Firasat Buruk di Hari Ulang Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 4 June 2013

Tanggal 20 maret yang lalu aku menikah dengan orang yang tidak kukenal. aku duduk bersanding di pelaminan bagai sepasang merpati yang sedang terbang. ribuan mata dan sorotan lampu kamera yang menyaksikan moment indahku. Rencana aku dan suamiku hendak berbulan madu di CAPE TOWN (afrika) tepatnya di hotel berbintang. beberapa hari setelah pernikahan, kami berdua menuju ke sana. Singkat cerita. sesampainya di sana, suamiku pun mengajakku untuk dinner (makan malam). sesampai di cafe, ia pun mengajakku untuk makan.

“Sayang, mau makan apa?”

“Makan apa aja boleh”. jawabku dengan keras.

“Cepat dong sayang, makan apa?”

“Cupcake saja lah. gak usah banyak basa-basi, dasar suami kepo!”

Suamiku pun tertunduk akibat bentakan suaraku yang dahsyat.

Beberapa jam setelah dinner, saatnya ke hotel. sesampai di hotel, suamiku pun memanggilku. rasanya ada seorang artis yang memanggil suara SUUULEEE. tapi suamiku memanggil nama kecilku.

“taaannntriii, sini sayang..”

“ah, ciaka’ (saya tidak mau)”

“maga memengngi mucia (kenapa kamu tidak mau)?”

“ah, pajaini maraja kutana (tidak usah banyak tanya)!”

Betul-betul suami kepo. ini semua gara-gara orang tuaku yang bejat untuk menikahkanku dengan orang tua itu. coba bayangkan, umurku masih dua puluh tahun dan umurnya menjelang tiga puluh dua tahun. tentu saja jauh berbeda. Jauh-jauhnya aku menuntut ilmu tapi malah di paksa pulang kampung untuk menikah. sungguh malang nasib diriku. di tambah lagi dengan problema keluargaku. rasanya diriku ingin mati muda.

Sejenak ku merenungi nasibku dan tiba-tiba aku menangis histeris. ku sengaja histeris agar suamiku tidak mendekatiku. Ternyata, dia mendekatiku untuk menenangkan pikiranku.

“Ada apa denganmu sayang?”

“Ah, gak usah banyak bacot. Aku minta CERAI!” jawabku sambil meludah di depan suamiku.

“Jangan sayang, aku sayang kamu.”

aku tetap selalu berusaha agar aku tidak bertahan dengannya. Aku masih tetap komunikasi dengan pacarku yang berinsial “L”. Beberapa jam kemudian, ibuku menelponku.

“Baik-baik jeki’ nak (apakah kau baik-baik nak)?”

“Ah, gak usah banyak nanya deh bu, sekarang saya sudah terpuruk dan tersiksa dengan lelaki tua ini. to the point, aku mau cerai dan menikah dengan pacarku!”

“Tantri, yang namanya perceraian itu sangatlah sulit. Apakah kamu tidak malu kalau kamu menyandang status JANDA?”

Aku pun muak dengan kata-kata ibuku dan akhirnya telepon dihentikan. setelah itu, akupun menuju ke toilet untuk menangis sampai puas. disitulah aku betul-betul menangis dan akhirnya, suamiku pun mengetuk pintu agar ku keluar. aku menghapus air mataku agar dia tidak tahu bahwa saya ini di siksa olehnya.

Setelah ku keluar, dia pun memegang tanganku. aku mengambil gunting dan aku pun menusuk perutnya. Yaa Allaah, ada apa dengan hambamu ini? Diriku bukan lagi perhiasan dunia. Akan tetapi diriku sudah menjadi sampah dunia. Setelah ku tusuk perut suamiku, aku pun kabur dan menuju ke jembatan. sesampai di jembatan, aku menyesali perbuatanku dan aku ingin bunuh diri.

Aku hendak melompat. hhh, rasanya diriku takut.

Beberapa jam kemudian, alarm pun berbunyi pertanda bahwa sudah memasuki tanggal 20 maret dan ternyata ini hanya MIMPI BELAKA. Ku terbangun menunaikan shalat tahajud dan shalat subuh. Setelah itu aku berdoa agar tidak terjadi hal ini lagi 🙂

Cerpen Karangan: Waode Utari Tantri Rahmani
Facebook: Waode Utari Tantri Rahmani
Waode Utari Tantri Rahmani atau biasa disapa Uut, lahir di Kaluku, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan tanggal 20 Maret 1997. menyelesaikan studynya di SDN 187 LAUWA tahun 2003-2009 , lanjut di MTsN PITUMPANUA tahun 2009-2012 dan sekarang mondok di PESANTREN ALMUBARAK DDI TOBARAKKA.
Jika kalian ingin kenal saya lebih lanjut, hubungi 085342005478.

Cerpen Firasat Buruk di Hari Ulang Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Elegi Embun Pagi

Oleh:
Di dalam kelas yang sepi. “Yeta, dicoba aja dulu! Masa sih udah tujuh belas tahun belum punya pacar juga, malu tuh sama wajah cantik kamu! Hahaha…,” kata Mentari membujukku

Bias Cahaia

Oleh:
Kawan, jika kau berkunjung ke pulau Madura, maka singgahlah barangkali sebentar ke kampungku, Pasongsongan namanya. Sebuah kampung yang dulunya indah dan dikenal dengan kampung nelayannya. Disini, kau akan disuguhi

Bungkam

Oleh:
Bogor tidak berubah hari ini. Sejuk di pagi hari, siangnya orang-orang akan mengumpat karena terik membakar, namun sorenya hati akan lega karena hujan yang jatuh dari langit. Tidak ada

Maafkan Keegoisanku

Oleh:
Aku merasakan tubuhku tidak seimbang, pandanganku seakan mulai gelap, tubuhku limbung dan entahlah. Entah apa yang terjadi setelah itu. Aku terbangun dari mimpiku entah apa yang terjadi aku juga

Paket Ujian

Oleh:
“Kita udahan ya?” kata Joni mendadak lewat telepon. Mendengar ucapan Joni langit serasa runtuh menimpa tubuh mungilku ini. Angin mendekap merasuki tulang-tulang, menghentikan peredaran darah dan degup jantungku. Hatiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *