Jangan Panggil Aku Ustadzah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 18 June 2016

“Assalaamu ‘alaykum Ustadzah Uswa. Kian hari, kian cantik saja.” Goda seorang pria tambun yang sedang berkumpul bersama teman-temannya di pelataran kampus.
Aku menundukkan pandanganku dan mempercepat langkahku. Tak menggubris pria kurang kerjaan itu sama sekali.

Uswatun Hasanah. Itulah namaku. Nama yang amat dibanggakan Abahku, Jalaluddin Akbar. Umiku, Nadila Syamsiyah, telah bersama Allah saat ini, dalam surga-Nya. Aamiin.
Aku benci siapapun yang memanggilku Ustadzah. Aku mafhum, mereka seperti itu karena pakaian syar’i yang ku kenakan. Tapi semua itu tidak menjamin. Aku tak sebaik yang mereka kira. Aku gadis penuh dosa.
Aku tak pernah melakukan ini. Berduaan dengan lawan jenis di tempat sepi. Tersenyum manja padanya, memeluknya penuh cinta. Saat bersamanya, aku merasa teramat nyaman. Aku tak peduli lagi dengan hijabku ini.
Semua ini berubah saat Umi meninggal dunia. Aku menjadi gadis seperti ini karena tak ada Umi lagi yang menasehatiku. Abah? Dia terlalu sibuk dengan ceramahnya sampai melupakanku.
Itulah alasannya mengapa aku tak ingin dipanggil Ustadzah. Panggilan sederhana itu benar-benar menyayat hatiku. Oh tidak. Aku gadis berlumur dosa, amat tak pantas menyandang gelar suci itu. Andai mereka mengerti. Andai mereka memahaminya.

Pria yang membuatku jatuh hati itu, pria baik yang banyak menasehatiku perihal agama. Meski kami sering berdua-duaan, kami masih bisa mengontrol diri. Meski sesekali berpelukan dengan mesra.
Jika saja Umi masih hidup, ia pasti akan sangat marah melihat diriku yang sekarang. Umi pasti akan merasa menjadi orangtua yang gagal dalam mendidik anak.

Umi, maafkan anakmu ini. Gelar Ustadzah seperti yang Umi sandang, aku tak pantas menerimanya. Aku kotor Umi. Aku terlalu hina untuk gelar suci itu.

Seketika terdengar suara, entah dari mana asalnya. “Umi kecewa padamu Us. Kamu gadis yang Umi banggakan menjadi wanita sholihah seperti Fatimah Az-Zahra, kian terjerumus dalam kenistaan. Sadarlah Us. Apa yang kau dapat dari pria seperti itu? Renungkan Us, jika dia benar mencintaimu, dia tak akan pernah berani menyentuhmu, secuil pun.”
Keringat dingin membanjiri wajahku. Ah, hanya mimpi. Dan Umi, kata-katanya membekas dalam sanubariku.

Umi, ibu terhebat yang ku punya. Aku telah mengecewakannya. Dan aku akan mencoba, mencoba merubah diri, menjadi lebih baik. Bukan untuk mengharap panggilan suci nan baik itu. Sudah cukup, jangan lagi memanggilku Ustadzah.

Cerpen Karangan: Dian Antuala
Facebook: Dian Diana Antuala

Cerpen Jangan Panggil Aku Ustadzah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


There Is No God But Allah

Oleh:
Beruntung, aku bisa terbang seperti kupu-kupu yang indah, aku bisa hinggap dimanapun ku mau, tapi aku menyesal menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa menikmati dunia ini sendiri, tanpa teman

Kita Perlu Bersabar

Oleh:
“Ada satu hal yang terlihat kecil namun ia seperti suatu bilangan Besar dalam Metode BIG-M Pemrograman Linier. Satu hal itu tertanam dalam hati. Dan ia kau kenal dengan H.A.R.A.P.A.N”

Ku Pilih Kekasihku atau Agamaku

Oleh:
Vika Laura terlahir dari keluarga yang sederhana. Tepatnya di Banyumas, dia di kenal seorang gadis yang baik, ceria, pintar dan pandai menyanyi bahkan anak yang rajin mengaji. Dari kecil

Lantunan Ayat Ayat Annisa

Oleh:
Lantunan ayat-ayat Surah An-Nisa bergema merdu sekali. Suara tersebut berasal dari kamar gadis yang masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Seperti surah yang ia baca, namanya adalah Annisa. Gadis

Untuk Sahabat

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Ponselku bordering, ada pesan masuk dari Vivi. “Chita, udah lama nunggu ya? Lima menit lagi aku nyampe, macet nih,” “Tenang aja Vi, aku lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *