Elegi Penyesalan dan Hijrahnya Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 December 2017

Setiap orang berhak merasakan yang namanya cinta. Karena mencinta dan dicintai itu adalah hak bagi setiap insan, baik itu cinta pada keluarga, sahabat, guru, dan lainnya. Itu kata buku yang gue baca, bukan kata gue. Heee. Tapi hati-hati dalam mengekspresikan yang namanya cinta ini yaaa. Kalau salah tempat dan salah dalam mengaplikasikannya bahaya juga loh. Ini juga kata buku yang gue baca

Nah ini juga yang sekarang sedang dialami oleh sahabat gue yang satu ini, namanya Dita. Ya nama lengkapanya yaitu Anindita Mayasari. Dita sekarang lagi dimabuk cinta pada seorang laki-laki, first love katanya. Huahhh.
Dan perkenalkan nama gue Khansa Salsabilah, nama panggilan gue bella.

“Hallo bel…” tiba-tiba saja dita datang menghampiri gue dan menepuk punggung gue, membuat gue terkejut.
“Awww sakit tak… Ahhh lo kebiasaan nih. Kalau datang nggak pake salam dulu kek.” Kata gue dengan wajah sewot dan masih sedikit kesakitan.
“Hehe. Iya… iya. Sorry… Assalamualaikum bella sahabat gue yang cantik nan solehah.” Ucapnya sambil nyengir kuda dan lagaknya merapikan jilbab gue, padahal jilbab gue nggak berantakan.
“Yeaaaa… Waalaikumussalam…” Jawab gue.

Nih orang sudah pasti kalau ngedekatin gue bakalan cerita tentang pacarnya yang bernama wisnu itu. Yukkk kita hitung, 1… 2… 3… Eng ing eng…

“Bel, gue semalam habis dinner dengan wisnu. Wisnu itu orangnya romantis banget bel. Semalam saja dia ngasih gue bunga dan coklat. Huuu so sweet banget bel pokoknya. Gue makin sayang deh sama dia…”
Heee. Udeh gue tebak kan. Pasti akan cerita tentang itu…
“Terussss… Gue harus bilang waw gitu?”
“Ihh bella nggak asik ah. Bete…” Dita dengan nada jengkelnya.
“Hehehe. Nggak… nggak. Ceilehh gitu aja marah. Iya deh iya wisnu emang romantis. tis. tis…” Gurau gue pada dita. Lalu kami pergi ke kantin.

Well, saat di kantin kami melihat ada wisnu juga di situ dengan segerombol teman laki-lakinya. Jelas saja saat melihat kami di kantin, si wisnu pun nyamperin. Tepatnya nyamperin dita
“Yank, pulang nanti bareng ya. Gue tunggu di depan pos satpam. Okeyyy?” Ucap wisnu pada dita, sambil memegang tangan dita.
“Ooo oke nu…” Balas dita tersenyum dan dengan hati yang berbunga-bunga.
“Cieee…” Gue menggoda dita yang masih membayangkan pangeran kodoknya. Uppps…

Tapi, entah mengapa dari awal dita PDKT dengan wisnu. Gue sudah rada nggak suka. Emang sih bisa dikatakan kalau wisnu itu adalah laki-laki terfavorit di sekolah. Banyak kaum hawa yang mengidolakannya, karena kepiawaiannya dalam bermain basket. Eh tapi nggak untuk gue. Gue nggak sama sekali masuk dalam daftar penganggumers wisnu.

Hari demi hari dita dan wisnu mulai menampakan kedekatan mereka berdua secara terang-terangan di sekolah. Sampai-sampai dita banyak dimusuhi oleh teman-teman cewek yang mengagumi wisnu, nggak sedikit juga yang meneror dita lewat sms. Tapi itu nggak membuat hubungan antara dirinya dengan wisnu renggang. Malah nambah semakin dekat. Tapi tetap saja gue sebagai sahabatnya dita nggak suka kalau wisnu jadi pacarnya dita. Hal ini juga sudah pernah gue utarakan dengan dita. Tapi dita tetap saja membela wisnu dan juga tetap menyanjungnya. Gue pun nggak bisa berkata lagi, dan juga nggak ingin jikalau dita merasa gue ikut campur dalam urusan pribadinya terlalu dalam.

Keesokan harinya di pagi hari yang begitu cerah. Sang surya pun telah memancarkan sinarnya, membuat kami pun bersemangat untuk memulai aktivitas di sekolah hari ini.

Saat di gerbang sekolah, gue melihat dita dan wisnu baru turun dari motornya wisnu. Gue yang saat itu tujuannya ingin menunggu dita untuk barengan masuk ke kelas. Ehhh malah mereka lewat aja di depan gue tanpa melihat ni ada orang yang paling cantik n kece. Hhmmmm sebel iya. Tapi mau gimana lagi namanya juga orang yang lagi dimabuk cinta, jadi seolah nih dunia hanya milik mereka berdua. Untung aja lo itu sahabat gue sudah lama tak, kalau nggak… Ya tetap nggak diapa-apain juga sih hehe.
Haaahh. Gue menghela nafas panjang dan langsung menuju kelas.

Sekarang sudah terhitung umur hubungan pacaran mereka berdua telah menginjak usia 1 tahun. Kami pun sudah naik ke kelas XII. Dita pun sudah jarang ada waktu untuk main bareng gue. Gue kangen banget dengan dita yang dulu, yang saat kemana mana pun kami habiskan waktu berdua. Emang sih di sekolah gue ikut organisasi ROHIS (rohani keislaman), di sana banyak juga teman-teman ceweknya. Tapi entahlah, gue tetap merasa sepi tanpa adanya dita. Gue dan dita sudah bersahabatan sejak jaman SMP. Tapi kami selalu beda dalam memilih aktivitas di sekolah. Dan ketika di SMA. Kami pun memilih organisasi yang berbeda. Gue ikut ROHIS dan dita ikut organisasi seni. Meskipun kami banyak beda. Tapi hobi kami tetap sama, yaitu suka baca novel dan mengambil gambar-gambar yang ada di sekitar walau hanya lewat kamera hp. Hehe. Oya, walaupun dita belum mengenakan hijab. Tapi dita nggak pernah menolak kalau gue ajak ia untuk sholat dhuha dan sholat zuhur berjamaah di sekolah. Gue juga nggak pernah ragu untuk mengajaknya. Dita juga tahu kalau gue bukan tipe orang yang berbasa-basi. Jadi kami sudah saling faham. Tapi semua berubah 180 derajat semenjak dita kenal dengan yang namanya wisnu.

Seantero sekolah pun sudah faham sekali. Dimana ada wisnu, di situ pasti ada dita, pun sebaliknya. Parahnya lagi saat di kelas. Si dita juga nggak henti-hentinya mandangin fotonya wisnu yang ada di dalam dompetnya berwarna ungu itu. Nilai mata pelajaran dita pun hampir rata-rata turun semua, tapi alhamdulillahnya dapat naik kelas itu anak. Gue juga sudah sering ngingetinnya jangan sampai pacaran menganggu pelajaran sekolah, tapi dita hanya jawab iya iya saja. Gue jadi bingung. Emang kalau orang jatuh cinta a.k.a ‘pacaran’ itu harus seperti itu banget ya? Maklum dari SMP sampe SMA ini pun gue belum pernah pacaran. Kalau hanya mengagumi seorang laki-laki, gue pernah, tapi kayaknya nggak sampe ke jatuh cinta deh. Ngeri… Hehe. Yaa Robb… Jangan buat gue jatuh cinta dulu. Gue nggak mau jadi kayak dita. Batin gue berkata…

Sabtu malam dita menelepon gue dengan suara yang surau dan sedikit terisak “Assalamualaikum Bel…” suara dita sangat jelas terdengar kalau ia lagi menangis.
“Waalaikumussalam. Bentar tak… Bentar… Lo kenapa nangis? Kalem. Mulai cerita. Ada apa dengan lo?” Gue bertanya pada dita dengan intonasi sedang.
“Bel, maafin gue. Gue yang nggak pernah peduliin nasehat dari lo. Maaf bel. Gue hamil bel, sudah masuk 2 bulan. Gue sudah minta wisnu untuk mempertanggungjawabkannya dari saat tahu gue hamil. Katanya iya dia mau tanggungjawab. Tapi sampe dengan hari ini wisnu belum menepati janjinya. Saat dihubungi nomornya selalu nggak aktif bel…” dita terus menangis. Dan gue, gue sangat shock saat mendengar pengakuan sahabat gue itu. Pantes saja akhir-akhir ini gue lihat ada yang beda pada diri dita, tampak lesu dan sedikit pucat. Wisnu pun nggak kelihatan di sekolah. Ah gue sangat merasa terpukul, gue merasa gagal dalam menjaga sahabat gue. Gue merasa nggak berdaya saat itu. Astaghfirullah…
“Lo tenang saja tak, gue akan bantu lo untuk cari laki-laki pengecut itu.” Ucap gue dengan perasaan bercampur aduk, dan lebih tepatnya geram. Ya gue geram dengan makhluk yang bernama wisnu prasetia itu. Namanya nggak sesetia orangnya.

Dari pas malam itu juga gue mencari wisnu ditemeni mang ujang sopir gue. Gue datangin rumahnya. Tapi nihil, gue nggak menemukan batang hidungnya di malam itu. Gue nggak nyerah sampai di situ. Terus gue berusaha mencari. Ini demi sahabat gue dan calon bayinya. Namun, tetap saja gue nggak menemukan wisnu. Wisnu seperti menghilang begitu saja dari dunia ini. Dia benar-benar laki-laki pengecut.

Pada suatu hari saat gue masih di sekolah. Gue ditelepon oleh bik minah, asisten rumah tangga gue. Beliau ngabarin gue kalau dita melakukan tindakan ingin bunuh diri dengan meminum obat yang dosisnya sangat tinggi. Oya, semenjak orangtua dita tahu, kalau dita hamil. Dita di usir oleh ayahnya, dan ibunya menelepon gue. Bertepatan dengan itu juga gue langsung menghubungi dita dimana posisi dia saat itu. Saat gue ketemu dengannya. Gue langsung mengajak dita ke rumah gue. Nggak peduli mama papa mau nerima atau nggak akan keberadaan dita di rumah. Itu urusan belakangan fikir gue. Dan sampai hari ini dita masih tinggal di rumah gue. Sesampai gue di rumah, gue nggak melihat lagi dita ada di kamar itu. Ternyata ada secarik kertas yang berisikan pesan singkat dari mang ujang di atas tempat tidur, isinya kalau bik minah dan mang ujang sudah membawanya ke rumah sakit. Gue langsung saja bergegas meluncur ke rumah sakit saat itu juga dengan menggunakan motor, dan saat itu gue masih mengenakan seragam sekolah.

Sesampainya gue di rumah sakit. Gue lihat keadaan sahabat gue itu terbaring lemah di ruang ICU. Gue jadi semakin sedih melihat keadaannya. Ketika dokter keluar dari ruang pasien. Gue langsung mendekati dokter tersebut. “Dok, gimana keadaan dita dan janinnya?” tanya gue pada dokter yang menangani dita pada saat itu.
“Maaf mbak, kami hanya dapat menolong ibunya. Bayi yang di dalam perutnya sudah tidak dapat tertolong, karena efek dari obat-obatan yang berdosis sangat tinggi, sekali lagi kami minta maaf mbak.” Ucap dokter tersebut.
”Innalillahi… Ya dok, terimakasih…” Gue nunduk dan duduk di kursi tunggu, sambil berdoa untuk kesembuhan dita.

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Dita pun telah diizinkan untuk pulang oleh dokter, karena keadaannya sudah sedikit membaik. Gue bersama mang ujang pun sudah di rumah sakit untuk menjemput dita. Dita terlihat sangat menyesal sekali akan perlakuannya yang telah mudah membunuh calon anaknya yang nggak berdosa itu. Lalu gue pun yang saat itu ada di dekatnya langsung memeluknya dan sedikit menenangkannya. Gue menghapus air matanya yang saat itu sangat deras mengalir.

“Sudah tak, lo nggak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Sekarang lo ambil hikmahnya aja dari kejadian ini. Jadikan ini pelajaran hidup bagi lo. Gue akan selalu ada disamping lo. Tenang. Lo nggak sendirian.” Gue berusaha menghibur dita.
“Thanks bella, selama ini gue mengabaikan lo sebagai sahabat gue. Hanya karena gue dibutakan oleh yang namanya cinta dunia hingga berujung penyesalan kayak sekarang ini, maafin gue bel. Dan sekarang, apa lo nggak marah bel dengan gue?”
“Heee. Untuk apa gue marah tak, gue nggak pernah marah dengan lo. Tapi satu saja permintaan gue, lo harus janji. Lo harus move on dari yang namanya wisnu. Dan juga terus lo tingkatin ibadah loh pada Allah, dan berjanji untuk benar-benar nggak mengulanginya lagi. Jujur gue kangen dengan kita yang dulu tak. Saat dhuha kita sholat bareng, pulang sekolah kita sempetin ke musholah dulu untuk sholat zuhur berjama’ah. Ke toko buku beli novel dan hunting foto.” Ucap gue sambil merangkulnya.
“Ya bel, gue juga kangen itu semua, gue benar-benar ingin bertaubat dan juga gue janji nggak bakal inget-inget lagi dengan laki-laki itu. Sekali lagi thanks bel, lo sudah banyak ngebantu gue, lo bener-bener sahabat gue yang paling baik bel. Dan insya Allah, gue juga ingin mengenakan jilbab sepertimu bel. Tolong bimbing sahabatmu ini ke arah yang lebih baik lagi bel. Bimbing gue mengenal Allah lebih dekat lagi.” Ujarnya serius pada gue.
“Masya Allah… Iya tak insya Allah. Kita sama-sama ya belajar. Ilmu gue juga belum banyak tak. Tapi kata buku yang gue baca. Kalau kita ingin memperbaiki diri dan terus belajar. Insya Allah, Allah sendiri yang akan memberikan jalan untuk kita. Jadi sembari kita memperbaiki diri, kita juga harus terus berdoa dengan Allah untuk dipermudah jalannya dan di istiqomahkan.” Dita pun mengangguk sambil menghapus air matanya.

Setelah kejadian itu dita pun berubah menjadi sosok yang bijaksana, semakin anggun dengan balutan hijab yang ia kenakan dan juga dewasa. Ia juga kini telah aktif mengikuti pengajian bareng ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Kan gue dari dulu suka ngikutin kegiatan-kegiatan taklim dan pergi ke majelis-majelis ilmu. Nah dita sering bilang ke gue, “Bel kalau lo mau pergi ke majelis-majelis yang sering lo datangin itu. Ajak-ajak gue ya, gue juga mau ikut bel”.

Hmmm. Sepertinya ia memang sudah melupakan kejadian yang memilukannya 3 tahun lalu. Sekarang ia tampak fresh dan kembali ceria lagi seperti awal gue mengenalnya saat SMP dulu. Gue pun ikut bahagia. Ia juga sekarang sudah pulang ke rumahnya sendiri, karena ayahnya sudah memaafkannya dan sudah mau menerima dita lagi pulang ke rumah. Dita juga telah mengikuti ujian paket C. Karena pasca kejadian itu, dita nggak mau ngelanjutin sekolah lagi. Gue, ibu dan ayahnya memberi saran pada dita agar ia mengikuti ujian paket C. Alhamdulillah dita pun mau. Sekarang kami pun kuliah di satu kampus tapi beda jurusan. Gue mengambil jurusan jurnalistik, dan lebih dulu kuliah setahun dari dita. Sedangkan dita mengambil jurusan bahasa dan sastra. Hubungan persahabatan kami pun tetap berjalan dengan baik. Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Insya Allah sahabat until jannah. Aamiin… 🙂

-END-

Nb:
Cerita ini hanya fiktif belaka. Maaf jika ada kesamaan nama dan alur cerita. Semoga bagi yang sedang membaca (terkhusus) anak2 muda yang sedang menjalankan pacaran. Pacaran yang sehat2 saja ya gaesss. Jangan terlalu berlebihan. Pun lebih baik nggak usah pacaran deh, jika pacaran itu nggak ada manfaatnya, dan malah mendatangkan mudhorot… Hihi. #Pisss #IndonesiaTanpaPacaran

Cerpen Karangan: Yeni Herlinda
Blog: yenshino.blogspot.com
IG: @yeniherlinda.yh

Cerpen Elegi Penyesalan dan Hijrahnya Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tanda Tanya Cintaku

Oleh:
Tepat pukul 04.00 suara Adzan Subuh dikumandangkan. Aku terlelap dari ranjang tidurku sambil menguap tanda masih mengantuk, aku terbangun dan menatap sang mentari yang kian menyapaku di jendela kamarku.

Ku Pilih Sahabat Ku

Oleh:
Namaku Melisa Estyani, biasa dipanggil Tya. Sekarang aku duduk di kelas X salah satu SMA swasta di daerahku. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah sebelumnya MOS

Tolong

Oleh:
“Toloooong!” Terdengar teriakan dari dalam rumah Hasan. Satria bergegas berlari menuju rumah Hasan bersama beberapa tetangga. “Ada apa San?” Tanya Satria. “Hahahaha tidak ada apa-apa Satria, aku tahu kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *