Erogan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 15 July 2016

Hari itu masih sangat pagi dan mendung, tapi aku tak peduli. Aku terus berlari, berlari, tiada henti. Sesekali kakiku menyerah, tapi setelah itu kembali kupaksa berlari.
Entah apa yang merasukiku, ada satu tempat yang sangat ingin kukunjungi, sudah lama tak kupijakkan kakiku disana. Karena apa? Apa aku demikian angkuh dan enggan merawat kenangan? Atau justru karena ambisi mengejar masa depan yang sebenarnya sama sekali tak pasti.

Setelah satu jam lari dalam kekalutan, aku sampai di pemakaman umum kota. Tak ada yang berbeda dengan pemakaman ini sejak 16 tahun terakhir kali kuberkunjung. Tangisan yang sama, hawa yang sama, dan perasaan yang sama.
Saat masuk, aku disapa tukang gali kubur yang juga sama seperti dulu. “Kau..” ujarnya tersekat.
“Aku sangat yakin kau pasti akan berkunjung kembali, tapi tak kusangka selama ini.”
“Ya… aku mencari Allah.” Jawabku datar.
“kau pasti menemukannya.”
Ia lalu melanjutkan pekerjaannya, sedangkan aku sendiri terus berjalan melewati semak belukar menuju sebuah makam yang berdekatan dengan pohon cemara. Makam itu tak terawat, tanda sudah lama sekali tak dikunjungi. Aku duduk dan membaca fatihah–fatihah, surah Yasin serta doa ziarah.

Setelah selesai aku membersihkan makam ini sebisanya. Saat melihat nama yang tertulis di nisan itu, meski sudah pudar karena dimakan waktu, aku menangis. Memori di masa lalu menyergapku dari berbagai arah.

Lombok, 4 September 1992
Sore itu aku menanti kedatangan mobil kijang tua ke rumahku. Sesekali, sambil menahan nafas, aku mengecek jam di ruang tamu dengan harap-harap cemas. 5 menit, 10 menit, tapi yang dinanti tak kunjung tiba.
Selepas ba’da maghrib, suara mobil menderu dari kejauhan. Ayah segera membuka gerbang agar mobil itu masuk. Dan keluarlah orang yang dari tadi kunantikan, Paman Farid dan anaknya, Reyhan. Ayah segera menyambut mereka,
“Bang Farid, kenapa telat, ada masalah di jalan?”
“Ya, ada nyongkolan tadi” Jawab Paman singkat.
Nyongkolan adalah budaya pernikahan adat suku sasak di Lombok. Dan untuk merayakannya, banyak orang akan berkumpul di jalan diiringi lagu Sasak yang diputar dalam suara yang memekakkan telinga.
Masalahnya tentu tak berhenti disana. Dalam perayaannya, jamak ditemui para pemuda yang mabuk-mabukan, itu belum termasuk meninggalkan sholat fardhu asar karena prosesi acara yang masih berlangsung. Atas dasar adat, agama bisa bergeser tempat dengan mudahnya.

Sebagai khazanah budaya, tak ada yang tak beres dengan nyongkolan. Tapi ketika para pelakunya berkelakuan bej*t dan jauh dari ajaran Islam, nyongkolan tak lebih dari euforia sesaat yang tak ada bedanya dengan acara pesta khas orang barat.

“Reza, antar Reyhan ke kamarmu ya?” Ayah tiba-tiba memotong lamunanku.
“Siap Yah” Aku lalu memberikan kode khusus untuk Reyhan agar mengikutiku.
Reyhan Al-Hakim, itulah nama lengkapnya. Dia adalah satu-satunya sepupu laki-laki yang kumiliki dari keluarga Ayah. Kami dengan mudah akrab berkat hobi yang sama: membaca buku.
Ayahnya, seorang gila buku yang lebih terkenal dengan nama pena Farayaz sudah menerbitkan 3 novel yang seluruhnya laku keras di pasaran. Dari sanalah, ia tumbuh dijejali karya-karya William Shakespeare, Pramoedya Ananta Noer, hingga HAMKA.
Tapi Reyhan tidak berniat mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi penulis besar. Mimpinya adalah menjadi seorang ahli perbandingan agama. Tentu saja itu tak mudah, selain karena ia harus menguasai Islam dengan sempurna, pemahaman luas terhadap agama-agama lain juga menjadi kewajibannya. Kerja keras adalah kunci yang membuat progres yang ia tunjukkan hingga sekarang sangat istimewa, 10 juz Al-Qur’an, 2 jilid tebal Shahih Bukhari, dan Wedha yang merupakan kitab suci agama Budha sudah dihafalnya. Inspirasinya untuk terus maju adalah Prof. Dr. H.A. Mukti, Guru Besar pertama perbandingan agama di Indonesia, penulis banyak buku yang sering menyumbang pemikirannya dalam dunia perbandingan agama.
Dengan segala kehebatannya ia sangat jauh dari kata sombong. Bagai padi makin berisi makin merunduk, semakin tinggi ilmunya maka semakin rendah hati sifatnya.

“Jadi kan?” Tanyanya tiba-tiba.
“Eh.. apa..?” Aku tergagap.
“Katanya janji ngajak ke danau…”
“Oh… ya sekarang saja, malam seperti ini biar sekalian ekspedisi hantu” tukasku.
Jawaban telak itu sepertinya ditelannya dengan pahit. Dia jelas sudah menyesal untuk bertanya.

Kami sudah berangkat sejak jam 4 pagi ke danau entah-apa-namanya. Untuk sholat subuh, sebuah musholla mangkrak tak jauh dari sana rencananya akan kami hampiri. Saat perjalanan, penyakit Reyhan kambuh, apalagi jika bukan diskusi.
“Kamu sudah lihat berita kan, tentang perusakan pondok pesantern Syi’ah, menurut pendapatmu bagimana?”
“Ini kan hanya soal perspektif saja” Jawabku.
“Maksudmu?”
“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai. Kata hadis sih gitu.”
“Jadi pendapatku seperti ini, mereka yang melakukan hal itu, adalah orang yang terlalu bawa perasaan, mengambil keputusan karena tidak menggunakan otak dan ilmu dalam melihat pandangan berbeda orang lain.” Simpulku.
“Sepakat, sudah sangat wajar dalam kehidupan beragama ada perbedaan.” Ujarnya. Aku mengangguk setuju
Dia lalu mengutip pernyataan S.H. Nasr dalam bukunya yang terjemahan Indonesia berjudul Islam Dalam Cita & Fakta, bahwa sebenarnya golongan berbeda dalam agama sangat rasional. Di dalam Kristen tradisional dikenal gereja-gereja Katolik dan ortodoks, dengan tidak mengabaikan gereja-gereja kecil di daerah Timur seperti Koptik dan Maroni. Dan di luar tradisi Ibrahim terdapat Budhisme dengan dua aliran utama yaitu Mahayana dan Theravada ditambah lagi dengan aliran dari Tibet. Serupa dengan itu, Hinduisme, mengandung berbagai bentuk spiritual juga terbagi dalam liran Shiwa dan Wishnu dengan penafsirannya masing-masing untuk berbagai keadaan spiritual yang berbeda-beda.
Di dalam Islam, sebagai agama yang tersebar luas di dunia dan ditujukan bagi berbagai kelompok etnis dan rasial, juga terdapat kemungkinan bagi dua perspektif sejak mulanya. Sunnah dan Syi’ah adalah penafsiran ortodoks atas Islam yang terkandung di dalam Islam sejak awal untuk menyatukan orang-orang yang memiliki keadaan psikologis yang berbeda-beda.
“Yang mengherankan, umat muslim yang paling sering terlihat saling mencaci, melukai bahkan saling membunuh hanya karena perbedaan mazhab. Hadis “72 golongan umat” sering disalah artikan untuk menyerang mazhab orang lain dan membenarkan mazhab sendiri.” Jelasnya berapi-berapi.
“Analisamu mengagumkan, ngomong-ngomong kita sudah sampai,” aku lalu menghirup udara pagi yang masih segar dengan semangat.
“Hahh! sudah sampai.” Dia masih saja heran.
Jadilah kami mulai memancing, sembari makan kripik yang dibawa olehnya, diskusi berlanjut dan merembet ke berbagai hal, dari filsafat, sepakbola, ekonomi, dan apapun yang terlintas di pikiran kami saat itu. Dan keberuntungan juga menyelimuti kami di pagi yang dingin ini, Aku dan Reyhan masing-masing berhasil menangkap seekor ikan mujair dengan ukuran yang cukup besar.

Setelah menunaikan sholat Subuh, kami membakar ikan hasil tangkapan ditemani lalapan dan nasi yang sudah Aku bawa sebelumnya. Suasana mendadak menjadi hangat, Aku dan Reyhan juga memberikan ikan yang kami santap kepada kelinci-kelinci lucu yang mungkin keluar setelah mencium bau lezat dari ikan bakar.
“Rez, kamu tahu tidak?” Aku heran melihat wajahnya murung ketika menanyakan hal itu, tapi aku memilih tak ambil pusing.
“Kalau 2 x 2 sama dengan 4 kan?” jawabku sekenanya.
“Bukan itu maksudku. Begini, pernahkah kamu berpikir kalau sebenarnya banyak manusia yang mengaku muslim lebih dulu mati tanpa memilki pembuktian sahih atas keberadaan Allah”
Aku heran dengan pertanyaan ambigu yang dia lontarkan, tapi rasa terantang membuatku menjawabnya, “semesta, Al-Qur’an, termasuk makhluk hidup.”
“Pendapatmu kurang tepat, buktinya komunisme masih merajalela, umat muslim yang mempercayai pendapatmu juga sekarang lebih banyak bermaksiat daripada berbuat kebajikan.”
Aku coba mencerna apa yang ia katakan, mungkin tidak salah juga. “Lalu, apa solusimu,” tanyaku dengan penasaran.
“Sederhana, aku menyebutnya segitiga keyakinan Islam”
Dia terdiam sebentar sebelum menjelaskan teorinya, “Cara mencapai kepercayaan hakiki dalam Islam menurutku ada tiga, yang pertama adalah kedekatan dengan Allah yang membuatmu diberikan karamah, sebuah amalan yang diwariskan seorang guru, dan terakhir, yang akan dirasakan semua manusia adalah kematian.” Tutupnya.
“Kalau merujuk perkataanmu hanya cara pertama dan kedua saja yang bisa dialami di dunia.” Aku mencoba memahami perkataannya.
“Ya, kamu tepat sekali. Banyak orang yang seharusnya bisa menyelesaikan cara pertama atau kedua tapi lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa, dan lebih banyak lagi yang mati tanpa menyelesaikan satu di antara keduanya meski berumur panjang.” Dia lalu menatap langit, kegusaran terlihat jelas dari matanya.

Tak ada lagi yang istimewa setelah Reyhan pulang lebih cepat. Paman Farid mendadak diminta datang untuk bertemu oleh editor bukunya. Kesimpulannya aku bosan dan kembali menjalani kehidupan monoton sebagaimana seharusnya.
Saat aku hampir tertidur setelah membaca puisi-puisi Chairil Anwar mendadak teriakan keras terdengar dari ruang tamu.
“KECELAKAAN!”
Aku yang terkejut segera kesana dengan perasaan panik, Ayah terlihat menangis sambil memegang gagang telepon, “ada apa Yah.” Hal yang buruk jelas-jelas terjadi, aku hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati.
“mobil yang dikendarai Paman Farid dan Reyhan terlibat kecelakaan beruntun, mereka berdua meninggal dunia di tempat.” Jawab Ayah nanar.
Aku sangat terpukul mendengar kabar ini. Padahal baru beberapa hari yang lalu kami memancing bersama dan berdiskusi banyak hal. Dan disinilah Allah menunjukkan kuasanya, yang tua belum tentu mati duluan, dan yang muda tak selamanya mati belakangan.

Cerpen Karangan: Sayyid M. H. Nezara Lily Al-Kaff
Facebook: Sayyid [sayyidh321[-at-]gmail.com]
Sayyid M. H. Nezara Lily Al-Kaff adalah nama pena dari Sayyid Muhammad Haedar Al-Kaff. Pelajar eksentrik yang gemar berkonflik dengan guru. Freelance writer yang karyannya terkadang muncul di website sepakbola fandom.id. Beredar di dunia maya dengan akun @haedaralkaff

Cerpen Erogan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ma, Ini Surat Cintaku

Oleh:
Aisyah serius sekali menulis sesuatu siang ini. Tangannya meliuk-liuk lincah di atas selembar kertas merah jambu, mulut mungilnya bergerak-gerak lambat tanpa suara seperti merapalkan sesuatu. Sesekali kepalanya mendongak ke

Uzlah Adalah Solusi

Oleh:
Di petilasan hanya ada cakil dan abi. Mereka berdua lagi asyik membaca buku-buku yang ada di petilasan. Di petilasan itu banyak sekali buku khazanah islam dan buku novel filsafat

Kita Perlu Bersabar

Oleh:
“Ada satu hal yang terlihat kecil namun ia seperti suatu bilangan Besar dalam Metode BIG-M Pemrograman Linier. Satu hal itu tertanam dalam hati. Dan ia kau kenal dengan H.A.R.A.P.A.N”

Mengeluh Yuk…

Oleh:
Sinar sang surya terhalang kabut. Gerakannya terus mendekati ufuk barat bagaikan anak dara yang berjalan tertatih-tatih karena disampingnya ada sang pujaan hati. Sore mewujudkan diri. Riak air Danau Kembar

Perjalanan Seorang Santri

Oleh:
Gue gak pernah kefikiran untuk tinggal yang namanya di pesantren. Dan menjadi seorang santri (ngapain juga tinggal di pesantren, mana enak disuruh ngaji terus). Waktu itu adik gue baru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *