Jejak Mahasantri Ummu Salamah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 31 August 2014

Pagi yang indah menyelimuti kota Malang. Embun penyejuk masih singgah pada ranting pepohonan. Kicauan burung terdengar merdu bak lantunan lagu yang dinyanyikan. Begitu pula sinar mentari, menyebarkan cahaya terang ke penjuru alam tuk berikan kehangatan. Perjalanan panjang memburu ilmu akan ku mulai.

Gedung mabna ummu salamah, gedung yang telah lama terbayang bagaimana indah tinggal di dalamnya. Tergambar rapi di fikiranku bertemu sosok insan yang ramah ketika menyambut kedatangan mahasantri yang akan mengukir jejak kehidupan.

Jam berjalan begitu cepat. Cahaya matahari semakin terang menatap dunia. Tanpa kusadari, langkahku terhenti saat melihat gedung berukir “Ummu Salamah”. Tulisan itu tampak menempel erat di depan bangunan bersusun empat lantai. Teringat bayangan yang dulu aku impikan, kini di hadapanku menjadi kenyataan.

Bermula di depan mabna ummu salamah. sambutan mbak musyrifah dengan senyum ceria berdiri di depan mabna. Jilbab hijau tosca menghiasi kepala mereka bak sebuah mahkota yang mewah. Jilbab itu tersusun rapi hakikat perempuan muslimah calon penghuni surga.

“Bismillahirrahmanirrahim ..” kataku dalam hati ketika menginjakkan kaki di depan tangga mabna. Aku berharap langkah awal ini akan berujung pada kesuksesan yang menakjubkan.
“Masuk sini dek..” sambut mbak musyrifah dengan ramah menyapa. Tak kusangka sebelumnya, tali persaudaraan antar sesama terlihat jelas saat menyambut kedatangan mahasantri.
“dek.. isi dulu data ini, jangan lupa menempel foto ukuran 3 x 4 di bawahnya”, sambil menyodorkan kertas yang ada di meja yang telah tersusun rapi sebelumnya.
“Nggeh mbak..” jawabku dengan nada polos mengikuti apa yang menjadi persyaratan sebelum resmi menjadi penghuni baru mabna ummu salamah.
“kamar berapa dek?” Tanya mbak musyrifah untuk yang kedua kali, tak lupa ia memberi senyum tanda keramahannya pada mahasantri baru.
“nomor 27 mbak, lantai 2”. Tanpa berfikir aku menjawabnya secara langsung.
“ooh.. nggeh dek, disini lantai 2. sampean lurus mawon”, sambil menunjuk arah sebelah utara.
“terima kasih mbak”, tanpa menunggu lama kuberdiri dan beranjak langsung menuju tempat yang akan menjadi bagian cerita dalam kehidupanku selanjutnya.

Kuambil langkah santai sambil memandang tiap nomer kamar yang terlintas jelas di setiap pintu. Hanya butuh beberapa menit saja, sampailah aku pada tujuan yang aku cari.
“tok.. tok.. tok.. Assalamualaikum..”, ku ketuk pintu persegi panjang yang menghalangiku masuk ke dalamnya”
“Waalaikumsalam..” terdengar suara dari dalam kamar, membalas salam dariku.
Aku diam sejenak, mengambil nafas perlahan lalu membuka pintu secara pelan. Aku tersenyum lebar ketika bertemu tujuh mahasantri baru yang belum aku kenal sebelumnya. Kita saling mengenal satu sama lain, hingga terlihat seolah menjadi saudara akrab yang tak terpisah.

Seluruh kegiatan di mabna menjadikanku semakin mengenal lingkungan sekitar. Mulai dari kegiatan tahsin al-Qur’an, shobahul lugho, language day, ta’lim al-Qur’an dan juga ta’lim afkar.
Setiap hari terdengar..
“Ayo dek.. cepat keluar kamar!! ayooo dek .. cepat keluar”, suara itu yang sering diteriakan mbak musyrifah pendamping sesaat sebelum kegiatan mabna dimulai, seolah menjadi teriakan wajib sebelum kegiatan berlangsung.
Dengan terbentuknya jadwal yang telah terstruktur, kegiatan mabna terlaksana sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Hanya kata istiqomah yang terpaut dalam keseharian mahasantri untuk menjalankannya.
Tak ketinggalan, Serangkaian iqob menjadi sanksi atas pelanggaran yang dilakukan mahasantri.

Terdengar pengumuman kegiatan..
“Assalamualaikum, Announced for mahasantri mabna ummu salamah that the room will held race hygiene and labeling room”, mendengar hal tersebut. Suasana kamar menjadi hening sejenak.
“Therefor, expected to all mahasantri mabna ummu salamah decorated with Arabic or English And always maintain the cleanliness of the room”, kalimat yang menjadi penutup akhir pengumuman, membuat aku dan ketujuh teman sekamarku spontan kompak mengatur strategi lomba.

Kami langsung mempersiapkan kebutuhan lomba, mulai dari kertas origami, gunting, lem, sapu, tempat sampah bahkan kebutuhan sikat kamar mandi. Berbagai strategi kususun bersama teman sekamarku. Hingga akhirnya, hiasan mufrodat satu persatu menempel teratur pada setiap benda yang ada di penjuru kamar. Berbagai kreasi warna disatukan menjadi variasi keindahan.

Terpampang jelas di dinding kamar “By learning to obey, we know to command”. Kata yang menjadi filosofis kekompakkan kamar 27 mabna ummu salamah. Namun, kekompakkan kamar tak akan lepas dari musyrifah pendamping yang tiap hari mengamati dan membimbing adik dampingannya.

Sinar mentari yang terang, kini berganti cahaya bulan. Ribuan bintang menari riang di angkasa yang luas membentang. Malam itu adalah malam puncak pengumuman perlombaan, acara diikuti dengan pembukaan perpustakaan mabna dan ekstra mahasantri.

Aula lantai dua di mabna ummu salamah, seolah disulap menjadi taman yang bertabur keindahan bunga. Seluruh musyrifah mengunakan kostum hijau cerah dengan hiasan bunga yang menempel pada jilbab kebesaran mereka.
Bertema “GARDEN (Grand opening d’scrub excellent library)”, seluruh mahasantri menggunakan pakaian yang senada dengan tema. Tak terkecuali aku dan ketujuh teman kamarku. kami serempak menggunakan kostum dengan warna dasar coklat. Tiruan bunga mawar menjadi pita melengkapi hiasan kostum bunga.

Suara teriakan terdengar kencang di seluruh penjuru ruang. Mereka menyuarakan jargon setiap lantai yang menjadi tempat mereka singgah. Rasa senang dan bahagia tlah membentuk senyuman manis wajah mahasantri ummu salamah.
“Tepuk USA.!!”, komando mbak musyrifah sebelum acara dimulai.
“give me U… give me S… give me A… U.S.A. Where there is a will there is a way”, teriakan kompak mahasantri ummu salamah terdengar lantang membuka acara.
“Victory USA.!!”, komando jargon yang kedua.
“Victory victory victory USA… Victory victory victory USA… O wee ow”. Suara dari penjuru ruang semakin terdengar meriah menyuarakan jargon andalan mabna
Ketika akhir jargon mabna. Mbak Kholidatul Imaniyah yang akrab disapa Miss Lia. Melanjutkan jargon ketiga.
“U S A (yuuu essss eiii) !!”, dengan nada yang khas menutup jargon mabna
“Uuuuuh Soo Sweeet Ah”. Seluruh mahasantri tersenyum senang merasakan suasana yang amat meriah.
Saat acara dimulai..
Seluruh mahasantri terlihat antusias di setiap rangkaian acara, mulai dari sambutan murabbiyah hingga do’a di akhir penutup acara.
Penampilan mahasantri ditunjukkan dengan fasion show dengan memakai kostum sesuai tema yaitu garden oleh perwakilan setiap kamar. Dengan gayanya masing-masing, seluruh mahasantri menunjukkan aksi dan kreasinya.
“Hello USA, masing semangat ..!!” Tanya mbak musyrifah dengan nada semangat
“Sekarang adalah acara yang kalian nanti pastinya, yaitu pengumuman lomba kebersihan dan lebeling kamar”, mendengar kelanjutan acara. Dalam hati berharap kemenangan akan berpihak pada kamarku.
Dengan penuh penasaran, kudengarkan dengan seksama apa yang diumumkan oleh dewan juri. Tapi, tak kudengar juga kamarku disebutkan. Dengan sabar dan masih penuh harapan kudengarkan kelanjutan pengumuman lomba yang lain. Namun, sampai pada akhir pengumuman. Kamarku belum berpihak mendapatkan juara.
Aku tidak menjadikan hal itu sebagaai masalah. Begitu juga seluruh teman kamarku. Bagiku terbentuknya kekompakkan, keakraban bahkan persahabatan. Semua itu adalah suatu kemenangan yang bisa mengalahkan kegalauan dan kesedihan.

Setelah acara usai, seluruh mahasantri kembali ke kamar masing-masing. Begitu juga diriku. Dengan tetap semangat, ku langkahkan kaki kembali menuju kamar yang suatu hari nanti akan menjadi jejak kenanganku.

Malam semakin larut. Suara mahasantri yang tadinya terdengar meriah saat acara, kini menjadi sunyi senyap. Namun, mata ini belum juga terpejam tuk melepaskan lelah seusai kegiatan. Kuputuskan tuk mengukir jejak yang aku jalani pada buku bersampul biru.

Ummu salamah
Disitulah aku singgah
Mengukir jejak setiap langkah
Dengan semangat pantang menyerah
Aku..
Kita..
Dan mereka..
Itu bukanlah sekedar kata
Bersatu semangat maju
Berjuang penuh harapan
Belajar tanpa batasan
Bersama satu tujuan

“Jejak Mahasantri akan menjadi sebuah bukti, atas tercapainya prestasi, yang akan kita raih, suatu saat nanti”.

Cerpen Karangan: Suci Aristanti
Facebook: Suchy Pazthie

Suci Aristanti
Jombang, 10 April
Jurusan PAI di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Cerpen Jejak Mahasantri Ummu Salamah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangga Terakhir

Oleh:
“Teeet.. Teng, teng, teng,” suara bel serta bunyi kelonteng bergema dengan kerasnya, mengundang helaan napas setelah melewati 4 jam yang diisi dengan berbagai mata pelajaran. Namun, rasa lelah, bosan,

Pertemuan Singkat

Oleh:
Angin malam menyapa tidurku, aku terlelap akan sapaannya. Aku merasakan perjalanan yang begitu jauh entah dimana, aku sendiri tidak mengetahui keberadaan jiwaku yang sebenarnya. Angin menghembuskan kerudungku dan belaiannya

The Muslim, Misteri Manusia Cahaya

Oleh:
Makhluk tersebut terus mendekat, mendekat dan mendekat. Seperti seekor predator yang menginginkan mangsanya. “Tolong” teriak mereka bersamaan. Aisyah dan Rasti gemetaran dan saling memegang tangan satu sama lain. “Ya

Arsitek Cerdas nan Jelita

Oleh:
Langit dini hari selalu memikat. Bintang yang berkilauan di mata tampak seumpama mata ribuan malaikat yang mengintip penduduk Bumi. Bulan terasa begitu anggun menciptakan kedamaian di dalam hati. Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *