Enjoy Bin Joy Bersama Rohis Tangsel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 25 July 2013

“Busnya dimana, ah?” ucap Pak Taufiq di akhir salamnya.
Beliau adalah guru dari Mts. Miftah ‘Asaadah yang datang bersama dengan siswanya, wajahnya masih kusut. Terlihat masih larut menyisihkan mimpi. Dan masih berserebat kain sarung. Oke, saya harap sobat semua jangan membayangkannya. Terus gue harus bilang wow gitu!!!
“Kok langsung balik, Pak?” teriak saya di depan halaman masjid.
“Ane mau jemput anak-anak lagi, karena motor yang satunya ban motornya bocor di Bintaro.” percik suaranya mengiringi pedal gas meninggalkan kami.

Kemudian berangsurlah berdatangan adik-adik dari ujung gerbang halaman masjid. Ada yang kedatangannya dengan berjalan kaki. Ada yang diantar oleh orangtua mereka, dan ada juga yang “dibonceng” lho!!!
Lalu, mana busnya? bayangkan saja sob, kita sudah stanby dari jam setengah tujuh di masjid Baitul Maal-STAN, tapi tak kunjung ia menampakkan di halaman parkir masjid. Akhirnya sambil menunggu, jadi adik-adik mengisi daftar hadir dahulu, kemudian pembagian sarapan pagi dan pemberian air minum. Sekalian menunggu adik-adik yang masih belum datang. Oiya, nanti yang sudah selesai, bisa bantu Kakak membuat tulisan di karton ya, untuk memudahkan kita ketika disana, karena dari penjuru arah lapisan penggerak dawah sekolah akan berkumpul disana, dan sepertinya kita butuh tanda pengenal agar tidak gelasak-gelusuk nyari adik-adik.

“PELAJAR FORNUSA TANGSEL” tulisan itu yang kami buat di lapisan karton. Karena kami belum memiliki bendera. huhuhuhu, jadinya pakai karton deh.
Alhamdulillah, adik-adik dari sekolah sudah pada kumpul di halaman masjid, mereka adalah perwakilan Rohis yang tergabung dalam binaan Iqro Club, di antara: SMPN 12 Tangsel, Mts Miftah Asaadah, SMKN 2 Tangsel, SMPN 14 Tangsel, SMK Kebangsaan, dan SMAN 9 Tangsel.
Semuanya sudah pada kumpul, sementara busnya belum sampai. Akhirnya saya kontak mereka, agak lama dan akhirnya terhubung juga dengan sopirnya – bang otoy – sapaan akrabnya, karena kami sudah langganan menggunakan bus dengan beliau kalau ada acara dawah sekolah.
“Bang Otoy, posisinya sedang dimana?” lalu jawabnya
“Bannya bocor, nih lagi ditambal… Tunggu sebentar ya, dikit lagi juga selesai nih.”
“Bocor!!!” rasa kaget saya.
“Ok, ditunggu ya, nanti langsung masuk aja ya ke dalam kampus!!”

Waktu saya datang menemui Bang Otoy di rumahnya, kesepakatan kita bus sudah berada sebelum jam setengah tujuh, karena anak-anak sudah pada kumpul lebih pagi. Hmm.. dari tadi bicaranya bus ya? Maaf, sebenarnya kita pakai Metro mini 69 trayek Cileduk-Blok M. Kami hanya memiliki rencana untuk menyiapkan kendaraan yang terbaik untuk adik-adik semua, namun pada akhirnya meleset dari apa yang kami perkirakan.

Tunggu bin tunggu, akhirnya Metro mini tiba di halaman parkiran masjid jam delapan lebih cepe atau seribu, ah pokoknya terlambatlah mereka datangnya. Seharusnya bersyukur ya, karena kalau gak datang mau naik apa kesana? Masa mau naik pohon aren? Ya gak banget kali.

Sebelum berangkat, kami berkumpul dahulu di halaman masjid, memberikan arahan dan penyampaian agenda, bahwa keberangkatan kita kesana tuh apa aja sih acaranya, supaya terbayang di benak adik-adik semua, setelah itu kami berdoa dan berjalan menuju kendaraan.
“Air dan nasi tolong dibawa ya ke bus” teriak seorang teman yang meminta bantuan ke adik-adik.
“Bang Otoy, ayo bang jalan..”
“lewat pasar bintaro aja ya, biar langsung masuk tol.” Sahutnya sambil memutar anak kunci.

Jam delapan sekian kami meluncur. Meninggalkan halaman parkir masjid Baitul Maal. Sesampai di pertigaan kodam sudah terlihat buntut kemacetan. Metro mini yang kami tumpangipun terjebak macet dan merayap sampai lumpuh di depan pasar Bintaro. Panas. Gerah. Pegel. Kebayang deh gimana naik Metro mini. Wajah-wajah muram mulai terlihat, ada yang tidur-tiduran, ada yang keluar beli minuman dingin, dan ada juga yang menghibur kami dengan berperan sebagai penjualan asongan. “Air.. air… yang haus… yang haus.. tisu.. tisu..” hahaha.. semua yang muram jadi ketawa, yang tidur jadi tersentak bangun. Siapa sih orangnya? itu tuh adik ikhwan dari SMAN 9 Tangsel. Mau tau gak siapa namanya? Hmm… kasih tau gak yah?

Alhamdulillah, setelah lebih dari dua jam berada di punggung jalan teras pasar Bintaro, akhirnya bisa melajukan kendaraan kami untuk melewati batang baja, dan tak jauh setelah itu kami masuk tol veteran-keluar tol, arah pondok gede – Bekasi.

SEMUANYA sudah pada senang dan gembira, ci huuy kompak deh. Karena sudah berhasil melewati halang-rintang kemacatan di ruas jalan Pondok Gede. Namun, dengan sekejap rasa senang itu pudar dan tak berbekas. Mau tau kenapa? Karena pas kita sampai di pintu masuk parkiran Asrama Haji, kata petugasnya disini gak ada acara anak sekolah. Mungkin di Asrama Haji yang di Bekasi Barat. Breek, langsung lemes saat dengernya. Ya ampun bukan disini toh!!
“Terus kalau dari sini ke arah mana, Pak?” tanya saya.
“Keluar belok kiri, terus nanti lurus aja, sampai ketemu pintu tol!!” tegasnya.
“Puter balik bang, kita kembali ke pintu tol keluar tadi.” Kata saya di luar pintu.
“Emang tempatnya dimana? coba telepon lagi temannya, dah jauh-jauh nih!” ucapnya kesal.
“Kata teman sih di Asrama Haji Pondok Gede, tapi kok bukan disini ya?”
“Kalau Bekasi Barat, kira-kira Abang tau jalannya?” tanya saya berkecamuk bingung.
“Gak tau!!!” sewot kernek dan sopirnya.
“Ya sudah, sambil jalan kita nanya-nanya.”

Dan yang perlu sobat ketahui, bahwa semua yang ada di metro mini tak seorangpun yang tau arah jalan menuju pintu masuk tol. Keluarnya tau, tapi pas menuju masuk tol lagi kami pada lupa jalannya. Aneh kan, yah begitulah. Jadi kita semua sambil telpon, SMS, dan naik-turun Metro mini nanya ke orang yang berada di pinggir jalan. Kurang lebih tiga jam kita ngubek-ngubek bekasi, malah macet, panas, saking lamanya di jalan terus. Adik-adik sampai bertanya, kapan sampainya, Kak? Emang acaranya sampai jam berapa, Kak? Sampai jam tiga, insya Allah masih keburu kok.” jawab saya menenangkan kegelisahan adik-adik semua.

Karena kondisinya sudah cape naik-turun nanya, akhirnya saya meminta tolong ke salah satu adik binaan dari SMAN 9 Tangsel. Sebut saja namanya Irfan, beliau semangat sekali dan bergegas turun dari metro mini.
“Mumpung sedang macet, ada ga yang mau turun nanya ke orang?” tawar saya ke adik-adik.
“Boleh, Kak!” sahutnya kilat. Irfan langsung turun, berbalik arah. Beliau bertanya kepada seorang penjual bensin. Dari balik kaca metro mini, saya melihat Irfan begitu sopan dan akrabnya bertanya, sepertinya beliau juga sambil basa-basi mengobrol.

Tak lama setelah itu. Tiba-tiba saja metro mininya berjalan. Sudah tidak macet lagi. Cukup kencang juga metronya melaju. Sedangkan Irfan belum ngeh bahwa metro mininya sudah jauh meninggalkannya, karena posisnya membelakangi metro mini.
“Faaaan..!! metronya jalaaann!!!” teriak Bayu di pintu belakang metro, awalnya beliau juga sempat mau turun mendampingi Irfan, tetapi pas mau turun metronya sudah jalan lagi. Kemudian Irfan berlari. Terus berlari. Dan berusaha untuk mendekat. Alhamdulillah, akhirnya terjebak macet lagi, sehingga metronya bisa berhenti. Irfan pun bersama kami lagi di dalam metro mini. “Irfan, maafin ya. Ya Allah tega banget saya, sampai beliau lari-lari di tepian jalan.”

Kata Irfan, ya ikutin jalan ini aja. Lurus terus. Nanti juga ketemu pintu tolnya. Setelah mendapat info segar dari Irfan tadi, akhirnya kita sepakat dan terus melanjutkan ke lokasi acara Munas Fornusa.
Tak sadar dan karena saking lelahnya. Ternyata posisi kami berada di jembatan dan di bawahnya itu adalah jalan tol. Tapi dimana pintu masuknya? Jadi kita muter-muter mencari pintu masuk tol, alhamdulillah akhirnya ketemu juga, jadi agak sedikit lebih tenang. Setelah masuk area ruas jalan yang menuju arah tol, ternyata sopir kami salah mengambil arah, yang seharusnya ngambil ke arah kanan, tetapi beliau mengambil yang arah lurus. Soalnya kata beliau dari kejauhan sudah terlihat seperti pintu tol, makanya yakin untuk mengambil yang arah lurus, sedangkan jalan yang sebelah kanan walaupun arah itu yang mungkin betul tetapi tidak terlihat ada tanda-tanda pintu tol disana. Ya akhirnya kami masuk tol arah Bintara – tol kalimalang. Wuuh tambah dahsyat kan nyasarnya, daripada semakin jauh dan tak jelas arah tujuan, jadi keluar dari tol. Pas keluar tol kami bertanya ke “Pak Ogah” yang berada di perempatan jalan. Dan posisi berhentinya metro mini tepat di tengah perempatan itu, akibatnya semua kendaraan melihat gelagat kami di tengah jalan, lumayan jadi bisa bikin macet. hehehehe.
Kata si Pak Ogah “Masuk tol ini lagi, nanti ikutin aja yang arah Cikampek, terus nanti juga ketemu petunjuk Bekasi Barat. Kami pun mengikuti petunjuknya, dan benar, kami menemukan tulisan itu, lalu kami keluar tol Bekasi Barat.

Setelah keluar tol, belok kiri, ada perempatan lampu merah pertama belok kanan, kemudian ada lampu merah ambil ke arah kiri – Asrama Haji Bekasi Barat- tepatnya di Jl. Veteran. Kebingungan kami muncul lagi, setelah ini belok kanan atau lurus? Kebetulan di pertigaan itu ada si Pak Ogah, jadi ada peluang untuk kami bertanya.
“Pak, Masjid Al Barjah dimana ya? Katanya dekat Asrama Haji.”
“Tuh, belok kiri!!” kata si Bapak tadi.
Kemudian kami turun. Dan terhadang oleh scurity disana.
“Mau kemana, Pak?” tanyanya mendekat kami.
“Mau ke Masjid Al Barkah, Pak.”
“Busnya parkir lewat sini, nanti ada scurity yang jaga di dalam. Jadi bilang aja ke mereka.”
Pas metro mini mau masuk kelahan parkiran. Ternyata pintu gerbangnya susah banget dibuka, dan keras sekali didorongnya, dengan inisiatifnya adik-adik yang ikhwan turun sebagian dan membantu dorong pintu gerbang, dan terbukalah.

Sesampai di Asrama Haji, kami sholat dzuhur dan istirahat sejenak. Setelah itu ketemulah dengan petugas parkir, sedangkan yang lainnya masih berada di teras masjid.
“Pak, tadi busnya masuknya lewat mana?
“Lewat sana, Pak!”
“Seharusnya lewat depan Pak, dan gak boleh lewat sana.”
Dalam hati saya “Pantesan dibukanya susah banget. Tapi kenapa tadi scurity nya nyuruh masuk lewat situ?
“Oh iya, Pak. Kalau masjid Al Barkah di sebelah mana?”
“Masjid Al Barkah mah bukan disini, tuh masjidnya disana. Dari pintu masuk tadi, lurus lagi.”
“Jadi bukan disini ya?”
“Iya bukan disini!”

Ya akhirnya saya datangin ke sopir metro, ngasih tau bahwa tempatnya bukan disini. Kata mereka, ya kalau begitu harga sewanya ditambahin dong, soalnya dari tadi masih muter-muter terus, habis di solar nih. Iya insya Allah nanti kita bicarain lagi untuk biaya tambahannya, sekarang mah ketemu dulu dah tempatnya. Setelah sepakat saling nerima, metro pun go dan saya pun memanggil adik-adik untuk kembali masuk ke metro mini.
“Kok, naik metro lagi, Kak?” celetuk diantara mereka
“Tempatnya bukan disini, tapi di masjid itu. Tuh menaranya kelihatan!” tunjuk saya meyakinkan teman-teman semua.

Alhamdulillah, pas kami sampai di Masjid Al Barkah, ustad Al Habsyh belum tiba. Jadi kami bersyukur sekali karena bisa mengikuti taujih beliau dari awal hingga akhirnya, dan meyaksikan penutupan serimoni munas fornusa (pembacaan hasil Munas Fornusa, pengenalan pengurus baru Fornusa Pusat, dan ditutup dengan pelepasan balon) tetapi sayang sekali, karena tulisannya terlalu panjang jadi balonnya itu tidak kuat mengangkat untuk terbang tinggi, jadi masih muter-muter di sekitar panggung acara, kayak metro mini aja, muter teruuuss!!!

DAN di acara Munas Fornusa tersebut, dihadiri oleh Rohis di seluruh Indonesia, dan mereka adalah para generasi pilihan, yang akan menempati ruang-ruang strategis di negri ini. Allahu Akbar!!

Setelah acara selesai, kami pun berangsur meninggalkan halaman Masjid Al Barkah.. Dan pulangnya pun kami tersasar, salah keluar tol lagi, seharusnya keluar tol Cikunir 2. ini mah malah lurus. Intinya jadi banyak pengalaman dan bahan cerita, pokoknya seru deh. Enjoy bin Joy. Karena di tengah keletihan kami di sepanjang perjalanan pulang, kami terhibur oleh stand up Comedy yang dipersembahkan oleh Adit dari SMA Prima Unggul dan Irfan dari SMAN 9 Tangsel.

Cerpen Karangan: Dahlan Rifalufi
Penulis, Fasilitator Sekolah alam Bintaro dan Aktivis sosial

Cerpen Enjoy Bin Joy Bersama Rohis Tangsel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Le-Bhay

Oleh:
Seorang guru menunjukkan selembar uang seratus ribu kepada murid-muridnya. “Anak-anak, ini uang seratus ribu. Siapa yang mau ini, silakan angkat tangan.” Semua langsung mengangkat tangannya. Kemudian guru itu meremas-remas

Ogah Masuk Surga Sendirian

Oleh:
Aku Nia, kuliah di jurusan keguruan mungkin salah satu kesalahanku kali ini. Lulus dari salah satu pesantren di daerah Pati membuatku bersemangat melanjutkan sekolah dan mengambil jurusan yang berbau

Kucarikan Surga Untukmu

Oleh:
Wanita itu menyeret langkah gontainya meninggalkan pria laknat yang terbungkus selimut tebal di atas ranjang. Ah, pria laknat? Itu artinya Ia juga wanita yang sama laknatnya dengan pria di

Kisah Cinta Pertamaku

Oleh:
Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi. Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *