Hello Cordoba (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 January 2018

Saat ini, kembali angin sendu malam yang berhembus kencang dari fentilasi kamar, menyapa ramah diriku yang terduduk diam di atas ranjang tempat tidurku, seraya menghadap ke arah langit yang tampak terang dengan indahnya sinar rembulan bersama cahaya bintang yang bersanding dengannya.

Duduk diam, dengan masih mengenakan mukena putih panjang yang membalut diriku dengan rapi, mengulas senyum tipis, seraya kembali mengingat masa indah di malam minggu satu tahun yang lalu. Dengan dirinya, mantan kekasihku yang bernama Nizar, aku masih mengingatnya, tiada hari kuhabiskan hanya bersamanya. Senantiasa melepas tawa, dan berbagi keceriaan, hanya berdua dengannya. Hingga ketika itu, aku Melupakan waktu dan hariku, bahwa sekiranya aku telah melakukan dosa yang amat besar.

Namun, sekarang ini, aku harus mengucapkan rasa syukurkku. Karena Allah telah menuntunku dan membawa diriku, untuk pergi dari kesalahan cinta yang telah kulakukan saat itu.

Perlahan-lahan, Aku kemudian mundur, dan mengakhiri semunya dengan rasa paksa. Walaupun aku mengerti, bisa dikatakan baginya, ini adalah salah satu bentuk pengkhianatan besar. Tetapi tidak, ini adalah jalanku, jalan dimana yang akan mulai kutempuh, menjadi Annisa yang baru dan lebih baik lagi. Sesungguhnya, aku hanya ingin membawa kisah hidupku melalui hijrah yang Allah titipkan kepadaku.

“Annisa, kamu tidak ingin ikut dinner bareng mama dan papa di luar?”
“Mama?”, aku melihat mama dengan tatapan manja.
“Ayo sayang, papa dan Najwa telah menunggu di luar sejak tadi. Malam ini, kita akan dinner di restoran jawa, yang baru buka di Pekanbaru. Gak jauh kok dari komplek rumah kita”.
“Baiklah mama, Annisa sudah selesai kok berdandannya. Yuk, kita pergi!”, ajakku kepada mama, seraya menggandeng tangan kanan mamaku.

SESAMPAINYA DI JAWA RESTO…
Tidak menunggu waktu hampir dua jam, aku bersama keluarga kecilku, sampailah sudah di Jawa Resto, salah satu restoran makanan khas jawa milik rekan bisnis papa, yang merupakan cabang dari Surakarta. Kata papa, pemiliknya ini adalah sahabat kecil papa sewaktu sekolah dasar dulu. Beliau bernama pak Andi, yang merupakan sahabat kecil papa, yang juga sangat menyayangiku dan juga Najwa selayaknya putrinya. Hal ini dikarenakan, sudah 8 tahun menjalani pernikahan, pak Andi beserta istirinya belum juga dikarunia anak. Tetapi, aku beserta keluargaku sangat terkesima dengan pak Andi dan istrinya.

Dikarenakan, mereka adalah seseorang yang begitu dermawan dan memiliki puluhan anak asuh yang senantiasa dijaga oleh mereka dengan penuh kasih sayang.

“Annisa, kamu makin cantik!”. Kata ibu Sumitra, istri pak Andi yang dengan senyum terbuka memelukku seraya memuji penampilanku yang anggun.
“Terimakasih bu”, jawabku sembari membalas senyumnya.

Kemudian, langsung saja aku bersama keluargaku, mengambil tempat duduk yang telah disiapkan khusus oleh pak Andi dan juga istrinya. Aku dan adikku memilih duduk di dekat tepi jendela mengarah kekolam taman belakang restoran. Sangat indah, terlihat remang-remang cahaya warna-warni menghiasi kolam taman, bak indanya gemerlapan warna pelangi yang akan terlihat diseketika hujan reda. Tidak hanya itu, beberapa furniture khas jawa, juga didesain sangat begitu klasik menghiasi dinding-dinding restoran. Disertai alunan musik keroncong nan syahdu, terlihat beberapa pengunjung begitu sangat menikmati kelezatan makanan jawa yang disajikan dengan sangat tradisional di atas meja makan.

“Annisa, apakah kamu jadi melanjutkan sekolah magister kamu di Cordoba?”. Tanya pak Andi kepadaku.
“Insyaallah jadi om, mohon doanya saja yang terbaik untuk Annisa”.
“Wah, itu bagus sekali Annisa. Iya, om dan tante akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Annisa. Pesan om dan tante sih, kamu di sana jaga diri baik-baik ya. Ingat pesan mama dan papa kamu, jika di sana, tugas kamu adalah sekolah dan untuk mengenyam pendidikan. Oh iya, Cordoba adalah salah satu kota di Turki yang sangat besar. Kota yang memiliki peradaban yang sangat tinggi, terutama dalam peradaban islamnya. Ada banyak sejarah islam yang sangat unik dan klasikal yang tersimpan di Cordoba. Annisa, jika kamu berhasil melanjutkan magister kamu di sana, kamu harus mengeksplorasikan diri kamu untuk menggali semua sejarah yang ada di Cordoba, terutama sejarah islam dan budaya islam yang tersimpan didalamnya. Om yakin, jika kamu sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjadi penulis sejarah serta filusuf islam yang sangat hebat”.
“Aminnnnnn, semoga saja Annisa bisa mengejarnya om. Dan tentunya, semoga Annisa bisa selalu menjaga amanah dari mama, papa, om, dan juga tante”.

Malam itu, dimeja makan nomor 23, aku bersama keluarga kecilku, dan juga om Andi, serta tante Sumitra, menghabiskan dinner bersama dengan tawa bahagia.
Namun, apa dayaku. Di malam minggu ini, aku harus mengakuinya, bahwa akan ada bait tangis yang mulai pecah membentur lubuk hatiku. Berawal ketika aku hendak mengajak adik bungsuku Najwa, menuju ke wastafel untuk mencuci tangan. Dari sudut dekat jendela restoran, di meja lesehan bernomor dua puluh, aku melihatnya, Nizar, bersama kekasihnya, Rainita, sedang asyiknya makan malam bersama. Kucoba memejamkan mataku, agar tidak terus-terusan memandangnya, kubuang semua rasa luka dan amarah cemburu yang tiba-tiba muncul di hatiku, terhadap Nizar dan kekasihnya tersebut.

“Hei kak Annisa di sini juga?”. Sangat manis, kekasihnya, Rainita, tiba-tiba menyapaku yang berniat pergi begitu saja meninggalkan mereka dengan diam-diam.
“Kakak, di sini dengan siapa?”. Dia bertanya kembali kepadaku. Aku menghela nafas, dan mencoba menjawab pertanyaannya dengan senyum lepas, tanpa kubiarkan rasa cemburu ini semakin menggerogoti.
“Dengan keluarga. Oh ya Rainita, Nizar, saya pergi dulu ya, karena ini juga mau pulang. Selamat menikmati dinnernya ya. Assalamualaikum”. Aku kemudian pergi meninggalkan Nizar dan juga Rainita begitu saja, selepas mengucapkan salam.

Sampai di meja, entah mengapa setelah melihat Nizar bersama Rainita, aku begitu tidak mood untuk kembali menyantap ice krim jagung yang sengaja dibuat khusus oleh tante Sumitra untukku dan Najwa. Rasanya, di malam minggu ini seleraku yang tadi menggebu-gebu, begitu saja hilang. Dari sebelah kanan papa, aku merasakan, jika mama sepertinya sangat peka terhadap perubahan wajahku, dan kemudian mengajak papa untuk pulang.

1 JAM KEMUDIAN…
KETIKA DI KAMAR TIDURKU…
Di atas ranjang tempat tidurku, selepas menunaikan sholat isya, seperti biasa aku kembali membuka laptopku, dan selanjutnya menuliskan kata-kata cinta, yang kerap kali aku ungkapkan dalam bentuk untaian kalimat puisi. Aku tidak bisa membohongi diriku, jika sampai detik ini pula, tetaplah bagiku, Nizar, adalah pria yang masih tersimpan di hatiku. Dan aku masih sangat mencintai dirinya.

05 April 2017

Serasa bahwa cinta ini
adalah begitu rumit
aku merasakannya, jika ini
adalah cinta yang ambigu di dalam hidupku

tetapi, ini adalah takdir pilihan
yang telah kutetapkan kepada pernyataan janjiku
aku pergi, dan berlari
meninggalkannya,

namun…

Sedang asyiknya aku mengetik setiap bait demi bait kalimat puisi, tiba-tiba, kedua mataku tertuju leluasa kepada sebuah album foto bersampul kulit biru tosca dengan cover cantik bergambarkan kota Cordoba. Aku memberhentikan kesepuluh jariku, dan meraih album tersebut.

Dengan perlahan, kubuka beberapa lembar foto di album tersebut, dan jelas terbaca olehku, beberapa note kecil yang kusisipkan di setiap gambar tersebut, menuliskan tentang pengharapanku yang sejak kecil, sangat ingin mengenyam pendidikan di Kota Cordoba.

Kecintaanku terhadap kota Cordoba memang sudah sangat lama kumiliki sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya saat aku di kelas empat. Semua ini, bermula dari cerita papa yang kerap kali kudengarkan, ketika aku dan papa sedang asyiknya bersama-sama membaca buku, di Perpustakaan rumahku.

Papa selalu bercerita kepadaku tentang keindahan kota Cordoba yang sangat terkenal akan peradaban islamnya yang sangat luar biasa dan begitu termansyur di seluruh dunia. Bukan hanya itu, papa juga selalu mengatakan, jika kota Cordoba adalah salah satu kota yang paling indah di dunia, yang menyimpan banyak cerita sejarah-sejarah, dan sekaligus telah berhasil menghasilkan beberapa tokoh filusuf islam, filusuf pendidikan, dan juga beberapa cendikiawan sastra dan sejarawan islam yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah tokoh yang sangat aku kagumi, yaitu Al-Khindi. Namun sayangnya, disaat aku telah menamatkan jenjang SMA ku, papa tidak mengizinkanku untuk melanjutkan studi sarjanaku di sana. Dikarenakan usiaku yang masih sangat belia, yakni 17 tahun.
Tetapi, papa telah berjanji kepadaku, jika untuk melanjutkan magisterku, papa akan mengizinkanku untuk melanjutkannya keluar negeri, di kampus yang aku inginkan. Dan tepatlah di pilihanku selama ini, yakni di kota Cordoba.

(“Sepertinya, sudah menjadi keputusanku. jika saat ini juga, aku harus bisa melupakan Nizar didalam hidupku selamanya. Selamat tinggal Nizar, setelah aku berhasil meluluskan program sarjanaku, aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh untuk melanjutkan magisterku. Aku akan pergi ke sebuah kota yang selama ini selalu aku impikan. Yakni, kota Cordoba. Aku berdoa kepada Allah, bahwa jika nanti kita berpisah, semoga kamu sukses dengan karir yang akan kamu jalani nantinya. Dan yang terutama adalah, semoga cinta kamu bersama Rainita, akan tetap bersama. Semoga Allah selalu menjaga kamu, dan merestui langkah kamu. Begitu pula denganku, suatu hari, semoga allah akan mempertemukanku, kepada seseorang yang bisa membawaku, untuk move on dari kamu” ) .

“Annisa, kamu belum tidur sayang?”. Tiba-tiba, tanpa kusadari, mama masuk ke dalam kamarku dan menemuiku.
“Belum ngantuk ma”.
“Mama tahu, pasti kamu, baru selesai nulis dan lihat-lihat album foto kamu lagi kan?”.
“Iya ma. Apakah mama tahu, sesungguhnya, Annisa tidak sabar ingin cepat-cepat ke Cordoba”.

“Sayang, semua orang memang memiliki cita-cita dan impiannya masing-masing. Namun, jika semua itu tidak diiringi dengan berikhtiar serta berusaha, maka semua akan sia-sia. Annisa, jika kamu sangat ingin mengejar mimpi kamu tersebut, maka iringalah dengan belajar yang tekun serta sholat tahajjud. Insyaallah, jika kamu bersungguh-sungguh, dan memiliki niat yang mulia, maka allah akan meridhoi langkah kamu. Percayalah dan tetap semangat ya sayang”.
“Thank you mama. I love you so much. You’re my big hero”.
Aku memeluk mamaku dengan pelukan yang begitu melekat, dan tidak lupa pula sebelum tidur, kukecup kedua pipi masa seraya mengucapkan “good night mama”.

5 BULAN KEMUDIAN…
WELCOME CORDOBA (Selamat datang Cardoba)

Papa memang merupakan superhero terbesar didalam hidupku. Dan tidak akan pernah ada duanya. Mama ternyata benar, jika aku melakukan semua ini dengan semangat dan sungguh-sungguh, serta senantiasa berikhtiar dengan niatku yang tulus, maka allah, pasti akan memberikan kemudahan jalan untukku. Pergi ke Cardoba, untuk melanjutkan studi magisterku, dengan beasiswa dalam negeri yang kudapatkan melalui study exchange cultural relationship di Korea yang kuikuti satu bulan yang lalu, tentu saja, telah memberikan kebanggan tersendiri bagi mama, papa, dan adik bungsuku Najwa.
Seperti janjiku kepada papa, bahwa di Cardoba University, aku akan mengambil kosentrasi magisterku dalam bidang filsafat islam. Aku tidak bisa mengatakan dengan gamblang, jika saat ini, aku merasa bahagia. Tidak seperti yang kutakuti sebelumnya, saat aku masih berada di Pekanbaru. Ternyata, juga banyak para mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia, yang mengenyam pendidikan di kota ini. Diantaranya, mereka juga mengambil konsentrasi pembelajaran pengkajian islam dan filsafat islam, sama seperti diriku.

Hari semakin berlalu. Dan setiap harinya, aku senantiasa melalui hariku dengan bahagia diiringi untaian rasa syukurku kepada Allah swt. Tak terasa, nyatanya aku telah satu tahun menetap dan bersekolah di kota ini. Udara dingin nan sejuk, selalu aku rasakan disetiap harinya. Bukan itu pula, hawa yang yang tidak begitu panas, begitu damai kurasakan. Sudah dua musim kulewati di kota ini, yakni musim salju dan musim semi. Namun, merasakan musim gugur, entah mengapa, aku sangatlah ingin merasakannya. Melihat, begitu banyaknya dedaunan dari pepohonan yang gugur, membentang di atas daratan yang luas, yang kemudian, akan datang para kerumunan burung merpati menghiasi kota Cordoba. Aku pastikan, pasti ini, akan sangat terlihat cantik dan menawan.

Di kota yang besar ini, kebahagiaanku semakin bertambah, yaitu dengan hadirnya Syabilla, yang merupakan teman akrabku selama aku menjalankan studiku di kota ini. Syabilla adalah gadis turki blasteran belanda yang sangat cantik jelita. Kulitnya putih bersih dengan hidugnya mancung, serta bertubuh tinggi semampai. Jika dibandingkan denganku, bisa dikatakan, aku tepat hanya setinggi pundaknya.

Namun, bagiku, dia tetap gadis yang sama denganku, dan tidak ada sedikitpun perihal kultur yang membedakan diantara aku dan dirinya. Tetapi, ada satu hal yang sangat luar biasa kukagumi dari diri Syabil, sahabatku. Yakni, dia merupakan gadis muallaf satu-satunya di keluarganya. Sementara pula, dedy dan maminya, merupakan sepasang suami istri beragama nasrani ortodox. Dedynya merupakan seorang jurnalis ternama di Netherlnd, yang sangat berpegang teguh kepada ajaran nasrani Katolik. Sementara maminya, merupakan seorang putri dari salah satu keturunan raja Turki yang sangat termansyur di Turki. Dedy dan mami Syabil, adalah sepasang suami istri yang menikah atas dasar pernikahan nasrani ortodox, yakni berlandaskan kepada pernikahan Katolik. Namun, disaat Saybil berusia 6 bulan, perceraian pun terjadi diantara dedy dan maminya, sehingga menyebabkan dirinya harus ikut dengan dedynya bertempat tinggal di Moskow.

Hingga selanjutnya, akibat dedynya yang telah menikah kembali untuk yang kedua kalinya, dengan seorang perawat di salah satu rumah sakit di Moskow, yang juga beragama nasrani Katolik, Syabil pun kemudian menjadi gadis kecil yang beragama nasrani Katolik, hingga dewasa. Akhirnya, di usianya yang ke-16 tahun, hidayah kemudian menghampirinya. Dia dipertemukan kembali dengan neneknya yang merupakan ibu dari maminya, yang ternyata, telah menjadi seorang muallaf, sejak tiga tahun yang lalu.

Dengan keteguhan hati yang begitu luar biasa, Syabillah Alfitriyah, yang mulanya bernama Angelia Carolin, berubah menjadi gadis muallaf yang sangat islami hingga sampai saat ini. Sama sepertiku, dia adalah gadis muslim yang senantiasa mengenakan hijab panjang hingga menutup dada.

IN RED VALVED COFFE

“Syabil, aku bahagia sekali. Alhamdulillah, di ujian semesterku yang ketiga ini, aku berhasil mendapatkan IPK terbaik nomor 2 di kelasku. Dengan demikian, aku bisa menuliskan karya ilmiahku untuk diterbitkan di jurnal-jurnal internasional”.
“Really?. Wah, congratulation Annisa. I’am approud you. Alhamdulillah, aku juga demikian Annisa, aku juga berhasil mendapatkan IPK terbaik di semester ini. Namun, aku hanya di urutan yang ke delapan. Jadi, belum memiliki kesempatan untuk bisa menuliskan karya ilmiahku di jurnal-jurnal internasional”.

“Syabil, percayalah kepadaku dan juga diri kamu sendiri. Jika kamu, pasti bisa menerbitkan karya-karya ilmiah kamu di jurnal-jurnal internasional nantinya. Kamu harus optimis dan terus berusaha, aku pasti akan mendukung kamu dan membantu kamu”.
“Terimakasih Annisa. Aku bahagia memiliki sahabat terbaik seperti kamu. Annisa, aku juga akan membantu kamu untuk mencari sumber-sumber dalam penulisan resume karya ilmiah kamu. Namun, jika aku boleh tahu, kamu akan menuliskan tentang topik apa?”.
“Syabil, sejak dulu, aku sangat ingin menuliskan tentang Peradaban masyarakat di Cordoba, dari segi kulturalnya. Yang mana, pada penulisan karya ilmiah ini, aku lebih memprioritaskan kepada bentuk segi arsitektur bangunan yang ada di kota ini. Aku ingin mengkaji, seberapa besar akulturasi budaya yang telah terjadi di Cordoba, sehingga menyebabkan kota ini menjadai kota yang berperadaban islam sangat tinggi hingga sekarang”.

“Apakah aku boleh mengatakan sesuatau, Annisa?”.
“Of course”.
“Wow, this is brilliant ide. I love it. Annisa, jika demikian, bagaimana pagi ini juga, kamu ikut denganku, mengelilingi kota-kota yang berperan penting dalam kemajuan peradaban kota Cordoba ini. Termasuk, kita akan mengujungi mesjid Cordoba yang sangat bersejarah. Apakah kamu mau?”.
“Are you seriously?. Ofcourse. I do”. Ucapku kepada Syabil, sambil memeluknya dengan perasaan girang.

Mulailah dihari ini, aku dengan dipandu oleh sahabat terbaikku, Syabil, berkeliling kota Cordoba menikmati indahnya suasana kota yang begitu tentram dan menghangatkan. Tidak ada kebisingan lalu lintas yang kerap kali kudengarkan saat di Pekanbaru. Bukan hanya lalu lintas yang tentram, namun dari tepi-tepi jalan raya, juga sudah tersusun sangat rapi, dengan tata ruang kota yang sangat sejuk dipandang mata. Benar-benar nirwana dunia yang sangat abadi dan tidak akan pernah tertinggalkan.

Menyelurusuri jalan demi jalan, sampailah aku bersama Syabil di tempat sejarah yang pertama. Yakni, bangunan yang menjadi simbol dari umat islam. Bangunan megah ini bernama Mezquits Cristo de la Luz. Yaitu, Masjid Raya Cardoba. Masjid ini terletak di Toledo. Dan masjid ini, mulai dibangun pada masa kejayaan islam mulai terlihat di kota Cordoba hingga negara Spanyol. Sangat menarik, bangunan yang terlihat megah ini, dari luarnya, tidak sama sekali terlihat seperti bangunan masjid yang kerap kali aku jumpai di Indonesia. Tidak terlihat adanya bangunan atap masjid yang berbentuk kubus. Namun, masjid ini, hanya terlihat seperti bangunan rumah yang berasitektur arabian timur tengah. Sempurna, dan sangat indah.

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Facebook: Aisyah Nur Hanifah ( Nur )

Cerpen Hello Cordoba (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Untuk Aku

Oleh:
Hari beranjak siang, tapi aku masih terpekur sendiri di dalam kamar sempit dan sedikit pengap. Aku ingin sendiri saat ini, berkali-kali mama memanggilku untuk makan, tapi tak aku gubris

Akhirnya Sahabat Ku Punya Pacar Juga

Oleh:
Hari ini merupakan hari ulang tahun sahabat kami, ia bernama Fania. Ia sahabat kami yang super duper jutek sehingga ia tidak penah berpacaran, padahal banyak cowok-cowok yang naksir terhadapnya

Ibuku Malaikatku

Oleh:
Malam itu aku dan temen-temen aku lagi ngadain pesta ulang tahun Rangga pacarku. Semuanya pada happy fun. Di iringi musik DJ yang seru abis dan goyangan yang asoy menambah

Langkah Menyusuri Cahaya

Oleh:
Hijrah. Mungkin kata itu yang bisa ku sebut saat ini. Perubahan menjadi lebih baik, menjadi lebih taat, menjadi lebih bersyukur terhadap semua karunia yang diberikan oleh Allah SWT. Secercah

Rasa Ini

Oleh:
Aku mencintainya… sangat mencintainya, hingga aku tak tau lagi cara menyampaikannya, mungkin bukan tak tau, tapi aku tak bisa mengatakan padanya. Aku mencintainya sejak dulu, sejak pertama kali bertemu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *