Hidayah Itu Pun Datang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 30 April 2013

Ini adalah kisah lanjutan dari kunci jawaban dari tuhan. berkisah tentang Vandy teman dari Irwan yang berniat ke aussie dan bertemu susan yang seorang ateis. Mampukah ia meyakinkan kepadanya pilihannya salah?
Selamat membaca..

Bagian 1, Saatnya Menatap Masa Depan

Tok..Tok..
“permisi”
“Ya.. silakan masuk” ujar pak andi
aku pun masuk dengan hati berdebar-debar.. apa yang harus kukatakan pada Pak Andi kalau aku ingin menetap di Australia, kebetulan teman mendapatkan informasi kalau perusahaannya ingin mencari tenaga profesional untuk di tempatkan di Australia, dan temanku merekomendasikan saya ke perusahaan di sana serta di biayai oleh perusahaan tersebut seandainya aku jadi bergabung..
Andai tawaran itu tidak datang aku tak mungkin galau seperti ini. Bagaimanapun Pak Andi adalah sosok pemimpin perusahaan yang aku segani dan ia sangat baik denganku.

Ya Tuhan, mana jalan yang harus ku pilih, di satu sisi ku tak bisa meninggalkan tempat ini tapi di sisi lain hati ini mengharuskan menapaki masa depan yang jauh lebih luas, tak masalah betapa jauhnya Australia karena Engkau selalu dekat Ya Rabb..
Akhirnya aku bulatkan niat untuk berbicara kepada Pak Andi, andai tak di bolehkanpun aku siap tuk tetap di sini..

“Maaf Pak Andi mengganggu waktunya, sebenarnya ada sesuatu yang saya ingin sampaikan tentang masalah pekerjaan Pak..” kataku terus terang
“Memang kenapa dy, apa ada sesuatu yang tidak beres?” tanya Pak Andi heran
“Mhh.. Bapak beberapa bulan yang lalu menjelaskan kalau ada karyawan yang ingin meraih cita-cita yang lebih tinggi perusahaan siap membantu…”
“Pasti tentang Australia kan?” kata Pak Andi dengan senyuman cerah
“Ba.. bagaimana Bapak bisa tau?” kataku tambah gugup
“hha, kamu tenang saja nak Vandy.. sebenarnya sayalah yang merekomendasikan kamu pada perusahaan di sana, kebetulan saya masih manajemen di perusahaan tersebut, temanmu itu yang aku suruh untuk menawarkan pekerjaan di sana, selama ini Bapak melihat loyalitasmu pada perusahaan, dan saya ingin kamu masuk ke manajemen dengan pembiayaan oleh perusahaan. Kamu tenang saja dengan biaya hidup di Australia, ada mess yang di siapkan bagimu. Mhh.. sebenarnya bapak ingin memberangkatkanmu dengan Irwan, tapi saya tau kalau dia betah tinggal di indonesia bersama istri dan anaknya, lagi pula dia sekarang sedang mengambil cuti seminggu yang di berikan perusahaan..”
“Saya tak tau harus bilang apa Pak.. Mungkin hanya Tuhan yang bisa membalas segala kebaikan Bapak selama ini.. sebenarnya saya bingung apakah harus mengambil pekerjaan di sana, sedangkan saya sudah sangat kerasan di perusahaan ini, sekali lagi terima kasih Pak atas kebijaksanaannya..” kataku sambil menunduk haru
“Sudahlah, Mungkin ini memang rezekimu saya hanya menjalankan apa yang tepat untuk para karyawan terbaik di sini, kamu masih bisa berkembang Van. Apa kamu telah bilang kepada Irwan bahwa kamu akan di mutasi ke perusahaan sana?” tanyanya dengan serius
“Belum Pak, tapi Insya Allah saya akan memberitahu Irwan, sekaligus tuk pamitan dengannya”
“Bagaimana kalau Berdua dengan Bapak saja ke sana, sekalian untuk mengurus perizinan dan visa. Bapak yang akan mengantarmu ke Australia, selebihnya kamu akan di bimbing oleh Ikhsan, temanmu itu..”
“Baiklah pak, sekali lagi terimakasih banyak Pak atas kesempatan yang di berikan, saya pamit Pak..”
“Baiklah, sampai bertemu besok pagi, dan jangan lupa persiapkan segala sesuatunya.. karena deadline perusahaan tinggal 2 minggu lagi..”
“Baik pak”

Aku pun keluar dari ruang Pak Andi dengan perasaan lebih tenang, rasanya ada hati yang lebih ringan walaupun sulit juga karena tak bisa bersua lebih sering dengan Irwan juga anaknya yang bernama Ashalina, melihat anak itu jadi ingin cepat-cepat nikah. Mudah-mudahan di Australia bertemu jodohnya.. pikirku sambil tersenyum.

Aku merasa ada ikatan persaudaraan yang kuat dengan Irwan karena nasib kami sama, orangtua tidak ada dan hanya mencari rezeki yang di turunkan Tuhan, kami berdua memang senasib sepenanggungan, walaupun sekarang ia telah di temani istri yang shalehah, apa mungkin nanti di Australia ada bule yang mau dengan saya?.
Yeah.. daripada memikirkan sesuatu yang tak mungkin lebih baik mempersiapkan sesuatu yang mendesak, mulai dari baju hingga celana, dari visa sampai dana.. hha

Setelah berkendaraan selama satu jam, akhirnya tiba di tempat kost. Waktu menunjukkan jam 7 malam, gak ada salahnya mandi sambil menenangkan pikiran, baru tidur dan persiapkan keperluan esok..

Ya Allah
Sungguh kebijaksanaanMu tiada terhingga.
Sehingga rambut pun menjadi lidah.
Ribuan rasa syukur tak mampu kuungkapkan.
Kuberjalan di kegelapan.
Bergoreskan segala harapan.
Tertanam dalam hati
Hingga remuk nestapa.
Tampak sebuah lentera.
Menerangi semesta.
Menembus segala cakrawala jiwa.
menanti saat itu tiba…

Ke Australiaaa..
Aamiin..

Sementara itu Irwan sedang mendengarkan gadis kecilnya yang mulai menunjukkan kepolosannya, umurnya yang 7 tahun tapi punya keingintahuan yang besar, di sebelah bidadari mungil itu ada kucing anggora yang tertidur, ashalina bertanya:
“Yah, azan itu apa yah?”
wah.. bagaimana ngomongnya ya… mhh “azan itu panggilan untuk sholat nak,”
“Tapi kenapa tiap hari?”
“Untuk memuji Tuhan akan kebesaranNya, kamu suatu saat nanti kalau sudah besar coba bayangkan seandainya suara azan di tiap masjid berkumandang, tiap detiknya silih berganti.. seandainya tiap daerah dan negara di satukan maka siang malam tidak akan pernah habis kumandang azan dan selalu silih berganti, Tuhan Yang Maha Mendengar pasti mendengarkan setiap pujian, melihat bumi yang penuh dengan pujian kepada Tuhan, itulah mengapa tukang azan bakal masuk surga, karena keikhlasan mereka mengumandangkan azan yang tak akan pernah berhenti sampai hari kiamat..”
“Aku masih gak ngerti yah..”
Irwan tersenyum melihat gadis kecilnya, walaupun sekarang belum begitu mengerti namun seandainya ia sudah besar pasti akan mengerti dan yakin betapa islam adalah agama yang benar di sisi Tuhan, walau hanya dari sebuah azan tapi jika suara seluruh muadzin di kumpulkan sebanding dengan perputaran bumi siang dan malam, terus menerus memuji Tuhan akan kebesaranNya, tiada satu agama pun di dunia yang sanggup memenuhinya kecuali Islam di mata Tuhan..

Muadzdzin (tukang adzan) itu akan diampuni dosa-dosanya sesuai dengan panjangnya suara adzannya dan pahalanya seperti orang-orang yang sholat bersamanya. (Hr. Ath Thabrani )

Dari Juwaibir dari Adhdhahak “Ketika Abdullah bin Zaid mendapat mimpi tentang adzan dan di ajarkan kepada Bilal, lalu Nabi saw menyuruh Bilal naik di atas papak (tingkat atas) rumah dan adzan, maka ketika mulai adzan terdengar suara gemuruh di kota Madinah, Maka Nabi saw bersabda “Tahukah kamu apakah suara gemuruh itu?”
jawab sahabat: Allah dan Rasulullah yang lebih mengetahui.
Sabda Nabi saw: Sesungguhnya Tuhan menyuruh supaya di buka pintu-pintu langit sampai ke arsy untuk menyambut adzan Bilal.
Abubakar ra berkata: Apakah itu khusus untuk Bilal?.
jawab Nabi saw : bahkan untuk semua tukang adzan, dan ruh orang orang mu’adzin itu berkumpul dengan ruh syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) maka pada hari qiamat ada seruan : dimanakah para mu’adzin? maka berdirilah mereka di atas bukit misik (kasturi) dan kapur barus”

“Sha, kamu suka kucing kan?”
“Suka yah”
“mau ayah ceritakan tentang kucing gak?”
“mau mau yah” katanya girang sambil mengelus kucing Anggora yang belum di beri nama

“Dulu Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang di beri nama Mueeza. Suatu saat, di kala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali. Setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh di pahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.
Kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.

Nah Ayah pesan kamu jangan pukul kucing ya nak, nanti Rasul sedih. Juga hormati dan sayangi hewan, pasti nanti hewan akan sayang sama kamu..
“Iya yah.. Wah ternyata kucing suka dengar azan ya yah, hore aku ingin dengar azan yah sama mu..muessa yah, kucing rumah aku panggil muessa ya yah?” katanya dengan mata berbinar
“Iya, kamu mainlah dengan muezha, hati-hati jangan ke jalanan ya..” kataku sambil tersenyum

Kulihat Muezha yang terbangun dan main dengan asha, mereka berdua mengeong tanpa henti, hha indahnya memang kalau jadi anak kecil.. Ada kenangan indah yang tak pernah kan terlupa, berbeda dengan aku, Ayahnya..
Kuharap asha gak akan melihat kesedihan di mata Ayahnya,
nak, Ayah gak akan biarkan kmu menangis dan bersedih..
Ayah janji nak…
Bu.. akankah kau tersenyum di sana, seandainya engkau melihat cucumu. Pasti sempurna kebahagiaan ini…

“Mas, kmu kenapa melamun?” tanya Nissa heran
“oh, gak papa Niss. Cuma teringat masa lalu.”
“Oh, kirain ada apa,” ujar Nissa sambil menengok ke arah asha yang menguap berkali”
“Sha, tidur yuk bareng bunda..”
“Iya bunda.. ”
Akhirnya Nissa dan Asha pergi tidur di lantai atas, aku masih belum mengantuk lagipula jatah libur cuti masih ada seminggu lagi.
10 menit berselang ternyata aku tertidur juga, jadilah aku tertidur di sofa.

Bagian 2, Bertemu Kawan Lama

Keesokan harinya Vandy telah menyiapkan sejumlah besar barang bawaan untuk perjalanan ke Australia, hanya menunggu kedatangan Pak Andi untuk mengurus visa yang jangka waktu memperolehnya 3 hari, di pusat permohonan visa Australia atau di sebut juga AVAC secara langsung tanpa melalui agen perjalanan, karena sudah di resmikan oleh Duta besar Australia. Awalnya aku kira bisa selesai 2 hari untuk mengurus perizinannya tapi ternyata butuh 3 hari, Yah biarlah, asal bisa menapakkan kaki di benua Australia. Kata teman kantor yang sudah pernah ke sana, pemandangan alam Australia indah sekali, dari daerah gurun sampai hutan hujan, dari onta sampai kangguru semua ada. Sambil menunggu kedatangan pak Andi aku minum teh dan nasi uduk, barulah sekitar jam 7 pagi akhirnya Pak Andi datang dan aku berangkat dengan mobil bmw milik Pak Andi, kami menyusuri kawasan Sudirman dan tiba di Plaza Asia lalu memasuki kantor AVAC.

Di sana kami mengurus visa yang di layani oleh staff imigrasi dari kedutaan Australia. Setelah beberapa lama akhirnya permohonan pengajuan visa selesai juga. Kami pun pergi ke rumah Irwan untuk membicarakan tentang kepergianku ke Australia, saat di perjalanan aku lupa untuk membeli hadiah buat Ashalina, yaitu boneka Shaun the sheep yang sering di tontonnya. Mudah-mudah’an boneka itu bisa membuatnya senang.
Aku pun bicara dengan Pak Andi tentang niatku untuk membeli boneka, dan ternyata Pak Andi pun juga berniat membeli sesuatu untuk Ashalina yang telah ia anggap sebagai cucunya sendiri, jadilah kami berdua membeli di Mal. Satu boneka domba dan satu boneka beruang.
Setelah mendapat boneka tersebut, saya dan Pak Andi berangkat ke rumah Irwan. Setiba di sana ternyata mereka sudah ada di luar, sambil bermain dengan Ashalina di pekarangan rumah. Dan Orang pertama yang melihat aku adalah Ashalina, dengan berlari-lari gadis kecil itu memelukku,
“Paman Vandy koq baru datang, kenapa gak main kesini?” tanyanya
dengan tersenyum aku menjawab, “Paman Vandy lagi sibuk sayang, oh iya ini Paman beri hadiah buat Asha.” kataku sambil memberikan boneka Shaun The Sheep, Asha langsung girang mendapat boneka domba itu.. tapi terdiam setelah melihat Kakeknya,
“Kakek? Kaakeeek koq baru datang..?” ujarnya sambil berlari dan memeluk Pak Andi, aku yang melihatnya hanya tersenyum.
“Eh Vand, ada perlu apa ini mampir ke sini.. apa ada berita penting?” ujar Irwan sambil melihat aku dan juga Pak Andi
“Begini wan, sebenarnya aku mau pamit pergi ke Australia. Aku tadi bersama Pak Andi pergi mengurus Visa, sedangkan pasporku masih ada jadi hanya tinggal menunggu 3 hari lagi,”
“Iya, benar apa yang di katakan Vandy wan,” ujar Pak Andi sambil mengelus kepala Asha yang juga suka boneka beruang pemberian kakeknya..
Beberapa lamanya 2 sahabat itu saling menatap, akhirnya Irwan merangkul Vandy dan dengan gembira berkata,
“Hha.. akhirnya impianmu tercapai juga Van, tak kusangka rezekimu lebih cepat dari hembusan angin. Selamat deh kalau begitu, mudah-mudahan kau menemu jalan takdirmu di sana” kata irwan dengan senyuman
“Aamiin, thanks doanya wan, Oh iya istrimu mana? koq gak kelihatan?”
“Oh, dia lagi ada perlu sama temannya, jadi aku yang jaga Asha. Oh iya jadi lupa nyuruh masuk, ayo masuk dulu Van, Pak Andi.”
“Oke, ada menu sarapan apa nie wan.. hhe” cerocos Vandy
“Ah, pikiranmu makan saja. Tiada hari tanpa makan.. wkwwkwk, jangan-jangan katering kantor selalu habis lagi di makan Vandy.. betul gak Pak Andi?”
“Wah, kalau begitu nanti saya cek kateringnya, nanti saya potong dari gajinya nak Vandy.. hha”
“Yah, kan tiada kerja tanpa makan Pak, kan ada pepatahnya Pak. Sedia Nasi sebelum kerja.. hhe” ujarku
“Walah, kenapa jadi ngomongin makanan di sini. Ayo masuk ke dalam kebetulan istriku sudah masak tadi..”

Irwan mengajak Vandy dan Pak Andi, tak lupa mengajak Asha ke dalam, tapi kemudian berhenti,
“Asha, kamu sudah bilang terima kasih belum dengan Kakek dan Paman Vandy?”
“Aku lupa yah, Paman Vandy terima kasih ya hadiahnya..” kata Asha sambil menatapku, aku hanya mengangguk
“Kakek, terimakasih ya beruangnya..” ujarnya, Pak Andi terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan gadis kecil itu.. mungkin beliau masih mengingat cucunya yang meninggal.
ternyata perkiraanku benar, sebab Pak Andi langsung menggendong Asha..
“Kamu sering-sering ke rumah Kakek ya Sha, nanti Kakek beri hadiah yang banyak buat kamu..”
“Benar Kek? Hore, yah aku boleh ke rumah Kakek kan yah?” tanyanya riang kepada Ayahnya
“Tentu saja Sha, nanti kita ke rumah Kakek..” ujar Irwan menjanjikan

Akhirnya mereka semua masuk dan mengobrol sambil makan bakso dan soto. Setelah mengobrol cukup lama akhirnya kami pamit,
“Sorry ya Wan, saya gak bisa lama-lama karna masih ada yang harus dikerjakan”
“Gak papa koq Van, Oh iya kalau kamu ke sana tolong titip boneka kangguru ya?”
“Buat siapa?” kataku heran
“Buat istriku” bisik Irwan rahasia
“HAH, istrimu buat apa?”
“Hha, jadi begini wan, dulu sebelum Asha lahir istriku ngidam Kangguru, Tentu saja aku gak kasih karena dia mintanya ambil langsung dari Australia..”
“Hhha, sampe segitunya? waduh repot juga ya.. trus cara bilang ke istrimu gimana?”
“Tentu saja aku gak kasih, tapi dia ngotot.. karena aku gak bisa penuhi trus istriku bilang, “Mas kamu harus cariin kangguru, aku bakal tagih terus.” yah begitulah sampai sekarang karena aku gak penuhi yang dia pinta, dia jadi agak sebel juga.. Padahal aku pernah belikan boneka kangguru”
“Pasti belinya di tanah abang, pantes aja wan”
“Loh emang beda?”
“Klo ngidam, istri lebih peka terhadap sesuatu, klo beli di loakan percuma aja sob.. ya udah nanti bakal ku cari di Australia..”
“Yang mahal sekalian van, biar dia tau klo itu asli dari Australi..” ujar Irwan meyakinkan,
“Beres, wani piro ? hhe”
“Waninya ora ono, hha”
“Yo wes lah klo gitu, ya udah sob gua cabut ya, salamin buat istri..”
“Iya tar gua bilang, tapi jangan lupa kanggurunya”
“Sip”

Akhirnya aku pulang dengan Pak Andi, di perjalanan kami membicarakan masalah Pesawat serta tempat bertemu dengan Ikhsan, lalu di jawab oleh Pak Andi,
“Kamu tenang saja Van, semua trlah Bapak atur. Yang terpenting adalah siapkan mental karena kehidupan di sana berbeda dengan kehidupan di jakarta..”
aku mendengarkan baik baik setiap patah yang di ucapkan oleh Pak Andi, memang masalah mental dan lamanya perjalanan yang aku bingungkan, tapi pembicaraan itu di pending untuk sementara waktu, tak terasa sampai juga di kost-kostan, ngomong-ngomong tentang kost-an aku sebenarnya telah mencicil rumah dekat kost-kostan ini namun biayanya cukup mahal sehingga aku terpaksa lebih berhemat. Aku langsung tidur saat itu juga,

Bagian 3, Kisah Lucu di Pesawat

2 hari kemudian…
kring” kring” suara dering alarm itu tidak mampu membangunkanku, sehingga aku akhirnya kesiangan tiba di bandara, dengan mandi super cepat dan mengenakan pakaian seadanya aku siap pergi ke bandara. Aku memesan taxi untuk pergi ke bandara sukarno hatta, tiba-tiba teleponku bergetar.. ternyata ada pesan dari Pak Andi kalau pesawatnya akan berangkat 30 menit lagi
“Pak tolong kemudikan taxinya yang cepat ya Pak, 30 menit lagi pesawat tinggal landas.”
“Beres Pak.”

Sopir taxi itu akhirnya mengebut dengan kecepatan yang bisa di bilang berbahaya, dan di depan ku lihat ada seorang Ibu yang mengendong putranya dan anak kecil perempuan di sebelahnya yang mencoba berlari di lampu merah, untung saja lampunya sedang merah kalau tidak tertabraklah anak kecil itu,

“Pak gak bisa lebih pelan sedikit Pak”
“Wah pak kalau taxinya di pelankan nanti bakal tertinggal pesawat Pak” kata sang sopir menjelaskan
aku yang mendengar hanya menurut saja, biarlah mengebut asal selamat sampai tujuan.. pikirku
Walaupun aku sempat khawatir tertinggal, tapi ternyata waktu yang di butuhkan sekitar 15 menit untuk sampai ke bandara, Alhamdulillah
“Pak saya sudah ada di bandara, bapak ada di mana?”
“Bapak ada di belakangmu Van” kata Pak Andi di seberang telepon
Aku pun menengok kebelakang dan melihat Pak Andi di loket antrian, aku langsung berlari karena banyak sekali orang yang ingin pergi ke luar negeri,
untung saja waktunya tepat kalau tidak, bisa ketinggalan pesawat, pikirku

Setelah memberikan paspor serta di periksa segala kevalidannya, kami siap ke pesawat.
Saya dan Pak Andi memesan kelas eksekutif, kursinya Flat-Bed baru dengan 74 “pitch dan bisa berbaring hingga 180 derajat.
Kursi dengan layar sentuh LCD 11 inci di sandaran dengan AVOD (Audio Video on demand) pada setiap kursi, power supply laptop di kursi, dan bacaan ringan pribadi. Awalnya memang agak aneh karena belum terbiasa naik pesawat, apa lagi keluar negeri, kuping rasanya budek,
“Ini makan permen dulu Van biar kupingnya gak karatan.. oh iya Van nanti di aussie jangan bawa makanan, Bapak sampai lupa memberitahumu kalau peraturan bandara di sana agak ketat di bandingkan Indonesia,
Intinya, kalau masuk aussie kita gak boleh bawa makanan mentah atau raw material, apalagi tanaman yang masih bisa hidup dan juga biji-biji’an dan dairy. Makanan yang boleh di bawa adalah yang udah di pak, instant atau dalam kemasan. Jangan sampai bawa terasi atau petis dalam bungkus daun pisang deh, bisa kena denda $200 ntar, berabe kan hha?” Ujar Pak Andi
Aku yang mendengar hanya bisa berdoa semoga di sana gak di periksa yang aneh aneh, walaupun di koper ada mie instant tapi ada abon, gula jawa, susu, sarden sama minyak goreng..

“Oh iya nanti di pesawat, kira-kira satu jam sebelum mendarat, kita akan di beri Incoming Passenger Card. Isinya data diri kita, alamat yang di tuju di Australia dan deklarasi barang-barang yang kita bawa. Di situ sudah ada daftarnya, sehingga kita tinggal beri tanda silang “ya” atau “tidak”. Kalau ragu-ragu, di sarankan pilih “ya”. Nanti petugas yang memeriksa yang akan memutuskan apakah barang tersebut boleh di bawa masuk atau tidak. Jangan sekali-sekali menyembunyikan apapun dari petugas. Kalau sampai ketahuan akibatnya fatal, bisa terkena denda sampai $220 atau malah di jebloskan penjara dengan hukuman maksimal 10 tahun.”
“Ah yang bener Pak? Klo begitu saya lebih baik lompat dari kaca aja pak, langsung balik” kataku khawatir
“Hha, ini benar Van. yang penting kamu tenang aja, biaya denda Bapak yang atur” ujar Pak Andi sambil tertawa
Wah, dasar pak andi, buat jantung naik turun.. hadeh.. pikirku

Akhirnya sampai menjelang pendaratan aku gak bisa tenang, makanan yang di tawarkan oleh pramugari gak kusantap..
Satu jam sebelum pendaratan ternyata kami di beri lembaran sama seperti yang di ceritakan pak andi, aku mengisi “ya” semua, setelah di isi dan menunggu pendaratan, aku di beri sejumlah trik agar mampu melewati pemeriksaan custom (cukai)
Aku jadi lebih mengerti tentang penjagaan di aussie, hanya tinggal prakteknya saja..

BISAKAH SAYA LOLOS…

Dipikiranku hanya terpikir 2 kata Gula Jawa, apa gula gak di bolehkan?
kata itu akhirnya buyar karena sudah saatnya saya dan pak andi turun, Turun dari pesawat di bandara Sydney, saya yang nggak tahu apa-apa berusaha percaya diri agar pak andi nggak cemas. Dengan pedenya saya ikuti arus orang-orang yang turun satu pesawat dengan saya. Meskipun jalan menuju pemeriksaan imigrasi dan custom lumayan panjang dan lama, namun tanda menuju ke sana juga jelas.

Di sepanjang koridor ada tulisan dengan arah panah: Custom. Begitu mendekati pemeriksaan visa, arus terbagi menjadi dua: satu untuk pemegang paspor Australia dan New Zealand, satunya untuk pemegang paspor negara lain. Ada banyak petugas yang mengurusi pemeriksaan paspor ini. Antrian juga berjalan tertib, satu antrian dan selanjutnya menuju konter-konter yang tersedia.

Sebelum ke pemeriksaan custom, kita harus mengambil bawaan kita yang tadinya ada di bagasi pesawat. Ada banyak ban berjalan, tinggal mencari yang cocok dengan nomor penerbangan kita. Di bandara sini tidak ada porter, jadi harus mengambil sendiri koper-koper kita. Tapi nggak usah khawatir, troli tersedia banyak, gratis, dengan roda yang mulus dan enteng di dorong.

Selanjutnya lewat custom. Di sini ada dua pintu, yang ingin ‘declare’ barang bawaan, atau yang tanpa declare (mereka yang nggak bawa apa-apa, atau di incoming passenger card memilih “no” semua). Untuk amannya sih kita memilih “declare” aja dan pasrah di periksa.

Pertama kali ke Sydney, saya banyak membawa makanan karena takut di sini bakalan susah mencari makanan Indonesia.
Saya membawa 2 koper, satu berisi pakaian dan satunya makanan, tapi karena gak pernah tau peraturan di aussie jadi keteteran, pak andi terlihat tenang saat di periksa.. dan setelah saya lihat isi kopernya, ternyata gak bawa apa apa.. dasar pak andi..

Sekarang giliranku, aku hanya berdoa semoga gak di geledah.. di sebelah ada anjing pelacak yang ukurannya hampir tiga perempat ukuran orang dewasa..

Oh No..

Anjing itu kulihat mengendus koperku tapi sepertinya anjing itu gak mencium sesuatu yang mencurigakan, karena memang aku hanya bawa mie instant!!
Sekarang koperku di bawa ke alat pemindai, Barang-barang’ku yang di sita adalah: susu, karena katanya ada dairy produk nya. padahal itu udah makanan kemasan. Katanya cuma boleh bawa dairy produk yang untuk bayi, tapi harus sekalian bawa bayinya. Tapi lucunya abon sama gula jawa lolos.. Hanya petugasnya sempat nanya:
“This is palm sugar?” kata petugas custom
“Oh, yes from java” kataku
petugasnya ternyata tertarik juga dengan bentuk gula jawa, dan akhirnya susu yang di sita gak jadi di sita..

ALHAMDULILLAH

Bersambung
Tunggu kisah selanjutnya saat Vandy bertemu sahabat karib, dan bertemu istri sahabatnya..
Dan menjelajah Negeri Kangguru…

Cerpen Karangan: Wildan
Blog: http://badhay-network.blogspot.com

Cerpen Hidayah Itu Pun Datang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan Seorang Santri

Oleh:
Gue gak pernah kefikiran untuk tinggal yang namanya di pesantren. Dan menjadi seorang santri (ngapain juga tinggal di pesantren, mana enak disuruh ngaji terus). Waktu itu adik gue baru

Ketika Si Tomboy Berkerudung

Oleh:
Ratu Anggitha Jovintha namanya. Biasa dipanggil Anggi (sekolah, teman seperumahan) atau Githa (keluarga). Dilihat dari namanya, kalian berpikir bahwa Anggi sosok yang Feminin, bukan? Jika berpikiran seperti itu, kalian

Tentang Ayahku

Oleh:
Ayahku berdeda dengan ayah kalian. Ayahku bekerja sebagai petani. Dia bekerja mengurus kebun dan sawah dari pagi hingga sore hari. Ketika musim hujan dia kehujanan dan jika musim kemarau

Kematian Yang Indah

Oleh:
Hello, nama saya Syafita Angeli. Yap saya sering di panggil dengan sebutan syafita. Kalian pasti tau kan? Kehidupan di dunia itu tidak selamanya, kita akan bertemu dengan sang kematian

Terbit Untuk Tenggelam (Part 2)

Oleh:
Jarum jam terus berputar pertanda waktu pun terus berganti. Lebaran tahun ini berlalu begitu saja, tanpa pakaian baru, tanpa hadiah dan tanpa kaki yang telah rela diamputasi. Perkembangan kesehatan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *