Indah Seindah Namanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 28 March 2014

Aisyah Nur Fitri. Nama milik seorang gadis berparas cantik yang tinggal dengan kedua orangtuanya dan memiliki kehidupan yang serba ada. Aisyah memiliki paras yang cantik dan kemampuannya dalam belajar yang lebih dari anak seumurannya, membuat ia banyak disegani oleh teman sekelasnya.

Dari segala kelebihan yang ia miliki. Ia mempunyai sifat yang sangat buruk! Ia sangat sombong, kikir dan selalu membantah perkataan kedua orangtuanya. Padahal, kedua orangtuanya bermaksud memberinya nama Aisyah, agar sifatnya baik seperti Istri Baginda Rasulullah SAW. Namun, harapan kedua orangtuanya sirna setelah melihat sikap Aisyah yang sangat bertolak belakang dengan Aisyah Istri Baginda Rasulullah SAW.

“Aisyah… ayo bangun, shalat Subuh dulu Nak…” ujar Dania, Ibu dari Aisyah.
“Ahhh… Ibu ganggu! Aku masih ngantuk Bu! Males!” seru Aisyah yang menarik selimutnya sehingga menutupi seluruh badannya.
“Nak… shalat dulu. Kamu harus belajar shalat lima waktu! Umurmu sudah dua belas tahun! Itu sudah menjadi kewajiban untukmu!” seru Dania. Setiap pagi, tak bosan-bosannya ia memperingati anaknya yang tak kunjung sadar.
“Ibu! Aku masih ngantuk Bu! Sudah Bu! Itu urusanku!” teriak Aisyah. Dania sangat teramat sedih. Ia tak tahu harus berbuat apalagi. Buah hatinya tak kunjung merubah sikap buruknya. Padahal, ia sudah sangat berusaha mendidik Aisyah sebaik mungkin bersama dengan Suaminya.

Dania pun keluar dari kamar anaknya. Ia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, kini, ia hanya bisa berdoa untuk anaknya.
Setiap hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Dania dan Suaminya berusaha keras untuk merubah sikap Aisyah. Selama itu pula, mereka terus mendoakan anaknya tercinta. Sampai suatu hari, hidayah sang Illahi datang kepada Aisyah.

“Aaaa! Ibu! Ayah! Bangun! Bu… Yah… jangan tinggalkan Aisyah Bu!!!” tangis Aisyah. Ia melihat dengan jelas menggunakan mata kepalanya sendiri, kedua orangtuanya tengah terbaring bersama. Mata mereka tertutup rapat. Wajah mereka terlihat hampa. Mereka terlihat tertidur sangaaat lelap. Aisyah tak menyangka, ia akan secepat itu ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Ia ditinggalkan, untuk selama-lamanya.

Pikiran Aisyah melayang seiring dengan tetesan air matanya yang terus mengalir. Ia teringat akan sikap durhakanya kepada kedua orangtuanya. Ia sangat sering membangkang bahkan tak pernah membalas budi kepada kedua orangtuanya atas kasih sayang mereka. Ia tak pernah sekali pun mendoakan mereka. Ia tak pernah sekalipun meminta maaf kepada mereka. Dan ia sama sekali tidak pernah menganggap keberadaan mereka.

Ingin rasanya ia mengungkapkan segala penyesalannya terhadap kedua orangtuanya. Ia ingin, berteriak sekencang-kencangnya memohon maaf kepada mereka. Ia ingin, menggerakkan kedua tanganya untuk membantu mereka. Ia ingin, bersujud, mencium kaki mereka. Namun, sia-sia sudah semua penyesalannya. Semuanya telah terlambat. Orangtuanya, telah pergi meninggalkan ia sendiri. Meninggalkannya dengan setumpuk rasa penyesalan yang menutupi hatinya.

“Ibu… Ayah… maafkan Aku…” lirih Aisyah masih dengan tangisannya.
“Aisyah… Nak… bangun…” seru seseorang. Suaranya lembut. Sangat lembut sampai-sampai dapat menenangkan hati Aisyah.
“Ibu?!” pekik Aisyah setelah sadar bahwa itu adalah suara Ibunya. Ia terbangun dari mimpinya. Ia melihat, kedua orangtuanya berada tepat di hadapannya. Menatapnya dengan penuh kasih sayang. Ternyata, yang dialaminya itu hanyalah mimpi.

“Ibu! Ayah!” ujar Aisyah seraya memeluk Ibu dan Ayahnya erat. Sangat erat. Seakan-akan, ia tak ingin ditinggalkan oleh mereka.
“Ibu… Ayah… maafkan Aku… maafkan anakmu yang sebenarnya tak pantas mendapatkan orangtua sekuat kalian! Maafkan Aku… Ibu, Ayah! Aku menyesal!” lirih Aisyah dengan air mata yang terus mengalir deras. Ia memeluk erat kedua orangtuanya. Ia meminta maaf, ia menyesali perbuatannya dan berjanji akan merubah sikapnya.

Di pagi yang cerah itu. Tepat saat tahun Islam berganti, seorang Aisyah, telah berhasil merubah sikapnya menjadi seperti Aisyah, istri baginda Rasulullah SAW. Ia telah mendapat hikmah yang sangat indah dari Illahi. Tak sedetik pun ia menyia-nyiakan waktu untuk bersyukur pada-Nya. Tak henti-hentinya ia memuji sang Illahi yang telah memberikan hidayah tanda kasih sayang padanya.

Cerpen Karangan: Fadillah Amalia
Blog: famalia0908.blogspot.com

Cerpen Indah Seindah Namanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengeluh Yuk…

Oleh:
Sinar sang surya terhalang kabut. Gerakannya terus mendekati ufuk barat bagaikan anak dara yang berjalan tertatih-tatih karena disampingnya ada sang pujaan hati. Sore mewujudkan diri. Riak air Danau Kembar

Kerudung Buat Sahabat

Oleh:
Aku dan Rina sudah bersahabat sejak kami duduk di bangku SMP dan sekarang kami sudah kuliah, kami sering menghabiskan waktu bersama, jalan bersama, ngerjain PR bersama, dihukum bersama, bahkan

Langkah Menyusuri Cahaya

Oleh:
Hijrah. Mungkin kata itu yang bisa ku sebut saat ini. Perubahan menjadi lebih baik, menjadi lebih taat, menjadi lebih bersyukur terhadap semua karunia yang diberikan oleh Allah SWT. Secercah

Azizah Dan Pemulung Kecil

Oleh:
Malam ini cuaca cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Bulan dan bintang terlihat sangat indah. Cahayanya cerah menyinari. Secerah hati Azizah saat ini. Dari balik jendela kamarnya, Azizah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *