Islamphobia dan Toleransi Beragama


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 11 May 2013

Setiap umat muslim pasti mengetahui bahwa agama Islam mengajarkan kebaikan. Kebaikan tidak hanya di haruskan dalam interaksi sesama muslim bahkan lebih dari itu. Umat muslim harus menghargai non muslim yang berbeda agama. Dan dengan ajaran itu pula agama Islam bisa di terima di dalam masyarakat Indonesia yang sebelumnya beragama Budha dan Hindu. Begitu pula sikap toleransi beragama dalam masyarakat Bali yang begitu kental terasa. Islam yang minoritas di Bali selalu di terima oleh mayoritas umat Hindu. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Bali untuk berinteraksi satu sama lain. Beberapa rumah ibadah dapat melaksanakan ritual keagamaan dengan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun. Begitu juga dengan majlis-majlis ilmu dapat melaksanakan rutinitasnya seperti biasa tanpa ada satupun yang dapat menghalangi.

Dalam heningnya malam Mahmud masih siaga berjaga mengelilingi pondok pesantrenya. Malam yang dingin, suasana yang begitu gelap tak menjadi halangan dalam menjaga amanat yang di berikan oleh kyainya. Maklum, Mahmud merupakan keamanan yang bertanggung jawab dalam setiap keamanan pesantren. Apa lagi belakangan hari terakhir dia harus tetap siaga bergadang semalam suntuk.
“Kalian semua tahu…! ini semua gara-gara kerjaan Amerika. Membuat kita harus setiap malam bergadang sampe subuh..!”. Gumamnya kepada teman yang bersamanya mengontrol keliling pesantren.
“Kenapa Mud…! kok Amerika yang di salahkan. emang ada kaitanya Amerika dengan tugas kita harus bergadang mengelilingi pesantren setiap malam?”.
“Coba kalian fikiran..! Dengan propaganda Amerika yang mengatakan islam agama teroris dan perbuatan mereka yang menjajah negara yang berpenduduk umat muslim pasti tidak akan terjadi bom Bali ini. Semua ini kan terjadi gara-gara perbuatan sebagian umat islam garis keras yang menuntut balas terhadap perbuatan Amerika dan antek-antek barat itu. Sehingga pulau Bali yang mengandalkan sektor pariwisata dengan didomonasi turis mancanegara menjadi sasaran balas dendam mereka”. Mahmud memberikan penjelasan kepada teman-temannya terhadap apa yang ada di benaknya selama ini.

Memang setelah terjadinya bom Bali di Legian Kuta, yang di lakukan oleh Amrozi CS hubungan muslim dengan Hindu kian longgar. Toleransi yang sejak dulu di bangun hancur berantakan. Apa lagi dengan pernyataan-pernyataan yang di keluarkan oleh tokoh-tokoh agama Hindu yang selalu mencurigai umat muslim yang tinggal di Bali. Sehingga Islamphobia menjadi marak terjadi pada masyrakat Bali terutama yang beragama Hindu sebab umat islam secara keseluruhanlah yang mereka anggap sebagai pelaku dalam pengeboman tersebut. Banyak rumah Ibadah dan umat muslim Bali di curigai karena dikaitkan dengan pengeboman yang terjadi di Kuta itu. Begitu juga yang terjadi dalam keseharian kehidupan sosial umat islam Bali saat itu sangat dimariginalkan.

Kyai Abdurrahman yang merupakan pengasuh pesantren Mahmud juga keluar melihat perkembangan pondok pesantrennya memanggil mereka dengan membawa kopi dan kue disertai tasbih ditangan kananya.
“Mahmud, Mushodiik, Ali ke sini…! ada kopi untuk kalian”. Panggil kyai yang sudah menunggu di teras masjid seakan kyai juga ingin berbincang-bincang bersama mereka.
“Gimana..? Kalian sudah selesai megontrol keliling pesantren.
“Belum semua kyai baru sampe depan asrama putri”. Jawab Mahmud yang baru selesai meenyeruput kopi yang di berikan oleh kyainya.
“Abah saya membangun pesantren ini di atas tanah milik kakeknya yang dulu merupakan seorang pengembara. Dulu, sebelum kedatangan bangsa penjajah ke negeri ini dan Indonesia masih belum satu-kesatuan seperti sekarang yang masih terpecah-pecah menjadi beberapa bagian kerajaan dia mengembara ditemani para murid-muridnya. Seluruh pulau yang biasa di lalui para saudagar muslim pernah disinggahinya. Hingga pada akhirnya dia sampai di pulau Bali ini”. Kyai Abdurahman berhenti sejenak untuk menghela nafas dan mengingat-mengingat lagi memori yang ada di ingatanya. Sementara itu Mahmud dan teman-temannya masih penasaran dengan cerita yang disampaikan kyainya.
“Setelah itu banyak orang muslim lain juga berdatangan ke sini. Tanah desa dan pesantren ini sebenarnya hasil pemberian raja Bali saat itu dan sebagian tanah lain telah diberikan izin untuk di babat oleh umat islam yang dulu daerah ini merupakan hutan yang lebat. Karena memang, saat itu umat muslim membantu mereka dalam mempertahankan kekuasaan terhadap penyerangan musuh dari luar. Sehingga saat itu raja Bali berhasil mempertahankan kekuasaannya. Sebagai ungkapan rasa terima kasih mereka, umat islam lalu di berikan tanah untuk tetap tinggal di sini dan umat Hindu juga diharuskan untuk mengkui umat islam saat itu sebagai sudaranya sesama satu kerajaan. Itu terbukti dengan adanya ungkapan nyamaslam. Dan sejak saat itulah agama islam di terima menjadi bagian dari masyarakat Bali”. Kata kyai yang bercerita mengenai awal sejarah islam di daerahnya.
“Iya kyai…kata ayah saya ceritanya juga sama dengan yang kyai sampaikan” sahut Mushoddiq yang merupakan santri yang rumahnya bertetangga dengan pesantren.
“Apapun yang terjadi kita harus menghargai perberdaan yang ada. Dalam ajaran islam sangat mengharuskan adanya teoleransi terhadap orang yang berbeda dengan kita. Islam tak pernah mengajarkan kekerasan. Dan memaksa agama lain untuk masuk ke dalam agama islam sangat tidak dibenarkan dalam agama islam. Islam yaang merupakan rahmat bagi semua alam harus kita tanamkan dalam sanubari kita.
“Dan kamu Mahmud harus kuat memegang agamamu..!”. Kyai yang sangat berwibawa tersebut menasihati Mahmud yang merupakan seorang muallaf yang sebelumnya beragama Hindu. Mahmud berasal dari Kasta tinggi dalam agama Hindu yang nama aslinya Ida Bagus Mahendra lalu di ganti oleh kyai Abdurrahman. Mahmud awalnya masuk islam selalu dihalangi oleh keluarganya. Dan pada saat dia tinggal di pesantren tidak ada satupun dari keluarganya yang tahu. Berkat kasih sayang kyai Abdurrahman, Mahmud menjadi paham terhadap agama islam. Bahkan, idealismenya dalam beragama melebihi teman-teman pondoknya. Apapun yang diharamkan dalam agama dan nasihat kyai selalu dijaganya. Hal itu berbeda dengan teman-temannya yang selalu ada multi tafsir dalam beragama dan peraturan yang di larang kyai.
“Nabi mengatakan bahwa menjaga agama itu bagaikan memegang bara api. Itu artinya semakin kuat agama kita maka ujian kita dalam beragama juga semakin besar. Ujian-ujian harus siap kita hadapi”. lanjut kyai dengan nasihatnya kepada Mahmud yang sebelumnya mengeluarkan sebuah hadis Nabi. Setelah itu kyai beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju ke dhalem.

Beberapa jam kemudian setelah kyai Abdurrahman berlalu masuk dhalem, malam pun semakin larut dalam gelapnya. Mahmud, Mushoddiq, Ali masih berjaga-jaga mengamankan keamanan pesantren di teras masjid. Namun, dalam sunyinya malam pendengaran mereka akhirnya tertuju pada suara sepede motor yang entah dari mana asalnya
“Bruummhhh… Brummmhh… Bruummmhh..!”” terdengar sekelompok orang bersepeda yang sedang menuju ke pondok pesantren. Suara sepeda motor tersebut semakin lama semakin keras membuat penasaran menyelimuti hati mereka.
Mereka bertiga semakin penasaran dan siaga dengan keadaan yang semakin mencekam. Suara sepeda dengan kenalpot blonk tersebut tidak hanya mereka yang mendengarnya tapi santri junior yang sebelumnya terlelap kini keluar untuk melihat suasana gaduh tersebut.
“Pranggkkk…!. Terdengar suara lampu pondok pesantren sebelah timur pecah akibat di lempar orang. Selain itu mereka mendengar teriakan keras yang mengatakan sesuatu yang menghina agama islam.
“Islam terorist…! islam terorist..! islam terorist.” Akhirnya muncul sumber suara tersebut dari sesosok orang sedang mengenakan helm teropong hitam. Dia mengatakan tersebut sambil berteriak dengan memanjat tembok pondok pesantren. Suasana malam gelap yang mencekam semakin menakutkan.
“Siapa orang-orang itu…?” spontan bertanya Ali setelah merasakan suasana menakutkan tersebut.
“Mana aku tahu…!” jawab Mushoddiq.
“Hal ini tidak bisa dibiarkan…!” Mahmud memandang dengan penuh kewaspadaan yang tiba-tiba berlari dengan cepat menuju orang yang sedang memanjat tembok tersebut. Melihat keadaan temannya berlari Ali dan Mushoddiq juga ikut berlari mengikuti di belakang Mahmud. Sementara itu santri junior masih belum berani keluar asrama sebab suasana yang masih mencekam.
Melihat ada orang yang sedang berlari mengejar akhirnya orang berhelm teropong itu meloncat turun dari tembok yang tingginya tiga hasta tersebut. Walaupun Mahmud dan teman-temannya mengejar, mereka tetap meneriakan kata-kata mereka yang menghina agama islam.
“Ayoo berangkat.!. salah satu gerombolan tersebut memberikan komando terhadap kelompok yang lain.
Sesaat Mahmud, Ali dan Mushoddiq sudah hampir sampai berlari di depan gerbang pondok pesantren. Mereka berlari dengan membawa senter dan pentungan khawatir terjadi sesuatu. Mahmud yang sudah duluan berlari mengejar para pengendara sepeda motor tersebut kini sudah sampai beberapa meter berlari keluar gerbang. Namun usaha Mahmud kelihatanya akan sia-sia sebab para pengendara sepeda motor tersebut sudah lepas gas kabur meninggalkan mereka. Dengan nafas yang hampir habis, keringat yang semakin bercucuran tampak kekecewaan menyelimuti hatinya.
“Kurang ajarr…!” teriak Mahmud dengan emosi yang semakin memuncak seratus delapan puluh derajat. Dengan marah yang meluap-luap itu mungkin jika diperhatikan kepala Mahmud seperti kereta api yang mengeluarkan asap.
Namun warga desa yang bertetangga dengan pesantren yang sudah dari tadi terganggu dengan suasana gaduh tersebut keluar rumah melihat suasana yang terjadi. Dengan larut malam gelap yang diterangi dengan lampu-lampu dari rumah warga yang berada di pinggir jalan tersebut warga semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka mendekat ke pesantren dengan arah yang berlawanan dengan para pengendara sepeda motor yang berkenalpot blonk tersebut. Sontak, para pengendara motor tersebut terkejut melihat warga kampung menjegat mereka dari arah berlawanan. Pada akhirnya mereka berbalik arah lagi dan sekarang berhadapan lagi dengan Mahmud yang dari tadi merasakan kekecewaan. Dengan nafas yang ngos-ngosan, kini dia bangkit lagi terperangah dengan sekumpulan pengendara sepede motor yang sebelumnya dia kejar kini berada di depan matanya.
“Minggir kau…!” perintah salah satu pengendara motor kepada Mahmud yang masih berdiri ditengah jalan yang siap menghalang mereka.
“Dasar nekat..!” cetus yang lain melihat sikap pendirian Mahmud.
“Gag usah difikirkan…!. Terobos saja..!” Para pengendara motor tersebut akhirnya tetap nekat menorobos badan Mahmud yang menghalangi jalan mereka. Beberapa di antara mereka berhasil meloloskan diri. Segera mungkin Mahmud mengambil sikap.
“Bruukkk…!” Mahmud berhasil menjatuhkan salah satu pengendara motor tersebut. Dia mendorong badan pengendara motor tersebut dengan keras. Sehingga sepeda motor yang dikendarainya hilang keseimbangan lalu jatuh ke tanah. Kini Mahmud berhasil menangkap salah satu dari pengendara motor yang sebelumnya meneror pesantren mereka. Dia segera mungkin menenangkan diri lalu mengunci tangan pengendara motor tersebut. Sehingga, orang itu tidak lagi bisa bergerak.

Masyarakat yang sebelumnya mengejar para pengendara motor tersebut sangat marah setelah mengetahui tindakan yang mereka lakukan. Melihat salah satu pengendara motor tersebut sudah berhasil dijatuhkan oleh Mahmud masyarakat sudah siap dengan bogelan mentah di tangan. Namun kyai Abdurahman keluar menenangkan suasana.
“Apa yang kalian lakukan..!” Sontak kyai sangat marah dengan perlakuan masyrakat yang ingin main hakim sendiri terhadap pengendara motor itu.
“Orang ini telah melakukan teror di desa kita kyai..! Dia harus di beri pelajaran. Haaaghh..!” salah satu masyrakat yang sudah naik emosi langsung memberi pukulan terhadap pengendara motor yang sudah tertangkap.
“Udahhh…udahh..udahh..!” kyai menenangkan suasana.
“Gede…! bawa orang ini masuk. Masukan dia ke dalam gudang..!.” Perintah kyai kepada salah seorang pemuda dari masyarakat setempat. Setelah kejadian itu kyai, masyarakat dan santri melakukan rapat darurat di masjid membicarakan masalah yang baru saja terjadi.
“Kita harus membalas perlakuan orang Hindu itu kyai..!”
“Itu benar…! Bagaimana besok malam kita langsung melakukan penyerangan terhadap mereka. Kita harus balas tindakan mereka..!”
“Betol…Betol..Betol..” jawab masyarakat yang lain dengan kompak membenarkan pernyataan yang disampaikan.
“Udah! Tenang!… mari kita hadapi masalah ini dengan kepala dingin. Jangan dengan emosi!” kyai mencoba menenangkan suasana panas yang sudah dari tadi menyelimuti malam tersebut. Setelah beberapa lama kemudian Gede yang sudah pergi ke gudang telah datang kembali berkumpul dengan masyarakat yang lain.
“Saya kenal orang itu kyai.” Gede mencoba memberikan informasi kepada kumpulan rapat.
“Siapa mereka Gede..?” kyai bertanya dengan nada penasaran.
“Mereka adalah warga sebelah utara, kyai. Mereka selama ini memang di kenal sebagai warga yang sering mendapatkan peringatan dari pemerintah karena sikap mereka yang di kenal suka melakukan kekerasan.”
“Lalu siapa kumpulan orang bersepeda barusan yang meneror kita…?”
“Mereka adalah anak muda yang sering nongkrong di desa tersebut. Sementara itu orang yang berhasil kita tangkap adalah pemuda yang sudah beberapa kali keluar masuk penjara gara-gara kasus kriminal”. Jawab anak muda yang bertubuh tegap tersebut dengan memberikan penjelasan.
“Sudah.. saudara sekalian…! Besok kita akan membawa orang itu ke kantor polisi gak akan ada lagi yang namanya kekerasan” kyai memberikan kebijakan sambil berdiri dan langsung meninggalkan perkumpulan rapat di masjid tersebut.
Dengan berakhirnya rapat, masyarakatpun kembali dengan tenang ke rumah mereka masing-masing.

Di saat fajar telah muncul dengan cahaya yang menyingsing di arah timur dengan keindahannya. Sebagian loud speaker dari beberapa masjid telah mengumandangkan suara-suara ayat Al-qur’an tanda sholat subuh akan dilakuakan. Ayam-ayampun telah melantunkan suara emasnya membangunkan manusia yang terlelap. Setelah rapat selesai Mahmud yang masih duduk di pinggir teras masjid menatap sang fajar dengan renungan yang ada di benaknya. Sungguh kini dia telah mengerti betapa pentingnya toleransi dalam kehidupan. Sering kali manusia terbawa suasana dengan kondisi yang mengelilinginya sehingga melakukan tindakan bodoh tanpa meneliti lebih lanjut terhadap peroblema yang dihadapinya. Ajaran islam yang kaffah adalah ajaran islam yang telah diajarkan nabi muhammad SAW kepada kita dengan tanpa melakukan kekerasan dan memberikan kedamian bagi seluruh alam. Kini Mahmud harus giat lagi memperdalam agama islam. Ternyata selama ini banyak orang hanya mengetahui sebagian dari ajaran agama islam sehingga melahirkan gerakan pemikiran yang jauh dari substansi islam yang sebenarnya.

Cerpen Karangan: M. Sofi Zihan
Facebook: Shofy Zeahan
Nama: M. Shofi Zihan
Pendidikan: santri P.P. Salafiah Syafi’iyah Situbondo

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Islami (Religi) Cerpen Kehidupan Cerpen Nasihat

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply