Hello Cordoba (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 January 2018

Setelah berkeliling memutari areal masjid, kemudian, Syabil selanjutnya mengajakku kembali menuju ke tempat sejarah yang kedua di Cordoba. Tempat tersebut, berlokasi di kota Zaragosa, dan bersebelahan dengan bukit sejuk yang ada di kota tersebut. Bangunan bersejarah tersebut, dibangun pada abad ke-9 hingga abad ke-11. Strukturnya sangatlah unik dan berasitektur ala turki, namun berkaulturasi dengan seni arsitektur dari Spanyol.

Masyarakat di Cordoba, menyebut bangunan klasik ini dengan sebutan benteng Alcazar. Bangunan ini dulunya merupakan istana dari kalifah saat sebelum pindah ke Madinat al- Zahra yang berada di luar kota Cordoba. Dikelilingi oleh empat menara, dan disetiap sisinya, akan terlihat beragam jejak arsitektur berupa reruntuhan bangunan Romawi yang bersanding dengan bangunan bergaya Gotik da Arab. Interiornya terhubung dengan Courtyrad yang ditumbuhi berbagai jenis bunga, tanaman remah, dan pohon-pohon tua. Namun, ada satu hal yang paling menawan di komplek bangunan Alcazar ini, yaitu Hall of the Mosaics. Sebuah kapal yang bergaya Barok dengan mozaik Romawi di sekujur dindingnya. Sungguh, aku tidak akan pernah menjumpai benteng Arabian klasik seperti ini di Indonesia. Subhanallah, ini adalah salah satu warisan sejarah dunia yang patut untuk dilestarikan.

Dengan cekatan, setelah aku memotret beberapa pemandangan dari sisi demi sisi bangunan Alcazar tersebut, aku kemudian menarik tangan Syabil dan mengajaknya untuk berselfie. Bersama senyum lesung pipitnya yang lucu, aku dan Syabil, kemudian berselfie bersama, dengan pose yang berbeda-beda berlatarbelakangkan keindahan kota Cordoba yang terlihat jauh dari atas benteng Alcazar. Setelah mengunjungi Alcazar, selanjutnya, Syabil sahabatku, mengajakku untuk mengunjungi sebuah tempat yang tak kalah indahnya.

Bangunan bersejarah ini merupakan ikon sejarah klasik yang terletak di barat laut Masjid Katedral Cordoba. Syabil menjelaskan kepadaku, jika bangunan yang bernama Jewish Quarter ini, mulanya merupakan bangunan yang menjadi perkumpulan komunitas dari kaum Yahudi, yang diberikan kebebasan beragama oleh Kalifah Cordoba, asalkan kaum Yahudi tersebut, bersedia untuk membayar pajak mereka. Karena itu, pada mulanya Jewish Quarter, merupakan sentralistik dari bangsa Yahudi di seluruh dunia.

Namun, karena berakhirnya kekalifahan Cordoba pada 1031, maka menyebabkan peran komunitas Arab dan Yahudi di kota ini semakin surut. Hal tersebut, dikarenakan telah tergantikan oleh kekuasaan Islam dari suku Barber dari Afrika Utara. Yang kemudian, menyebabkan bangsa Yahudi yang mulanya mendiami kota ini, selanjutnya berpindah ke Spanyol bagian Utara. Setelah mengelilingi keindahan bangunan bersejarah Jewish Quarter, aku bersama Syabil, kemudian berjalan kembali menuju ke sebelah barat kota Cordoba.

Tempat ini, adalah tempat yang paling menajubkan dan paling indah di kota ini. Terletak di sekitaran lereng pegunungan Sierra Morenna, dan kerap kali, masyarakat sekitar serta para tourism yang datang ke kota ini, mengatakan jika kota ini sebagai Istana Versaillesnya Abad Pertengahan. Kota bersejarah ini, bernama Madinat Al-Zahra, yang memiliki arti sebagai kota yang bercahaya. Kota cahaya ini, dibangun pada masa Abdurrahman III Al-Nasir, yaitu seorang kalifah di Cordoba, yang memerintah pada tahun 936 M. Kota yang memiliki istana seluas 112 hektar ini, terdiri dari reception halls, masjid, kantor administrasi pemerintahan, barak tentara tempat tinggal raja beserta abdinya, pemandian, taman, workshop, dan sumber air untuk warga yang berasal dari Aquaduct. Dan uniknya lagi, pata tourism yang datang ke kota ini, bisa menonton vidoe tentang rekonstruksi keadaan Madinat Al-Zahra dimasa keemasannya, di area museum Madinat Al-Zahra, yang telah memenangkan penghargaan Aga Khan yang sangat bergengsi di dunia. Subhanallah, ini adalah kota pertama yang paling indah yang pernah kukunjungi didalam hidupku selama ini.

“Dan Annisa, suatu hari nanti, kamu bisa mengajak imam kamu untuk honymoon di kota yang indah ini. Aku pastikan, itu akan menjadi honymoon yang paling indah di dalam hidupmu”.
Lantas saja, mendengar pernyataan jail Syabil yang tiba-tiba, membuatku sedikit tergoda.
“Ah Syabil. Kamu bisa saja ya!”, ucapku, seraya memainkan kameraku yang sedang mengambil beberapa pemandangan indah di kota ini.

JAM 13.00 WAKTU CORDOBA
Tak terasa, hari telah beranjak siang, dan jarum jam arlojiku telah bergerak di pukul satu siang. Saatnya aku bersama Syabil, memberhentikan sejenak travelling kami di sebuah masjid yang berlokasi di kota Madinat Al-Zahra ini, untuk menunaikan sholat zuhur.

“Annisa, selepas sholat zuhur, aku akan mengajak kamu untuk makan siang di tempat yang sangat indah dan menyediakan makanan yang sangat lezat sekali”.
“Benarkah?. Wah, dimanakah tempat itu Syabil?”.
“Itu rahasia, nanti kamu akan tahu sendiri”.
“Baiklah, aku tidak sabar untuk melihatnya”, ucapku seraya menguntai senyum manisku kepadanya.

SELEPAS SHOLAT ZUHUR
Kembali, aku bersama Syabil melanjutkan perjalanan menuju kesebuah tempat makan siang yang telah dijanjikan Syabil kepadaku. Tempat tersebut bernama Tabarna El Abanico. Sebuah restoran sederhana yang berleokasi di tengah-tengah taman kota Cordoba. Sembari menikmati perjalanan menuju ke restoran tersebut, di tengah perjalanan, dengan lihainya Syabil terus bercerita kepadaku, tentang keunikan yang dimilki oleh restoran sederhana tersebut. Dia mengatakan, jika restoran tersebut merupakan salah satu restoran vegetarian yang sangat digemari oleh para tourism yang datang ke kota Cordoba. Bukan hanya menyediakan hidangan ala vegetarian, namun yang tak kalah pentingnya, di restoran tersebut, menyediakan salah satu makana khas dari Cordoba, yang paling pas untuk disantap saat di musim semi seperti ini.

IN TABARNA EL ABANICO

“Nah Annisa, ayo persilahkan, ini dia Gazpacho. Makanan khas dari kota Cordoba. Apakah kamu tahu Annisa, ini adalah satu-satunya makanan yang paling lezat di Cordoba. Semua warga di Cordoba dan para tourism yang datang ke kota ini, selalu menyantap Gazpacho disaat musim semi seperti ini”.

Aku melihat semangkuk Gazpacho yang telah dihidangkan oleh pelayan restoran tersebut di depanku dan Syabil. Terlihat semangkuk Gazpacho yang sangat lezat. Serasa ingin segera mungkin, aku mencoba Gazpacho tersebut.
Gazpacho, adalah makanan khas dari kota Cordoba, berupa salad cair yang dihidangkan dengan dingin dan segar. Terdiri dari beberapa potongan roti gandum, tomat, bawang putih, mentimun, cabe merah, garam, minyak zaitun, dan beberapa potongan sayuran hijau serta beberapa potongan kismis yang ditabur diatasnya.

Tidak hanya itu, untuk menyantap Gazpacho, dihidangkan pula selembar roti bakar jagung dengan toping keju mozerella dan segelas jus mangga yang sangat segar bersama sentuhan kayu manis yang hangat. Sungguh, makan siang di hari ini bersama Syabilla, sembari menikmati keindahan kota Cordoba di musim semi dari balik kacara resotaran, tidak akan pernah aku lupakan.

“Syabil, terimakasih. Satu harian ini, kamu telah mengajakku travelling mengunjungi beberapa tempat sejarah di kota ini. Dan selanjutnya, kamu mengajakku menyantap Gazpacho yang sangat lezat sekali”.
“Sama-sama Annisa. Sebagai sahabat kamu, aku juga bahagia bisa jalan-jalan di kota Cordoba bersama kamu. Oh iya, ada satu lagi, yang aku ingin tunjukkan kepada kamu. Aku yakin, kamu pasti akan sangat bahagia. Karena ini, akan kamu lihat hanya ketika di musim semi”.
“Benarkah?. Apa itu?”.
“Hemmmm, tapi tempatnya cukup jauh dari sini. Kita harus menaiki bus kota dahulu, kemudian menyebrangi sungai dengan sampan rakit, dan barulah kita sampai ketempat tersebut”.

“Wahhhhh, itu sepertinya travelling yang cukup menantang. Aku tidak masalah jika sejauh itu”.
“Oke deh. Kalau begitu, yuk kita pergi ketempat tujuan kita yang terkahir”.

Sembari bergandengan tangan, aku bersama Syabil kemudian pergi mengunjungi ke sebuah tempat terakhir yang menjadi akhir dari teravellingku hari ini mengelilingi keindahan kota Cordoba. Perjalanan yang cukup menantang untukku dan Syabil. Kami harus mengawalinya dengan manaik bus kota selama satu jam. Selepas itu, setelah satu jam di perjalanan, kemudian kami melanjutkannya dengan menybrangi sungai Coroba dengan menaiki sampan rakit ala kota Cordoba. Namun, satu pemandangan unik yang menarik perhatianku. Yaitu sebuah jembatan yang aku lewati bersama Syabil, ketika akan menuju ke sungai.

“Syabil, bukankah ini adalah jembatang yang sangat klasik?. Aku begitu takjub, dengan beberapa ornamen-ornamen yang terukir indah di dinding-dinding jembatan ini. Seperti arsitektur bangunan Romawi klasik yang aku lihat di Masjid Cordoba tadi”.
“Yupp. Kamu benar sekali Annisa. Ini merupakan salah satu ikon di Cordoba. Jembatan ini dibangun pada abad satu oleh kaisa Romawi, untuk menggantikan jembatan kayu yang telah rusak. Jembatan ini telah mengalami banyak renovasi. Dibuktikan ketika abad pertengahan, dibangun pula di dekat sisi jembatan ini Calohara Tower dan Puerta del Puente yang semakin menjadikan jembatan ini terlihat megah. Dan jika dihitung, jembatan ini memiliki 16 gapura. Luar biasa kan?”.
“Wow, that is amazing. Subhanallah!”.

“Yupp. This amzing. Oh iya Annisa, sebelum kita menaiki sampan menuju ke pulau yang hendak kita tuju di seberang sana, alangkah baiknya kita membeli salah satu cemilan ala turki yang sangat terkenal lezat di dekat jembatan ini”.
“Benarkah?. Wah, kedengarannya sangat lezat. Mari kita beli”.

Dengan bahagia, aku bersama Syabil mengujungi salah satu pasar makanan kecil yang berada di tepi jembatan tersebut. Sungguh, ini luar biasa. Di kota Cordoba sebesar ini, ternyata ada banyak pedagang asli dari Turki yang berjualan cemilan khas Turki di dekat tepian jembatan tersebut.

“Nah Annisa, kamu harus mencoba cemilan khas Turki yang sat ini. Setelah kamu mencobanya, kamu akan ketagihan”.
Aku menerima sepotong roti berbentuk sandwich yang diberikan Syabil kepadaku. Tanpa berpikir panjang, segera aku menggit sepotong Sandwich tersebut. Serasa menggoda, lumeran keju mozerella panggang yang terbalut dengan lavay kering, begitu saja pecah didalam mulutku. Entah mengapa rasanya sangat lezat sekali. Apalagi ditambah dengan pedas manisnya beberapa potongan ikan salmon suir dengan saus tomat yang pedas, yang kemudian diikuti dengan gurihnya kentang goreng dan segarnya selada, semakin menambah kelezatan cita rasa sandwich yang kumakan ini.

“Ini adalah Sandwich yang sangat lezat sekali Syabil”.
“Iya Annisa, kamu benar sekali, ini sangatlah lezat. Tapi, ini bukanlah sadwich Annisa, namun ini namanya adalah Doner Kebab. Salah satu jajanan cemilan ala Turki yang paling lezat”.
Sontak saja, mendengar kata (Kebab), kembali mengingatkanku kepada Nizar, yang sangat menggemari kebab sebagai makanan favoritnya.

“Annisa, are you ok?”. Syabil bertanya kepadaku yang tiba-tiba saja diam.
“Ahhhhhh, tidak Syabil. Hanya saja, kebab ini mengingatkanku kepada mantan kekasihku”.

1 JAM KEMUDIAN…
Sampailah aku dan Syabil di pulau seberang di bagian selatan kota Cordoba. Yaitu di Royal Stables. Tempat ini, adalah tempat dimana diadakannya sebuah festival pertunjukan ketangkasan kuda Andulusia, yang mana dalam beberapa atraksinya dipadukan dengan musik dan tari flamenco. Bukan hanya pertunjukan ketangkasan kuda, namun, di sini juga ada sebuah pertunjukan akrobatik yang akan di lakukan oleh kuda-kuda Andulusia yang gemuk. Sungguh, ini adalah salah satu festival yang sangat luar biasa dan mengagumkan.

“Annisa, aku berharap semoga travelling kita hari ini, menjadi kenangan yang paling indah dan berharga untuk kamu. Semoga kamu selalu mengingatku sebagai sahabat yang terbaik di dalam hidup kamu. Aku berdoa kepada Allah, jika nantinya jurnal ilmiah yang akan kamu tulis ini, menjadi jurnal ilmiah yang palign banyak digemari dan bisa menghantarkan kamu menjadi filusuf islam terhebat”.
“Syabil, kamu memang sahabat terbaikku selamanya. Terimakasih, dihari ini kamu telah menghabiskan waktu kamu bersamaku mengeliling kota Cordoba yang indah ini. Syabil, aku juga demikian, berdoa kepada Allah, agar suatu hari, kita bersama-sama menjadi filuf islam yang hebat. Dan semua cerita kita hari ini, akan kutuliskan dalam sebuah novel. Aku ingin, kamulah orang pertama yang akan membaca novelku ini. Berjanjilah kepadaku, Syabil”.

SATU TAHUN KEMUDIAN…
DI PEKANBARU…
Semua telah berubah. Tanpa kabar, Syabil, sahabat terbaikku, tiba-tiba bisa menghilang dariku. Aku begitu gusar dan bingung, kepada siapa lagi aku harus bertanya mengenai keberadaaanya saat ini. Sudah puluh e-mail aku kirim untuknya, namun tidak ada satu balasanpun darinya. Kabar rancu yang kuterima tentangnya adalah, jika Syabil pergi meninggalkan kota Cordoba dikarenakan adanya alasan yang mendesak.

“Syabil, kamu di mana?. Aku rindu”. Kalimat itulah yang senantiasa aku kirimkan kepadanya.
Walau hariku tanpa Syabil, alhamdulillah masih adanya mama, papa, dan adikku yang senantiasa menemaniku sampai saat ini, serta memotivasiku untuk terus berkarya dan menulis. Alhamdulillah, Beberapa jurnal ilmiah sejarah islam yang kubuat telah terbit di blogger internasional. Alhamdulillah, semua pembaca dan para filusuf sejarah sangat menyukai jurnal ilmiah sejarah islamku tersebut.

Dan alhamdulillahnya lagi adalah, aku telah berhasil menerbitkan novel pertamaku, yang kuberi judul (HELLO CORDOBA). Novel islami yang menceritakan tentang pertemuan indahku dengan Syabil di kota Cordoba yang membawaku dan Syabil menjadi sepasang sahabat sejati.
Namun, sepertinya secercah kebahagiaan di dalam hidupku, mulai kembali terbit di hari ini. Syabil, sahabat terbaikku, kembali.

“Annisa, keluarlah sayang ada teman kamu yang ingin bertemu”
“Iya ma”.

Deg…
Dengan anggunnya, Syabilla, sahabat sejatiku yang selalu kurindukan kehadrirannya selama satu tahun ini, telah berdiri di hadapanku sembari menguntai senyum lesung pipitnya. Dan tanpa berpikir panjang, segera aku memeluknya dengan sangat erat.

“Aku rindu denganmu Syabilla. Aku bahagia bisa bertemu denganmu kembali. Kumohon, jangan pernah pergi tinggalkanku tanpa kabar”.
“Annisa, maafkan aku. Karena saat itu, deadyku sedang sakit keras, jadi aku harus segera pergi. Namun, alhamdulillah hidayah menyertainya, deadyku sekarang telah sembuh dari penyaktinya, dan sekarang telah menjadi seorang muallaf. Aku bersyukur sekali. Oh iya Annisa, apakah kamu tahu, walau satu tahun aku di Moskow, aku juga telah membaca novel kamu dan semua jurnal ilmiah sejarah yang terbit. Annisa, aku bangga kepada kamu”.
“Benarkah?. Aku sangat senang mendengarnya”.

“Dan Annisa, berkat doa kamu, sekarang, aku telah mendapat kesempatan untuk menulis di jurnal ilmiah. Teman deadyku dari Turki yang telah mengajakku untuk menulis di blogger perusahaannya. Mereka sangat suka dengan karya tulisku. Aku bahagia sekali”.
“Alhamdulillah Syabil, aku bahagia dengan semua ini. Congratulation sahabatku”.

Aku dan Syabil, kembali berpelukan dengan hangat. Dan selepas berpelukan, kemudian tanpa kuduga, Syabilla memberikanku sebuah kado berupa lukisan bergambar diriku dan dirinya, saat berselfie di Alcazar. Dan di tepi sisi kanan bawah lukisan tersebut, dapat kubaca dengan jelas, teruntai dengan indah kalimat pusi persahabatan.

Dear sahabatku…
di Cordoba
kisah persahabatan sejati ini
kita mulai dengan indah

namun kita tidak bisa mengukur
apalagi menerka
kapan akan berakhirnya
karena selamanya, kita adalah sahabat

(Annisa dan Syabilla)
09 April 2017

“Ini sangat indah. Terimakasih Syabilla”, aku kemudian memeluk Syabilla kembali.

“Terimakasih ya allah, engkau telah mempertemukanku kembali dengan sahabat terbaikku. Seorang sahabat yang selalu ada untukku dan suka maupun duka. Dalam doaku, semoga aku dan Syabilla akan selamanya seperti ini. Amin”, ucapku di dalam hatiku.

TAMAT

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Facebook: Aisyah Nur Hanifah ( Nur )

Cerpen Hello Cordoba (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesantren Impian

Oleh:
Aku siswi baru di Mts. Nuuru Zamzam di Garut, Jabar. Namaku Siti Adhawiyyah. Aku tinggal di Kota Bekasi. Lalu, kenapa aku sekolah di garut? apakah pindah rumah? Tidak, aku

Semuanya Karenamu

Oleh:
“Apa maksud lo mundur dari pertandingan?” “Gue nggak sanggup! Gue takut, Fel!” Seketika kepalan tangan Felly mengarah ke pipi Bram. “Fel udah, Fel!,” lerai Billy saat melihat Felly mengarahkan

Hilangnya Bintang Itu

Oleh:
Pagi yang indah, burung-burung berkicauan. Menyambut hangatnya pagi di pondok suci ini. Semua santriwati menyibukkan dirinya. Entah angin apa yang membawaku semalam. Terbangun dari tidurku, tetesan darah bercucuran dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *