Jilbab

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 18 January 2020

“Piiiit! Mana jilbab Mbak Zahra?” teriak mbak Zahra dari kamarnya. Yang dipanggil cuek sambil terus membetulkan jilbabnya yang belum rapi.

Dengan penuh kemarahan Zahra pun berlari ke kamar adiknya.
“Heh, kok dipake?” Zahra bertambah gusar, kemudian menarik jilbab Pipit.
“Emang kenapa? Ini kan jilbabku juga!” Pipit tak kalah keras.
“Tapi kamu kan baru pake kemaren, sekarang giliranku,” Zahra bertambah sengit.
“Sekarang Pipit keputrian, Mbak! Malu dong kalo Pipit pake jilbab pendek, padahal temen-temen Pipit yang ikut keputrian jilbabnya panjang-panjang dan lebar-lebar,” nada suara Pipit mendatar. “Ya udah!” Zahra keluar dari kamar Pipit sambil membanting pintu.

“Ada apa sih, pagi-pagi sudah ribut?” Ibu yang mendengar keributan itu jadi ikut-ikutan gusar.
“Itu Bu, Pipit kemaren dia kan baru pake jilbab yang lebar itu. Harusnya sekarang giliran Zahra yang pake,” cerita Zahra masih kesel.
“Kak, kamu ngalah dikit, toh! Dia kan adikmu,” Ibu seakan membela Pipit.
“Ah, Ibu pasti selalu ngebelain Pipit. Padahal Pipit udah jelas-jelas salah,” Zahra bertambah kesal.
“Bukan membela, tapi…”
“Sudah, sudah, tiap hari yang diributin kok jilbaaab terus! kalian kan muslimah berhijab. Tunjukkan dong akhlak yang baik, nggak kayak sekarang, tiap pagi musti ngeributin soal jilbab terus! Mending kalian nggak usah pake jilbab sekalian, atau jilbab itu mau Ayah gunting-gunting untuk membungkam mulut kalian,” Ayah sepertinya sudah kehilangan kesabaran.
Zahra dan Pipit diam tertunduk. Segumpal penyesalan menyesakkan dada mereka masing-masing…

Di hari berikutnya…
“Mbak Zahra, mana jilbabnya? Pipit mau pake. Sekarang ada mentoring di masjid,” Pipit sudah teriak-teriak di depan pintu kamar kakaknya.
Zahra lalu keluar dari kamarnya, sudah rapi, lengkap dengan jilbab putih lebar.
“Mbak, Pipit mau pake!” Pipit mulai gusar. “Gantian, Non! kemaren kan kamu terus-terusan yang memakainya. Sekarang giliran Mbak,” kata Zahra tenang, Pipit kesal, dihentakkan kakinya, lalu berlari menemui ibunya.

“Bu, belikan Pipit jilbab lagi,” rajuk pipit.
“Lho, jilbab kamu kan banyak?”
Ibu mencoba bersabar walau sesungguhnya ia sangat bosan setiap hari harus menghadapi anak-anaknya yang selalu meributkan jilbab
“Tapi semua pendek, Bu!” kata Pipit dengan manjanya
“Nggak masalah kok, yang penting aurat kamu termasuk dada kamu tertutup dengan baik, pakaian kamu jangan ketat dan nggak lupa pake kaos kaki,” nasehat ibu.
“Tapi, temen-temen Pipit pakenya yang lebar, Bu” ujar Pipit.
“Jadi kamu pake jilbab lebar karena ikut-ikutan teman?” Pipit
“Apa kamu mau dicap oleh Allah sebagai umat yang taqlid, yang segala ibadahnya hanya sekedar ikut-ikutan saja? Pipit, sifat orang-orang yang beriman taqlid dalam beragama itu, seperti daun yang ditiup angin. Segala amal ibadahnya sia-sia disisi Allah,” Ibu berkata dengan bijaksana.
Pipit masih terdiam. Kata-kata ibunya mengena di hatinya.

“Sudah, kalo kamu tetap ngotot pake jilbab lebar ya terserah. Mbak Zahra juga mau kok, pake yang pendek asal nggak keluar dari syariat Islam. Tapi, sekarang dia pengen kamu nggak ribut lagi. Jadi, dia sengaja pake jilbab yang lebar itu,” papar ibunya lagi. Pipit lalu beranjak.

Lima belas menit kemudian Pipit sudah siap berangkat ke masjid. Diciumnya punggung tangan ibunya dengan penuh kasih sayang.

Cerpen Karangan: Fadli Hidayat
Blog / Facebook: Fadli Hidayat

Cerpen Jilbab merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacar Bukanlah Segalanya

Oleh:
“Naya, aku jadian sama Riko,” ucap Mira kegirangan. Mira adalah sahabatku dari kecil, kami selalu bersama-sama ke mana pun. Kami juga aktivis pengajian. Di usianya yang remaja ini Mira

Pribadi Lebih Baik

Oleh:
Bunda dan Ayah sedang berbicara serius tentang diriku, mereka berdua sepakat untuk memasukkanku ke Asrama Muslimah, asrama ini adalah asrama khusus Muslimah. Aku masih sangat bingung, memang, ini kesalahanku

Prasangka

Oleh:
Awan putih tercecer dilangit, membentuk gerombol gerombol kecil yang tak bernama. Beberapa diantaranya memang terlihat seperti siluet dan bentuk yang bisa terbaca, namun selebihnya terberai dalam gugusan-gugusan kecil. Langit

Action For Be Better

Oleh:
Anak Rohiiisss… Cinta Allah. Cinta Rasul. Allahu Akbar. Pekik semangat seorang MC, kemudian langsung diumpan balik dengan sambitan eits maksudnya sambutan hangat pula. Di kalangan anak sekolah sudah sangat

Konspirasi Biji Sawi

Oleh:
Terdengar suara gesekan sandal, ketika Muras mengadu sandalnya dengan aspal untuk menghentikan laju sepedanya. Dengan sedikit tergesa-gesa, Muras memarkir sepedanya. Dan bergegas memasuki masjid sebelum khotib menaiki mimbar. Angin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *