Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 29 December 2017

Namaku Maelica Lilia. Umurku 16 tahun. Aku tinggal berdua dengan kakak perempuanku, Marina Zee yang umurnya lebih tua 9 tahun dariku.
Kak mari adalah orang yang mengurusiku setelah kedua orangtua kami meninggal 4 tahun yang lalu pada insiden bom kuali.
Kak mari adalah sosok yang uncredibly perfect. Dia cantik, pintar, dan menjadi penasehat utama di perusahaan fashion ternama.
Segala kebutuhanku disediakan dengan cuma-cuma oleh kak mari; fasilitas kamar, uang jajan, dan pendidikan.
Setiap kali aku meraih prestasi di sekolah, dia akan mengabulkan satu permintaanku. Hal inilah yang selalu menjadi motivasiku dan terus membuatku menjadi juara umum di sekolah.
Besok aku akan menjalani ujian semester dan itu adalah berita bahagia bagiku. Karena itu berarti aku bisa meminta kakak mengabulkan satu permintaanku.

Malam itu, kudatangi kak Mari yang tengah sibuk browsing fashion trend di salah satu website fashion ternama di AS.
“kak” ujarku pelan.
“ya?” jawabnya seraya menyeruput kopi yang sedari tadi tersedia dia atas meja kerjanya.
“untuk hadiah jika aku berhasil di ujianku nanti, bolehkah aku meminta satu hal?” rayuku.
“tentu sayang” ujarnya, masih sibuk dengan mouse dan laptopnya.
“aku ingin liburan ke jepang” seruku.
“HAH?!” kini ia melalak terkejut kepadaku.
“Aku ingin lihat sakura” keluhku.
“Kau tau bahwa butuh banyak uang jika kau ingin ke sana”
“Kau punya” potongku.
“well, give me time, okay. Lagipula, kau belum tentu dapat juara, nona kecil” serunya seraya menggodaku.
Aku tersenyum.
Aku tau aku bisa meraih juara itu kembali di tahun ini. Yang tidak kuketahui adalah, ‘apakah permintaanku kali ini sungguh sulit untuk dikabulkan?’.

Minggu ujian akhir semester berlalu dengan baik.
Kini seluruh siswa terlibat lomba antar kelas seraya menunggu pengumuman nilai di 2 minggu kedepan. Sungguh kegiatan sosial yang menarik.
Namun, aku tak peduli. Bagiku, berakhirnya ujian berarti berakhir pula sekolah. Aku lebih memilih untuk membolos karena aku tau bahwa absensi tak lagi diakumulasi setelah ujian berakhir.

Esoknya, kak Mari pergi kerja seperti biasa dan aku hanya bersantai di rumah menonton tv. Hingga kemudian, kulihat berita bahwa perusahaan tempat kak Mari bekerja telah bangkrut.
Sejak saat itu, hidupku berubah. Kak Mari menjadi pengangguran, dan itu berarti kami harus menggunakan uang yang ada sebaik mungkin.

Beberapa hari ini, kulihat kak Mari mondar mandir membawa beberapa file dan berkas keluar masuk rumah. Aku tau bahwa dirinya tengah mencari pekerjaan baru di beberapa perusahaan. Namun sayangnya, tak ada lowongan yang tengah buka di perusahaan-perusahaan besar kala itu.
Kak mari kemudian bekerja di rumah quran yang lokasinya tak jauh dari rumah kami. Pekerjaannya tak terlalu sulit, dan gajinya pun setimpal.
Dirinya hanya dibayar paling banyak 100 ribu per hari. Angka yang sangat jauh dibandingkan dengan pekerjaannya dulu.
Setelah itu kak Mari menjadi suka membaca buku tentang islam dan berteman dengan wanita-wanita bercadar. Aku tak tau apa yang merubahnya, tapi aku benar-benar tidak suka dengan dirinya yang sekarang, tidak fashionable dan tidak update pergaulan. Waktunya dihabiskan untuk pergi ke pengajian dan sholat sunnah. Aku benar-benar tidak suka dengan semua ini. Kini ia terlihat seperti salah satu komplotan teroris islam yang kulihat di tv dan surat kabar.

Aku tidak sama dengan kak Mary yang menghabiskan waktunya untuk suatu urusan yang tak jelas asal usulnya.
oh come on, apakah menjadi bagian dari rumah quran harus merubah sikap dan kepribadiannya? i love my old sister.
dia pintar dan realistis (dulunya), begitu pula aku. Aku menghabiskan waktu untuk belajar agar bisa mendapatkan beasiswa di oxbold university impianku.

Di hari-hari selanjutnya, aku dan kak Mari berada dalam situasi yang amat sangat tidak nyaman karena perbedaan persepsi yang ada di antara kami.
Hanya dalam waktu seminggu, kami berdua menjalani kehidupan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya, baik itu harta maupun ikatan antara aku dan kak Mari.
Kami berdua menjadi jarang berkomunikasi karena kami saling mengerti bahwa kini kami menapaki jalan yang berbeda.
Kemudian, tibalah saatnya pengumuman hasil ujian akhir semester. Seperti yang kuduga sebelumnya, aku menjadi juara umum LAGI.
Biasanya, aku akan langsung berlari ke rumah menanti hadiah dari kak Mary. Namun entah kenapa, kakiku berjalan ke arah yang berbeda.
Aku berangkat tanpa arah dan kemudian bertemu dengan teman teman kelasku. Kami akhirnya memutuskan untuk bermain bersama dan karaoke hingga larut malam.

Sesampainya di rumah, kak Mari sudah stand by di sofa ruang tamu, menunggu kedatanganku.
“Dari mana kamu Mica? Kau tau ini sudah malam? Tidak baik jika anak perempuan sepertimu pulang selarut ini” ceramah Kak Mari tanpa henti.
Semua ucapannya terdengar seperti omong kosong bagiku. ‘Apakah bergaul dengan wanita-wanita bercadar itu membuatnya merasa seperti malaikat?’ Aku tidak melakukan hal yang salah. Aku hanya sedang bersosilaisasi dan bermain bersama teman-teman kelasku.
“Oh Mica. Kenapa kau diam saja?” dia menatapku dalam.
Aku membuang muka. Hanya berdiri dan terdiam.
Kak Mari menghela nafasnya. “Sejujurnya, aku sangat ingin bercerita banyak denganmu seperti dulu. Namun, Tak kusangka bahwa perbincangan kita akan seperti ini setelah sekian lama kita tidak berbicara satu sama lain” Kak Mari terdiam sejenak.
“Kudengar, kau mendapat juara umum lagi Mica? Mengapa kau tak memberitahuku? Aku punya hadiah untukmu” kak Mari memberikanku kotak berukuran middle size kepadaku dengan accessories pita di pojok kanannya.
Kuperhatikan kotak itu dengan seksama, dan kemudian kulirik wajah kak Mari.
“Bukalah” Dirinya menyadari tatapanku dan tersenyum riang.

Kubuka kotak itu dan kulihat jilbab panjang berwarna cream serta sebuah buku berjudul ‘Hijrah’.
Entah kenapa, saat itu aku merasa perasaanku kacau, tak ada kebahagiaan yang kurasakan. Hatiku berteriak dan pikiranku tak lagi jernih. Kulempar kotak itu dan aku langsung berteriak kepadanya.
“Apa maksudmu memberikan aku semua ini? Aku bukan fanatik islam sepertimu. Aku bukan teroris, bukan islamis militan. Aku bukan dirimu kak. Aku tidak percaya dengan semua hal itu. aku yakin bahwa kita bisa mengemas kehidupan kita kembali seperti dulu. tapi sepertinya aku salah. aku benci dirimu, kak” aku langsung berjalan menjauh ke dalam kamar dan mengemas barang-barangku. Sambil mengemas, aku kembali berpikir jernih.
Ya, kini aku mengerti kenapa aku membencinya. Aku benci dirinya yang tak lagi cantik dengan rambut indah dan keanggunannya. Aku malu ketika berjalan berdua dengannya yang bercadar, seolah membuatku menjadi orang asing.
Aku benar-benar benci kakakku yang berubah hingga menjadi seperti ini. Aku butuh kakakku yang dulu sebelum bergaul dengan wanita-wanita itu.

Malam itu, aku pergi dari rumah. Aku pergi menumpang di salah satu rumah temanku dan mengikuti beberapa tes memasuki universitas dengan beasiswa.
3 tahun kemudian, aku sudah menjadi mahasiswa semester 4 di oxbold university. Aku berhasil mendapatkan full beasiswa usai tamat SMA dengan belajar mati-matian setiap harinya. Aku saat ini tengah berada di bandara internasional Soekarno Hatta, dikarenakan universitasku yang tengah libur musim panas.
Entah kenapa liburan kali ini sangat ingin kuhabiskan dengan berkunjung ke rumah.
Bukan karena ingin bertemu dengan kakakku, hanya saja aku ingin memperlihatkan keberhasilanku kepadanya dengan ilmu realistis yang selama ini kupercayai. Bukan dengan ilmu agama, ataupun kepercayaannya selama ini akan rezeki yang akan datang kepada orang-orang yang meminta kepadanya.

Sesampainya di pagar depan rumah, aku tidak berani melangkahkan kakiku masuk.
Bukan karena ada kakak di dalamnya, namun karena kondisi rumah yang mengerikan; rumput ilalang tumbuh tinggi di halaman rumah, pagar yang berlumut, tanaman menjalar di sekeliling rumah dan cat yang telah pudar. Rumahku persis seperti rumah hantu. Aku bahkan tak yakin ada orang yang berani lewat di depan rumahku apalagi tinggal di dalamnya.
Entah kebetulan atau apa, kulihat seorang perempuan tengah berjalan ke arahku, seorang perempuan berkerudung panjang. Mungkinkah itu kakak?!
Aku langsung berlari menghampirinya dan menggenggam tangannya.
“Kakak” seruku.
Perempuan itu yang sedari tadi tengah menunduk, langsung mengangkat kepalanya melihatku.
“Siapa?” tanyanya pelan.
Bukan. Dia bukan kakakku.
“Maaf. Aku salah orang. Kukira kau kakakku. Kau mirip dengannya” aku langsung melepaskan genggamanku dan berbalik arah meninggalkannya.

“TUNGGU!” sebuah suara tiba-tiba memanggilku.
“Apa mungkin kau… Mica?” sebuah pertayaan membingungkan tiba-tiba saja terlontar dari wanita itu.
Aku dan dirinya akhirnya terlibat perbincangan singkat di bangku yang berada di depan rumahku. Dirinya mulai bercerita bahwa dirinya adalah teman kak Mari.
“Saat aku bertemu Mari, Mari tengah shock karena kehilangan pekerjaan dan kebingungan untuk membiayai hidupnya dan hidup adiknya (yang berarti itu aku).
aku yang saat itu menjadi karyawan di rumah quran, langsung mengajaknya bekerja bersama di sana mengingat rumah quran memang sedang butuh pengajar.
Sembari bekerja, dia jadi mulai membaca makna-makna dari al-quran. Tak lama, ia datang kepadaku dan menangis. Mengatakan bahwa Allah masih sayang dengannya.
Dia bilang, bahwa semua hal yang menimpanya adalah peringatan dari Allah.
Sejak saat itu, ia menjadi sering menanyakan masalah agama kepada kami semua, karyawan dari rumah quran, dan kemudian ia mulai berhijab dan menemukan pintu kebenaran.
Dia menerima dengan ikhlas semua keadaan yang ada dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa membahagiakan keluarga kecilnya” dirinya menjelaskan.

“Lalu, di mana kak Mari sekarang?” aku bertanya penasaran.
Perempuan itu menatapku lama, dan kemudian mengeluarkan handphonenya.
“Lihatlah” perempuan itu memberikanku handphonenya. Aku hampir saja berteriak terjekut melihat sesosok perempuan kurus dan pucat di dalamnya, itu Kak Mari.
“Ini..” aku bertanya ragu kepada perempuan itu, dan perempuan itu hanya tersenyum melihatku.
Aku kemudian melihat kembali vidio itu. Kak Mari tampak gugup dan bingung.
‘Em.. tes..!! apakah ini sudah menyala?’ kudengar suara kak Mari
‘sudah, lanjukan..’ kudengar suara lain, kurasa itu adalah suara teman-temannya
‘baiklah.. emm.. assalamualaikum Mica. Ini aku, kak Mari (tentu aku tau itu kau).
aku sebelumnya ingin meminta maaf karena belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu.
Aku belum bisa mengantarkanmu hingga kuliah, dan bahkan aku belum pernah bertemu denganmu lagi semenjak kau pergi dari rumah.
Aku tidak menghentikanmu pergi dari rumah waktu itu takut bahwa kau akan membenciku.
Saat ini aku terkena leukimia dan mungkin umurku tak lama lagi. Tapi, jangan khawatir, aku baik-baik saja di sini.
Teman-temanku sangat baik karena rela mengurusiku selama sakit.
Jadi, jika yang kau terima adalah vidio ini, berarti aku sudah tak bisa lagi bertatap muka denganmu secara langsung.
Mica, aku mungkin bukan kakak yang hebat. Kehidupan kita pun tak pernah sempurna.
Namun, dengan membaca al-quran, aku menemukan jalanku.
Bersyukurlah atas apa yang kita miliki. Bertobatlah atas segala kesalahan yang pernah kita perbuat. Dekatkanlah diri kita kepadanya. Niscaya kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati.
Aku menyayangimu, Mica. Aku selalu mendoakan kesuksesanmu di setiap sujudku.
Kau adalah adikku tersayang. assalamualaikum’ senyum kak Mari menutup vidio tersebut.

“kakakmu meninggal 3 hari yang lalu” perempuan itu tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang tidak kuduga sebelumnya. Aku benar-benar tidak tau harus berkata apa.
“kau harus tau, bahwa dirinya didiagnosa memiliki leukimia tepat saat kau meninggalkan rumah. Dirinya tak punya uang yang cukup untuk berobat karena uangnya yang telah ia habiskan selama ini.
Aku diamanahkan untuk memberikan ini kepadamu ketika dirinya telah meninggal. Aku berencana untuk mencari data tentangmu ke rumah hari ini.
Tapi tak kusangka malah bertemu denganmu secepat ini. Sekarang, karena tugasku sudah selesai, aku harus pulang. Assalamualaikum” wanita itu langsung pergi setelah mengucap salam padaku.
Aku benar-benar speechless. semua kejadian ini tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Leukimia? Meninggal? you gotta be kidding me.
Uangnya yang ia habiskan? Ayolah. Itu semua bohong. Akulah yang menghabiskan uang-uang itu.
Seakan tak percaya dengan semua ini, entah kenapa aku pergi kembali ke rumah dan masuk ke dalamnya.
Aku perlu memastikan peristiwa apa yang sebenarnya saat itu terjadi.

Tampak luar rumahku yang menyeramkan ternyata berbanding lurus dengan keadaan di dalamnya.
Semua furniture terbungkus rapi dengan kain putih, debu dimana-mana dan beberapa serangga melata lalu lintas di dalam rumah tanpa menghiraukanku.
Mataku tertuju ke kotak yang tergeletak di lantai. Masih di tempat yang sama dengan keadaan yang sama, itu adalah hadiah kakak yang saat itu kubuang begitu saja. Kuambil buku ‘hijrah’ di dalamnya, dan kubuka sekilas.
Di halaman depan, bisa kulihat tanda tangan dan coretan-coretan kak Mari. Itu adalah hal yang khas darinya.
Kak Mari selalu menggambar dan menulis penuh halaman depan buku yang dibelinya untuk menunjukkan bahwa buku itu miliknya. Dirinya itu memang benar-benar kekanakan. Goresannya tangannya di buku itu entah kenapa seolah menyayat hatiku.
Aku merindukannya. Aku benar-benar menyesal. Aku ingat semua pengorbanannya untukku.

Disaat kedua orangtua kami meninggal, kami direncanakan untuk dititipkan di panti asuhan berbeda. Namun, kak Mari menolaknya dan mengatakan untuk tidak akan pernah meninggalkanku.
‘Mica adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki, Mica adalah dunianya’, itulah yang ia katakan saat itu. Setelah kupikir-pikir lagi, kata-kata yang ia lontarkan benar-benar memalukan. Namun, di usian nya yang 20, tentu sulit untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Kak Mari menjadi workholic. Rela pergi pagi pulang malam, hanya untuk membiayaiku.
Kini, ia tak lagi ada.
Aku merindukan sosoknya.
Aku kini menyadari betapa berharga sosoknya bagiku.
Aku ingin merasakan kasih sayangnya lagi.

Tiba-tiba, handphoneku berdering. Sebuah nomor tidak dikenal. Ketika kuangkat, terdengar suara asing yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Penelepon itu menggumamkan sesuatu dan aku hanya terdiam tersenyum mengatakan “YA”.
Aku menutup telepon itu. Mataku mulai meneteskan air mata. Dadaku sesak mendengar berita yang baru saja tiba untukku. Bahkan ketika ia tiada, aku masih menemukan kasih sayangnya yang melimpah untukku. Hanya untukku.
Suatu tiket paket liburan ke jepang selama 2 minggu. Dia, masih ingat dengan permintaanku.

Aku menang undian dari jilbab yang sengaja ia beli untukku. Uangnya tak banyak, dan dia tetap membeli jilbab ini dan berusaha memenangkannya untukku.
Dia menyayangiku, dan aku menyia-nyiakan semua itu.

Siang itu, aku menangis sekeras-kerasnya. Aku menyadari kebodohanku. Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa keberhasilanku masuk beasiswa oxbold university adalah karena otakku yang jenius?
Aku berhasil melaluinya karena doa yang terus dipanjatkan oleh kak Mari tanpa henti.
Aku mengambil jilbab yang telah usang di dalam kotak yang diberikan oleh kak Mari. Kutepuk sedikit dan kukenakan. Setelah hari itu, aku bertaubat.

Beberapa tahun kemudian, aku lulus dari oxbold university. Aku bekerja di perusahaan website terkenal, failbook. Itu adalah pekerjaan utamaku. Untuk sampingannya, aku aktif di kegiatan sukarelawan gaza dan gerakan pendukung penderita kanker dunia.

Lihatlah kakak, akan kubuktikan bahwa aku telah menjadi orang yang lebih baik dan kau akan bangga kepadaku, seperti biasa. Kau akan memberikanku hadiah berupa senyumanmu yang indah dan kasih sayang padaku setiap kali aku berhasil melakukannya.
Ah, tidak…
Bahkan, tanpa semua itu aku tau bahwa kau bangga dan sayang padaku.
Semua ini kulakukan hanya untuk membuktikan pada orang-orang bahwa kasih sayangmu padaku mampu membuatku menjadi orang yang berhasil.
Kak Mari, apakah kau akan memaafkan segala perbuatan adikmu ini?
Kuharap kau tetap membuka pintu maafmu padaku meski kutau semua ini tak akan pernah cukup.
Aku menyayangimu, kak Mari..

Cerpen Karangan: Monike Febrianti
Facebook: Monike Febrianti
Nama saya Monike Febrianti. mail me: febriantimonike[-at-]gmail.com

Cerpen Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeran Bukrah

Oleh:
Malam tampakkan gelap. Memaksa makhluk-makhluk lemah terbatas menyalakan penerangan untuk jalannya. Mengukir hiasan di sepanjang perjalanan pulang Rana. Ia perhatikan kanan, didapatinya barisan lampu jalanan berkolaborasi dengan lampu merah

Napak Tilas Sang Pengabdi

Oleh:
“Koridor hujroh (kamar) pesantren berasitektur hijau yang mulai mengusam itu seolah abadi menyirat jelas kisah Ismail dan Abdul 5 tahun silam. Abdul yang selalu memboyong baju-baju pak Rohman dan

Jilbab dari Sahabatku

Oleh:
Namaku Syifa Zahfania, kebanyakan teman-temanku memanggil dengan Syifa. Di kelas aku di kenal cewek paling tomboy. Karena cara bertingkahku yang seperti cowok, dan bergaulku yang tak lepas dari cowok.

Aku Ingin Pergi Darinya

Oleh:
Salah satu sobat karibku melakukan kebiasaan duduk di warung, sembari khayati nikmatnya aroma kopi hitam. Dia sempat merenung yang sangat mendalam, dan cukup membuatku refleks. Kami berdua sempat membahas

Diterimakah Taubatku Mbok?

Oleh:
“Hallo, ya Mas, iya ya, emmuach” kututup telepon digenggamanku yang sudah satu jam ini menemani dan menempel di telinga. Seseorang lelaki langganan memintaku untuk melayaninya malam ini. Kuberanjak bangun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Kakak”

  1. zalfa qurratu'aini says:

    Huhuh… terharu sama ceritanya, bagus banget!!! Masya Allah dh…

  2. Alvina Yunira says:

    Ceritanya keren, bagus sekali ..

  3. NUHAN NAHIDL says:

    Bener-bener cerpen istimewa.

    Mungkin kalau saya cwe saya sudah nagis tersedu-sedu baca cerpen ini.

    Berhubung saya cowo jadi ya cuman berkaca-kaca doang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *