Jangan Salahkan Hijabku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 2 April 2018

Saat fajar mulai menampakkan diri, para ayam pejantan mulai berhanti berkokok. Kudapati semburat cahaya merah di ujung awan. Saat tetesan embun mulai membasahi tanah. Pohon-pohon yang rimbun membuatku takjub seraya mengucap syukur pad-NYA. Hari ini semua akan berubah. Tidak seperti biasanya, tidak seperti Zahara Dhiafakhri yang seperti biasanya. Ini semua terjadi karena proses yang kujalani, proses yang menjadikanku wanita yang seutuhnya. “dan aku berjanji ayah… aku lakukan ini untuk menunjukan ketaatanku pada Allah dan ayah yang telah jauh meninggalkanku” doaku selalu mengudara bersama angin yang berhembus sejuk dipagi ini.

“Bunda, kakak berangkat kerja dulu ya bun, nanti kakak langsung ke kampus” ucapku seraya mencium punggung tangan kanan bunda, bunda pun tersenyum bangga padaku. “ayah pasti bangga padamu dan tersenyum di surga sana” sahut bunda. Inilah rutinitasku setiap hari, apalagi setelah kepergian ayahku satu bulan silam.

Teriknya matahari tak menyurutkan niatku untuk tetap bekerja. Berpose, bergaya, tersenyum, itulah rutinitasku ketika bertemu dengan lensa kameta dan lampu sorot. Aku mulai tagang saat fotografer memanggilku ke ruanganya. Yah aku fikir mungkin kang Sanu hendak memberikan aku proyek yang lebih besar.

“Ara… saya tahu ini pilihanmu, dan kau telah bekerja lama padaku, dan kuakui kau cukup profesional dan dapat diandalkan, tapi, semua ini.. nempaknya perlu pertimbangan ulang ra…” kang sanu berbicara ragu-ragu padaku “maksudnya apa mas…?”. “Ara… jika kau mau tetap bekerja, aku mohon pertimbangkan pilihanmu untuk mengenakan hijab seperti sekarang, karena produser kita telah mengalami penurunan drastis, dan beliau bisa saja langsung memecatmu” bagai teriris belati hingga bertubi-tubi, aku masih tak percaya, apakah ini salah hijabku… aku hanya tersenyum miris pada kang sanu seraya menggelengkan kepala “tidak kang, keputusanku telah bulat, lebih baik saya keluar sekarang kang, saya minta maaf. Dan terima kasih untuk 3 tahun ini” ucapku berusaha tegar, lalu berdiri meninggalkan ruangan kang sanu dan mulai bergegas ke kampus.

Suasana kampus sangat ramai tak seperti biasanya, apalagi saat kudapati kerumunan mahasiswa di mading aula kampus. Aku bukanlah gadis kepo dan aku malas untuk mencari informasi yang tak menghasilkan manfaat bagiku. Aku sempat merasa risih saat semua mahasiswa menatapku aneh, dan aku hanya bisa mem-bodoh amatkan mereka. Aku berjalan menunduk dengan genggaman setumpuk buku, tas yang menyerempang di samping kiri. Penampilanku pun memang tak biasa, dengan long dress syar’i berwarna peach dan kerudung abu-abu membuat aku meras sangat berbeda. Aku berjalan cepat hendak ke perpustakaan, amat cepat hingga…

Brukk aku menubruk seseorang yang membuat bukuku jatuh tercecer “maaf.. maaf” ucapku tergesa saat aku berhasil berdiri seutuhnya, aku begitu terkejut dengan berdirinya Romy dan Syila tepat di depanku sedang bergandengan tangan mesra, tak terasa buliran air mata terjun bebas dan membasahi pipiku “Kak Romy… kenapa kakak bersama Syila” lirihku pada laki-laki di depanku. “hm, akhirnya kau tau juga Ara… maaf tapi aku lebih mencintai Syila” jawabnya acuh “tapi kenapa kak…? kita hampir 3 tahun dan kakak…”. “Mana bisa aku berpacaran dengan gadi berjilbab… sok agamis… dulu aku mencintaimu karena parasmu yang cantik tapi sekarang…” ucapanya menggantung “jadi kakak menyalahkan hijabku, terima kasih kak… kini aku tau siapa kakak bagaimana kakak. Kakak bukan mencintaiku, tapi menuruti hawa nafsu saja… aku bersyukur ALLAH telah membuka mataku”.

Semua adalah tantangan besar, perubahan besar pasti berdampak besar. aku yakin ALLAH akan menggantinya yang lebih baik. Jadi jangan salahka HIJABKU…

Cerpen Karangan: Silvi
Blog / Facebook: silvi

Cerpen Jangan Salahkan Hijabku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu Pohon Mangga

Oleh:
Ceria begitu orang memanggilnya. Namanya seperti menggambarkan kesehariannya yang selalu ceria, walaupun ia hidup sangat sederhana bahkan bisa di bilang pas-pasan. Ia hidup bersama ibu dan kedua adiknya yang

Sudah Saatnya

Oleh:
Aku berlari kecil menghindari hujan sambil memayungi kepalaku dengan kedua tangan, meski percuma tetap saja tubuhku basah. Air berkecipak di kakiku. Membasahi celana jeans panjang yang kupakai. Setelah sampai

Si Pejuang Subuh

Oleh:
Suara kokok ayam terdengar nyaring di telinga seorang gadis yang baru saja membuka matanya. Mengerjap-ngerjap sebentar lalu bangun dan duduk untuk mengumpulkan nyawanya kembali. Dibukanya tirai jendela. Langit masih

Saksi Mata Biru (Part 2)

Oleh:
Sepuluh tahun kemudian, pasca kemerdekaan, 9 November 1945. tepatnya di masjid pondok. Pagi itu para santri terlihat bersemangat membaca Al-quran, kabar tentang gerakan mempertahankan kemerdekaan semakin memanas, setelah kematian

Di Balik Jilbab Panjangmu

Oleh:
Hampir 2 tahun aku mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas di kotaku ini. Sekarang aku duduk di bangku kelas XI-IPA, tentunya selama ini aku memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Teman-teman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Jangan Salahkan Hijabku”

  1. Niken Alviolita says:

    Kekurangan kelebihannya cerpen ini apa ya ??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *