I Love Grandfather

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 22 March 2014

Suara itu nampaknya mengejutkan kakek Rusman yang baru saja menunaikan shalat Ashar. Di rumahnya yang sederhana dan tinggal sendirian itu kakek Rusman menjalani hidupnya sebagai orang sesepuh di desa itu. Beliau terkenal sangat jujur, baik, penolong dan taat beribadah.

“Bapak…” sambut seorang perempuan ketika kakek Rusman membuka pintunya. Perempuan itu pun langsung mengambil tangan Kakek Rusman dan menciumnya dengan penuh hormat dan kerinduan yang mendalam.
“Ma’afkan Maya pak, karena tidak menuruti perkataan bapak dan lebih memilih lelaki berengsek itu. Setelah saya melahirkan Raya, dia pergi bersama perempuan lain” jelas perempuan itu menangis.

Kakek Rusman menmbelai rambut Maya dengan penuh kasih sayang. Walaupun dia tidak bisa mengungkapkan, tapi dalam hatinya dia sudah memaafkan Maya sebelum dia meminta maaf. Lalu Maya pun mengutarakan maksud kedatangannya.
“Maya di PHK pak, dan sekarang Maya masih mau mencari pekerjaan lain di Jakarta. Selama Maya mencari pekerjaan, Maya mau menitipkan Raya, bapak tidak keberatan kan?” kata Maya dengan yakin kalau permintaannya akan diiyakan.
Kakek Rusman menganggukkan kepalanya dengan semangat. Kakek Rusman membelai rambut Raya, tapi ia malah menjauh dari kakek Rusman dengan wajah cemberut dan tidak suka pada kakek Rusman. Ya Allah… keluh kakek Rusman sambil menunjukkan senyumnya pada anak itu.
“Sayang… Raya nggak boleh seperti itu, dia kakek Raya ayah mama”. Maya menasehatinya. “Dia bisu ya Ma?” Tanya Raya sambil mengamati kakek Rusman.
“Raya… bagaimanapun dia kakek kamu sayang. Dan Raya akan tinggal sama kakek selama mama cari kerja”
“Aduh Ma… disini itu gak enak, udah gak ada Tv nya, gak ada kolam renangnya dan gak ada ACnya. Udah gitu orangnya norak-norak lagi. Raya gak suka disini Ma”
“Raya… kamu gak boleh bicara seperti itu.”
“Tapi mama gak lama kan?”
“Kamu berdoa saja semoga mama cepat dapat kerjaan di Jakarta. Mama janji kalau mama sudah dapat kerjaan, mama akan langsung jemput Raya”
“Mama janji ya?”
“Iya…”

Lambaian tangan mengakhiri pertemuan mereka. Raya dan kakek Rusman pun masuk. Nampaknya Raya sangat lapar, ia menghabiskan makanan yang dibawa mamanya dari Jakarta. “Ngapain kakek lihat-lihat, kakek mau ya. Beli aja sendiri?” kata Raya saat melihat kakek Rusman mengamatinya di balik pintu.
Dengan bahasa isyaratnya kakek Rusman menyangkal tuduhan itu. Dengan hati sedih kakek pun pergi.

Matahari sudah terbit dari ufuk timur, walaupun ia masih malu-malu untuk menampakkan seluruhnya untuk menyinari bumi. Kakek beserta Raya meninggalkan rumah itu untuk pergi ke pasar.
“pasar… pasar…” kata seorang sopir angkot setibanya di pasar. Kakek Rusman merapikan beberapa singkong jualannya yang menjadi pekerjaannya setiap hari. Berbeda dengan Raya yang berjalan-jalan meninggalkan kakek Rusman. ia mengamati orang-orang yang berada disana dengan senyum melecehkan.
“Kakek… udah laku singkongnya?” Tanya Raya antusias. Kakek tersenyum dan memperlihatkan uang yang diperoleh dari hasil jualan singkong. Kakek pun membawa cucunya itu ke sebuah warung dekat pasar dan memesan bakso dengan bahasa isyaratnya. Untung saja pedagang itu sudah kenal dengan kakek, jadi tidak sulit memahami apa yang di maksud oleh kakek.

“Makan disini habis lima belas ribu, masih sisa sepuluh ribu. Cukuplah untuk naik angkot pulang”. Batin kakek Rusman. Raya menjerit kepanasan saat ia memakan bakso yang masih panas. Kemudian kakek meniupnya dan menyuapkannya ke mulut Raya. Saat hendak menyuapkan, Raya langsung mengambil sendoknya dengan kasar. “kakek gak usah nyuapin aku, aku bisa sendiri kok”. Dengus Raya

Beberapa menit kemudian, bakso itu sudah dihabiskan. Raya dengan semangatnya menaiki sebuah angkot untuk pulang. Ia menelan ludahnya saat melihat anak seusianya memakan sebuah wafer coklat. “kek, Raya mau wafer kayak itu, cepat belikan!” perintah Raya membentak

Kakek membawa bungkus wafer itu, dan menyuruh Raya menunggunya. “Mau beli apa kek?” kata seorang pedagang saat kakek berdiri di depan dagangannya. Beliau pun menunjukkan bungkusan wafer yang dibawanya. Dan pedagang itu pun langsung mengerti dan mengambilkannya.

Setelah mendapat kembalian seribu rupiah dari pedagang itu, kakek pun pergi. Seribu rupiah… bagaimana untuk ongkos pulang. Biarlah, asalkan cucuku bisa mendapatkan makanan ini, untuk pulang aku jalan kaki saja.

Kakek menepuk punggung Raya dan memperlihatkan wafer yang baru dibelinya itu. “Ya udah, ayo kek!” namun kakek menyuruhnya untuk keluar.
“Terus, kita pulang naik apa?” katanya dengan wajah kusut. Kakek Rusman duduk dan menyuruh Raya untuk naik ke badannya. Jarak pasar dan rumahnya yang cukup jauh membuat kaki kakek luka dan sandal yang dipakainya copot. Dengan sangat lelah, letih dan sakit karena kakinya yang luka, beliau tetap menyusuri jalan pulang dengan menggendong Raya yang tak henti-hentinya memakan wafer itu sampai habis.

Alhamdulillah… akhirnya kakek sampai juga ke rumahnya, sedangkan Raya pun tertidur nyenyak. Dengan penuh hati-hati, kakek meletakkan Raya di tempat tidurnya.
“kakek… kakek…” panggil Raya ketika ia baru bangun dari tidurnya. Dengan perasaan cemas dan khawatir, kakek menghampiri Raya takut terjadi sesuatu. “kek, Raya mau makan Chiken. Tau gak? Norak banget sih kakek. Masa’ kek chiken aja gak tau. Itu loh ayam crispy yang dibawa mama kemarin pokoknya besok pagi harus ada, kalau gak Raya gak akan makan.” Ancam Raya.

Mungkin yang dimaksud Raya ayam goreng kering. Kakek pun berlalu dan mengambil tabungan yang ia sisihkan dari uang belanjanya selama ini, tanpa ragu kakek pun langsung memecahkannya dan pergi ke pasar untuk membeli ayam.
“Kalau yang ini lima puluh ribu kek” kata seorang pedagang ayam begitu ia mengerti kalau kakek Rusman menanyakan harga ayam yang dibawanya. “lima puluh ribu?” pikirnya. Biarlah asalkan Raya mau makan.

Nampaknya cuaca saat itu tak bersahabat. Hujan pun turun membasahi tubuh kakek. Sementara Raya mengomel tak jelas karena ayam pesanannya tak kunjung datang. Dengan berpelindung daun pisang, kakek pun melawan hujan yang menyerang dirinya demi cucunya tercinta.
“Loh, kakek kok bawa ayam sih, Raya kan mintanya ayam crispy?” Tanya Raya heran. Kakek Rusman berusaha menjelaskan pada cucunya itu kalau dia akan memasak sendiri ayam itu.
“Kakek ngomong apa sih? Raya gak ngerti”
Namun setelah kakek menjelaskan ulang, ia pun baru memahami maksud kakek Rusman bahwasannya kakek itu mau menyembelih ayam tersebut dan menggorengnya sebagaimana yang dipinta oleh Raya.

“Kakek lama banget sih, bikin Ayam Crispy aja sampe lama kaya gini” omel Raya bicara sendiri, karena makanan yang ia mau tak kunjung selesai.

Semoga saja makanan ini memang yang diinginkan cucuku. Kakek Rusman tak henti-hentinya berharap dengan membawa ayam goreng yang ia goreng sendiri untuk memenuhi keinginan cucunya itu. Dengan menyodorkan makanan itu ke depan Raya yang memang dari tadi menunggunya.
“Makanan apaan nih, kakek jangan sok tau” bentak Raya dengan menendangnya ke hadapan kakek Rusman. Blakkk,
Serasa petir menyambar kakek Rusman. ia sangat kecewa dan tidak menyangka kalau cucunya mempunyai sifat yang tidak terpuji seperti itu. Ia hanya bisa meratapi nasibnya.

Dengan kemarahan yang memuncak, Raya meninggalkan kakek Rusman. karena sudah malam, ia pun memjamkan matanya berharap esok harinya mamanya datang menjemput ia pulang ke Jakarta karena ia sudah sangat tidak betah dengan tempat yang sekarang ia tempati itu.

Saat Raya membuka matanya, ternyata ia masih tetap berada di tempat yang menurutnya sangat tidak pantas ia tempati. Diraihnya boneka Barbie kesayangannya, begitu diputar ternyata boneka itu tak beraksi sama sekali.
“Hemz… ternyata bonekanya gak ada baterainya ya?” kata Raya berbicara pada bonekanya. “Ya udah, Raya beli baterai dulu ah” katanya sambil membawa boneka itu dengan girang.

“Kakek…” Teriak Raya berharap kakeknya segera datang. Akan tetapi, kakeknya belum muncul juga di hadapannya.
“Kakek mana sih… dipanggil dari tadi gak muncul-muncul. Budek ya!” ketus Raya memaki.
Karena kakek Rusman belum juga datang, akhirnya ia membawa sebuah sarung milik kakek Rusman ke sebuah pedagang yang terletak tak jauh dari rumah sang kakek.
Tapi pedagang itu malah menjewer Raya hingga sampai ke depan rumah kakek Rusman. saat itu juga kakek Rusman baru datang dari pasar. Dengan sangat heran ia melihat tetangganya itu menjewer Raya. Ia memandang dengan sedih.
“Maaf kek, bukan maksud saya untuk menjewer Raya. Tapi cucu kakek sudah sangat keterlaluan. Dia membawa sarung ini untuk menukarnya dengan sebuah baterai. Dan saya tahu, kalau sarung ini sarung kesayangan kakek dan selalu dipakai untuk shalat jumat.” Jelas pedagang itu dengan sopan.
Kakek Rusman sangat sedih mendengar penjelasan dari pedagang itu, ia masih tidak percaya kalau cucunya akan senekat itu. Setelah pedagang itu pulang, kakek Rusman memperlihatkan sesuatu yang sedang ia bawa.

Dengan wajah cemberut, Raya membuka bungkusan itu, wajahnya berubah menjadi sangat cerah setelah mengetahui kalau yang ada di tangannya itu adalah makanan yang memang diinginkannya yaitu ayam crispy. Dengan lahapnya, Raya memakan ayam crispy itu sampai habis. “Alhamdulillah… ayam itu yang disukai Raya.” Batin sang kakek.

Setelah makanan itu habis, ia terburu-buru ke pergi ke kamar mandi karena ingin pipis. Keluarnya dari kamar mandi, ia menemukan bajunya berada di tempat cucian dengan penuh kontoran di baju itu.
Lagi-lagi Raya memaki kakek Rusman karena bajunya terkena kotoran. Dengan bahasa isyarat yang memang biasa dilakukan kakek Rusman, ia mencoba meminta maaf pada Raya atas kesalahan yang tidak sengaja ia perbuat.
“Percuma aja minta maaf, baju ini udah gak bisa dipake lagi. Kakek tau, baju ini dibelikan mama di paris.” Bentak Raya dengan melempar baju itu ke wajah kakek Rusman. Sang kakek hanya memegang dadanya dengan perasaan sedih karena sifat cucunya sangat buruk.

Di tengah teriknya matahari, kakek Rusman melangkahkan kakinya menuju pasar tempat dimana ia menjual singkong. Satu persatu toko ia hampiri dengan membawa baju milik Raya yang terkena kontoran. Perasaan kakek Rusman sedikit lega saat seorang pedagang baju itu mengatakan kalau di tokonya ada baju yang sama dengan baju yang dibawa kakek. Namun, kecewa yang selalu di dapat, karena baju yang ditunjukkan oleh pedagang itu hanya sama warnanya saja dengan baju milik Raya.

Hampir semua toko ia datangi akan tetapi tidak satu pun baju yang sama persisi dengan baju Raya. Akhirnya kakek Rusman pun membeli baju yang sama warna itu.

Sang kakek mengetuk pintu rumahnya dengan hati berdebar, dan dengan harapan Raya akan menyukai baju yang baru saja ia beli itu.
“Ada apa lagi sih kek?” Tanya Raya dengan wajah cenberutnya.
Kakek Rusman lalu menunjukkan baju itu pada Raya. Ia mengambilnya dengan keras dan lagi-lagi ia melemparkannya pada wajah kakek Rusman.
“Kakek budek ya? Dari modelnya aja ini udah beda sama baju Raya, seribu baju kayak gini pun gak akan bisa membeli baju kayak punya Raya yang kakek rusakin. Paling-paling ini Cuma beli di pasar murahan itu, sedangkan baju Raya mama belinya di paris. Kakek ngerti gak sih?” bentak Raya.
Kakek terdiam, karena percuma saja cucunya masih kecil dan walau bagaimanapun ia tetap menyayangi Raya. Namun, kesabaran yang dimiliki kakek Rusman tidak bisa mengubah sifat tercela Raya.

Dengan keras, Raya menutup pintunya dan membiarkan kakek Rusman berada di luar. Hingga akhirnya hujan pun turun menyirami bumi yang gersang. Muadzin sudah mengumandangkan adzan shalat maghrib namun, hujan tetap tak kunjung reda, Raya pun belum juga membukakan pintu untuk kakek Rusman. Nampaknya cucuku sangat marah padaku. Ia sangat kecewa karena aku sudah merusak baju kesayangannya. Batin kakek.

Kakek mengambil air hujan dengan kedua tangannya lalu meletakkan ke mulutnya. Alhamdulillah… cukuplah untuk sekedar membatalkan puasa. Pikir kakek. Sungguh beliau patut mnjadi tauladan bagi semua orang, walaupun beliau hanya cukup
meminum air hujan sebagai menu buka puasanya kali ini, tapi beliau tetap sabar, sabar dan sabar menghadapi sifat cucunya yang sangat tercela itu.

Kakek Rusman gelisah menunggu hujan yang tak kunjung reda. Hingga akhirnya, kakek terlelah dan tertidur di luar rumahnya dengan tanpa bantal dan selimut.

Seorang muadzin sudah mengumandangkan adzan subuh. Kakek Rusman memenuhi panggilan Allah ke masjid. Setelah itu ia pulang. Dan tidak mendapati Raya di rumahnya. Kekhawatiran kakek bertambah saat ia tidak melihat sehelai baju pun di dalam lemari Raya. Kakek mencari, namun tidak juga ditemukan.

Raya masih tetap dengan tekadnya untuk pulang ke Jakarta ke rumah mamanya. Anak perempuan itu menelusuri desa untuk mencari Taxi. Sampai pada akhirnya, ada tiga anak jail yang merampas mainan Raya.
Ia menjerit minta tolong. Berharap ada orang yang akan menolong mengambil kembali mainannya yang dirampas anak jail itu.
Lalu ada seorang anak laki-laki seumuran dengannya menolong dia dan mengambilkan mainan yang sudah dirampas oleh anak jail itu.
“Ini mainan kamu kan?” ujar anak yang menolong Raya dengan menyodorkan mainan itu pada Raya.
“Iya. Makasih ya. Karena kamu sudah menolongku.”
“Iya sama-sama. Oya, namaku Agas, kamu?” ia menyodorkan tangannya.
“Aku Raya.” Balasnya.
“Kamu cucunya kakek Rusman yang dari Jakarta itu kan?”
Raya hanya terdiam.
“Ya udah, mendingan sekarang kamu ikut aku ke rumah!” ajak Agas.
Ia hanya menurut.

Sesampai di rumahnya, Agas mencium tangan seorang wanita setengah baya. Dan kelihatannya Agas juga sangat sayang pada wanita tersebut. Raya yang melihat hal itu hanya bersikap acuh tak acuh.
“Siapa dia gas?” Tanya wanita itu.
“Dia teman Agas bu. Namanya Raya.” Jawab Agas melihat Raya.
“Dia ibu kamu gas?” Tanya Raya kemudian.
Agas hanya mengangguk kecil. Raya yang penasaran karena ibu Agas tak melihat ke arahnya akhirnya mendekati ibu Agas dan melambaikan tangannya di depan mata ibu Agas.
“Ibu kamu buta?” Tanya Raya tanpa dosa. Namun, Agas hanya terdiam.
“Iya. Ibu memang buta nak.” Jawab ibu Agas lirih.
“Oh. Sama donk kayak kakek aku.”
“Memangnya kamu cucunya siapa nak?” Tanya wanita itu penasaran.
“Dia cucunya kakek Rusman Bu.” Jawab Agas sebelum Raya menjawabnya.
“Wah. Kamu beruntung sekali nak bisa menjadi cucu kakek Rusman.”
“Apa untungnya Bu. Yang ada kakek selalu membuat aku kecewa dan marah.” Cetus Raya.
“Raya… kenapa kamu bilang seperti itu tentang kakek kamu sendiri.” Agas mulai sedikit kesal.
“Kakek Rusman bisu Cuma bisanya nyusahin orang.” Jelas Raya dengan wajah merenggut.
“Ya ampun nak. Raya kamu jangan bicara seperti itu. Kakek Rusman itu sangat baik dan jujur. Dan beliau juga rajin beribadah. Harusnya kamu bangga punya kakek seperti beliau.” Ibu Agas menasehati Raya yang meluapkan semua kemarahannya pada kakek Rusman.
Raya hanya terdiam. Lalu ia melanjutkan perkataannya. “Tapi aku gak suka punya kakek seperti dia. Aku pengen pulang aja ke Jakarta. aku mau tinggal sama mama aja. Disini aku gak bisa makan enak, beli mainan baru dan jalan-jalan ke tempat hiburan.”
“Raya cukup. Kakek Rusman sangat menyayangi kamu. Kamu tuh gak ada bersyukurnya ya. Melihat kelakuan kamu seperti ini, aku nyesel udah bantuin kamu tadi.” Agas menjawabnya dengan kesal.
“Sudah Agas. Kamu jangan marah pada Raya.” Ibunya menyela.
“Semua orang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Begitupun dengan Raya. Nak Raya juga mempunyai kekurangan dan kelebihan. Memang, kakek Rusman bisu, tapi dia sangat jujur dan disegani di desa ini karena beliau tidak pernah meninggalkan shalat dan selalu berpuasa sunnah.”
Raya hanya terdiam. Dan mencoba mengingat semua yang dilakukan kakek Rusman sewaktu Raya bersamanya.

Agas beserta ibunya bersiap-siap menuju masjid saat terdengar suara adzan. Ia memang tidak mengajak Raya untuk ikut bersamanya karena ia tau kalau Raya tidak akan mau pergi ke masjid.
“Agas, tunggu!” teriak Raya saat Agas melangkah meninggalkan rumahnya.
“Ada apa?” Tanya Agas menoleh.
“Aku gak apa-apa ikut?”
“Akhirnya Raya udah sadar dan mau pergi shalat. Alhamdulillah…” gumam Agas.
“Soalnya aku takut, sendirian disini.”
“Kirain ikut karena mau shalat juga. Ternyata hanya karena takut.” Ucapnya pelan. “Ya udah ayo!”

Semua jamaah melaksanakan shalat maghrib, sedangkan Raya memilih untuk duduk di serambi masjid dengan mengamati para jamaah yang sedang melaksanakan shalat maghrib. Selesai imam mengucapkan Minna waminkum taqobbal yaa kariim. Para jamaah pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan masjid.
Agas dan ibunya menghampiri Raya yang masih termenung dengan kesendiriannya.
“Raya kok gak shalat?” Tanya Bu santi dengan halus.
“Buat apa shalat bu. Raya kan masih kecil.” Jawabnya cuek.
Wanita tersebut tersenyum mendengar jawaban Raya. “Memang, tapi Tidak ada ruginya orang yang melaksanakan shalat. Karena shalat bisa membuat hati kita tenang. Dengan shalat kita juga bisa mendoakan orang-orang yang kita sayangi.”
Lagi-lagi nasehat Bu Santi membuat Raya termenung. Entah ia akan sadar, atau tetap dengan sifatnya nakal. Namun, Bu Santi dan Agas tidak memaksa Raya untuk melakukannya sekarang.
“Iya deh Bu. Kapan-kapan Raya akan coba untuk shalat.”
“Shalat itu bukan percobaan. Kalau kamu memang mau shalat, kamu harus melakukannya dengan sungguh-sungguh.”

Malam ini Raya menginap di rumah Bu santi. Karena saat Bu santi mau mengantarkan Raya ke rumah kakek Rusman, ia tidak mau dan bahkan sampai memohon agar mengizinkan ia untuk menginap disana.

Sepanjang malam, Raya berfikir tentang perkataan bu Santi dan Agas. Terkelibat dalam fikirannya, seorang kakek yang sangat ia benci.
“Ah, kenapa aku selalu mikirin kakek sih. Dia itu udah banyak nyusahin aku. Dan aku harus kembali ke Jakarta bagaimanapun caranya, biar kakek tua itu dimarahin sama mama karena udah gak bisa jagain aku.” Ujarnya berbicara sendiri.

Matahari sudah menampakkan sinarnya ketika Raya terbangun dari tidurnya sedari semalam. Bu Santi memang sengaja tidak membangunkannya untuk shalat, karena ia tau Raya masih belum mendapat hidayah.

Kakek Rusman sangat khawatir dan panik mencari Raya namun tidak juga menemukannya. Ia sampai tidak memikirkan dirinya sendiri. Yang ia lakukan hanyalah mencari Raya dan berdoa untuk keselamatannya.
“Ya Allah… dimanapun Raya berada, tolong selamatkanlah ia. Jauhkan dia dari hal-hal yang tercela. Dan bisakanlah hamba untuk menemukannya.” Itulah doa kakek Rusman dengan keadaannya yang bisu.

Seperti biasa, Agas dan bu Santi pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh. Tapi, ketika mereka hendak pergi, Raya memanggil bu Santi dan Agas.
“Ada apa Raya?” Tanya bu Santi.
“Saya mau ikut bu.” Jawabnya dengan girang.
“Yah, palingan dia juga mau ikut karena takut sendirian di rumah bu.” Tuduh Agas.
“Kali ini kamu salah Gas. Aku mau ikut ke masjid untuk shalat.” Jelas Raya.
Mereka berdua terkejut. Dan sedikit tidak mempercayai perkataan Raya.
“Aku serius. Emang salah ya, kalau aku ikut shalat bareng kalian?”
“Oh, gak salah kok. malahan itu sangat bagus. Ibu sangat senang mendengarnya.”

Dengan masih belajar, Raya mengikuti gerakan imam. Ia tampak sangat antusias melaksanakan shalat.
“Alhmadulillah… kalau sekarang kamu sudah mau shalat.” Ujar bu Santi senang.
“Aku bangga sama kamu Ray, maaf kalau sebelumnya aku gak percaya sama kamu.” Tambah Agas.
“Iya bu. Apa yang ibu bilang itu benar. Aku harus shalat. Dan aku akan buat kejutan buat kakek kalau aku sudah bisa shalat. Kakek pasti senang kalau tau aku sudah bisa shalat.” Katanya dengan semangat.
“Syukurlah kalau sekarang kamu sudah tidak marah lagi sama kakek Rusman. ibu senang mendengarnya.”
“Raya sadar bu, kalau selama ini Raya yang salah. Kakek sangat baik padaku tapi aku malah selalu membuat kakek sedih dan selalu marah-marah sama kakek. Aku kangen sama kakek.” Ujarnya menyesal.
“Ya sudah. Kalau begitu, nanti kita ke rumah kakek Rusman. kasian beliau pasti kebingungan mencari kamu.”
Raya sangat senang mendengarnya.

Siang itu, tepatnya setelah shalat dhuhur di masjid. Kemudian ia menoleh ke belakang. Tanpa disangka, orang yang berada di belakangnya adalah mama Raya.
“Mama…” panggil Raya.
“Raya… sayang gimana kabar kamu?” Tanya sang mama.
“Raya baik kok ma.”
“Kakek kamu?”
“Kakek…e… maafin aku ma.”
“Loh, loh kok. ditanya kabar kakek kamu kok malah minta maaf?” Tanya sang mama tak mengerti.
“Raya udah beberapa hari ini gak tinggal sama kakek ma.” Jelas Raya.
“Apa? Terus kamu tinggal dimana sayang?”
“Raya tinggal di rumah Agas ma.”
“Ngapain kamu pergi dari rumah kakek kamu?”
“Raya kesel sama kakek. Dia gak bisa memenuhi permintaan Raya.”
“Ya ampun sayang… kamu kan tau kalau kakek kamu…”
“Iya ma. Dan sekarang Raya udah nyesel dan Raya akan ke rumah kakek untuk minta maaf sekaligus mau ngasi tau kakek kalau Raya sekarang udah bisa shalat.”
“Mama senang mendengarnya. Dan mama bangga sama kamu sayang.” Perempuan itu memeluk Raya.

Raya dan mamanya sangat antusias menuju rumah kakek Rusman. begitupun dengan Agas dan ibunya. Mereka memberhentikan langkahnya saat rumah itu banyak orang.
“Kenapa di rumah kakek banyak orang ya ma?” Tanya Raya pada mamanya yang sebenarnya juga tidak tau.
“Ya udah kita langsung masuk aja biar tau apa sebenarnya yang terjadi.”

Mereka terkejut saat semua orang membacakan surat yasin pada seseorang yang ditutupi dengan kain kafan.
“Siapa yang meninggal bu?” Tanya wanita berbaju coklat itu pada seseorang yang duduk di sebelahnya.
“Pak Rusman bu.” Jawabnya lirih.
Raya dan mamanya sangat terkejut mendengar hal itu. Begitu pun dengan Agas dan ibunya. Air mata membanjiri kedua pipi Raya. Ia masih tidak percaya dengan semua itu. Raya akhirnya membuka kain kafan itu, dan ternyata benar, kakek yang selama ini ia sia-siakan dan selalu dimaki sekarang ia sudah pergi untuk selamanya.
“Kakek… kenapa kakek tinggalin Raya. Padahal Raya kesini untuk minta maaf sama kakek. Dan Raya mau kasi tau kakek kalau Raya sekarang sudah bisa shalat.” Katanya dengan deraian air mata. Ia teringat saat dirinya membuat kakek menangis. Memakinya.
Sang mama berusaha menenagkan Raya, walaupun sebenarnya ia juga sangat kehilangan kakek Rusman.

Seorang lelaki setengah baya menghampiri Raya dan mamanya.
“Kakek Rusman sudah beberapa hari ini tidak makan. Beliau hanya mencari dan mencari cucunya yang hilang. Sampai-sampai peristiwa naas menimpanya. Beliau tertabrak sebuah truk di jalan saat beliau mencari Raya.” Jelas lelaki itu dengan kesedihannya.

Raya semakin merasa bersalah atas kematian kakek Rusman. gara-gara dirinya pergi dari rumah, kakek harus repot mencari dia dan sampai akhirnya beliau mengalami kecelakaan yang mengakibatkan nyawanya melayang.

Setelah proses pemakaman selesai, Raya kembali ke rumah kakek Rusman dengan langkah tak bersemangat.
“Kakek maafin Raya ya kek. Raya udah banyak nyusahin kakek.” Ucapnya lirih sambil memegang baju sang kakek.
Seseorang itu akan berarti dan kita akan merasa kehilangan saat orang tersebut sudah pergi meninggalkan kita.
Bila ada pertemuan di dunia ini maka akan ada perpisahan di sampingnya, bila ada kebahagiaan di dunia ini maka akan ada kesedihan di sampingnya.

The End

Cerpen Karangan: Alief Dealova
Facebook: Flabbygirlz[-at-]yahoo.co.id
Gadis pecinta warna coklat ini suka menulis sejak ia duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Awalnya, ia hanya menuliskan semua inspirasinya lewat sebuah kertas yang hanya dibaca oleh teman-temannya. Saat ini ia mengenyam dunia pendidikannya di sebuah sekolah islam di Bondowoso. MAN Bondowoso
Alief Dealova

Cerpen I Love Grandfather merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Ulang Tahun Seseorang

Oleh:
Pagi ini, aku berada di taman belakang sebuah rumah mewah, mungkin karena sisa mabuk semalam aku tak ingat mengapa siang hari seperti ini aku sudah terdiam duduk pada sebuah

Gadis Mawar Putih

Oleh:
Kuncup mawar mulai bermekaran di musim semi seperti sekarang ini. Tak hanya mawar, penyejuk hati lainnya seperti melati, sedap malam dan sakura-sakura desa pun ikut andil dalam menyemarakkan musim

Teater Kehidupan

Oleh:
Ruang operasi, pukul 23.00 Suara kecemasan memecah keheningan rumah sakit, dua orang perawat lelaki langsung mencari dan membantu orangtua yang meminta tolong yang ternyata anak remaja dengan tubuh dingin

Atas Nama Ayah

Oleh:
Malam pilu mengikat, di antara lorong jalan setapak langkahnya merancu memulai Bismilah dari depan pintu rumah, mendorong gerobak tua berisi sekoteng yang ia tawarkan lewat bunyi gelas di depan

Sentuhan Kerinduan

Oleh:
“Felly! Turun sayang! Mama udah siapain makanannya!,” seru Anjani kepada anak tunggalnya. Felly Anggi Wiraatmaja. Ia adalah gadis dengan fisik yang begitu indah. Maklum saja, Anjani telah mendidiknya sejak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *