Denyar Sombong Lelaki Berjanggut Tipis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 12 September 2017

Udara membisikkan dingin, di sela dedaunan yang tersepuh oleh bias cahaya senja. Jalanan nampak tersapu penuh titik air dari langit, membekas genangan di beberapa bagian jalan serta tercium aroma khas tanah membasah sejauh mata memandang. Tak perlu bertanya kapan langit memuntahkan deras air mata, sebab kini langit masih terlihat bermuram durja meski bias cahaya senja mengintip malu di antara hamparan permadani kelabu.

Membasah. Semuanya membasah. Ya, seperti halnya sebongkah hati Lelaki berjanggut tipis itu dengan sebuah peci putih menutup rambut hitamnya. Ia merasa ada pergumulan jiwa yang mematutnya untuk tetap berdiri membisu dibalik sebuah pohon rindang samping gerbang desa. Namun berkali-kali desakan kuat di dasar hati memaksanya untuk segera mengayuh langkah. Lagi, tak ada daya selagi hatinya semakin membasah, menciptakan riak buliran hangat di kedua sudut matanya. Lantas buliran itu meluncur deras, menganak sungai. Sementara itu lamat-lamat pelupuk matanya serasa menyaksikan kembali kejadian memilukan lima tahun silam.
Lelaki berjanggut tipis itu menunduk, merapatkan jaket coklat yang membalut baju panjang putihnya. Ia hendak mengusir udara dingin yang bercampur dengan hangatnya anak sungai di kedua belah pipinya.

Lima tahun silam, kejadian yang tak akan pernah sirna di memori kepalanya. Ya, saat ia masih berjibaku dengan jubah kesombongan. Tapi sungguh jangan sepenuhnya kau manyalahkan ia, sebab sejatinya ia hanya merasakan lirih denyar-denyar sombong itu. Itu pun selalu saja terasa timbul-tenggelam dalam jiwa, hingga sama sekali ia tak sadar.
Sore itu ia melangkah mantap –penuh percaya diri– memungguk sebuah tas di punggung dan sebuah kardus berisi kitab-kitab tebal. Lima jam lalu ialah sebuah perpisahannya dengan segenap penghuni penjara sucinya. Selama tiga tahun penjara suci itu telah menjadi saksi bisu atas keberhasilannya menjadi sosok pemuda cerdas –benih ulama agung. Bahkan ia dijuluki sebagai titisan perpustakaan berjalan. Satu-dua komentar beberapa santri menimbulkan seringai lembut di ujung kedua bibirnya. Ada rasa syukur yang tercipta.

“Pantes lah, kalau dia mau boyong meskipun baru mondok tiga tahun. Lha, wong kemampuan ilmu agama tak perlu diragukan lagi. Bahkan mengalahkan santri-santri senior yang sudah mondok nyaris dua belas tahun lebih.”
“Betul sekali itu. Dia cerdas, Kawan. Hafal diluar kepala nadzoman ilmu nahwu-shorof. Kudengar kemarin malam dia menyetorkan hafalan Al-Fiayahnya bolak-balik. Dia pandai membaca kitab apa saja, sekalipun itu kitab belum terjamah olehnya. Ilmu fiqih, tauhid dan akhwat-akhwatnya, Subhanallah… Nah pabila kau bertanya apa saja padanya seputar ilmu agama. Dia akan menjawab mantap –penuh keyakinan– laksana seorang kiai agung. Dan kau tak perlu terkejut tatkala di penghujung malam, tepatnya di sudut masjid. Telingamu menangkap lantunan lirih berbagai gaya murottal para Syaikh agung, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.”
“Sebentar, mungkin saja dia mendapatkan ilmu laduni.”
“Hmm… bisa jadi.”
Saat telinganya menangkap tak sengaja percapakan ketiga santri itu, ia menghela napas panjang. Seakan hendak mengalirkan desir syukur di sela-sela hembusan nafasnya.

Tatkala senja semakin merangkak pelan dan samar-samar mulai terdengar lirih adzan maghrib di beberapa pucuk menara masjid dan mushola. Lelaki berjanggut tipis itu bergegas mencari mushola terdekat. Lantas menanggalkan barang bawaannya serta beranjak mensucikan diri, bercampur baur dengan masyarakat di desa itu yang juga hendak melaksanakan panggilan alam.

Lima menit kemudian solat maghrib mulai ditegakkan. Dipimpin oleh seorang lelaki paruh baya yang memiliki rambut berwarna kapas. Lelaki berjanggut tipis itu mengambil posisi solat di shaf kedua dari empat shaf laki-laki.
Sang imam mulai melantunkan bacaan surat Al-Fatihahnya, sejurus hati Lelaki berjanggut tipis itu berdesir. Ada resah yang muncul ke permukaan mendengar bacaan pelo sang imam. Keresahan itu terus berlanjut hingga akhir salam kedua selesai. Mata bening Lelaki berjanggut tipis itu langsung menatap heran wajah-wajah para jamaah di ruangan berbentuk kubus itu. Sudut hatinya memberontak –berbicara.

Tak ada lagikah dari sekian banyak jamaah yang bacaan Al-Qur’annya lebih baik dari sang imam ini? Mungkinkah imam ini hanyalah badal dari imam yang mungkin sedang‘udzur? Bukankah ketentuan menjadi imam solat itu harus baik bacaan Al-Qur’annya? Lha, imam ini bacaan Al-Qur’annya pelo. Tak terdeteksi sedikitpun dimana letak sekian banyak tajwid, makhorijul huruf dan sifatul huruf. Sementara seingatnya tidak sah solatnya imam yang bacaan Al-Qur’annya dipelo-pelokan. Sebentar, imam ini sengaja pelo ataukah memang pelo sebenarnya? Wahai jamaah, dari sekian banyak lelaki di antara kalian, sekali lagi, tidakkah ada yang lebih baik bacaannya untuk pantas menjadi imam solat?
Sudut hatinya berkeluh-kesah begitu. Sejatinya ia amat berkeinginan mengungkapkan segala keresahan itu, jika saja sudut hati yang lain tidak segera mencegah. Bukankah ia hanyalah seorang pendatang tak dikenal di mushola ini? Ia tak punya hak, betapa tak punya muka jika tanpa berfikir dua kali ia langsung saja mencecar mereka habis-habisan tanpa melihat siapa ia sebenarnya dan dengan siapa ia hendak berhadapan.

Baiklah untuk malam ini Lelaki berjanggut tipis itu mengubur keinginannya dalam-dalam. Namun ia berencana hendak mendatangi kembali moshola ini barang satu-dua hari kedepan. Memastikan lebih jauh keresahan hatinya kini.
Malam kedua merangkak pelan. Lelaki berjanggut tipis itu kembali hadir di mushola itu. Ia hendak menyaksikan akankah dugaannya berbanding lurus dengan kenyataan di malam kedua. Dan wahai kawan, betapa semakin resah hati Lelaki berjanggut tipis itu saat mengetahui solat fardu di malam kedua ini kembali dipimpin oleh imam kemarin yang bacaan Al-Qur’annya pelo.

Jika seseorang membiarkan sebuah perkara buruk terus berlanjut tanpa adanya pencegahan sedikitpun. Lantas bukankah ia pun dan seluruh orang yang berhubungan dengannya terkena cipratan perkara buruk itu? Sungguh ia tak mau membiarkan para jamaan di mushola ini terus berada dalam kekeliruan yang tak tersadarkan. Ia harus meluruskannya. Sebab bukankah ia seorang yang berilmu. Dan siksa terberat seorang hamba ialah dia seorang ‘alim yang tak mau mengamalkan ilmunya. Na’udzubillah. Ia tak mau termasuk dalam daftar hamba tersebut.

Lelaki berjanggut tipis itu mulai berani, mencoba bertanya kepada salah salah satu jamaah, tentunya tanpa mengungkapkan bagaimana solat mereka selama ini diimami oleh imam yang pelo.

“Oh, Bapak Karsadi namanya, Mas. Beliau memang salah satu warga yang disegani di komplek desa ini. Dan sudah hampir tiga tahun lebih beliau menjadi imam mushola ini. Memangnya kenapa, Mas?” tanya pemuda yang ia tanyai itu.
“E, ndak. Ndak papa. Saya hanya ingin tahu saja,” jawab Lelaki berjanggut tipis itu sekenanya.
Apa? Selama hampir tiga tahun mereka mempertahankan iman yang pelo? Tidak adakah lelaki dewasa atau pemuda di sini yang lebih baik bacaanya? Tidak adakah seorang ‘alim lain di desa ini? Atau orang yang mengajari bacaan Al-Qur’an? Ironis sekali jika demikian.

Lelaki berjanggut tipis itu menahan nafas sesak, menahan kembali laju desakan kuat di sebuah sudut hatinya. Meski kali ini gelombang desakan itu lebih dasyat. Baiklah, ia tak perlu terburu-buru. Ia harus mencari keadaan yang pantas bagaiman meluruskannya.

Di malam ketiga, Lelaki berjanggut tipis itu kembali berkunjung ke mushola itu, hendak mengikuti solat magrib dan isya. Kini ia telah mempersiapkan perkataan yang sekiranya pantas diucapkan kalau-kalau ada kesempatan untuk meluruskan. Dan benar saja, gayung pun bersambut. Usai solat isya di mushola itu berkumpul beberapa jamaah lelaki. Mereka tengah bercakap-cakap sambil menikamati jamuan makanan kecil.

Dengan halus dua diantara mereka meminta Lelaki berjanggut tipis itu untuk ikut bergabung dari pada duduk mematung di teras mushola. Lelaki berjanggut tipis itu manut, mulai ikut mendengarkan percakapan para jamaah. Lantas saat topik pembicaraan terhenti dan hening menyelimuti suasana. Lelaki berjanggut tipis itu segera angkat bicara, mengungkapkan perihal keresahan hatinya mengetahui imam mushola ini bacaanya pelo. Dan bagaimana solatnya imam yang bacaannya pelo. Beserta beberapa ta’bir dari kitab-kitab yang ia temukan.
Sejurus, para jamaah diam membeku, saling tatap satu sama lain.

“… Bapak-bapak, maka tidak sah solatnya imam yang bacaanya pelo, dipelo-pelokan. Lantas jika solat imamnya saja tidak sah. Lha, bagaimana dengan solat para jamaahnya? Ini maaf ya Bapak-bapak jika perkataan saya menyinggung. Tapi ini soal kebenaran. Saya hanya ingin meluruskan demi kemaslahatan bersama. Apakah sebuah perkara buruk terus kita pelihara begitu saja tanpa peduli untuk dilirik sedikitpun? Dan ini tambah ironis sekali, selama hampir tiga tahun lebih imam solat di mushola ini dipimpin oleh imam yang bacaanya pelo? Lha, lantas bagaimana solat para jamaah selama tiga tahun lebih ini?”
Deg. Lidah lelaki itu berhenti bergerak. Terasa kelu saat menyaksikan beberapa Bapak-bapak di depannya berdiri mengepalkan tangan. Wajah-wajah merekapun berubah 1800 menjadi merah. Ada gurat kemarahan yang terasa hadir disela-sela gemeretak gigi-gigi mereka.

Seorang Bapak berkumis tebal menunjuknya tepat di depan wajahnya sambil bersuara keras.
“Tutup mulutmu pemuda ingusan! Lancang sekali kau berkata begitu, menuduh imam mulia mushola ini.”
Yang lain ikut membalas, menuding tak kalah geramnya. “Kau pikir kau itu Tuhan, hah? Meyakini solat kami selama ini tidak sah.”
Dan sejurus kemudian tanpa diduga, lima bogem melayang di wajah Lelaki berjanggut tipis itu sampai tubuhnya nyaris terpelanting ke belakang. Tak cukup itu saja, tubuhnya dipukuli bertubi-tubi oleh mereka hingga tak sadarkan diri. Setelah itu mereka menyeret tubuh Lelaki berjanggut tipis itu keluar gerbang desa. Meletakkan di bawah pohon rindang samping gerbang desa beserta barang bawaanya.

Selama beberapa jam Lelaki berjanggut tipis itu tak sadarkan diri. Saat perlahan kedua matanya membuka. Rasa sakit di sekujur tubuhnya hadir. Ia mengerang kesakitan. Seluruh wajahnya nyaris bengap –berdebam biru– serta darah segar masih merembes di lubang hidung dan ujung bibirnya. Tulang-tulangnya serasa dilolosi, ia tak memiliki energi sedikitput, hanya sakit, amat sakit. Bayang-bayang kejadian beberapa jam berlalu melintas di kepalanya. Air mata mulai mengucur deras. Sungguh seakan ia berada di gerbang kematian, hidupnya sudah tak lama lagi. Dalam temaram lampu kuning tak jauh darinya terbujur kaku. Lelaki berjanggut tipis itu terus menumpahkan air matanya seiring rasa sakit di sekujur tubuh dan palung hatinya hadir. Ia pasrah. Ia merintih, Ya Allah… Apa kesalahan hamba hingga Engkau menghadirkan kejadian menyakitkan ini.

Sore ini, titik air kembali jatuh dari langit kelabu. Pendar cahaya matahari di ufuk barat semakin menghilang berganti dengan samar-samar kegelapan menyelimuti sekeliling. Lamat-lamat lantunan adzan maghrib menggema memecah keheningan ujung senja. Menyibak titik-titik air yang semakin jatuh berderai.
Lelaki berjanggut tipis itu kini masih mematung dibalik pohon rindang, membiarkan tubuhnya membasah. Hingga lamunannya buyar oleh sebuah tepakan tangan di pundak kirinya.

“Mas, hujannya turun lagi. Mari berteduh di mushola, adzan maghrib mulai berkumandang,” ajak seorang pemuda yang ia taksir umurnya sekitar delapan belas tahunan, sambil tersenyum ramah.
Tak perlu menolak, saat ajakan itu memang senada dengan desakan kuat di dasar hatinya kini. Ketimbang terus terkungkung dalam cincin nostalgia menyakitkan. Lelaki berjanggut tipis itu mengangguk –manut.

Tepat sekali ketika keduanya tiba bernaung di bawah atap mushola, hujan mengguyur deras bersama kilatan guntur sesekali menjilat-jilat kegelapan suasana maghrib. Menatap bangunan di depannya hati Lelaki berjanggut tipis itu berdesir, ia menggelengkan kepala mencoba menyingkirkan jauh-jauh memori kejadian lima tahun silam yang mendadak terasa timbul-tenggelam diingatannya.

Setelah berwudhu dan meletakkan barang bawaannya di sudut ruangan mushola. Iqomat dikumandangkan. Lelaki berjanggut tipis itu mengambil posisi shaf pertama sedikit satu langkah sejajar dengan tempat imam. Bening matanya terasa memanas saat seorang lelaki tua melangkah pelan menuju sajadah imam. Lelaki berjanggut tipis itu menahan nafasnya sejenak, imam mushola ini masih yang dulu, yang bacaan Al-Qur’annya pelo. Tapi kedaan hati Lelaki berjanggut tipis itu kini jauh lebih baik. Tak ada lagi keresahan-kejanggalan seperti dulu. Tak ada lagi jubah kesombongannya dulu. Tak ada lagi denyar-denyar sombong, melainkan berganti dengan lembaran suci-bersih hatinya –penuh cahaya suci– cahaya iman. Ya, usai ia kembali mondok melanjutkan mengaji kitab-kitab serta ilmu-ilmu yang belum ia pelajari. Ia menyadari ternyata ilmunya masih seujung kuku, masih banyak ilmu Allah yang belum pernah ia jamah. Sebab semakin tinggi ilmu seseorang sejatinya semakin kuranglah orang itu merasa bahwa ilmunya masih dangkal. Ilmu diatas tingakatan syariat dan thariqotsaat itu ia mencoba pelajari; ilmu tasawuf juga ilmu-ilmu bermasyarakat.

Ia masih ingat usai ending kejadian menyakitkan lima tahun silam. Saat ia nampak tergeletak tak berdaya di bawah temaram lampu kuning. Orang yang pertama kali menemukan dan menyelamatkannya dari dekapan menusuk tulang rintik hujan dan dinginnya udara malam. Ialah seorang lelaki berwajah teduh bernama Ustadz Abdurrahman As-Syadzili. Beliau adalah salah satu guru di pondoknya dan masih berstatus sebagai santri meski sudah nyaris sepuluh tahun mondok. Entah bagaimana skenario Allah hingga sosok lelaki berwajah teduh itu menemukan tubuh kaku dirinya.
Perkataan pertama yang ia dengar langsung dari kedua belah bibir lelaki berwajah teduh itu ketika matanya kembali mengererjap-erjap tersimpan rapi di memori kepalanya, bahkan mampu menemukan lubang menganga yang selama ini tak tersadarkan olehnya.

“Kecerdasanmu, kebisaanmu dalam segala hal hakekatnya itu bakanlah ilmu melainkan riwaayah laisal ‘ilmu bikasrotirriwaayah. Dan innama yakhsallah min ‘ibaadihil ‘ulamaa semakin banyak ilmunya seseorang semakin takutlah ia kepada Allah. Hingga ia akan tahu siapa dirinya sebenarnya, bukan malah berjibaku dengan jubah kesombongan sampai-sampai tak tahu kapan waktu yang pas untuk mengamalkan ilmu.”

Saat itu air matanya kembali meleleh bersamaan dengan sebuah hentakan keras tepat mengenai ulu hatinya. Terlebih Ustadz Abdurrahman As-Syadzili melanjutkan ucapannya, mengorek-orek kekeliruannya. Kekeliruan itu benar-benar terkuak tanpa sisa. Ia tersadar. Bukan hanya itu, beliau juga menasehatinya, menebarkan petuah-petuah suci penentram hati.

Di malam kedua ini rupanya bacaan imam masih seperti dulu. Bedanya kini lebih terdengar serak, sesekali terbatuk-betuk dan mengatur nafas beratnya. Mendadak bendungan air disudut mata Lelaki berjanggut tipis itu jebol. Entah kenapa seperti ada gelombang dasyat yang memaksanya untuk megeluarkan air mata keharuan, saat mendengar bacaan imam ini. Sesekali pundaknya berguncang menahan isak tangis kesesakan di dadanya.

Tatkala baru saja imam itu bangun dari rokaat pertama. Belum sempat ia bersuara tiba-tiba tubuh ringkihnya ambruk kedepan tersungkur di atas sajadah. Sejurus hela nafas terkejut dari para jamaah terdengar memnuhi ruangan. Termasuk Lelaki berjanggut tipis itu. Lalu suasana hening untuk beberapa detik. Dengan segala kemantapan hati kedua kaki Lelaki berjanggut tipis itu melangkah sedikit maju. Kemudian ia mulai melantunkan surat Al-Fatihah dengan merdunya, melengking indah, menggema langit-langit mushola itu. Menggunakan murottal seorang syekh imam masjid nabawi yang pernah ia pelajari.
Imam lelaki tua itu masih terlihat tersungkur di atas sajadahnya.
Dalam bacaan Al-Qur’annya, Lelaki berjanggut tipis itu terdengar menahan isak tangis keharuan. Amat susah payah ia tahan air matanya keluar, tapi tetap tak berdaya. Pun berbaur dengan beberapa rintihan lirih tangis jamaah solat hingga suasana di dalam mushola itu nampak terasa magis. Bersama itu pula rintik hujan di luar masih terus berjatuhan tanpa henti.

Usai solat para jamaah langsung berhamburan mendekati lelaki tua itu. Pekik tangis terdengar melengking-lengking. Memanggil-manggil nama lelaki tua itu saat diketahui tak ada nafas lagi berhembus dari lubang hidungnya.
Derai tangis semakin pecah bersamaan riuhnya jamaah perempuan saat menyibak hijab dan menyaksikan keadaan yang terjadi di depan mereka. Beberapa orang berhamburan keluar memberitahukan para tentangga, sisanya masih terus menangis tersedu-sedu.

Lelaki berjanggut tipis itu hanya bisa terduduk kaku, menatap nanar pemandangan di sekitarnya, menahan tangis yang semakin membuat dirinya kalut. Pengumuman meninggalnya Bapak Karsadi imam mushola ini terdengar dari speaker mushola dengan suara parau.

Tubuh kaku lelaki tua itu digotong bermai-ramai oleh beberapa jamaah lelaki keluar dari mushola lima payung langsung menyambut, seakan mereka tak mau tubuh imam yang mereka segani itu terjatuhi tetes air hujan. Sebenarnya ada deburan halus menyusup dalam hati Lelaki berjanggut tipis itu untuk ikut bersama para jamaah tadi, namun entah kenapa ada gerakan tak sadar yang memaksanya untuk tetap berdiri menatap kaku pemandangan di depannya. Hingga pemandangan itu benar-benar hilang menyisakan dirinya seorang.

Setengah jam berlalu. Adzan isya berkumandang. Meskipun suasana duka masih terasa menyelimuti malam sebab tempat tinggal lelaki tua itu tak jauh dari mushola. Tetapi semangat para jamaah untuk melaksanakan solah isya berjamaah masih menyala. Dan tentunya Lelaki berjanggut tipis itu sudah sejak tadi berada di dalam mushola.

Iqomat mengalun merdu. Lantas hening seketika, tak ada derap langkah kaki yang berani berjalan maju ke arah tempat sajadah imam. Untuk beberapa detik wajah-wajah para insan yang terbalut bening air wudhu itu saling tatap-menatap seperti hendak mencari tanda-tanda wajah yang memiliki cahaya suci, yang pantas untuk mengimami sholat isya.

Sebuah suara agak serak seorang lelaki paruh baya mengagetkan Lelaki berjanggut tipis, “Mangga Mas menjadi imam sholat. Bacaan Al-Qur’an Mas kan bagus,” ujarnya seraya mempersilahkan dengan tangan kanannya.
“E, ndak. Ndak. Mangga Pak mangga,” tolak Lelaki berjanggut tipisitu dengan nada halus.
“Eh ndak papa Mas, mangga,” sekali lagi lelaki paruh baya meminta sambil mencoba mendorong halus Lelaki berjanggut tipis itu. Beberapa jamaah ikut mendesak.

Apa boleh buat. Seperti ada angin sejuk yang menyusup ke dalam hati Lelaki berjanggut tipis itu hingga ia merasa yakin bahwa ini adalah amanah. Ia harus melaksanakannya. Allah seperti tahu waktu kapan untuknya supaya ia sedikit melebarkan sayap ilmunya.

Seketika suasana di dalam mushola itu terasa sejuk. Lantunan merdu ayat suci Al-Qur’an yang disenandungkan Lelaki berjanggut tipi menggema memenuhi pilar-pilar ruangan, menyentuh dinding-dinding mushola, mengalir keluar bercampur dengan udara malam, menyusup lembut kesetiap jiwa-jiwa insan yang tengah bercumbu rayu manghadap Sang Khalik. Dari kejauhan seperti ada cahaya suci yang nampak berkilau di rumah Allah itu.

Jenazah Bapak Karsadi sudah disemayamkan beberapa puluh menit yang lalu. Walaupun begitu rumah duka kediaman beliau masih banyak masyarakat yang bercakap-cakap ditemani makanan kecil. Beberapa ibu-ibu masih terlihat keluar-masuk rumah duka menjinjing kantong plastik berisi beras.
Di teras halaman depan. Lelaki berjanggut tipis itu duduk berbaur dengan Bapak-bapak Tetapi ia hanya menyimak percakapan mereka saja, belum berani ikut bergabung. Sesekali ia mengambil kripik singkong di atas meja.

“Haduh Mas, kok diam saja dari tadi. Ayolah bergabung!” tukas seorang Bapak di samping kanannya.
Lelaki berjanggut tipis itu tersenyum dan mengangguk.
“Ngomong-ngomong nama Mas siapa?” tanya Bapak itu lagi.
“Hamam. Muhammad Hamam.”
“Oh, Mas Hamam.”
Seorang Bapak berkumis tebal di depannya seketika menatapnya lamat-lamat. Deg. Hamam menunduk, ia seperti mengenal Bapak di depannya dan mengapa tatapan padanya itu terasa menusuk seperti tengah menyelidik. Hamam terkesiap.
“Sebentar, bukankah kau ini pemuda yang lima tahun lalu membuat kekacauan di mushola? Kau yang menuduh solat kami waktu itu tidak sah?” tanya Bapak berkumis tebal itu.
Mendengar pertanyaan itu mendadak tubuh Hamam gemetar, takut, kalau-kalau kejadian lima tahun lalu kembali terulang. Sebab ia yakin Bapak inilah orang yang pertama kali memarahi dan melayangkan pukulan di wajahnya.
“Iya benar, saya juga masih ingat. Benarkah begitu, Mas?” yang lain ikut mencoba menyelidik.
Perlahan Hamam mengangkat wajahnya. Gurat-gurat penyesalan dan rasa bersalah tergambar di wajahnya. Kini ia pasrah apa yang akan terjadi. Tak ia sadari air matanya mulai menganak sungai.
“I.. iya benar saya pemuda itu. Ma… maafkan saya Bapak-bapak atas kelancangan saya dulu. Sungguh saya sangat menyesal telah berlaku sombong begitu. Saya khilaf. Dan maafkan saya jika saya lancang kembali hadir di desa ini.”
“Kami akan memaafkanmu, dengan satu syarat.”
Wajah Hamam menatap sekilas Bapak berkumis tebal itu.
“Apa syaratnya, Pak. Insya Allah jika saya mampu, saya akan melaksanakannya demi menghapus kesalahan saya dulu.”
Beberapa di antara mereka saling pandang dan mengangguk kecil, menimbulkan kecemasan hadir di hati Hamam.
“Siapkah Mas Hamam menjadi pengganti Bapak Karsadi? Menjadi imam tetap mushola kami?” tanya Bapak berkumis tebal disusul yang lainnya.
“Maukah Mas Hamam tinggal di desa ini lebih lama lagi? Membimbing kami, anak-anak, para pemuda, orang tua supaya selalu berada di jalan lurus menuju cahaya Allah?”
“Mas Hamam bisa tinggal di rumah saya. Kebetulan saya punya kamar yang kosong dan saya tidak memiliki anak lelaki.”

Hamam diam. Telinganya seperti tak percaya akan perkataan-perkataan barusan. Namun perlahan angin sejuk seakan menyusup halus kesetiap aliran tubuhnya, hingga sebuah cahaya terang muncul di dasar hatinya. Air matanya mulai meleleh. Bukan air mata penyesalan, melainkan sebaliknya.
Terlebih saat sosok lelaki berwajah teduh –wajah yang tak asing selalu hadir di pelupuk matanya- seketika muncul, bersalaman penuh hangat dengan Bapak-bapak di tempat itu. Orang yang mampu menemukannya lubang menganga penuh kekeliruan yang tak tersadarkan lima tahun silam.
Ustadz Abdurrahman As-Syadzili. Seulas senyum menghiasi wajah teduhnya menatap Hamam. Lantas mengangguk pelan, seolah hendak mengalirkan keyakinan dalam diri Hamam atas persyaratan yang diajukan Bapak-bapak. Hamam membalas, mengangguk dan tersenyum.

Cerpen Karangan: Iqbal Saripudin
Facebook: Iqbal Saripudin Muhammad
Nama: Iqbal Saripudin
Alamat Rumah: Desa Damarguna Kec. Ciledug Kab. Cirebon
Alamat Pondok Kebon Jambu Al-Islamy: Jln. Kebon Jambu No. 01 Babakan Ciwaringin Cirebon
No Hp: 0895101272453

Cerpen Denyar Sombong Lelaki Berjanggut Tipis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Action For Be Better

Oleh:
Anak Rohiiisss… Cinta Allah. Cinta Rasul. Allahu Akbar. Pekik semangat seorang MC, kemudian langsung diumpan balik dengan sambitan eits maksudnya sambutan hangat pula. Di kalangan anak sekolah sudah sangat

Islamphobia dan Toleransi Beragama

Oleh:
Setiap umat muslim pasti mengetahui bahwa agama Islam mengajarkan kebaikan. Kebaikan tidak hanya di haruskan dalam interaksi sesama muslim bahkan lebih dari itu. Umat muslim harus menghargai non muslim

Menerjang Kemungkinan, Menggapai Impian

Oleh:
“Setelah lulus mau lanjut dimana?”, tanya salah satu seniorku di pesantren “Ma… masih belum tau mas”, jawabku malu-malu saat itu. Saat itu aku sudah menginjak kelas 3 Tsanawiyah (MTS),

Sejarah Dunia yang Berbohong

Oleh:
Apa yang terngiang dalam benak kita jika bumi datar..? Itulah yang kupikirkan sembari duduk dengan secangkir kopi di depanku. Baru-baru ini kabar tentang bumi datar sudah beredar di seluruh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *