Engkaulah Malaikat Hidiupku Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 September 2017

Dalam suasana di pagi hari yang cerah dan santai, begitu terkejutnya diriku, ketika tiba-tiba saja papa meneleponku dan memberikan sebuah kabar, jika di pagi hari ini, tepatnya jam 10 pagi, mama terbaring koma di rumah sakit. Entah mengapa, ini seketika saja membuat bibirku terasa gusar, dan tidak mampu mengucapkan sebait kata apapun, pikiranku semakin gundah dan perasaanku terasa kacau tak menentu.
“Ya allah, ada apa dengan mama?, kenapa ini tiba-tiba saja terjadi?. Aku memohon kepadamu, sembuhkanlah mamaku, karena untukku, mama adalah malaikat hidupku”, kata hatiku yang terus saja menguntai doa.

Sungguh, masih teringat olehku, dimana 2 jam yang lalu, ketika aku akan berangkat menuju ke Kampus, sebuah perdebatan di pagi hari, terjadi di antara aku dan mama,

FLASHBACK
“Arlina, apakah kamu sungguh tidak ingin mengenakan hijab?, kenapa?, dan sampai kapankah kamu akan terus seperti ini?”
“Ma, ini adalah hidup Arlina. Please ma, jangan terus paksa Arlina untuk berubah jika perubahan itu bukanlah yang Arlina mau”, jawabku dengan nada mengelak.
“Arlina, kamu telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Sudah saatnya kamu berubah, dan mama mohon, lepaskanlah hidup kamu dari pergaulan yang menyesatkan ini. Lepaslah celan jeans, rok mini, dan kaus pendek kamu itu. Dan, mulailah kenakan baju yang lebih syari dan muslimah. Kamu akan terlihat cantik dan anggun Arlina, percayalah dengan mama”, sekali lagi mamaku mencoba membujukku. Dan ini, sudah ke ratusan kalinya mama mencoba merayuku untuk berhijab dan berhijrah, namun apa dayaku, aku adalah gadis yang sangat keras kepala, dan sulit untuk diatur.

DI RUMAH SAKIT…
Aku duduk di samping mamaku yang terbaring koma tak berdaya. Kuperhatikan dan kulihat wajah mamaku yang begitu cantik dan tersenyum tanpa suara. Aku menggenggam tangan mama dengan erat, dan tiba-tiba saja, tanpa kubendung, air mata mulai datang membasahi pipiku, “Ma, maafkan Arlina, karena Arlina tidak bisa seperti yang mama inginkan. Ma, bangunlah ma. Arlina ingin mama sembuh dan tidak seperti ini”, kataku dengan tertunduk sembari menahan kesedihanku.

Hari-hari terus kujalani. Tanpa adanya mama di setiap hariku. Namun, ketika dimalam itu, ketika dimana aku setelah menyelesaikan sembahyang tahajud, dengan tiba-tiba saja, ketika aku membaca al-quran, aku menangis sembari tertunduk, dan mengingat semua akan dosaku yang telah aku lakukan selama ini. Sembari menjatuhkan sujudku di atas sajadah, tiba-tiba hati kecilku bergetar, dan mengucap seuntai kata ibarat janji diriku kepada sang ilahi, “Ya Allah. Mungkin dikarenakan hidupku yang dulu terlalu egois, sehingga aku tidak dapat meraih ridhamu untuk berhijrah menjadi wanita yang lebih baik. Namun, untuk sekarang ini, hanya satu pintaku ya Allah, izinkanlah aku untuk berubah menjadi seorang gadis yang sholeha, yang senantiasa membuat mama dan papa bangga. Dan, ya Allah, tentunya jika aku telah berubah, tetap istiqamahkanlah diriku ya Allah, jika perubahan ini semata-mata hanya untukmu, papa, dan mamaku. Aku memohon kepadamu, sadarkanlah mamaku ya Allah, agar aku dapat mengucapkan maaf kepadanya, dan kembali menikmati hariku berasamanya, serta, maafkanlah atas dosaku selama ini.”, kataku dengan bersuara lirih menguntai doa dan ampun kepada Allah, hingga tanpa kusadari, riuhan tangisku, telah berhasil membasahi kedua pipiku.

KEESOKAN HARINYA…
Dengan penuh semangat dan rasa keyakinan, ku mencoba jalani hariku dengan semangat seraya mencoba membawa diriku untuk berjalan menuju ke arah yang lebih positif. Diawali dengan mencoba memperbaiki penampilanku, dengan mengenakan hijab disetiap hari yang kulalui. Walaupun aku mengerti, ini adalah untuk pertama kalinya aku mencoba meyakinkan diriku, agar tetap beristiqamah dengan pilihan terbaik yang aku tempuh saat ini. Walau aku menyadari, jika perubahan hijrahku untuk berhijab, telah membuat diriku ditinggal pergi oleh teman-temanku, dihina oleh kekasihku, dan telah hilangnya mimpiku sejak dari SMA dulu yang telah lama untuk kudapatkan, yaitu menjadi seorang model majalah gadis sampul di salah sat majalah remaja terkenal di Pekanbaru. Namun, aku selalu bersabar, dan tetap percaya dengan keputusan yang Allah berikan untukku, jika ini semua akan berakhir dengan sebuah takdir yang indah, dan lebih indah dari semua yang pernah aku bayangkan.

15 MENIT KEMUDIAN…
Ketika aku hendak bersiap-siap untuk pergi dari kampusku, sebuah kabar terindah telah kudapatkan dari papaku yang meneleponku. Dimana, kabar ini tentunya adalah sebuah kabar yang akan membuatku diriku senantiasa terus menguntai syukur kepada Allah. Yakni, telah terbangunnya mamaku dari koma yang dialaminya selama tiga hari ini. Tanpa berpikir panjang, segera aku pergi dari kampusku dan menuju ke rumah sakit.

SETIBA DI RUMAH SAKIT
“Mama?”, aku menyapa mama, dengan nada suaraku yang lirih, dan berlinangkan air mata bahagia.
“Assalamualaikum sayang?. Bagaimana kabar kamu?”, mama menyapaku dengan ramah dengan senyumnya yang tulus dan indah.
Namun, tanpa aku berkata-kata apapun, segera dengan spontannya kupeluk mamaku dengan penuh kehangatan, “Arlina sayang sama mama. Ma, maafkan Arlina. Mama benar, jika selama ini, hidup Arlina adalah salah ma”, kataku dengan tangis terisak.
“Mama selalu mengerti sayang, jika suatu hari, kamu pasti akan berubah menjadi putri mama yang sangat cantik dan soleha. Seorang putri yang akan menjadi surga untuk mama. Dan, lihatlah sekarang, disaat mama terbangun dari koma, mama telah melihat kamu berdiri di depan mama, dengan penampilan yang baru dan mempesona. Kamu berdiri didepan mama, dengan mengenakan hijab syari, dan kamu sangat terlihat cantik. Sayang, pesan mama, tetaplah seperti ini, dan tetaplah beristiqamah dengan hijrah yang kamu pilih saat ini ya. Semoga, Allah selalu bersama Arlina, di manapun Arlina berada”.
“Ma, Arlina seperti ini, ini semua dikarenakan doa mama yang selalu mama untai untuk Arlina. Arlina seperti ini, karena kasih sayang mama yang gak pernah habis untuk Arlina. Mama adalah malaikat hidup Arlina. Dan mama adalah segalanya untuk Arlina. Terimakasih untuk semuanya mama. Semoga, suatu hari nanti, Arlina janji, Arlina, akan menjadi seorang anak yang membanggakan untuk mama dan papa. Dan, walaupun, suatu hari nanti Arlina pergi untuk melanjutkan magister Arlina ke Netherland, Arlina janji ma, Arliina akan tetap istiqamah dengan jalan kehidupan yang telah Arlina pilih di dalam hidup Arlina saat ini”.

Setelah mendengarkan penjelasan dariku, kemudian mama mencoba untuk terbangun dari tidurnya, dan dengan penuh kehangatan, seraya memelukku dengan kasih sayang yang begitu terasa olehku. Dan tidak ketertinggalan, dari arah belakang punggungku, tiba-tiba papaku datang menghampiriku, dan kemudian juga memelukku dengan penuh kehangatan.

2 TAHUN KEMUDIAN…
IN NETHERLAND
“Alhamdulillah, berkat doa papa, kasih sayang mama, dan restu dari Allah SWT, akhirnya aku dapat melangkahkan kakiku dengan semangat, untuk menempuh kehidupanku, melanjutkan sekola magister Kesejarahanku di Netherland’s University. Sungguh, walaupun sudah 2 bulan aku berada di Netherland, namun tetap saja, Allah selalu menjaga hatiku untuk tetap beristiqamah dengan jalan kehidupanku yang telah aku pilih. Sungguh, aku senantiasa bersyukur disetiap waktu, dimana, perjalananku untuk menjadi seorang wanita yang sholeha, Allah telah menghadiahkan untukku, sebuah keluarga yang selalu ada untukku dan keempat sahabat baruku yang senantiasa memotivasiku setiap waktu hingga sampai saat ini. Terimakasih ya Allah, untuk setiap anugrah yang terindah yang engkau berikan untukku. Aku selalu percaya, bahwa hijrahku, adalah rencana takdir terindah yang engkau lukiskan di dalam hidupku, melalui seorang wanita yang senantiasa mengiringi langkah hidupku, yaitu mamaku, sang malaikat hidupku”, bisik hatiku, dalam suasana senja sore yang indah di taman mesjid dekat kampusku.

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Facebook: Aisyah Nuir Hanifah (Nur)
hai assalamualaikum, semoga bisa menjadi hikmah ya

Cerpen Engkaulah Malaikat Hidiupku Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cucu yang Menyesal (Part 1)

Oleh:
Gubuk tua, kumuh, dan hampir tidak layak pakai. Di sanalah aku dan kakek tinggal. Aku terpaksa tinggal bersama kakek karena orang yang aku hormati meninggalkanku saat aku berusia 1

Kembali Ke Pangkuan Mu

Oleh:
Terik matahari menyengat kulit, namun awan gelap mulai menutupi sebagian wilayah kota. Pohon-pohon di kanan kiri jalan tertiup hembusan angin kencang. Dingin seketika menyergap seluruh badan. Tiupan angin terkadang

Siapa Diriku

Oleh:
Pagi mulai menampakkan siratan cahayanya, semerbak harum pagi kian menyapa dengan iringan suara cicitan burung yang bertengger. Pagi masih menyisakan rasa dingin, ya semalam hujan deras dengan kilatan petir

Badai Di Ujung Senja

Oleh:
Senja mulai tiba, kedua bola mata tua itu terus menatap ke arah sebuah bukit yang setengah gundul. Ia menanti tenggelamnya matahari di balik Bukit itu. Dengan mukena yang telah

Bidadari Penyelamat

Oleh:
Wajah mungil dan polos. Begitulah aku melihat seorang anak perempuan yang tengah tertidur lelap di depan pandanganku. Wajah putih belum ternoda hitamnya dosa, sungguh pemandangan yang tenangkan jiwa. Meski

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *