Hijrah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 3 October 2017

Rintik-rintik hujan begitu deras menghantam atap rumah yang sudah sangat reot itu. Hampir lima belas tahun aku merasakan kepahitan hidup dibawah garis kemiskinan. Semua berawal ketika aku masih berusia dua tahun Abi meninggalkan kami untuk selamanya. Sejak saat itu aku tinggal bersama Ummi yang hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tak memiliki keahlian apa-apa. Meski demikian sejak kepergian Abi, Ummi tetap berusaha sekuat tenaga menghidupi anak semata wayangnya dengan gigih tanpa mengenal lelah. Aku sudah mulai dewasa dan usiaku sudah beranjak tujuh belas tahun. Sulit rasanya aku menerima kenyataan yang kualami karena kehidupanku sangat berbeda jauh dengan teman-teman seusiaku lainnya.

“Bruukkk…” aku menendang pintu rumah selepas pulang sekolah. “Astagfirullah.. kenapa kamu nak, masuk ke rumah ucapkan salam dulu” ujar Ummi. Aku tak berkata apa-apa dan langsung masuk ke kamar.
Dengan sedikit bingung Ummi menghampiriku ke kamar. “Nak, ada masalah lagi di sekolah? atau ada yang salah lagi dengan Ummi?” tanya Ummi dengan lembut. “Mi.. kenapa kita harus hidup seperti ini? Miskin, kumuh, tidak punya apa-apa. Aku malu Mi dengan teman-temanku, aku malu dengan keadaan kita sekarang” ujarku dengan perasaan kecewa.
Ummi hanya tersenyum. “Nak, sholat dulu sana ya, setelah itu baru kita makan”. Ummi mencoba membujukku sembari mengalihkan pembicaraan. Aku sangat kesal dengan ucapan Ummi, setiap kali aku mengeluh Ummi selalu saja mengalihkan hal yang sedang kami bicarakan.
“Sholat..? Untuk apa Mi, Apa selama ini sholatku tak cukup? Apa Allah pernah mendengar doa-doaku? Kalau Ummi mau makan, makan saja sana. Aku tak lapar”.
Mendengar ucapanku Ummi hanya terdiam dan langsung bergegas meninggalkanku dengan langkah penuh kecewa.

Hampir setiap hari aku tak pernah lagi menjalankan kewajibanku di dunia ini. Aku tak pernah lagi sholat, tak pernah mendengarkan nasehat Ummi, bahkan aku sering keluyuran dan mabuk-mabukan. Aku berfikir bahwa Allah tak adil padaku. Allah mengambil Abi dari kami saat usiaku masih balita. Kemudian aku ditakdirkan hidup pada kondisi dan keluarga yang sangat miskin.
Meskipun demikian, aku tetap berhasil lulus SMA berkat jerih payah Ummi mengumpulkan tabungan dari hasil buruh cuci kesana kemari.

Suatu ketika aku pernah mengambil tabungan Ummi dari bawah tempat tidur.
“Nak.. Ummi ada uang di bawah tempat tidur dan semalam tidak ada lagi di sana” ujar Ummi. “Ummi menuduhku yang mengambilnya?” jawabku membentak.
Ummi sebenarnya tahu aku yang mengambilnya, tetapi Ummi sekalipun tak pernah marah atau berkata kasar padaku. Lagi-lagi Ummi mengalihkan pembicaraan agar emosiku tidak semakin menjadi-jadi. “Anak Ummi sekarang sudah besar ya, sudah dewasa. Wajahmu persis seperti Abi mu nak” ucap Ummi diiringi tetesan air mata.

Aku menyeruput kopi yang ada di atas meja. Sambil menghisap sebatang rok*k aku memalingkan wajah dari Ummi yang terus berbicara padaku. Ummi segera mengusap air mata yang masih membasahi pipi Ummi sembari menghampiri dan duduk tepat di depanku.
“Nak, Ummi sudah tua dan mulai tak sanggup untuk bekerja lagi. Ummi tak punya apa-apa lagi, Ummi hanya memiliki kamu nak sebagai harta Ummi yang paling berhaga di dunia ini. Ummi sangat besyukur akan hal itu”. Tandas Ummi dengan suara lirih. Aku tak tahu apa maksud ucapan Ummi. “Maksud Ummi apa? Jadi maunya Ummi aku harus bagaimana?” tanyaku dengan sedikit bingung.
“Hijrah nak.., hijrah lah dari sifatmu yang sekarang ini. Kembali lah pada kebenaran” pungkas Ummi.
“Hallahhh.. lagi-lagi ceramah. Kalau mau ceramah di majelis taklim saja Mi biar dapat uang, bukan di sini. Lama-lama muak aku tinggal di rumah ini”. Emosiku semakin memuncak.
Mendengar ucapanku Ummi langsung berlalu tanpa berucap sepatah kata lagi. Aku mendengar tangisan dari dalam kamar berdindingkan kayu yang penuh rongga yang sudah melepuh. Ummi menangis tersedu-sedu mendengar ucapanku. Aku tak peduli akan hal itu. Aku bahkan berencana pergi secara diam-diam meninggalkan Ummi sendirian di rumah.

Suatu malam yang sangat dingin aku terbangun dari tidur dan teringat rencana kepergianku. Aku melihat Ummi tertidur pulas dengan selimut tipis dan mukenah masih melekat di tubuhnya. Mungkin Ummi kelelahan sehingga sehabis sholat isya langsung tertidur. Aku segara bergegas meninggalkan rumah dan langsung mencari angkutan ke kota. Tepat di persimpangan jalan perkampungan kebetulan masih ada bus yang masih mau menaikkanku menuju kota. Di dalam bus itu sedikit pun tak ada rasa penyesalan dalam diriku meninggalkan Ummi sendirian di usianya yang sudah menua.

Sesampainya di kota aku berusaha bekerja apapun yang aku bisa kukerjakan. Mulai dari kernet, buruh bangunan, dan bekerja di bengkel sepeda motor sudah aku lakukan. Kerasnya kehidupan di kota tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku yang terbiasa hidup bermalas-malasan dan mabuk-mabukan kini harus berusaha banting tulang demi sesuap nasi mengisi perut yang semakin kurus. Lambat laun aku mulai tahu makna dari kehidupan ini. Aku mulai rajin menabung dan bisa mengumpulkan modal untuk membuka bengkel sepeda motor sendiri. Meskipun hanya kecil-kecilan setidaknya aku sudah mampu hidup mandiri.

Setelah hampir lima tahun berjalan usaha bengkelku semakin berkembang pesat. Aku sudah memiliki segalanya. Mobil, rumah, dan beberapa bidang tanah sudah mampu aku miliki. Tetapi entah mengapa selalu masih ada yang kurang dalam diriku. Di umurku yang sudah menginjak 27 tahun sudah sepantasnya aku menikah. Tetapi lagi-lagi fikiranku tidak karuan, aku jadi teringat Ummi. Sudah sepuluh tahun aku meninggalkan Ummi tanpa pernah sekalipun mencari tahu kabarnya. Bagaimana aku akan mencintai wanita pendamping hidupku nantinya, jika cinta untuk wanita yang mengandung dan melahirkanku saja sudah aku hancurkan berkeping-keping. Sungguh aku mulai sangat merindukan Ummi.

Aku kemudian mulai melaksanakan sholat yang sudah sangat lama aku tinggalkan. Sangat gemetar tubuh ini saat dibasahi air wudhu kembali. Aku juga mulai aktif mengikuti majelis-majelis taklim di sekitaran tempat tinggalku. Sampai pada akhirnya aku mendengar sebuah kata-kata singkat yang disampaikan penceramah.
“Orang yang paling bertaqwa adalah orang yang setelah dia mentauihidkan Allah, dia berbuat ikhsan kepada orang tua. Orang tua tak kan pernah bosan mendoakan anaknya. Bahagiakanlah hati mereka, Karena ridho Allah adalah ridhonya orangtuamu. Karena doanya mampu menembus 7 lapis langit. Besyukurlah kalian yang masih memiliki orangtua termasuk Ibu. Bahagiakanlah mereka selagi mereka masih ada di dunia ini. Karena ibu dan ayahmu semakin hari akan semakin lemah, bukan semakin kuat. Maka berikanlah fungsimu bagi mereka di dunia ini dan di akhirat kelak”.
Sungguh kata-kata itu menamparku sangat keras. Tak terasa air mata bercucuran sangat deras dan lidahku sudah sangat keluh tak bisa berkata apa-apa lagi. Hati ini bergetar sembari berucap “Ummi maafkan aku, ampuni dosaku”.

Keesokan harinya aku pulang ke rumah yang sudah semakin reot dan yang pernah kutinggali dulu bersama Ummi. Aku tak tahu bagaimana kondisi Ummi sekarang, yang aku tahu Ummi bertahan hidup hanya mengandalkan belas kasihan para tetangga saja. Sesampainya di depan rumah, aku parkirkan mobilku tepat di depan pintu. Aku melihat rumah itu sudah tak layak huni lagi.
“Rreekk..” aku membuka pintu yang semakin keropos. “Assalamualaikum” aku hanya bisa terpaku menatap sosok wanita tua yang sudah sangat lemah berbaring di ruangan yang sempit itu. “Wa’alaikumsalam” sahut Ummi sambil bangkit dari tidurnya dan menatap kearahku.
“Ya Allah.. aku tak sanggup melihat ini. Ummi semakin kurus dan tak terurus. Ampuni aku ya Allah.. ampuni aku”. Aku langsung bersimpuh dan bersujud di kaki Ummi. “Ampuni aku Ummi, ampuni semua dosaku..”.
Ummi langsung memegang wajahku “ini benaran kamu nak?” imbuh Ummi meyakinkan. “iya Ummi, ini aku anak Ummi” jawabku kembali. Ummi kemudian menangis sambil berkata “Terimakasih Ya Allah, terimakasih telah mengembalikan anakku. Ummi sudah memafkanmu nak”.

Seketika rumah kumuh itu menjadi haru biru. “Hijrah” suatu harapan Ummi untuk anaknya yang kini menjadi kenyataan. Aku telah berhijrah dari sifat-sifat burukku selama ini, serta mencoba menjadi hamba yang taat atas Rabb semesta alam dan menjadi anak yang berbakti bagi Ummi. Sekeping cinta yang tersisa dari kesempurnaan cinta yang pernah aku hancurkan dalam diriku, akan kepersembahkan untuk Ummi. Aku mencintai Ummi. Semoga nanti aku, Abi dan Ummi dipertemukan lagi di surga-Nya kelak. Amin.

Cerpen Karangan: Abdullah Rosidin Siregar
Blog: sipiroknarobi.blogspot.co.id

Cerpen Hijrah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Kecil (Part 2)

Oleh:
Ia melihat polisi keluar masuk dari dalam rumah Reyhan. Ada seseorang keluar dari rumah Reyhan dengan tangan diborgol dan didampingi polisi di sampingnya. Tirsya terkejut melihat sosok kedua yang

Jilbabku Kehormatanku (Part 2)

Oleh:
Lebaran idul fitri pun tiba dan biasanya libur lebaran selama seminggu, aku tidak pergi kemanapun karena saudara-saudaraku pulang kampung, dan rumahku dijadiakan bese camp (penginapan), aku sengaja untuk tidak

Cinta Palsu

Oleh:
Adzan isya telah berkumandang, menandakan waktu sholat isya bagi umat muslim telah tiba. Tapi tidak untuk beberapa umat muslim yang tidak menghiraukan panggilan sholat tersebut, seperti 2 cewek manis

Dulu Aku Berbeda

Oleh:
Terkadang aku harus menangis meninggalkan apa yang harus kutinggal. Namun aku tak menyalahkan siapapun, apalagi tuhan. Suatu kehormatan bagiku untuk mengatasi hidup sendiri di rantau orang. Ahh tak asik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hijrah”

  1. Rizki Ramdani says:

    Izin mau buat film pakai cerpen ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *