiranku.
“tidak apa, abi. Sungguh, aku baik-baik saja.” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

Aku akhirnya berenang bersama dengan Umar dan Abi di kolam besar. Umi dan adik-adik Umar di kolam sedang, soalnya sekalian jaga adiknya Umar. Umi sendiri kalau renang bisanya gaya batu. Haha. Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan semuanya, gelap. Dalam gelapku, aku mendengar suara kakak, abi, dan umi. Aku mengerjap-erjap mataku.

“akhirnya kau siuman, nak.” terdengar suara abi Umar sambil mengelus kepalaku.
“abi sudah tau semuanya, maafkan abi jika terlalu memaksakan kehendak untuk renang.” abi melanjutkan percakapannya padaku.
“tidak apa, terimakasih, abi.” saat aku merasa sudah tak pusing, aku mengambil buku catatanku di dalam tas.

From Syaqaa Barbara
To Khalid Barbara
“bersahabatlah dengan air. Tak akan ada pikiran ataupun perasaan yang bisa jujur selain air. Tarik napas, masuk, dan sembur semua air yang ada. Serta gerakkan semua anggota tubuhmu. Maka, semua masalah akan terasa hilang, begitu saja, seterusnya”
Aku tau dik, kamu pasti marah kalau buku catatanmu aku coret-coret. Tapi, kakak yakin kata-kata ini akan bermanfaat untukmu suatu hari nanti. maaf ya, adikkuuu yang paling tersayang. harapan kakak masih sama, agar kamu tidak takut lagi sama air, dan bisa berenang.

Aku kembali menghembuskan napasku dengan pelan. Kulirik jam tanganku, sudah pukul 7 malam. Aku menuju teras rumah Umar dan tiduran di sampingnya.

“apakah kau baik-baik saja?” Umar seperti meyakinkanku.
“sungguh,” aku pun berusaha mejawab keyakinan darinya.
“kau akan kuberi tau sesuatu yang akan membuatmu senang.”
“apakah kau kenal Kalid Bin Walid? The sword of Allah”
“aku tak tau.”
“Khalid ibn al-Walid atau sering disingkat Khalid bin Walid ialah seorang panglima perang masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Beliau sangat terkenal dan ditakuti di medan perang sehingga mendapat julukan Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Dulunya, ia adalah seorang kafir quraisy yang sangat pemberani, karena ia juga merupakan panglima perang yang begitu tangguh. Setelah masuk islam, ia juga menjadi panglima perang dan semua peperangan yang dia pimpin menang. Hingga pada masa kepemimpinan Umar bin khattab, si khalid ini tidak lagi dijadikan sebagai panglima perang, melainkan sebagai duta besar. Hal ini dimaksudkan agar para muslim tidak lagi mendewakan khalid, dan masih mengingat Allah. Dan, pada intinya aku punya kata-kata untukmu dari Khalid bin walid ini, “jangan pernah meliat masa lalu seseorang. Karena, seseorang yang menjadi musuh Allah pun akhirnya menjadi pedang Allah”. Apakah kau masih ingin bersedih, Kalid? Kuarap, kau bisa mencerna kata-kataku barusan.”
“ya, Umar. Aku paham.”

Mulai sejak malam itu, aku, Umar, dan abi hampir setiap hari ke hargo dumilah. Bahkan, sampai sering digratisi. Aku jadi lebih lihai berenang, dan berdamai dengan semua masa lalu itu. Saat kembali ke sekolah pun begitu, aku setiap hari minggu beenang di kolam renang sekolah.

Hari ini, aku berdiri sebagai juara dunia, perenang paling tabah, dan semua orang akan mengenal Khalid barbara sebagai atlet renang dari Indonesia. Terimakasih kuucapkan pada Tuhan, kak Syaqaa, umi, abi, dan tentunya yang sedang berdiri di sampingku, Umar said sebagai atlet pemanah internasional.

Cerpen Karangan: Khalida Zia
Facebook: Kha Zia Zio
khalida zia, yang begitu suka membaca dan menulis. kalau ingin kenal lebih dekat bisa lewat facebook #kha zia zio atau instagram #_zeeart. salam kenal denganku, kawan…

Cerpen Ceritaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keikhlasan Cinta

Oleh:
Cuaca yang terik ini bukan suatu alasan untukku merasakan panas yang serasa membara sampai ke lerung jiwa. Tapi keadaan ini yang membuatku terasa semakin (ingin) menyesal. Tak mau rasanya

Apa Mandi Lumpur Sama Saja?

Oleh:
Hawa dingin belum beranjak pergi. masih asik menggoda perempuan di balik selimut merah muda. hembusan lembab sisa hujan semalam agaknya ikut serta, memberi kabar bahwa di luar pintu kamar

Perjuangan

Oleh:
Kini kakiku sudah mempunyai tujuan, melangkah menuju sekolah hijau yang berada di Puncak Bukit. Sekarang langkah kakiku sangat ringan karena aku dapat melihat senyuman anak-anak yang memiliki impian yang

U.S.A

Oleh:
Caping siap, kaca mata hitam, sambal, nasi kucing, sandal jepit warna kuning semua siap!!!, gila, ini mau sekolah, apa sales keliling?, tapi nggak apalah, sebagai calon siswa yang teladan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *