Hijrah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 April 2016

Orang-orang bilang, masa SMA adalah masa-masa keemasan. Masa itu pula, orang-orang akan memilih lingkungan mana yang sreg dengan hatinya dan menjadikannya zona nyaman. Ya, mungkin begitu. Tetapi bagiku, masa-masa SMA tidaklah sebegitu “Wah,” tetapi menjadi awal pertemuan yang cukup ku sesalkan.

Masa kanak-kanak.

“Hijrah, Nak?” Ibu guru membangunkanku yang terlelap di meja saat jam pelajaran.
“Kamu sakit, Nak?” lanjutnya setelah melihatku mengucek-ngucek mata.
“Tidak, Bu,” Jawabku singkat.
“Ya, sudah, kamu ke UKS, bisa?”

Tanpa menjawab, aku langsung berlalu ke luar kelas seperti yang ibu guru minta. Tapi, aku tidak ke UKS di lantai dasar sekolah, aku pergi ke lantai paling atas dan mencari tempat sepi. Aku ingin memejamkan mata, tetapi bayangan-bayangan ketakutan menyeruak dari ingatanku semalam. Namaku, Hijrah. Saat ini umurku 7 tahun 5 bulan dan baru 3 bulan lalu aku masuk Sekolah Dasar di kota kelahiranku. Aku tinggal di daerah pantai di Kota Makassar, sebuah kota yang cukup ramai oleh turis dan juga kendaraan, terutama jika hari Minggu, orang-orang sangat banyak berada di sekitar pantai. Keluargaku cukup beruang, ibuku adalah seorang dokter dan ayahku adalah seorang pengusaha. Aku tinggal di sebuah rumah yang bisa dibilang cukup besar dan menempuh pendidikan di sekolah unggulan di kotaku.

Tapi, dengan semua kenyataan yang seakan indah itu, hidupku sangat menyedihkan. Aku jarang bersama ayah dan ibu. Sekalinya mereka bersama di rumah, yang ada hanya pertengkaran hebat. Saat itu terjadi, aku hanya akan bersembunyi di sela-sela pojok rumah. Sepertinya, teman pun bukanlah sesuatu hal yang baik untukku. Bermain bagi normalnya anak-anak lain, tidaklah ada dalam pikiranku. Aku membenci mereka yang bisa bermain dengan riang di sekitar rumahku.

Hingga, masa itu tiba. Kemarin, pamanku datang. Seorang paman yang sedang sakit, kata mereka, dan akan tinggal bersama kami. Di situlah masa-masa terburukku dimulai. Paman itu memiliki penyakit kulit tetapi masih bisa berjalan-jalan sesekali, dan tiap malam ia akan berteriak-teriak dengan keras. Hal itu membuatku tidak bisa tidur. Aku selalu teringat pertengkaran hebat, lengkingan suara ibu, dan teriakan paman itu. Akhirnya, aku hanya bisa tidur di kelas sebelum Bu Guru membangunkanku. Aku tidak suka di UKS, aku tidak suka bau obat yang seperti di rumah sakit. Karena dulu ibu sering membawaku ke sana dan aku akan melihat hal-hal yang menyedihkan.

Riing.. riing.. riing. Bel pulang sekolah membangunkanku. Sebenarnya aku malas pulang, tapi di sekolah pun aku merasa kurang nyaman, melihat anak-anak lain akan berlarian ke luar dengan tawa yang menjengkelkan. Aku kembali ke kelas untuk mengambil tasku, ternyata Bu Guru masih di sana.
“Hijrah, kamu tidak ke UKS, ya?” Tanya ibu guru lembut. Aku diam.
“Kenapa, Hijrah? Kamu ada yang jemput?” lanjutnya. Aku menggeleng.
“Mau Ibu antar pulang?” Aku membelalak lalu menggeleng.
“Tidak, Bu, tidak usah. Aku pulang dulu, Bu,” jawabku sambil berlalu.
Untuk pulang, aku menggunakan becak. Aku masuk ke rumah dan mencari pembantu yang biasanya datang dari pagi hingga sore.

“Bibi! Bibi!” Panggilku.
“BERISIK!!” Tiba-tiba suara paman mengagetkanku, ia berada di belakangku.
“Mana Bibi?” tanyaku perlahan.
“Sudah MATI mungkin! Jangan Berisik! Awas kalau berisik!” Teriaknya dan berlalu kembali ke kamarnya meninggalkanku dalam kondisi kesal. Baru aku tahu, Bibi sedang pulang kampung.

Hari-hari berikutnya sama berlalu sama seperti itu, sepulang sekolah, pamanku akan marah-marah padaku sampai memukulku yang sedang bermain jika aku terlampau berisik menurutnya. Malamnya, orangtuaku yang akan marah-marah entah karena aku, atau karena mereka sedang bertengkar, lalu pamanku akan berteriak-teriak lagi. Tidak jarang, ia mencekikku tetapi Bibi akan datang. Syukurlah Bibi hanya pulang sehari waktu itu. Akhirnya, di sekolah, aku akan selalu mem-bully beberapa orang teman sebagai pelampiasan. Aku benci dan geram.

Masa SMA, aku bertemu hal berbeda.
Bulan September 2008, aku akhirnya diterima di sebuah SMA yang terkenal dengan hedonismenya. Ya, tidak heran sebab orangtuaku kaya. Masuk ke sekolah ini, dengan wajah yang bisa dibilang cantik, aku menarik perhatian beberapa kakak kelas, juga teman seangkatan. Aku memutuskan masuk ekskul tari dan bergabung bersama teman-teman yang suka hura-hura. Bisa dibilang, inilah zona nyamanku. Zona nyaman untuk seorang bully sepertiku dan tidak perlu berpura-pura. Hari-hari aku isi dengan have fun. Gonta-ganti pacar hanya untuk mendapatkan tukang antar.

Saat kelas 5 SD, paman yang aku ceritakan telah meninggal sehingga rutinitas rumah kembali. Dan sejak SMP, aku sudah mulai terbiasa membangkang kepada kedua orangtuaku. Saat masuk SMA, orangtuaku memasukkanku ke tempat les dengan harapan nilaiku yang anjlok bisa berubah tapi sayangnya aku tidak pernah menghadiri kelasnya. Biar saja, pikirku. Toh mereka juga tidak tahu. Daripada ke tempat les, aku lebih memilih ke mall hanya untuk nongkrong bersama teman-teman atau pacarku hingga malam. Saat pulang ke rumah, ternyata ibu masih menungguku dengan wajah masam.

“Dari mana?!” Suaranya meninggi.
“Dari tempat les!” Aku menyangkal dengan nada yang tidak kalah tinggi.
“Tempat les mana? Saya barusan dari sana sama Tantemu! FO-nya bilang kau tidak pernah masuk!”
“FO-nya tidak tahu saya yang mana!”
“Saya lihat absenmu! Hanya satu yang namanya sama dengan namamu!”
“Nda tahu deh! Saya Cape!” aku menutup jawaban itu dan langsung berlari ke kamar di lantai 2, sedang ibu masih saja berteriak-teriak marah di lantai bawah.

Aku melempar tasku, membuang diri di atas tempat tidur. Tatapanku gamang, pikiranku melayang. Aku sudah lupa, kapan terakhir kali aku memanggil wanita itu ‘ibu’. Atau kapan aku tertawa bersamanya. Yang aku tahu, aku lelah dan hanya ingin membenamkan diriku dalam hura-hura. Tapi, bagaimanapun, aku tidak memakai nark*ba atau free s*x. Setidaknya untuk diriku, aku masih tahu batas. Walaupun, hal seperti itu tidaklah terlalu asing bagiku.

Tahun kedua aku di SMA, rasanya dunia ini memang hanya berputar-putar di tempat dan kondisi yang sama. Bagiku, dunia hanyalah pilihan, “Jika kau tidak ingin terbunuh oleh rasa sakit, hura-hura adalah jalan menemukan kesenangan,” Walaupun aku tahu bahwa agamaku adalah Islam, aku sama sekali tidak menyentuh pemahaman tentangnya. Dunia ini sempit dalam pandanganku sehingga menyempitkan pula pola pikirku.

Suatu waktu, aku melihat mereka, entahlah antara senior, junior atau seangkatan denganku. Mereka berbeda, aku jarang melihat gadis dengan jilbab yang menjulur panjang menutupi dada ke bawah. Wajar aku jarang melihat mereka, sekolah ini cukup besar dan bagian yang sering aku lalui hanyalah kelas dan kantin bersama teman segeng-ku. Tapi, aku tidak begitu peduli. Mereka saling bercakap-cakap dan tersenyum. Jujur saja, ada nuansa berbeda yang mereka pancarkan yang seakan menunjukkan ada dunia berbeda di luar sana. Tapi, seperti yang ku bilang, aku sudah menemukan zona nyamanku.

Tahun berikutnya hingga menjelang kelulusanku, aku tetap berada di lingkungan yang sama. Menari (dance), hura-hura, gonta-ganti pacar mencari cinta, hanya bertengkar dengan orangtuaku saja yang sudah agak jarang karena aku akan memilih pulang larut. Tapi, masa-masa terakhir ini, kehadiran ‘mereka’ yang aku ceritakan sebelumnya, juga telah mengambil bagian dari perhatianku walaupun bukan perhatian yang besar. Setidaknya, aku tahu bahwa mereka adalah anak-anak yang tergabung di rohis. Aku juga baru tahu, bahwa rohis itu adalah ekskul yang bergerak dalam bidang keagamaan. Tapi, duniaku dan mereka berbeda sehingga aku merasa malas untuk berinteraksi dengan mereka.
Menjelang hari kelulusan, sebuah insiden membuka mataku tentang arti sebuah pertemanan.

Sebuah Insiden.
Hari itu, aku pergi ke mall bersama dengan teman segeng-ku seperti biasanya. Kami bercengkerama dan bersenang-senang, berbelanja, dan ke karaoke sampai larut seperti biasanya. Lalu, aku pulang. Tiba di rumah, aku langsung ke kamar dan membongkar isi tasku untuk ku masukkan ke tas lain yang akan ku gunakan besok. Dompetku hilang. Aku mencari-carinya, tapi tak dapat ku temukan. Aku tidak perlu membayar saat pulang karena teman-temanku yang mengantarku pulang. Aku kelimpungan. Ini masih awal-awal bulan, sedangkan ibuku hanya mentransferkan uang di tanggal 1 tiap bulan. Oh tunggu, bukankah aku hanya mengambil seperempat saja dari rekeningku? Mudah-mudahan besok aku ke Bank, uang di rekeningku masih aman.

Esoknya aku tidak ke sekolah, aku pergi ke Bank untuk melaporkan ATM-ku yang kecurian. Tapi, ternyata uang dalam rekening itu sudah diambil semua dan hanya menyisakan nominal minimum untuk Bank. Kakiku lemas. Bagaimana aku akan hidup sebulan ini? Oh, tunggu, mungkin aku bisa pinjam dulu dengan Veni, Rita, atau Dean. Pikirku. Aku menelepon mereka di jam pulang sekolah meminta mereka berbaik hati meminjamiku uang setelah ku ceritakan kejadian itu. Mereka bersedia. Syukurlah, aku bernapas lega. Esok harinya, aku ke sekolah dan berkumpul kembali bersama gengku seperti biasa. Kali ini mereka membayarkanku makan dan meminjamiku uang untuk pulang dan pergi sekolah. Kami akan bersenang-senang sepulang sekolah masih seperti biasa. Tapi, hari itu ada yang berbeda dari percakapan kami.

“Eh, jre (panggilan mereka untukku), mau kerja sambilan gak? kan kamu baru aja kehilangan nih.. kerjaannya mudah banget tapi kamu bisa dapet uang nominalnya gede!” Tanya Veni.
“Eh? Masa sih? Kerjaan apaan?”
“Gampang banget kok.. cuman nemenin om-om aja jadi pacar bayaran gitu!” Rita dan Dean juga tampak antusias tapi perasaanku tidak enak.
“Ehm, gimana ya? Nggak usah deh. Toh bulan depan juga Ibuku bakal transfer juga jadi aku udah bisa bayar utang ke kalian kok,” jawabku.
“Yaelah, nggak usah sok naif, Jre,” Mimik ketiga teman gengku itu berubah.
“Bukannya sok naif, tapi aku nggak mau ikut-ikutan gituan. Ehm, aku ke toilet dulu yah,” Aku mencoba melarikan diri dari pembicaraan itu. Apa-apaan sih mereka?
Saat kembali, mereka juga sudah kembali seperti biasa dan tidak lagi menyinggung masalah itu. Sudah pukul 20.00 WITA, kami ke tempat karaoke seperti biasa. Tiba-tiba,

“Eh, gimana nih?!” Veni tampak mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
“Kenapa, Ven?” Tanya kami bertiga serempak.
“Dompetku hilang!” kata Veni dengan nada yang tinggi.
“Kok bisa? Kamu tadi ke mana?”
“Nggak ke mana-mana, kita sama-sama terus kok,” jawab Veni.
“Ah, nggak tuh! Tadi waktu nge-pas baju, kamu jalannya sama Hijre!” ucap Rita.
Serempak mereka bertiga melihat ke arahku dan memintaku membuka tas. Aku kebingungan. Maksudnya apa? Tapi, ternyata keberadaan dompet Veni di tasku menjawab kebingunganku.

“Aku nggak ngambil kok!” sangkalku karena memang aku tak mengambilnya.
“Jangan karena dompet kamu hilang, dompetku kamu ambil juga, Jre!” kata Veni ketus.
“Iya, udah gitu mandang kita rendah lagi!” Rita menimpali.
“Emang kurang baik apa sih kita Jre? Kita udah minjemin uang lagi!” Dean juga menambah perihnya kata-kata mereka.
“Kamu tahu nggak isinya dompetku berapa?!”
“Untung aku sadar sekarang!”

Berada dalam kondisi seperti itu, aku tidak sadar berlari. Apa yang terjadi denganku? Aku pulang dalam keadaan berantakan, air mata terus saja mengalir di pipiku. Saat membuka rumah, ternyata ibu dan ayahku berada di depan pintu. Mereka menatapku geram.

“Pakaian macam apa itu?! Mau jadi P*K kamu?” Ayahku pertama kali mengeluarkan suara.
“Itu karena kamu! Tidak pernah ngajarin dia jadinya begitu!” Ayahku menimpali kepada ibuku.
“Saya? Eh, Kamu tuh yang nggak ngajar apa-apa!” Ibuku geram. Aku terduduk.
“DIAMM!!!” teriakku menggema di seluruh rumah.
“Berani kamu teriak?!” Ayah menamparku. Aku hanya bisa berlari ke kamarku.

Bersambung

Cerpen Karangan: Cerita Za
Blog: proudtobeamoslem-zahra.blogspot.com
Nama Pena: Cerita Za
Cerita ini hanyalah fiksi, untuk dipetik ibrahnya dan dijadikan ilustrasi.

Cerpen Hijrah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Harapan

Oleh:
Kepergian memang menyakitkan tapi terkadang harus dilakukan untuk membiarkan kebahagiaan datang. Aku, seorang gadis berjilbab, seorang gadis sederhana yang menginginkan cinta dan kasih sayang yang sederhana pula. Aku berasal

Trio Kocak

Oleh:
“Imam! Imam! Imam!” seru seorang anak yang tengah memanggil temannya sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Imam. “Eh, kamu Men! Ada apaan?” sahut Imam setelah membuka pintu rumahnya yang sedari tadi

Burung Dari Kertas Origami

Oleh:
“Happy Britdhay Lissa..” Nyanyian Saudara dan keluargaku, memenuhi rumah ku dan sekitarnya. Hari ini adalah ulang tahun kesepuluh, Lissa. Lissa adalah namaku, lengkapnya, Lissa Margareth Carramely. “Lissa, selamat ulang

Kertas Dalam Buku

Oleh:
Seperti biasa, dia di sana. Berdiri di depan sebuah rak buku yang tinggi berisikan buku-buku yang begitu membosankan bagi sebagian besar orang. Matematika, Fisika, Kimia. Meskipun rak itu tinggi,

I Hope You’re Happy (Part 1)

Oleh:
‘Willing to do all this just for you’. Ya, mungkin itu ungkapan hati ku untuk saat ini. mengapa aku bilang seperti itu? karena aku berharap pengorbananku untukmu tidak sia-sia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *