Dakwah Pertama dan Terakhirku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 20 December 2017

“Semoga Allah memanjangkan umurku hingga acara itu tiba” Begitulah doanya saat lamunannya tertuju pada awan yang begitu terik. Harapannya untuk berdakwah begitu tinggi, doanya setiap sesudah sholat tak pernah terlewatkan. Meskipun gadis bernama Salamah itu hanya anak tani di desanya, tapi cita-citanya untuk merubah kampungnya menjadi lebih baik tak pernah goyah sedikitpun.

“Salamah, bawakan rantang ini kepada bapak” Perintah ibunya membuyarkan lamunannya
“Iya Bu..” sahut Salamah
Salamah segera menemui ibunya dan mengantarkan rantang yang berisi makan siang untuk bapaknya yang sedang bekerja di sawah.

“Assalamu” alaikum, Pak. Ini Salamah bawakan makan siang untuk bapak”
“Wa”alaikumsalam, anakku. Simpan saja rantangnya di atas balai”
“Baik, Pak. Salamah langsung pulang ya, Pak”
“Iya, nak. Hati-hati. Terimakasih sudah dibawakan”
“Sama-sama, Pak. Salamah pamit pulang ya, Pak. Assalamu’alaikum”
“Ya, wa’alaikumsalam”

Salamah pun bergegas menuju rumah. Ketika di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan seorang lelaki yang dikaguminya. Namun biar bagaimanapun, Salamah tetap menundukkan pandangannya.

“Ukhti Salamah, dari mana?” sapa Husein
“Dari sawah” jawabnya singkat
“Ohh, habis mengantarkan rantang ke bapak, ya?”
“Na’am akhi. Afwan, ana harus pulang. Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati, ukhti”

Sepanjang jalan Salamah memikirkan lelaki yang dikaguminya itu, dan berandai” lelaki itu pun mengaguminya hingga akhirnya ia tersadar.
“Astaghfirullahal’azhim.. Luruskan fikiranmu Salamah..” sadarnya

Hari demi hari berlalu begitu cepat, sehingga Salamah pun bertemu dengan hari yang dinantikannya. Ya, acara menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Salamah akan berdakwah di hadapan para warga di kampungnya itu. Tepat pukul 06.00 Salamah bersama ibu dan bapaknya pergi ke tempat acara untuk mempersiapkan semuanya. Dan ketika di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Husein, seorang akhi yang dikaguminya itu.

“Assalamualaikum, Bu, Pak, Salamah” sambil bersalaman
“Wa’alaikumsalam..” jawab ibu bapak juga Salamah
“Waduh.. Pagi kok udah pada rapih semua. Mau ke mana?” tanyanya dengan senyuman yang membuat wajahnya semakin manis
“Ini nak Husein, kami mau ke acara menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan di masjid ath-Thohir. Anak kami, Salamah, akan mengisi acara sebagai pendakwah junior. Hehe iya kan, Pak?” jelas ibunya. Salamah tersenyum malu dalam tundukannya
“Iya nak Husein. Datanglah, hitung-hitung dapat pahala” pinta bapaknya
“Ohh begitu ya, Bu. Yo wis, Pak. Nanti saya hadir untuk melihat bidadari berdakwah, hehehe” jawab Husein
Pipi Salamah memerah, membuatnya benar-benar salah tingkah.
“Ya sudah nak Husein, kami duluan ya. Jangan sampai tidak datang, lho” pinta ibunya
“Iya, Bu. Saya akan datang. Hati-hati di jalan? ya Pak, Bu”
“Ya..” jawab ibu dan bapak

Sepanjang jalan, ibu dan bapak terus membicarakan Husein, memujinya, bahkan sampai hendak menjodohkannya dengan Salamah. Tapi Salamah berusaha untuk tetap terlihat biasa saja dan tetap fokus pada apa yang akan dilakukannya nanti di atas panggung.

Acara pun dimulai. Ayah, ibu, beserta Husein duduk bersama dibarisan paling depan. Mereka sangat menikmati siraman rohani yang disampaikan Salamah. Husein pun berbunga-bunga hatinya dan semakin tertarik untuk mengkhitbahnya. Tapi saat mengakhiri ceramahnya, Salamah mengatakan sesuatu yang membuat jamaah kebingungan.
“Ini adalah dakwah pertama dan terakhirku” begitulah ucapnya. Ibu dan bapak juga Husein jadi bertanya-tanya. Salamah pun turun dari panggung dan langsung menuju dalam masjid untuk sholat Dhuha. Karena panik, ibu bapak dan juga Husein mencarinya. Dan mereka menemukannya sedang sholat. Mereka pun mengucap Hamdallah dan menunggu Salamah selesai sholat.

5 menit berlalu, tetapi Salamah tak juga bangkit dari sujudnya. Ketiga hati itupun bergetar kepanikan. Akhirnya, mereka? mendekati Salamah dan mencoba memanggilnya, memintanya untuk bangkit. Tetapi sudah 10 menit Salamah belum juga bangkit dari sujudnya. Ibu Salamah semakin tegang hingga akhirnya beliau membangkitkan Salamah. Dan betapa terkejutnya ketika beliau dapati tubuhnya yang begitu lemas, tanpa denyutan nadi.

“Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un” tangis dalam masjid itu pun? bergema. Betapa sedihnya ibu dan bapak yang ditinggalkan anak semata wayangnya itu. Betapa hancurnya hati Husein yang tadinya hendak menghalalkannya tapi telah didahului lamaran maut. Sungguh diluar dugaan, ajal tak mengenal tempat dan waktu.

Cerpen Karangan: Syifa Nabila
Facebook: Syfa Nabillah

Cerpen Dakwah Pertama dan Terakhirku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanita itu Zahreena

Oleh:
Langit pagi ini sepertinya tak pernah mau bekerjasama denganku, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Selalu kelabu. Tak pernah ada jeda untuk matahari sekali-kali menyibakkan sinarnya, awan selalu saja menutupi dan

Pacaran

Oleh:
“wooy… bangun” teriak Tito di telingaku. “iya… Gak usah di telinga kenapa sih. Ada apa? Tumben siang begini udah nyampe kosan” “jadi begini. Sebenernya aku tu masih ada kuliah

Hijrah

Oleh:
Rintik-rintik hujan begitu deras menghantam atap rumah yang sudah sangat reot itu. Hampir lima belas tahun aku merasakan kepahitan hidup dibawah garis kemiskinan. Semua berawal ketika aku masih berusia

Remember Me

Oleh:
Siang ini cuacanya sangat panas, dengan berat Naura membuka matanya yang sedang kesilauan. Tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang hampir menabraknya karena mengantuk, Naura pun langsung memejamkan matanya secara

Kembali Ke Titik Nol (Part 1)

Oleh:
Matahari kota Jakarta sangat menyengat berpijar di atas langit, membakar siapapun yang melintas terlalu dekat, seakan tak peduli ribuan kepala yang merasa kepanasan. Jutaan partikel debu yang dihasilkan asap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *