Dirindu Dinginnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 28 April 2014

Bau pagi yang khas menelusup masuk lewat jendela kayu kamar ku. Bau embun mulai datang. Uh! Jatuh tepat di atas kelopak mata ku. Siapa lagi kalau bukan ayah yang melakukannya. “Bangun anak manja, sekolah tak menunggu kedatangan mu untuk memulai kegiatannya”, ucapnya dingin. Sedingin air dalam bak mandi yang tak pernah hangat. Begitulah drama pagi yang selalu terjadi setiap hari di rumah kami.

Setelah melahirkan aku, ibu sering sakit-sakitan. Akhirnya, ketika umur ku baru menginjak sepuluh bulan, ibu meninggalkan kami berdua untuk selamanya. Ayah yang pribadinya kaku dan dingin harus berusaha merangkap menjadi sosok ibu. Meskipun susah bersikap lembut tapi setidaknya ia berusaha menjadi orangtua yang baik bagi ku, mencukupi segala kebutuhan ku dan melindungi putri semata wayangnya ini dari bahaya kehidupan di luar rumah kami. Rumah kami yang dingin.

Ayah memberi ku nama ‘Anisa Wahid’. Guru ku di sekolah menengah pertama pernah membahas arti nama-nama semua murid di kelasnya. Tidak banyak, kelas ku isinya hanya 10 orang. Maklum desa ku terpencil, kesadaran pentingnya pendidikan pun kurang. Aku gembira sekali saat mengetahui arti dari nama ku, ‘Perempuan nomor satu’. Teman-teman di kelas ku juga ikut tepukau. Hebat. Selama ini aku tak pernah menanyakan hal itu pada ayah. Peduli saja tidak. Karena sehebat apapun nama ku, tiap pagi ia akan tetap panggil aku dengan sebutan anak manja. Padahal bermanja-manja dengannya saja tidak pernah. Ayah dingin. Aku malas.

Tapi aku penasaran. Aku ingin dengar dari mulut ayah sendiri tentang nama yang diberikannya. Mungkin juga tentang harapan yang ia gantungkan pada ku. Akhirnya sepulang dari sekolah hari itu, aku langsung menemui ayah di toko kelontong miliknya di depan rumah. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung menyergap ayah dengan pertanyaan tentang nama ku. Sepertinya ayah agak bingung dengan pertanyaan yang sangat tiba-tiba tersebut. Ia berpikir sejenak dan mulai membuka mulutnya. Jawabannya singkat, “Karena ayah laki-laki dan kamu satu-satunya perempuan di rumah ini”. “Hanya itu?!”, tanya ku agak keras. Sepertinya ayah kurang suka dengan nada itu, ia pun kembali sibuk melayani konsumennya. Aku sebal jawaban ayah tidak sesuai dengan apa yang guru ku katakan dan semakin sebal dengan perlakuannya yang seperti tidak mempedulikan aku. Sebal!

Aku merasa selama ini kami seperti keluarga bisu. Bicara betul-betul seperlunya. Berkeluh kesah pun aku bingung seperti apa. Kadang sepulang aku dari sekolah, aku pergi ke makam ibu. Tak ada yang aku bicarakan selain tentang ayah, ayah dan hanya ayah. Tapi apalah bedanya, makam pun tak bisa bicara. Aku bosan. Akhirnya aku hanya memendam dan berdoa. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik bagi kehidupan ku yang dingin ini.

Aku tak tahu sampai kapan ayah akan bersikap dingin seperti itu. Tapi apapun yang ayah perintahkan pasti segera ku laksanakan. Ayah suruh aku bersihkan rumah, aku bersihkan rumah sampai benar-benar bersih. Ayah suruh aku belanja ke pasar, aku cepat-cepat pergi ke pasar. Ayah suruh aku belajar dengan baik, aku belajar dengan sangat-sangat baik. Bahkan UN SMA ku tahun lalu mendapat nilai terbaik se-provinsi. Aku hanya anak sederhana bukan anak yang suka menuntut orangtua minta ini dan itu. Keinginan ku hanya satu, ayah melihat aku.

Sampai pada akhirnya aku berhasil memperoleh beasiswa di salah satu universitas negeri ternama di pulau Jawa. Aku bahagia mendapat berita tersebut sekaligus sedih harus meninggalkan ayah sendiri di rumah yang dingin itu. Meskipun menyebalkan tapi hanya ayah lah satu-satunya yang aku miliki di dunia ini. Dan ini kata-kata termanis yang pernah ayah tuturkan sebelum ia kembali ke pulau kami yang sepi dan terpencil itu. “Sampai desa, ayah akan jadi orang termiskin. Karena harta ayah satu-satunya ada di sini”, ucapnya. Waw, mungkin kata-kata seperti ini yang membuat ibu ku jatuh cinta pada ayah. Pantas ayah jarang bicara, menurut ku kata-kata yang keluar dari mulutnya cukup berbahaya. Aku hanya terharu dan tersipu mendengar ucapan ayah. “Berjalan lah nak. Berjalan dengan yang maha satu. Karena-Nya lah kamu mampu menjadi perempuan nomor satu”, tuturnya. Dan untuk pertama kalinya ayah memeluk dan mencium kening anak semata wayangnya ini.

Aku merasa sangat bersyukur mendapat beasiswa di luar pulau. Kalau bukan karena hal tersebut mungkin sampai saat ini aku masih belum bisa merasakan peluk cium dari ayah. Aku rindu rumah yang dingin. Aku rindu ayah.

Cerpen Karangan: Ana Marieza Widiawati
Facebook: Ana Marieza Widiawati

Cerpen Dirindu Dinginnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

Bapak

Oleh:
Riuh tawa menggema di gedung kampusku. Ramai mahasiswa berpakaian rapi dan jubah panjang yang menutupi semua badan hingga lutut dan menutupi semua lengan serta dilengkapi atribut ekstra sebagai pelengkap

Hanya Tinggal Kenangan

Oleh:
Namaku Edo saat ini aku duduk di kelas 1 SMA, mungkin banyak hal yang tak kumengerti tentang dunia ini apalagi Kakakku seorang yang menurutku menyebalkan, aku anak ke dua

Taman Syurga Raudhatul Jannah

Oleh:
Suara gemuruh hati menikam dari dalam jiwaku. Hasrat tuk menjejaki suasana baru itu membuatku resah tak karuan. Sebenarnya apa juga yang harus kuresahkan. Praktek menjadi seorang guru itu kan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *