Cita Citaku Yang Sebenarnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 12 September 2017

“Kring… Kring..” bel pulang berbunyi dengan diiringi sorakan senang yang dikeluarkan mulut setiap murid. Tapi tidak dengan Fania, Ia nampak murung dengan mata yang melihat ke sepanjang jalan yang dilaluinya. Fania pun duduk di bangku panjang depan sekolah. “Uuuh… Bagaimana ini,” ucap Fania. Tak lama kemudian Fania dijemput oleh Ayahnya. Di rumahnya, Fania tetap murung dengan pandangan tertunduk. Fania pun ganti baju. Setelah itu, Fania berjalan ke kamarnya dengan mulut manyun. Bunda terheran-heran melihatnya. Fania menutup pintu kamar dan membanting tubuhnya ke ranjangnya. Ia menutup mukanya dengan bantal.

“Fania, boleh bunda masuk?” kata bunda dengan mengetuk pintu kamar Fania. “Hemmhh..!” nampaknya, Fania malas berbicara. Bunda masuk dan duduk di bibir ranjang.
“Fania kenapa?” Tanya bunda.
“Fania malu bun.. malu,” Fania mulai bicara.
“Tadi, bu guru nanya cita-cita, trus, Fania ditanya juga. Fania bilang, Fania gak punya cita-cita, Trus Fania disorakkin sama teman-teman di sekolah,” ucap Fania polos. Bunda tersenyum.
“Fania tidak usah malu, Fania cari apa kegemaran dan minat Fania, dan buktikan pada teman-teman, kalau Fania bisa mencapainya,” kata bunda. Bunda pun pergi meninggalkan kamar. “Bunda masak dulu ya,”. Fania pun mulai senang seperti biasanya. Fania mengambil buku diary nya dan pulpen. Fania menulis apa kegemarannya dan minatnya. “Wah! Tampaknya, ini cita-citaku yang sebenarnya!” nampaknya Fania telah menemui cita-citanya.

Keesokan harinya, Fania pun bersekolah seperti biasanya. Kali ini, Fania tidak sedih lagi, ia nampak senang dan semangat.

SAAT ISTIRAHAT…
“Woi! Siapa kamu? Penganggur ya? Hahaha.. Dasar orang gak punya cita-cita!” terdengar suara anak laki-laki yang meledek Fania.
“Ih, apaan sih! Aku punya cita-cita tau! Makanya, jangan sok tau!” Fania membalasnya.
“Hah? Kamu punya cita-cita? Hahaha..!” anak itu menertawai Fania lagi. Fania pun akhirnya geram. Karena amarahnya telah memuncak, Fania segera menjambak rambut anak laki itu dan mendorong badannya. “Weekk!” Fania menjulurkan lidahnya. Bel masuk pun berbunyi, Fania pun segera berlari ke kelas.

Saat pulang sekolah, Fania segera berlari menuju kamarnya. Fania meraih laptopnya dan mulai mengetik sesuatu di microsoft word. Mau tau apa cita-citanya Fania?? Inisialnya dari ‘P’. Yes! Benar! Penulis! Karena Fania hobinya mengarang.
Ya, Fania telah membuat banyak cerita di laptopnya dan bunda telah mengetahui gagasan cita-cita anaknya. Fania sangat terinspirasi dengan penulis terkenal seperti Asma Nadia, Tere Liye dan banyak lagi. Fania berencana untuk mengirimkan karangannya ke majalah-majalah, bahkan penerbit terkenal.

“Sudah larut malam nak, ayo tidur dulu,” ucap bunda. “Oke bunda!” Fania membereskan laptopnya dan mematikan lampu kamarnya. Fania pun terlelap.

Hari demi hari pun telah berlalu, dan karangan Fania telah selesai dan berencana ingin mengirimkan ke majalah. Ayah mengirim hasil karya Fania ke majalah anak yang terkenal.

Sehingga pada suatu hari…
“Fan, ayah mendapat kabar tentang karanganmu ini!” seru ayah.
“Wah! Bagaimana yah?” tanya Fania antusias.
“Umm.. Ternyata, hasil karyamu belum layak dimuat,” ucap ayah memelas.
“Yaahh..” Fania sedih dan sangat kecewa.
“Man jadda wajada!” seru bunda.
“Tenang Fania jangan sedih, coba lagi! Pasti bisa! Cobalah untuk jangan mudah berputus asa,” Ucap ayah. Fania pun tersenyum. Ia berjalan menuju kamarnya. Dan mulai mengetik lagi. Dan berencana untuk mengirimnya ke majalah.

Dan suatu hari…
“Wah, Fania Kamu hebat!!” seru ayah.
“Kenapa, yah?” tanya Fania.
“Karanganmu berhasil dimuat di majalah! Selamat kamu sangat berhasil! Dan kamu akan mendapat hadiah dari majalah itu.”
“Wahhhh… Horeee!” Fania melompat-lompat. Bunda pun terlihat senang. Ia mengelus-elus kepalanya Fania.
“Kamu sangat hebat! Tingkatkan! Cobalah untuk mengetik sebuah naskah novel anak dan mengirimnya ke sebuah penerbit,” usul bunda.
“Usul yang bagus! Makasih ya, bunda dan ayah yang telah menyemangati Fania!” Fania masih merasa senang. Senaaaang banget! Bagaimana tidak?. Fania berlari ke kamar dan segera mengambil laptopnya dan mulai mengetik dua buah naskah untuk cadangan bila naskahnya nanti ditolak.

Minggu demi minggu berlalu, dan Fania telah menyelesaikan naskahnya. Ayah Fania mengirimkan naskah itu ke penerbit terkenal.

Dan ayah mendapat kabar bahwa naskah Fania ditolak. Alangkah murungnya Fania mendengar kabar itu. Tapi semangat Fania kembali bangkit dan mencoba untuk mengirimkan satu buah naskahnya lagi ke penerbit.

Dan pada suatu hari, ayah mendapat kabar bahwa naskah Fania DITERIMA! Fania senang sekali!
Dan tanpa terasa tahun demi tahun berlalu, dan Fania telah tumbuh dewasa, dan impian Fania benar-benar TERKABUL! Ia menjadi penulis terkenal. Orangtuanya sangat bangga terhadap anaknya.
Tadinya, cuma impian kecil dan sekarang Fania benar-benar membuat impian itu menjadi nyata! Jadi, bermimpilah sebesar mungkin dan coba berfikir agar kamu dapat menyulapnya menjadi nyata.
MAN JADDA WAJADA! Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. CAPAILAH CITA-CITAMU, jangan sampai mimpimu menjadi angan-angan yang cuma-cuma.

Cerpen Karangan: Shofi Fifi
Blog: shofififi.blogspot.co.id
Hai namaku Shofi! Suka dengan cerpenku? Jangan lupa di share ya keteman-teman mu!

Cerpen Cita Citaku Yang Sebenarnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir

Oleh:
Awal tahun yang kelabu. Disambut dengan awan mendung dan cuaca yang tak bisa diandalkan. Tapi kemeriahan masih saja menyelimuti umat manusia sampai ke pelosok dunia. Letusan kembang api bagaikan

Daun Perak

Oleh:
Pada suatu hari di kerajaan Bahatera hidup seorang raja Nicolas dan ratu Alina, mereka mempunyai anak yang bernama Nick. Pangeran Nick dikenal sangat baik, suka menolong, ramah. Pada suatu

Kesempatan Kedua (Part 1)

Oleh:
“..allah huakbar allah huakbar…” adzan subuh yang terdengar keras dari masjid kecil di dekat rumah sunarto langsung membangunkan si sunarto yang merupakan duda dengan satu orang anak ini dari

Ketika Sapu Penyihir Jahat Patah

Oleh:
Di pulau Saman terdapat panti asuhan yang bernama Panti asuhan kurcica, dinamakan kurcica karena, pulau saman ditinggalkan oleh Kurcaci. Anak-anak di panti asuhan kurcica diantaranya adalah, Razen, seorang kurcaci

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *