Ibuku Malaikatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 10 October 2014

Malam itu aku dan temen-temen aku lagi ngadain pesta ulang tahun Rangga pacarku. Semuanya pada happy fun. Di iringi musik DJ yang seru abis dan goyangan yang asoy menambah seru suasana malam itu. Rangga adalah cowok tajir, keren, gaul, famous dan gaya banget di kampus aku. So, semua cewek pasti tertarik sama dia. Orangtuanya pengusaha yang sukses yang sering keluar kota bahkan ke luar negeri dan jarang banget ada di rumah sangking sibuknya. Rangga menjadi anak yang mandiri. Di mataku Rangga gak ada cacatnya deh.

Aku Siska anak dari keluarga berkecukupan dan gak kalah populernya di kampus. Semua cowok takluk di hadapanku, termasuk Rangga. Dan aku beruntung Rangga bisa jatuh dalam pelukanku. satu yang bikin aku kecewa banget. Orangtuaku terutama ibu gak merestui hubungan aku dan Rangga. alasannya macem-macem deh dan menurutku gak jelas. “Nak, kamu itu lebih baik fokus kuliah dulu. Lagi pula kalau kamu pacaran dengan nak Rangga ibu rasa dia bukan lelaki yang baik nak. Ibu hanya khawatir jika kamu nanti terjerumus pergaulan bebas seperti dia. Kamu itu perempuan nak hati-hati dengan pergaulanmu dengan yang bukan muhrim mu”. Ibu selalu berkata seperti itu. Dan aku enek banget dengernya. “jodoh itu gak usah kamu khawatirkan nak, jodohmu sudah diatur oleh Allah. Tinggal kamu berdoa dan perbaiki ahlak mu. InsyaAllah jodohmu akan baik untuk dunia dan akhiratmu. Ibu selalu mendoakan mu nak”. ibuku memang sayang banget sama aku. tapi please deh aku udah gede dan aku tau apa yang harus aku lakuin.

“Sayang, kita dance yuk bareng mereka”. Ajak Rangga sambil menadahkan tangannya yang bermaksud ingin menggandengku ke lantai dansa.
“Yuk, mari kita senang-senang honey”. Bener-bener deh, malam itu pesta ulang tahun yang paling megah dan mewah yang pernah aku datengin seumur hidup aku. Gimana egak coba. Pesta yang diadakan di hotel berbintang 5 dengan segala fasilitas yang Waw. Bahkan Rangga sengaja mendatangkan artis ternama di acara pesta ulang tahunnya yang ke 22.

Tepat jam 5 subuh aku baru nyampe rumah. Dalam keadaan setengah mabuk. aku digendong masuk ke dalam rumah.
“Astagfirullah nak, kamu kenapa Siska ya Allah kamu mabuk nak. Heh kamu apain anak saya. Mulai sekarang kamu gak usah lagi deketin anak saya”. Sahut ibu sambil memelukku.
“Siska gak papa kok tante, dia cuma habis minum sedikit entar juga gak gitu lagi”. Jawab Rangga.
“ini terakhir kalinya tante liat kamu di sini dan tante gak mau kamu deketin Siska lagi. Sekarang kamu pulang sana!”. jawab ibu. Aku hanya terdiam dan melambaikan tangan ke arah Rangga di pelukan ibu.

“Ya Allah nak, kenapa kamu seperti ini. Berubah nak sadar lah, ibu hanya ingin yang terbaik untuk hidupmu. Ya Allah jadikan anakku menjadi anak yang sholehah. Ibu selalu mendoakanmu nak”. ibu menangis terus menangis.
“Ya Allah, jadikanlah anak hamba ini menjadi anak yang sholehah. Anak yang selalu taat padamu ya Allah, jadikanlah Siska anakku ini menjadi wanita yang berhati mulia, lembut, penyayang cinta pada Mu, cinta pada Rasul dan selalu berpedoman kepada Al-Qur’an. Amin ya rabbal alamin”. Ibu berdoa di sela gelapnya malam ketika aku telah tertidur.

Keesokan harinya setelah pulang kuliah aku gak langsung pulang ke rumah karena aku tak begitu betah tinggal di rumah. Jadi aku memutuskan untuk jalan sama Rangga.
“emm, makasih ya sayang udah beliin aku semua ini”. Sambil menjenteng semua barang-barang belanjaanku, aku natap Rangga dengan tatapan manja. Dia pun hanya tersenyum menanggapinya. “Kita lanjut nonton yuk say”.
“RIIINGGG RIINGGG”. Nada dering handphone. Hp Rangga berbunyi. “Ha halo?”.
“Halo sayang kamu di mana. Kamu lupa ya sama janji kita. Aku udah nungguin kamu dari tadi tau”. Jawab orang yang sedang berbicara di telpon Rangga tanpa sepengetahuanku.
“Ehh, ii iya say eh anu iya mah Rangga lupa. Ya udah mamah tunggu ya Rangga jemput sekarang, oke”. Jawab Rangga langsung menutup telpon dari cewek itu.
“lho kenapa sayang?”. sahutku.
“emmh, sayang aku minta maaf banget. Kamu gak papa kalo aku tinggal di sini. Soalnya aku lupa ada janji sama mamah aku buat jemput dia. Kalo gak di jemput bisa berabe urusannya”. Jawab Rangga dengan wajah panik.
“lho bukannya mamah kamu lagi di Jerman ya sama papah kamu?”. Jawab aku sedikit curiga.
“emmmh, iya sayang tapi ini mereka udah pulang makanya aku mau jemput mereka di bandara. Gak papa ya sayang aku tinggal ya. Love you. Mmuuacchh”.
“eh.. sayang gak bisa gitu dong kok aku di tinggal gini. Entar aku pulang sama siapa. Sayang…!!!”.

Gak ada taxi yang lewat akhirnya aku pulang jalan kaki. Dari belakang aku udah ngerasa hawa yang gak enak. Aku ngerasa ada yang buntutin selama aku jalan. Gak tau siapa aku cuek aja dan terus berjalan sambil bawa belanjaan. Hawa gak enak itu semakin lama rasanya semakin mendekat. Dan bulu kudukku rasanya berdiri semua. Saat aku noleh ke belakang ada sekelompok preman jalanan tertawa dan minum-minuman keras. Aku takut setengah mati. “OMG!!! Please help me”. Aku terus berdoa dalam hati. Aku mempercepat langkah kaki berharap orang-orang itu gak macem-macem. Aku berlari sekuat yang aku bisa.
“Eh neng.. kenapa lari ini belanjaan neng ketinggalan neng!!!”. Teriak para preman itu. Aku tetep lari sekuat yang aku bisa. “Emmm.. Ngajak main nih cewek rupanya, Kejar dia bro..!!!”. Jawab preman yang lainnya.
“AAuuuu !!!”. High heels ku patah dan aku terjatuh. Sulit rasanya untuk bangun dan berlari karena kakiku keseleo. “Nah neng, apa kata abang tadi jangan lari. Jatuh kan jadinya”. Sahut preman itu. “Cantik juga lo neng, sini biar abang bantu berdiri”. Jawab preman yang lain seraya memegang bahuku. “Lepasin…!! aku gak butuh bantuan kalian”. Sahutku sambil merintih kesakitan. “Ayo lah neng, jangan jual mahal gitu dong, iya gak guys”. “Whahahaha!!!”. mereka tertawa. Gak ada orang yang nolong aku.

Akhirnya aku dibawa ke markas mereka Kakiku sakit banget dan mulai membengkak.
“Mau apa kalian hah!! jangan setuh aku, pergi!!”.
“Sedikit aja neng, gak papa”. Sahut preman itu sambil menyentuhku. “Cuuhhh!!” langsung sajaku ludahi tu muka preman. “Wah, berani nih cewek sama kita bos. Kita sikat abis aja dia bos. Gak usah dikasih ampun lagi”. Sahut preman itu
“TOLONG!! TOOOLLL.”. Aku berteriak minta tolong preman itu memukulku hingga aku pingsan. Aku gak tau apa yang mereka lakukan. Sampai akhirnya aku tersadar dan mereka sudah tidak ada di tempat itu.

“Siska di mana kamu nak, lindungilah di mana pun dia berada ya Allah”. Ibu menungguku dengan cemas. “Semoga tidak terjadi apa-apa denganmu nak”.

Waktu telah menunjukan pukul 00:00 aku berusaha bangun dan berjalan. Aku berharap ada tumpangan yang dapat mengantarku pulang rasanya tak sanggup lagi untuk berjalan dengan keadaan kakiku yang makin membengkak.
“TIIINNN TIIINNN TIIINNN!!!”. (clapsound mobil).
“AAAAA!!!”. Brruuukkk!!!. “Waduh, mampus nih gue nabrak cewek lagi ahh. Kayanya gak ada orang yang ngeliat juga, gue tinggalin aja”. Kata si penabrak.
Aku tergeletak di tengah jalan sampai akhirnya ada warga yang menemukanku.

“RINNGGG RIINGGG”. telepon rumah. “Haloo?”. Jawab ibu mengangkat telepon.
“Halo bu, benar ini orangtua dari pasien kami yang bernama Siska Dwilestari?”. Kata pihak dari Rumah sakit tempat aku dibawa warga.
“Iya benar, ada apa ya mbak?. Anak saya kenapa?”. Jawab ibu sangat cemas dan panik.
“Anak ibu sedang kritis di Rumah sakit kami bu, dia menjadi korban tabrak lari”. Jawab dari pihak rumah sakit tersebut. Seketika ibu tak kuasa menahan tangis dan menjerit-jerit minta antar sekarang juga ke rumah sakit.

“Mbak, kamar pasien yang bernama Siska Dwilestari dimana ya mbak?”. Tanya ibu pada pihak rumah sakit ditemani oleh ayahku.
“Oh, anda keluarga pasien korban tabrak lari itu ya bu. Kamarnya ada di ruang mawar di sebelah kiri sana ibu”.
“Terimakasih mbak”. Jawab ibu. Langsung saja ibu menuju dimana aku di rawat. Aku terbaring lemah tak berdaya tak sadarkan diri dengan infuse yang menancap di tanganku dan tabung oksigen yang terpasang di hidungku. Ibu memelukku dan berbisik di telingaku. “Istigfar nak, kamu harus kuat ya nak”.

Kata dokter keadaanku sangat kritis. Tekanan batin dan benturan keras di kepalaku ini menyebabkan aku koma. Ibu selalu menjagaku, menemaniku, memelukku dan membisikan sesuatu padaku. Entah apa yang ibu bisikan padaku. Seperti nada indah yang menyejukkan hati. Aku seperti berada di suatu tempat yang sangat gelap tak ada seorang pun di sana. Dan ada sosok bayangan hitam yang selalu mengikutiku dan memanggilku. Aku takut, setiap bayangan itu mendekat aku berusaha menjauh darinya. Namun setiap nada indah yang ibu lantunkan di dekat telingaku, bayangan hitam itu menjauh dan datang cahaya putih seakan ingin menuntunku menuju jalan keluar dari tempat itu. walaupun aku tak sadarkan diri, namun aku tau ibu selalu menemaniku. Ibu selalu ada di dekatku. Aku berjuang untuk keluar dari tempat yang gelap itu. perlahan jika cahaya putih itu muncul aku mengikutinya. Tapi cahaya putih itu ada saat ibu melantunkan nada indah itu di telingaku. Jika nada itu tidak terdengar lagi maka bayangan hitam yang mengikutiku seakan mendekat.

“Ya Allah, Ya Tuhan kami. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ampunilah anakku Siska. Sembuhkanlah dia, sadarkanlah dia, berikan dia kekuatan untuk menghadapi semua ini. Berikanlah dia jalan yang engkau ridhai, jadikan dia anak yang berhati mulia. Panjangkanlah umurnya Ya Allah, bahagiakanlah dia dunia dan akhiratnya”. Aku mendengar doa ibu. Aku mendengar tangisan ibu. Walaupun aku tak sadarkan diri, namun entah kenapa aku tau ibu selalu berdoa untukku. Cahaya putih itu semakin lama semakin terang dan di depan mataku ada sebuah pintu penuh cahaya putih kehijauan. Cahaya yang menuntunku itu masuk ke dalam pintu tersebut. Aku pun mengikutinya.

“Ibu… bu..”. panggilku sangat pelan memanggil ibu ketika aku tersadar dan menggerakkan jemariku perlahan sambil memandang ke arah ibu yang sedang berdoa.
“Nak, kamu sudah siuman nak. Alhamdulillah Ya Allah engkau mengabulkan doa hamba. Alhamdulillah nak ibu senang kamu siuman”. Jawab ibu seketika berbalik ke arahku dan langsung memelukku. Aku merasa berdosa karena aku banyak berbuat salah pada ibu. Aku hanya bisa menangis di pelukan ibu.

Setelah semua kejadian yang ku alami ini terjadi, semua seperti mengubahku, mengubah kebiasaanku yang biasanya aku tak betah di rumah kini aku lebih sering menghabiskan waktu dengan ibu di rumah. Ibu mengajariku bagaimana caranya shalat, mengaji, berpuasa, berpakaian yang syar’i, menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya yang memiliki pribadi lembut, baik, tulus, dan berhati mulia. Aku sangat bersyukur mempunyai ibu sebaik ibuku. Seburuk apapun kelakuanku dia selalu mendoakan yang terbaik untukku. Kini aku tau Rangga itu sebenarnya lelaki hidung belang yang suka gonta-ganti pasangan. Semua kejadian ini memberiku pelajaran dan pengalaman yang dapat ku ambil hikmahnya. Allah telah mengatur semuanya menjadi lebih indah kedepannya. Walaupun cobaan yang ku alami begitu pahit tapi di balik itu semua tersimpan sesuatu yang indah yang tak dapat kita duga dari Allah. Aku sangat menyayangi ibuku. Dia seperti malaikat yang selalu ada untukku, dan selalu mengerti tentangku. @Titafirdawati

SELESAI

Cerpen Karangan: Tita Firdawati
Facebook: Tita Firdawati

Cerpen Ibuku Malaikatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dilema di Pertengahan Malam

Oleh:
Malam ini untuk kesekian kalinya aku terbangun dari sebuah mimpi buruk yang hampir sama dengan malam-malam sebelumnya. Bagaikan sebuah melodrama bersambung yang menunggu kepastian akhir cerita. Tentu saja yang

Es Kelapa Umi

Oleh:
Suara nada dering telpon genggam umi berbunyi… Ketika dilihat ternyata dari abi. “Assalamu’alaikum umi… Sedang apa?” Abi memulai pembicaraan. “wa’alaikumsalam warohmatullahi wa barakatu… Habis boboin naufa bi, abi jangan

Target Hafalan Ulwan

Oleh:
“Ayo oper bolanya, oper ke sini,” teriak salah satu santri kepada temannya. Sore itu para santri Al-I’tishom sedang bermain sepak bola. Ya, itulah salah satu cara mereka merefresh pikiran,

Al Barzanji

Oleh:
Malam yang sunyi kini telah berubah menjadi meriah, di setiap mushola terdengar sayup-sayup suara dari speaker. Para wanita melantunkan kitab Al Barzanji. Dengan semangat yang begitu menggelora. Namun apa

Hijab Pragawati

Oleh:
Masa putih abu-abuku disibukkan dengan rutinitas yang menuntutku menjadi orang lain. Dituntut untuk menebar senyum kepalsuan dengan wajah topeng bak kanvas yang bisa dilukis dengan tinta-tinta yang menggores di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ibuku Malaikatku”

  1. JEMSTATWOLOVE says:

    ihhh…

    cerpenya nyentuh hati bangets loh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *