Impian Si Ayah Penjahit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 4 August 2016

Digelarkanlah sehelai kain gerusan yang berwarna kuning tua di atas meja dan diukur dengan menggunakan meteran pakaian. Seorang laki-laki tua tampak sedang menghitung dan mengukur kain gerusan untuk dibentuk menjadi beberapa pola dasar baju safari. Dua buah rol pembentuk pola dan sebuah kapur penggaris diletakkan di dekatnya. Tampak pula gunting merah tajam yang bobotnya hampir dua ons, berada di sisi kanan kain. Sementara itu, seorang laki-laki beruban mengganti baju kokonya yang berwarna putih dengan kaos kemeja abu-abu yang sudah hampir lusuh, di sana sini terdapat banyak tambalan-tambalan dari beberapa benang. Ia menanggalkan sarung biru berliris hitamnya untuk diganti dengan celana panjang dari kain dril. Lelaki tua itu menghadapi kain gerusan tersebut. Adegan ini mengingatkan pada proses operasi medis, tatkala banyak benda-benda yang berjejer di depannya.

Keheningan malam merangsang mata memenuhi kebiasaannya, sedang udara malam menusuk pori-pori kulit keriput yang renta karena termakan usia. Rambutnya yang sudah memutih lebat, punggungnya yang sudah tidak lagi gagah membuat ia harus menahan sedikit rasa letih dan kantuknya. Di samping itu, ada sebuah tatapan yang tajam sekaligus lembut di matanya, yang mengingatkan pada seorang penjahit profesional atau kepada seseorang yang mahir mengukur diameter suatu tempat. Dari wajahnya yang mudah tersenyum memancar keakraban dan keramah tamahan yang mengasyikkan.

Itulah Ayahku, Amran namanya, sebagaimana dikenal orang sekitar bahwa ia adalah seorang penjahit rumahan. Ia terkenal sangat ramah dengan kerabatnya, mudah bergaul dan selalu memberikan kontribusi terhadap orang-orang di sekitarnya. Hasil jahitannya yang rapi menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang hendak menempah jahitan kepadanya, maklum saja, karena ia sudah menggeluti profesi ini hampir 30 tahun.

Dua puluh sembilan tahun yang lalu dengan ditutori oleh kerabat dekatnya, Hamdan. Ayahku diberi pelajaran awal menjahit kain perca (potongan kain sisa jahitan). Potongan-potongan itu ia jahit lurus untuk melatih keapikan, setelah itu dilanjutkan dengan teknik menjahit pola kantung; mata itik (jahitan bergelombang); dan membentuk biku (lipatan-lipatan pada tepian kain). Untuk mahir dalam mengerjakan teknik ini, ia menghabiskan waktu selama 1 tahun. Hal itu dikarenakan teknik ini merupakan teknik dasar yang harus dikuasai bagi seorang penjahit agar memiliki modal skill kerapian dalam jahitan. Selanjutnya, setelah laki-laki tua itu menguasai teknik dasar ini, kerabatnya memerintahkan agar ia membantunya menjahit pakaian yang sebelumnya sudah diberi pola, tugasnya hanya menjahit sesuai pola bukan membentuk pola atau menciptakan pakaian sendiri. Hal ini ia lakukan selama 3 tahun, sementara itu, materi membentuk pola dan menciptakan baju sendiri baru ia dapatkan setahun setelahnya.

Setahun setelah ia mahir menjahit, Ayahku pun mulai bekerja di perusahaan kerabatnya. Perusahaan sederhana yang mereka bangun sangat berkembang pesat di kala itu, banyak dari masyarakat datang berduyun-duyun menempah pakaian di perusahaan mereka. Tentunya dengan banyaknya konsumen yang datang menyebabkan income perusahaan tinggi, laba yang didapatkan Ayahku mampu memodalinya untuk berumahtangga. Dalam hal yang sama, Ayahku memutuskan untuk mempersunting Ibuku menjadi belahan jiwanya.

Nasib berlaku nahas, beberapa bulan setelah pernikahan keduanya. Perusahaan tempat Ayahku bekerja dilahap si jago merah. Suasana riuh, api dengan cepat menghanguskan material di perusahaan itu. walhasil, tak ada satu pun barang-barang yang bisa diselamatkan, pakaian tempahan konsumen juga ikut terlahap si jago merah. Hanya sisa-sisa material dan kepala mesin jahit yang gosong yang tampak di perusahaan Ayahku pasca kebakaran.

Setelah kebakaran itu terjadi, sedikit pun tak mengurungkan niat Ayahku yang beruban itu untuk berhenti menjahit. Ia pun mulai membuka jahitan di rumahnya, dengan sisa gaji yang ia dapatkan sebelumnya, Ayahku membeli mesin jahit bermerek ‘Standard’ seharga 200 ribu rupiah. Mesin inilah yang ia pakai untuk mengais rezeki memberikan makan anak-istri sampai sekarang.

Ayahku mempunyai impian agar anak-anaknya kelak menjadi orang-orang sukses, sukses menurut perspektif beliau adalah anak mampu memberikan kebaikan kepada orang lain, tanpa meminta sepeser pun imbalan atas kebaikan yang telah dilakukan; mampu menghidupi anak-istri kelak ketika sudah berumahtangga; dan memiliki ilmu yang dapat menuntun diri si anak, dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Itulah sebabnya ia sangat responsif dan banting-tulang untuk menyekolahkan anak-anaknya, karena beliau tahu bahwa impian itu akan raih ketika anak-anaknya mendapat pendidikan yang cukup. Sungguh beliau adalah sosok trainer masa depan bagi anak-anaknya.

Kini, beliau mempunyai empat buah hati. Anak sulung sudah menyelesaikan pendidikan strata satu dan sedang menyelesaikan program magister; anak kedua sedang belajar di SLTA; anak ketiga juga masih sekolah di Sekolah Dasar; anak bungsu mulai belajar di TK Islamiyah. Melihat anak-anaknya bisa bersekolah merupakan hal yang paling bahagia dalam hidup laki-laki tua beruban ini, ia sangat yakin bahwa Allah akan senantiasa memberikan kemudahan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Meskipun, ia harus lembur mengerjakan tempahan pakaian dari para konsumen, “tak apalah” pikirnya, ini sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk menafkahi keluarga.

Pernah diceritakan oleh Sayyidina Abu Hurairah r.anhu bahwa seorang laki-laki mendatangi Baginda Rasulullah saw. dan berkata:

“Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling pantas untuk kuperlakukan dengan baik? Rasulullah menjawab: Ibumu, kemudian siapa? Tanya laki-laki itu, Rasulullah menjawab: Ibumu, dan siapa lagi ya Rasulullah? Kemudian Rasulullah pun menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi yang harus kuperlakukan dengan baik ya Rasulullah, Rasulullah pun mengakhiri dengan jawaban: Ayahmu” (H.R. al-Bukhari, pada bab “hak-hak manusia untuk berbuat baik kepada Saudara,” h. 5971)

Hadis ini menjelaskan bahwa pentingnya menghormati dan berbuat baik kepada orangtua, terkhusus kepada ibu. Dengan 3 kali pengulangan kata yang diucapkan oleh Baginda Rasulullah saw. memberikan isyarat bahwa ibu harus dihormati daripada ayah. Lantas, apakah hal ini mutlak diperuntukkan kepada ibu saja? Bagaimana dengan penghormatan kepada seorang ayah, apakah harus jauh lebih rendah dari ibu? Jawabnya: Tidak! Ibu memang telah melahirkan dan mendidik dengan kasih sayang, namun, tak bisa dipungkiri bahwa ibu juga harus takdim (hormat) kepada ayah, karena ayah adalah kepala madrasah dalam keluarga. Kemudian, ayah mencari nafkah dari pagi hingga petang, tak kenal waktu siang dan malam. Hal inilah yang mendasari bahwa sebagai seorang anak dan istri harus menghormati ayah. Derajatnya sama dengan ayah. Hanya saja perbedaan terletak pada pengkodifikasian keduanya. Ibu yang patut dihormati dengan didikan kasih sayangnya; ayah juga wajib dihormati karena beliaulah yang berjuang mendidik keluarga, banting tulang menafkahi keluarga, serta berani melawan getirnya dunia.

Hal inilah yang menjadi dasar bagiku untuk hormat dan taat kepadanya, tanpa mengurangi sedikit pun penghormatanku kepada ibuku, beliau yang sudah berjuang mati-matian membiayai kehidupan, membiayai sekolah anak-anaknya, menjadi sosok superhero, dan penasihat handal yang memberikan petuah-petuah kehidupan. Demi Allah, aku menghormatimu Ayah Penjahit.

*Salam dari seorang anak yang menghormatimu (Rick Dinata)

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Eric Suwandynata

Cerpen Impian Si Ayah Penjahit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


AL

Oleh:
KRIIIING KRIIIIIING KRIIINGGGG Suara jam weker berbunyi dengan nyaring sangat mengganggu tidur pemuda manis bernama Alvin Putra Diangga. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi dengan malas, lalu turun untuk

Bahagia

Oleh:
“Bahagia itu ketika kau tahu indahnya negerimu ini.” Namaku Yudha, lebih tepatnya Syudha Bahroni. Aku murid kelas IX di salah satu MTS di Yogyakarta. Selama 3 tahun aku menyandang

Setelah Papa Pergi

Oleh:
Ketika senja tak lagi mampu bertahan, meninggalkan bumi dalam kegelapan, memaksa sang surya tuk menutup hari. Mengukir sepenggal kisah dalam pelupuk mata, menyiratkan keindahan yang palsu. Keindahan yang hanya

Diary Punya Dewi

Oleh:
Hari ini sangat panas, matahari bersinar sangat terik. Begitupula hati Dewi. Dewi sebal sekali. Gara-gara Fani, ia diejek oleh teman-teman satu kelas. Dewi masuk ke dalam rumah. Tidak seperti

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Pada malam itu Novi bertengkar hebat dengan ibunya.karna sangkin marahnya mereka ibunya mengusir Novi.Dan ia pergi dari rumah tanpa membawa apapun.. Setelah lama berjalan,Novi melewati sebuah kedai mie.Ia lapar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *