Dari Tanaqob Hingga Kota Air Tua Di China

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 25 September 2017

Selatan Maroko, awal Oktober. Langit terbebani kelabu di atas kasbah-kasbah monumental agung, serupa dipenuhi awan cumulus nimbus penggiring salju, tetapi di Maroko tidak pernah turun salju. Ini hal lain, asap membumbung, tombak yang patah, baju perang yang tergeleletak di atas tanah, pedang sabit tak bertuan, juga duka, semua begitu kelabu. Hari ini mereka kalah perang.

Seorang perempuan menanti gelisah di gerbang desa, pasukan perang akan tiba sebentar lagi. Wajahnya lusuh dibalut kain coklat bata, seiring malhafa yang seadanya, tetapi ia tetap mempesona. Wajahnya akrab dikenal penduduk sekitar, karena ia memang berbeda. Adalah Lahwah pemilik wajah oriental asia timur berkulit kuning langsat yang menanti gelisah bersama para ibu lainnya di gerbang desa makmur Tanaqob.

Lahwah tak henti berucap, begitu pelan hingga serupa desisan, ia berdo’a dan berharap, selagi mengusap kepala seorang gadis mungil yang tertutupi kain putih hingga lututnya, gadis itu tampak seperti dibalut bebat saja sembari mendekap kaki kanan Lahwah, sesekali ia membenarkan tudung kepalanya sambil menatap ibunya bingung. Bukankah mereka akan menjemput abinya? mengapa mereka hanya berdiri di sini sejak tadi bersama para tetangga lainnya? gadis itu ingin mengeluh lelah, ia belum pernah berdiri selama ini, tidak pernah, setidaknya selama yang ia ingat. Gadis itu tidak akan tahu, tetapi ini perang Rif, dan tidak berakhir sama seperti perang-perang sebelumnya.

Beberapa orang akhirnya tiba, mereka tidak dapat disebut sebuah pasukan, jumlah mereka terlalu sedikit dan keadaan mereka mengenaskan. Desir darah Lahwah memanas, ia takut dan hal itu membuatnya bergegas menghampiri seseorang di baris terdepan, menanyakan sebuah nama. Lahwah mendapati sebuah gelangan pelan kelelahan, tampak pemiliknya sendiri enggan, semua orang enggan kehilangan. Kaki Lahwah mendadak lemas, ia masih harus sanggup berdiri, harus untuk seorang gadis mungil yang sengaja ia tinggalkan di dekat gerbang, gadis itu sekarang pasti sedang menatapnya ingin tahu, mungkin ingin menagih janji malam ini, janji menghafalkan surat Asy-Syams bertiga dengan abi. Air mata Lahwah mengalir, janji itu akan menjadi kebohongan nyata, ia begitu nestapa tanpa sanggup membendung apapun. Keduanya, baik janji dan air matanya.
Innalillahi wa innalilahi rajiun
Khazimir sudah pulang, bukan kepadanya, tetapi kepada pemilik kehidupan ini. Artinya ia akan sendiri malam ini, suaminya tak akan membantunya mengajar Salfah kecil menghafal surat baru malam ini, juga tidak di malam-malam berikutnya. Lahwah akan hidup sendiri bersama putrinya, jauh dari tanah airnya.

Maafkan, kisah ini telah diawali dengan sebuah kematian dan perpisahan. Tetapi cerita dari tanah Magribi ini tidak untuk dikenang karena duka, namun karena impian dan perjuangan.

“Namaku Isabella, bukan Yi Sha Bei La!” Protes seorang gadis dengan aksen Lewisville kentara, nadanya sedikit menghentak saat melihat SIM mengemudi yang baru ia dapatkan, tak satu pun bahasa Inggris tertera di sana, semuanya ditulis dalam aksara kental mandarin, termasuk namanya. Petugas hanya menatapnya acuh, kemudian memberikan secarik kertas tagihan senilai CNY 260 yang harus dibayarnya. Instalasi pemerintah Cina mewajibkan kolom nama mandarin disetiap formulir, ia tidak pernah mengerti alasannya dan tidak pernah suka namanya diganti-ganti.

Isabella baru saja keluar dari gedung kepengurusan surat mengemudi dan berkendara di Beijing dan langsung melambai kepada ayahnya yang menantidi parkiran. Isabella mendekap ayahnya sebelum masuk ke dalam mobil, mereka akan menuju kota lain segera, ia akan melakukan tugas akhir penelitiannya di sana.

“Bagaimana ujiannya?” suara bariton Clyde Barrow Chesnut terdengar nyaman, ayah Isabella memang selalu hangat.
“tidak sulit, hasil yang memuaskan untuk nona Yi Sha Bei La” ucap Isabella sebal sembari memperlihatkan SIM barunya. “mereka memanggilmu begitu?” tanya ayahnya heran
“Sure..” Isabella meyakinkan “Yi Sha Bei La” ulangnya. Ia tidak pernah suka namanya diganti, beberapa belas tahun lalu juga begitu, ia bahkan tidak ingat berapa lama ia menangis saat pertamakali di panggil Isabella. Ia yakin sedang tidak melucu, namun ayahnya tertawa, tawa yang renyah dan akhirnya menular, Isabella ikut tertawa melupakan permasalahan nama itu. Ayah Isabella seorang bertubuh tegap dengan kulit putih kemerahan saat diterpa matahari lengkap dengan rambutnya yang sewarna pasir, namun Isabella tidak demikian. Rambutnya sehitam malam, lensa matanya senada dengan kulit yang kekuningan. Terkadang ia lupa, ia memang bukan anak ayahnya.

Isabella berwajah Cina oriental dengan aksen Amerika Latin tidak sepadan. Isabella tampak serupa dengan penduduk Beijing tetapi Isabella tahuia tidak berasal dari Cina, tidak juga dari Lewisville, Amerika Latin tanah kelahiran ayahnya. Dahulu sekali ia merupakan gadis kecil di Tanaqob, Magribi, Selatan Maroko. Di sebuah desa makmur yang mendadak berubah menjadi pemukiman janda syuhada’ setelah peperangan. Ia tidak ingat banyak, hanya penantian di kala sore menjelang senja dimana pasukan muslim kembali, kubah moor kasbah coklat pembelah langit, juga nyayian indah ibunya yang ia ikuti tiap malam… Ibu, hati Isabella sakit setiap mengingatnya.

Ingat setiap detik saat Ia dimasukan kedalam Van milik peneliti dari Amerika Latin, ingat ketika ia adalah seorang Salfah kecil yang menangis ketika Ibu membekalinya dengan seberapa lembar baju dan biskuit gandum kering yang ditolak kasar olehnya. Ingat setiap detik dimana ibunya tidak berusaha menahannya untuk pergi, Salfah kecil tidak pernah ingin jauh dari ibunya, semua anak kecil seperti itu. Tetapi tangis dan jeritnya tidak berbalas. Sebuah kesimpulan, Ibunya memang menginginkan kepergian. Kemudian penghujung hari tiba, ketika ia menjadi seorang Isabella, dan ia tidak suka namanya diganti-ganti.

Black Luxure melaju melewati distik Xuanwu dipinggiran Beijing, mata Isabella tak hentinya memperhatikan bangunan-bangunan di distrik ini. Bangunan khas Cina-Arab yang membuat arsitekturnya tampak aneh sekaligus mengagumkan. Matahari sudah sepenggalan di kaki langit, menyisakan warna nila mendayu di langitan, membuat jarak pandang begitu sempit dan menyisakan cahaya temaran lampu-lampu jalan. Nuanasa paten saat hujandi distrik Xuanwu, perkampungan muslim Beijing.

Mata Isabella hampir terpejam, perasaan tenang yang tak terelakan membuatnya hanyut, ia masih berada di antara kesadaran yang mengambang, suara-suara terdengar berbisik, sahut-menyahut. Isabella seperti mendengarnya, atau ia memang mendengarnya? ia terlalu lelah untuk peduli. Elegy itu lagi, yang lama ia dambakan dalam malam-malam di Tanaqob, yang menggugah sanubari untuk merindu. Elegy yang dilantukan ibunya dimalam-malam panjang, yang berusaha ia hafalkan dahulu. Elegy itu masih tetap memiliki apa yang terakhir kali Isabella ingat, efek menentramkan jiwa yang tidak logistik.

Isabella mengintip dari kelopak matanya yang enggan, elegy itu berasal dari ujung jalan Niu Jies, dari sebuah bangunan seluas 6.000 m2 yang berwarna merah emas berselimut tulisan arab nun indah di dindingnya, tanpa kubah satupun. Kali ini hati Isabella mengalah, membiarkan tiap kenangan mengalir dan membasuh sanubari yang rindu, matanya terpejam dan daya dengarnya mulai fokus. Isabella kenal elegy ini. Elegy yang seharusnya dihafalkan bersama malam itu. Surat Asy-Syams dan kenyataan itu. Hatinya menjerit, pasti ada suatu alasan.
18 belas tahun, dan Isabella tidak bisa membenci ibunya.

Lahwah pernah mendengar sebuah Scherzo saat kecil, kini ia berharap dapat mendengarnya lagi dan pergi kekota itu sembari memulai hidup baru. Ini adalah perjalanan pulang, harusnya disebut seperti itu.
Udara mulai menghangat begitu bus kota meninggalkan kota Nanjing. 3 jam kedepan Lahwah akan memasuki perbatasan provinsi Jiang Su. Ia akan siap dengan segala resiko yang harus ditanggungnya, sampai sesuatu yang paling sulit sekalipun, kenangan itu, ia akan siap. Mungkin sesudahnya, semuanya akan lebih mudah untuk dijalani. Di perbatasan Jiang Su, didekat provinsi Zhe Jiang terdapat sebuah kota air tua. Penduduk sekitar menyebutnya Wuzhen. Dahulu sekali, merupakan kota air yang dihuni hampir sekitar 12 ribu penduduk, salah satunya keluarga Lian Hwa. Gadis yang berangan menjadi istri para tuan tanah dan hidup bahagia selamanya.

“Scherzo itu terdengar lagi!” Lian mengerjap, mengendap-endap seraya menjaga langkahnya tetap seimbang di atas salju di halaman rumah yang sempit dan menggunung, serupa kasur empuk yang licin. Tadi siang sekelompok pengunjung datang dan tinggal di perumahan visitor center, Lian sering melihat tamu yang datang ke Wuzhen, mereka para tuan tanah tetapi tamu tadi berbeda.
Tadi sore, Lian mendengar sebuah nada dari salah satu bilik rumah visitor center. Lian yakin sekali telah mendengar scherzo, baru dipelajarinya dari akoohnya kemarin. “Scherzo merupakan nada gesit dan bersemangat yang membuatmu bahagia, sedangkan elegy adalah syair ratapan kesedihan, namun tidak ada nada yang bisa mencerminkan keduanya sekaligus, terlalu sulit” ucapan Lili Zai, sang akooh terngiang kembali.

Lian bertekad menemukan pemilik suara merdu itu.Namun, nada yang mengalun mulai terdengar pelan dan mendayu, keningnya mengerut bingung, nada yang membuat hati bahagia namun membuat haru, nada yang terlalu sulit dibuat, nada yang ternyata membawanya ke hadapan seorang lelaki yang duduk di pelataran bambu sambil memegang sebuah buku. Buku yang sepertinya merupakan panduan nada-nada yang ia nyanyikan. Lian memperhatikan tiap jengkal rupa asing lelaki itu. Ia mengenakan toga warna susu, buku-buku jarinya kokoh, tulang wajahnya pun tegas. Lian terus memperhatikan sampai lelaki itu menoleh padanya, menghentikan elegy yang didendangkannya, tersenyum kepada Lian, menghentikan waktunya dan mengubah hidupnya.

“apa yang dilakukan gadis Wuzhen saat larut?” tanyanya, bahasa mandarinnya sempurna.
“tidak ada” jawab Lian jujur “nyanyianmu indah” puji Lian, lelaki itu tersenyum. Senyumnya bahkan lebih indah dari nyanyiannya.
“kauingin aku melanjutkannya? atau kau ingin belajar menyanyikannya sendiri?” tanyanya menggugah.
“Apa judulnya?” tanya Lian tak sabar.
“Al-Kahfi, sebenarnya ini merupakan sebuah cerita. Kau ingin mendengarnya?”. Tidak butuh lama sampai Lian menjawab “tentu” tanpa ragu, sesuatu mendesaknya.
Kemudian Lian tahu, lelaki itu bernama Khazimir, lelaki yang lalu memanggilnya Lahwah.

Isabella bergabung bersama rekannya yang telah menanti di kota Wuzhen, sedang ayahnya segera kembali ke Beijing. Mereka masuk melalui gerbang Xizha dengan perahu, Wuzhen adalah kota air, penelitan mereka kedepan akan berlangsung disini, jadi mereka akan menginap di siheyuan yang disediakan pihak visitor center. Manuskrip yang menjadi bahan utama buku written in the stone milik Richard Cassaro berada di kota ini, tentang kebenaran 2 agama. Sinopsisnya berbunyi pendek “A Journey trough a stone age and the origins of modern language”. Ini mengenai rahasia di masa lalu.
Pada masa Renaisans, pembangunan berbagai katedral di seluruh penjuru Eropa dimulai. Para pastor menyerahkan arsitekturnya kepada para budak. Seluruh katedral itu dibangun dengan batu, sehingga kemudian budaknya dikenal dengan sebutan ‘budak-budak batu’. Katedral yang terbangun menakjubkan. Anehnya, hampir serupa di seluruh daratan Eropa. Gereja-gereja penganut kebijakan presbiteran yang tidak memiliki uskup-uskup maupungereja non-episkopal. Fakta menariknya, para budak batu memiliki satu kesamaan: mereka adalah serdadu-serdadu maconicus yang kalah berperang. Serdadu maconicus adalah tentara agama yahudi. Dengan digantikannya baju besi mereka menjadi baju budak, mereka tetaplah seorang tentara maconius. Mereka mungkin budak, tetapi mereka berhasil mencipta jejak kejayaan diseluruh katedral.

Saat ini, katedral tempat beribadah umat kristani telah berdirimegah berhiaskan tanda-tanda keagamaan yahudi. Kesepakatan para budak batu telah bulat, arsitektur katedral sendirilah jejak kejayaan mereka. Katedral masa pembangunan batu selalu memiliki sebuah jendela mawar ditengah bangunannya, lambang middle chamber keyahudian. Tiga pintu pelambang triptych, juga dua menara di kedua sisinya. Boaz dan jachin. Boaz adalah bulan, sedangkan jachin adalah matahari, asal mula prinsip Yin dan Yang. Umat kristani tidak menyadari, bahwa katedral kebesaran mereka, dipenuhi tanda pemujaan yahudi!

Isabella keluar dari penginapannya, ia berjalan ke arah jembatan penghubung antar gang terdekat, memandang wajahnya di permukaan air, cahaya bulan yang jatuh lebih dari cukup untuk membuatnya serupa cermin cembung-cekung. Ah, betapa ia mirip ibunya. Angin barat laut Wuzhen berhembus, membuat Isabella menggigil, membuat rambut sebahunya menari-nari.Ia begitu mirip ibunya, kecuali rambut ini, pikir Isabella. Rambut ibu tidak akan tertiup angin seperti ini. Rambut ibu yang hitam lembut selalu tersembunyi di balik malhafa miliknya.

Mendadak bayangan Isabella di wajah air menghilang, cahaya bulan tertutup awan. Isabella menoleh kearah langit. Bangsa yahudi memuja sesuatu seperti ini? Boaz? Bulan? tidak masuk akal. Mendadak otaknya runyam, ibunya selalu mengajaran sesuatu yang masuk akal, selalu berupa kedamaian dan keadilan.Semenjak Clyde Barrow menjadi ayahnya, Clyde yang seorang atheis, membuatnya tidak lagi ingat bagaimana merasakan kedamaian, padahal Isabella berkecukupan.

Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk, simbol biru dari sosial media Ren Ren.
C. Barrow: bagaimana penginapanmu?
Isabella. B. Chesnut: menyenangkan, bulannya cantik sekali di Wuzhen, aku sulit tidur.
C. Barrow: anak perempuan ayah harus cepat tidur
Isabella membalas dengan emotikon senyum, berniat untuk segera beranjak tidur, namun mendadak hatinya sesak kembali, ia ingat masa dimana ia tidak memanggil ayah, namun abi, kepada seseorang yang selalu merengkuhnya tiap perjalanan panjang di Magribi. Perlahan wajah itu tergambar, rupawan dan bijaksana, ingatan itu lusuh dan kabur, tetapi nyata! Kenangan malam-malam ia menghafal Al-Qur’an, lalu kenangan pahit itu, saat ibunya tidak mencegah beberapa orang dari Amerika membawanya pergi. Perasaan marah Isabella tersulut lagi, pertanyaan yang sama berputar di kepalanya belasan tahun lamanya. Mengapa ibunya tidak mencegah ia pergi? jika memang terpaksa saat itu, setidaknya jika ibunya masih peduli, ia pasti akan menghubungi Isabella, akan menghubungi Salfah anaknya. Tetapi itu tidak terjadi. Mengapa ibunya tidak mencarinya?

Mata Isabella menatap layar ponsel lama, memperhatikan notifikasi yang diabaikannya sejak sore, puluhan dari sosial media Ren Ren dan Weibo.Hingga Isabella menyadari sesuatu, sistem great firewall of China! Sistem ini memfilter sosial media dunia, Facebook, twitter, multiply, path, Youtube, semua sosial media kecuali Ren Ren dan Weibo yang hanya dapat digunakan di Cina. Perlahan harapan itu tubuh kembali, mungkin ibunya pernah mencarinya, tetapi sistem yang diterapkan Cina membuat semuanya mustahil, mungkin ia bukannya tidak diinginkan, ibunya mungkin memiliki sebuah alasan yang tidak dapat ia dengar dulu. Isabella tersenyum.
Ia memang tidak membenci ibunya…

Semua kekhawatiran Lahwah menghilang sekarang, Ia telah beberapa hari berada di Wuzhen. Lahwah menyangka ia akan menerima perlakuan yang sama saat ia menginggalkan kota ini puluhan tahun lalu. Cacian, makian, bahkan kemarahan kedua orangtuanya saat dulu ia menyatakan ingin mengikuti seorang lelaki yang telah membuatnya jatuh hati, mengikuti agama dan langkah Khazimir ke Magribi. Tetapi semua itu terbukti, berupa kekhawatiran Lahwah belaka. Tak sekali ia berhamdalah, Allah memang tidak pernah meninggalkan hambaNya yang berusaha. Wuzhen saat ini tidak lebih hanya merupakan kota wisata yang hampir kehilangan penduduknya, entah ke mana pindahnya penduduk yang mengucilkannya dahulu. Lahwah tidak putus asa, ia akan menyebarkan kebenaran Islam mulai dari di sini. Dari tanah kelahirannya.

Lahwah ingin menembus keputusasaan saat menyerahkan putri kecilnya pada peneliti Amerika belasan tahun lalu karena kemiskinan. Padahal Allah tidak membebankan sesuatu kecuali sesuai kemampuan hambanya. Betapa ia menyesal, Lahwah telah melaksanakan shalat taubat dan mencari informasi kesana kemari tentang keberadaan sekelompok peneliti yang membawa putri kecilnya dulu, namun semuanya nihil, bahkan didengarnya para peneliti itu telah pindah ke berbagai negara. Lahwah tersadar, manusia tidak dapat merayu kematian dan perpisahan, tiada yang sanggup untuk menolak.Namun Lahwah tahu selalu ada kesempatan dan hikmah dari setiap kesulitan. Lahwah akan berjuang!Demi mempertemukan lebih banyak orang dengan kedamaian Islam. Sebagaimana Khazimir melakukannya dulu di Cina dan menemukannya dengan kedamaian.

Saat ini ia berada di sebuah bangunanpeninggalan Zhou En Lai masa akhir kiasar Qian Long. Dari sini kepercayaan Yin dan Yang muncul ratusan tahun silam, yang merupakan keseimbangan alam menurut kepercayaan penduduk hutong. Hitam mewakilkan gelapnya malam pada bulan dan putih mewakilkan cahaya matahari. Saat ini Lahwah akan membuktikan, bahwa prinsip keseimbangan itu diambil dari Al-Qur’an yang diselewengkan. Pada kutipan manuskrip baru milik Wilmshurt, ia mencoretkan sesuatu kemudian berlalu, Lahwahakan ditangkap jika ketahuan merusak barang museum. Ia tidak berharap banyak, hanya berharap agar pengunjung lain melihatnya sebelum para petugas datang dan tahu kebenarannya.

Isabella telah memasuki labirin peninggalan Zhou En Lai, banyak manuskrip yang harus mereka pelajari di sini. Isabella sedang membaca sebuah manuskrip dari daerah Nan Lao Gu Xiang tentang pendirian forbidden city saat salah satu temannya, Sweeny Todd berteriak selayaknya anak kecil yang melihat pesawat terbang, ia berseru histeris sampai kelompok kecil mereka bergegas berkumpul di depan sebuah manuskrip kecil milik Wilmshurt yang tercoret.

Coretan itu memanjang, menutupi separuh manuskrip yang tertempel “Al-Qur’an: 91” Hati Isabella terantuk sesuatu, Al-Qur’an? Apa maksud coretan ini? Namun, pertanyaan rekan-rekan Isabella lebih banyak.
“Berani sekali mencoret-coret manuskrip museum!” Mereka saling mencaci, dan detik itu segenap keberanian Isabella memuncak, sesuatu mendorongnya, Isabella tahu apa yang dimaksud si penulis. “Al-Qur’an, kitab suci milik muslim” ucap Isabella mengundang perhatian rekannya
“Apa maksudmu Chesnut?” yang kali ini bertanya adalah Prof. Frederic, pembimbing sekaligus dosennya yang atheis. Lelaki ini selalu memanggil dengan nama belakang, “… ini cuma bualan pengunjung yang iseng”
“Mengapa kita tidak buktikan saja kebenaran coretan ini Profesor? apakah ini hanya bualan? atau… kebenaran?” ucapan Isabella membuat Wajah professor merah akibat menahan marah.
“kita lihat saja, aku tidak percaya kau membuatku membuang waktuku” ucap Prof. Frederic, seluruh anggota penelitian segera mengecek ponsel mereka masing-masing, tak terkecuali Isabella. Setelah Al-Qur’an berbahasa Inggris pada surat ke-91 muncul, mereka serempak terdiam. Terlebih Isabella, ia tidak tahu menahu surat yang akan keluar adalah Asy-Syams, surat yang dulu dijanjikan ibunya untuk dihafalkan bersama abinya malam itu. Isabella memperhatikan ekspresi Prof. Frederic, wajah tidak percaya dan heran, juga ekspresi serupa teman-teman penelitiannya.

Kemudian pada manuskrip Wilmshurt merujuk kepada panas yang merupakan simbol kehidupan juga ketuhanan dan sebaliknya, sedangkan pada Al-Qur’an merujuk kepada pemilik alam yang telah melakukan pergantian malam dan siang itu, Allah Ta’ala.
“ini luar biasa mirip” komentar Prof. Frederic, dia takjub. Isabella cepat mengoreksi “sebuah plagiasi Prof, Al-Qur’an muncul ratusan tahun lamanya lebih dulu” tambah Isabella.
Semua terdiam, kebenaran yang muncul ratusan tahun lebih dahulu? Mereka baru saja memahami fakta bahwa sebenarnya gereja-gereja besar milik kaum kristani telah disabotase oleh kaum yahudi, dan saat mereka mengagumi kepintaran orang yahudi, kini mereka dihadapkan kenyataan bahwa orang yahudi tidak cukup pintar untuk membuat konsep agama mereka sendiri. Mereka mengambil nilai ajaran agama lain, Islam. Mereka tahu sendiri, orang Islam memiliki apa yang mereka kaum atheis tidak percayai. Tuhan semesta alam, ajaran orang Islam tidak ditulis oleh suatu kaum atau seseorang. Ajaran yang mutlak benarnya.
“Guys, ada berita yang harus kita sampaikan kepada dunia” Kata Isabella sepenuh hati. Setelah ini, segalanya mungkin tidak akan mudah.

“Assalamualaikum, Tanaqob” bisik Isabella saat menginjakan kaki ke desa kecil itu. Ada rasa rindu yang mengelanyar di perutnya. Sudah 2 bulan ia menjadi seorang muslim setelah peristiwa penelitian di Wuzhen, bukan hanya dia tetapi seluruh rekan penelitiannya dan ayahnya saat mengetahui fakta bahwa konsep Yin dan Yang dicuri dari Al-Qur’an. Beberapa coretan serupa bermunculan di berbagai tempat di Cina setelah itu, Diberitakan secara meluas dan membuat banyak pihak bertanya-tanya, membuat banyak keraguan yang akhirnya bermuara seperti dirinya, menjadi muallaf. Isabella tidak pernah tahu siapa muslim yang mengerjakan hal mulia tersebut, tidak satupun tahu hingga saat ini.
Kini ia hanya berharap dapat melihat ibunya. Ingin menunjukan betapa miripnya ia dengan ibunya sekarang dan meminta maaf. Seharusnya Isabella yang mencari ibunya terlebih dahulu, ia kaya, ia juga selalu tahu ibunya berada di Tanaqob tetapi ibunya tidak pernah tahu ia di mana. Isabella tersadar, bahwa ibunya tidak mungkin memiliki ponsel, untuk makan di kemah janda syuhada’ sangatlah sulit. Seharusnya ia yang mencari ibunya terlebih dahulu. Isabella mengusap air matanya, ia mungkin anak yang durhaka. Tetapi ia sungguh berharap ibunya masih hidup.

Kubah moorkasbah tampak bermandikan cahaya matahari sore Tanaqob. Terdengar sesuatu mengema, elegy dan scherzo itu, Adzan ashar berkumandang, Isabella menghapus air matanya dan mengadu dalam sujud-sujud panjangnya, kembali untuk mengetahui keberadaan ibunya. Begitu pula di belahan bumi lainnya di Cina, pukul 2 dini hari namanya disebut pada sujud-sujud panjang Lahwah. Mereka tidak bertemu, namun rindu mereka telah terobati. Mereka menemukan rindu sejati, rindu-Nya di sujud malam-malam yang panjang.

Cerpen Karangan: Hafizhatunnisa
Facebook: Hafizha Anisa

Cerpen Dari Tanaqob Hingga Kota Air Tua Di China merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Itu, Allah SWT

Oleh:
Hari ini rembulan bersinar begitu terang, seperti ia sedang bahagia. Tepat pada pukul 10 malam di sebuah desa terpencil ada sebuah keluarga baru yang dikepali oleh Pak Rasyid dan

Thanks to Fara

Oleh:
Malam hening. Hanya desir angin yang sesekali menerpa dedaunan. Belum lagi suara desisan Jangkrik seperti desisan Ular di gurun pasir memecah sepi malam itu. Aku masih sibuk mengencani malam

Ritual

Oleh:
“Mbah tolong saya, lancarkanlah usaha saya kali ini. Saya janji kalau kali ini berhasil, saya akan memotongkan ayam cemani untuk Mbah dan membawakan makanan yang lebih banyak dari yang

Fi Sabilillah

Oleh:
Malam yang sunyi bersama angin yang menari-nari memeluk diriku. Sentuhan angin yang kian menembus kulitku sampai tulang belulangku. Aku termangu menatap lurus, diam membisu tanpa suara, aku tak tau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *