Fi Sabilillah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 March 2017

Malam yang sunyi bersama angin yang menari-nari memeluk diriku. Sentuhan angin yang kian menembus kulitku sampai tulang belulangku.
Aku termangu menatap lurus, diam membisu tanpa suara, aku tak tau apa yang sedang kurasakan, serasa hati gelisah tapi aku tak tau mengapa. “aku pusing sekali. Terkadang pernafasanku tidak stabil ini.” Gumamku dalam hati. Sambil mengingat-inggat dawuh Abah Rozaq “sesungguhnya jika ada kaum muslim yang sedang berperang di jalan Allah maka meninggalnya adalah mati syahid”. kalimat itu selalu kuingat. Terkadang aku bertanya-tanya sendiri pada diriku, apakah aku juga termasuk fi sabilillah?.

“woii!!!” Suara Salsa mengagetkan lamunanku. Aku terkaget histeris serasa ingin marah namun tak mampu.
“Astagfirullah!! Kamu ngagetin aja. Apa sih?” Responku.
“ckckckck.. ya maaf. mikirin siapa sih? Hm.. si dia? Udah malam kalee besok sekolah.” godanya sambil senyam senyum. Tanpa basa-basi aku langsung meninggalkannya. Dia teman sekelasku sekaligus teman pondokku. PPP. Al-Muhajirin 1. Namaku Nur. kami sekolah di MAN TAMBAKBERAS jombang. Tak terasa aku sudah 5 tahun nyantri di sini. karena aku sebelumnya sekolah di MTsN TAMBAKBERAS, beda dengan salsa yang baru 2 tahun.

Pagi ini udara sangat segar, setelah kegiatan pengajian pondok aku langsung bergegas bersiap-siap untuk pergi sekolah menerima ilmu yang InsyaAllah manfa’at dan Barokah. Di rumah aku selalu dikatakan anak manja, karena aku anak ke tiga dari tiga bersaudara. dan apa yang aku mau selalu ada. Maka dari itu aku bertekat kuat untuk memiliki prinsip sendiri yaitu: Berusaha, Sabar, Ikhlas, Syukur dan Istiqomah. Mungkin terlihat sok-sokan, tapi aku tidak ingin menghiraukan clotehan orang-orang yang di sekitarku. Aku tidak ingin apa yang orang lain lihat dari sosok anak terakhir itu ada padaku. Dan aku akan membuktikannya. Aku tidak ingin disamakan. Maka dari itu “Dewasa Sebelum Waktunya”. tidak masalah jika itu dalam hal positif.

Sepanjang perjalanan aku hanya berdiam diri menatap lurus pada jalan-jalan yang kulewati. Akhir-akhir ini aku merasakan keanehan pada diriku sendiri. “Tumben diem… biasanya minta mampir ke warung dulu?” Kata salsa. Sambil memegang pundakku. “eh! Iya… belum beli minum.. hehehe.. lupa.” responku sambil senyam senyum. Jujur kali ini aku kaget lagi. Jantungku berdetak dengan cepat. Dia tidak membalas omonganku. hanya melirikku saja. Seiring berjalannya waktu aku terus berusaha menjadi sosok yang terbaik. Tapi itu sulit di sisi lain aku yakin aku bisa menjalani perjalananku yang berliku-liku. Aku tidak boleh mundur meskipun hanya satu langkah. Aku adalah SANTRI. Ketika sepulang sekolah yang disinari mentari tubuhku sangat lemas, pusing sekali, mengapa terasa aneh begini. Tanganku juga lembab. Gumamku dalam hati.

Sesampainya di pondok aku dan salasa melepas sepatu dan langsung menaruhnya di rak sepatu. “sal aku duluan ke atas ya..” teriakku pada salsa sambil menaiki undak-undakan tangga. “yooiii..” jawabnya. Kepala ini semakin berat. kurasakan sakit sekali. Aku menangis kesakitan serasa isi kepalaku seakan-akan mau meledak. Aku bergegas melihat kalender dan menunjuk angka 8. bulan Agustus 2016. “ha! Ini kan tanggal 14! pusingku sudah satu minggu yang lalu tapi mengapa tidak sembuh-sembuh juga.” Gumamku. Tiba-tiba wajahku memucat. Aku langsung menghubungi kakakku. Aku menceritakan prsoalan yang kualami padanya. “Halo Assalamu’alaikum…kak” aku langsung mengatakan kondisiku padanya tanpa basa-basi. Ia menyuruhku untuk segera periksa ke dokter secepatnya. Setelah aku puas berbincang-bincang dengan kakak, aku bergegas menutup telepon dan memanggil temanku. Namanya mita ia dulu sekelas bersamaku Di MTsN, sekarang statusnya menjadi pengurus pondok dan santri. jadi tidak ada salahnya jika aku meminta bantuannya.

“mita, aku mau priksa. Boleh minta anter” pintaku padanya. “ha!! periksa? sakit apa?.” Sambil menoleh ke arahku. “gak tau.. ayoo!” pintaku lagi. “oke-oke tunggu…” katanya sambil mengambil jas dan almamater pondok berwarna hijau muda itu.

Dalam perjalanan aku hanya diam tanpa berkata apa-apa. Sesampai di rumah sakit aku bergegas berbincang-bincang bersama dokter. setelah diperiksa ternyata aku mengidap beberapa penyakit yaitu jantung lemah, tifus, anemia, insomnia dan leukimia yang tak kuduga sebelumnya. Aku membisu seketika hatiku sangat tersentak mendengar kalimat itu. ketika dokter menjelaskan beberapa panyakitku yang dikhawatirkan terjadi komplikasi. karena penyakitku selalu kambuh dalam waktu yang bersamaan sehingga dokter juga bingung bagaimana memberikan obat untukku.

1 September 2016. (06.30).
Keesokan harinya dalam pembaringanku di kamar, perutku terasa mual, kepalaku pusing sekali, wajahku memucat dan nafasku tidak stabil lagi. Sesak sekali. Detak jantungku begitu kencang. Aku hanya dapat meneteskan air mata. Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Sulit sekali untuk mengucapkan kalimat. Kini aku hanya dapat meminta pertolongan pada Allah, tiba-tiba pandanganku mulai memudar. sampai akhirnya terasa gelap sekali. Sedangkan teman-temanku masih sibuk dengan dirinya sendiri. Ketika itu beberapa temanku mencoba membagunkanku, namun aku tak sadar-sadar juga. Akhirnya mereka bergegas membawaku ke rumah sakit. ditemani oleh beberapa temanku dan pengurus pesantren yang diutus oleh bu nyai dan kyaiku. mereka ikut panik dengan keadaanku.

Seiring berjalannya waktu yang berlalu. Kini tak terasa sudah 3 miggu aku berbaring tanpa daya di RSUD tak sadarkan diri. Dengan Kondisiku yang kritis. aku ditemani oleh kakakku dan kedua orangtuaku yang sempat kaget mendengar kondisiku saat ini. beberapa temanku juga ikut menjengukku. Terkadang aku sendiri karena tak mungkin mereka menemaniku selama 24 jam. Kini Detak jantungku semangkin lama semangkin turun. dokter yang ingin mengoperasiku tidak mendapat persetujuan dari pihak keluarga dan kedua orangtuaku karena kondisiku yang belum stabil dan tak sadarkan diri. Dokter mulai panik karena kini detak jantungku turun menjadi 18 %. Namun mau tidak mau dokter harus mengoprasiku. Kini Dari pihak keluarga hanya dapat menunggu di ruang tunggu menangis, berdo’a kepada Allah juga teman-temanku yang menginginkan kehadiranku kembali di pesantren.

Di sisi lain tanpa seorang yang tau Aku hanya dapat membisu, diam, tanpa daya dalam pembaringan. Berada dalam kegelapan. sendiri sunyi tiada yang menemani. Seketika ada sebuah cahaya yang sangat terang melambaikan tangannya dan menggandengku. Aku tak tau apa maksudnya, namun hatiku merasa senang sekali. “ini sudah waktunya kembali untukmu” katanya sambil menggandeng tanganku. Aku hanya diam bersama hatiku yang sedang merasakan kegembiraan. Seakan-akan aku juga tak mengingat siapa pun. Dan dimana pun aku berada. Akhirnya aku pun ikut bersamanya dengan senang hati. Aku terus berjalan lurus bersamanya jauh-jauh dan semakin jauh lalu hilang seketika menjadi gelap kembali. Ini seperti mimpi namun di sisi lain ini terasa seperti nyata.

“tttiitt… tttiiiittt…” jantungku kini turun menjadi 3 % “suster ambilkan alat bantu!!” dokter dan suster kini sangat panik. Keadaanku semangkin darurat. Orangtuaku hanya dapat memohon pertolongan pada sang pencipta. Semua sanak keluargaku, kerabat karibku, teman-temanku. Masih menunggu di ruang tunggu. Beberapa menit kemudian. “ttttiiiiiiiiiittt!!!” kini detak jantng ku sudah tidak berliku-liku melainkan lurus. Menjadi 0 %. Suara tangisan yang histeris kini menjadi-jadi. Air mata berkecucuran. Suara rintihan sangat keras terdengar. Ketika dokter keluar dari ruangan dan menjelaskan hasil oprasi.
“Innalillahi Wainnalillahi Roji’un” hanya kalimat itu yang dapat dokter ucapkan. Sambil menundukan kepalanya.

Kini usai sudah kehidupanku. Habis sudah nafasku, berhenti sudah detak jantungku. Allah maha kuasa. Allah mengetahui mana yang terbaik untukku. Tersenyumlah, tertawalah, bahagialah, atas syukur, ikhlaslah dan sabarlah dengan apa yang Allah berikan. Lewati semua rintangan dengan senang hati. Itu pertanda Allah masih menyayangimu. karena disitulah Allah mengangkat derajatmu melalui cobaan yang Allah berikan.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Nur Hasanah
Facebook: Hubban Fi Jannah
Nama: Nur Hasanah
umur: 16 thn
Ttl: 01 September 2000
Alamat: jombang, (kedungrejo-megaloh).
Agama: Islam

Cerpen Fi Sabilillah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sama

Oleh:
Senja di pelupuk matanya mengantarkan warna kelabu dalam sanubariku. Aku sangat mengenalnya, tapi kali ini aku masih saja menikmati ketidaktahuanku tentang apa yang seharusnya aku tahu darinya. Aku bahkan

Antara Cinta dan Sahabat adalah Kematian

Oleh:
Pagi yang cerah disaat matahari terbit ribuan burung yang berkicau merdu dedaunan yang berterbangan menemani pagiku disekolah. kutermenung seorang diri diruangan yang kosong,tiba tiba terdengar suara seseorang dari arah

Bias Cahaia

Oleh:
Kawan, jika kau berkunjung ke pulau Madura, maka singgahlah barangkali sebentar ke kampungku, Pasongsongan namanya. Sebuah kampung yang dulunya indah dan dikenal dengan kampung nelayannya. Disini, kau akan disuguhi

Reuni

Oleh:
“Juno, kamu dapat undangan IKAPMI enggak?” tanya Ahz. “Reuni IKAPMI, iya aku juga dapat, emang kamu enggak dapat?” “Dapat, pengen memastikan aja kalau kamu kebagian” Natsu keluar dari kamar

Pelangi, Beri Aku Warna

Oleh:
Tak selamanya benang itu selalu rapi, seringkali pintalan benang itu kusut, sulit diterjemahkan hingga berakhir kejenuhan. Begitulah keadaanku sekarang, berada di tengah tikungan tajam persahabatan yang memaksa aku memilih,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Fi Sabilillah”

  1. Sunaika says:

    Bagus banget ceritanya, dan juga penuh dengan inspirasi.Terima kasih sudah mengingatkan aku!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *