Kamulah Surgaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 February 2017

Matahari bersinar cukup terik pagi itu, meskipun sejam sebelumnya sempat diguyur hujan deras. Aku melaju di jalanan beraspal menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 20 KM dari rumah. Aku terus menambah kecepatan laju sepeda motor yang kukendarai sambil terus berhati-hati agar tidak tergelincir karena jalanan yang kulalui masih basah dan licin.

Empat puluh lima menit kemudian aku tiba di SMA Negeri 1 Gunung Meriah tempatku bersekolah. Seperti biasa setelah meletakkan tas dan perlengkapan lainnya aku bergabung bersama teman-teman sekelasku sambil berbincang-bincang ria.

Bel istirahat berbunyi, biasanya kami lebih banyak menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas untuk bermain game, belajar atau makan siang, tapi kali ini aku bersama kedua temanku Iwan dan Ari memilih untuk bersantai di kantin sekolah. Aku, Iwan dan Ari memang sahabat dekat, sampai-sampai aku memanggil Ari dengan sebutan Abang, karena usianya yang lebih tua dariku, sedangkan Iwan aku memanggilnya Lelek karena masih ada hubungan persaudaraan.

Karena jarak sekolah yang jauh dan padatnya kegiatan sekolah, ditambah lagi motor yang harus dipakai secara bergantian dengan ayah, memaksaku untuk tinggal di rumah Iwan yang lebih dekat dari sekolahku. Namun, untuk berangkat sekolah aku menumpang dengan Ari. Suatu malam saat aku dan Iwan bermain ke rumah Ari, Ari menyuruhku untuk menginap di rumahnya malam itu dan Iwan pulang sendiri. Atas seizin Iwan aku pun menginap di rumah Ari, di rumah sederhana ini, ia hanya tinggal bersama Ibu dan adiknya, sedangkan kakaknya kuliah di Banda Aceh. Untuk menyambung hidup, mereka berempat bergantung kepada usaha warung makan yang dilakoni Ibunya setelah kepergian ayahnya menghadap sang khalik.

Sebelum adzan subuh berkumandang aku terbangun, dari arah dapur aku mendengar suara seperti seseorang yang sedang memasak, dengan perasaan sedikit takut, aku keluar kamar,
“siapa yang memasak? sedang hari masih gelap begini,” batinku berbisik penasaran.
Rasa penasaranku terjawab seiring perasaan takut yang mulai memudar, dengan sedikit menghela napas, aku melihat Ibunya Ari sedang sibuk di dapur mempersiapkan berbagai masakan yang akan dijualnya hari ini, Ibu Ari hanya berjualan di waktu pagi sampai shalat dzuhur usai. Satu persatu kentang yang telah ditumbuk halus dan dilumuri kocokan telur di masukkannya ke dalam kuali penggorengan. Aku menghampirinya dan menyapanya.

“Selamat pagi bu,” sapaku sambil menutup mulut yang terbuka lebar karena masih mengantuk.
“Eh iya, cepat banget bangunnya, siapa namanya?” dengan nada yang ramah ia menanyakan namaku
“Saya Kiki Bu,” jawabku singkat, “cepat sekali masak-masaknya ya Bu.” Lanjutku.
“Ya gitu lah, kalo gak cepat, takutnya gak sempat,” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Ada yang bisa saya bantu mungkin Bu?” tuturku menawarkan diri.
“Gak usah, udah biasa kok sendirian, kamu Shalat aja sana.” dengan rendah hati, beliau menolak penawaranku.
Sejenak aku terdiam, kemudian kembali bertanya.
“Emmm emaaang udah adzan Bu?” tanyaku terbata-bata
“Belum, maksud Ibu shalat tahajjud”, jawabnya sambil berpindah ke kompor yang lain yang di atasnya bertengker kuali besar berisi rendang ayam yang kelihatannya lezat.
“oh iya ya Bu,” jawabku dengan pipi memerah, kemudian pergi meninggalkan beliau di dapur.

Selesai shalat tahajjud, aku duduk termenung di tepi ranjang sambil melipat sarung dan sajadah, aku kembali mengingat-ingat kapan terakhir kali aku shalat tahajjud, bahkan untuk shalat fardhu pun aku masih sering melewatkannya, tak ada yang pernah mengingatkan aku akan hal itu, bagaimana tidak orangtuaku pun masih jarang melakukan shalat fardhu. Aku merasa takjub dengan Ibu Ari di sela-sela kesibukan dan kesederhanaan beliau, masih sempat mengingatkanku yang baru dikenalnya untuk mengerjakan shalat yang hukumnya sunnah, terlebih lagi mungkin jika itu shalat wajib.

Beberapa menit kemudian, Ari terbangun, tanpa basa-basi ia langsung melompat dari ranjang menuju ke dapur, aku menyusulnya, dengan tergesa-gesa ia mengambil beberapa centong nasi ke atas piring, dengan lauk seadanya karena Ibunya belum selesai memasak, ia makan dengan lahap, sementara aku terus mengamatinya.
“Mau puasa gak?” tanyanya setelah beberapa suap nasi di lahapnya.
Aku ternganga kemudian menjawab “oh iya mau dong”.

Aku memang sering melihatnya puasa senin kamis di sekolah, sebenarnya aku juga sering mengerjakannya, namun dua tahun terakhir ini, puasa senin-kamis itu hanyalah sebuah rencana yang tidak pernah terealisasikan. Inilah kali pertamanya aku makan sahur di rumah orang lain dengan makanan seadanya. Aku salut dengan semangatnya untuk tetap berpuasa meski tanpa makanan yang lezat, bahkan sisa nasi dalam rice cooker tinggal sedikit, sudah mengeras pula.

Selepas shalat subuh aku membantu mereka membersihkan kios dan menyajikan hidangan yang akan dijual. Dengan banyaknya hal yang harus dikerjakan dan hanya dibantu oleh kedua anaknya, aku berharap kehadiranku hari itu bisa meringankan beban mereka meski tak seberapa. Setelah itu aku mandi dan bergegas berangkat ke sekolah.

Hari ini aku banyak belajar dari keluarga Ari, meskipun hidup sederhana tapi me-miliki semangat beribadah sangat tinggi, berbeda dengan keadaan di rumah Iwan, hidup berkecukupan dengan tempat tinggal yang nyaman kadang membuatku terlena akan itu semua, meski orangtua Iwan orang yang rajin beribadah, tapi mereka tak pernah memaksa kami untuk beribadah, hanya sesekali Ibunya Iwan membangunkan kami di waktu subuh. Tapi, kami kembali terlelap di atas kasur empuk di kamar yang sejuk. Begitu juga ketika aku berada di rumah, tidur beralaskan spring bed, diselimuti bed cover yang tebal, kamar yang bersih dan harum, membuatku betah tidur berlama-lama di dalam kamar, suara adzan yang tiap saat berkumandang tak mampu menggugah nyenyaknya tidurku. Setiap waktu shalat aku selalu tertidur pulas, kecuali waktu magrib, dan saat inilah shalat yang jarang aku lewatkan, dalam arti yang sederhana, hanya shalat magrib yang aku kerjakan setiap hari.

Sejak hari itu, aku tinggal bersama Ari, aku ingin banyak belajar darinya tentang bagaimana hidup bahagia dalam kesederhanaan, meskipun tanpa seorang ayah yang membimbingnya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, ia mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluarganya, tak pernah ia lupa untuk mengerjakan shalat lima waktu dan puasa senin-kamis, pekerja keras, ramah, sopan santun, dan ia tak pernah sekalipun membantah perintah Ibunya, berbeda denganku yang sering membandel dan melanggar perintah Ibuku. kata-katanyapun tak pernah menyakiti hati orang lain. Sungguh aku takjub akan dirinya. Berbulan-bulan aku berbaur dengan keluarga kecil ini, kadang aku iri dengan keluarga mereka, meskipun sederhana dan kurang lengkap tanpa sosok ayah, mereka hidup sangat bahagia. Tak pernah sekalipun aku melihat tangis dari dalam diri Ari, bahkan dia adalah sahabatku yang sangat humoris yang selalu mampu menciptakan tawa. Dan kebahagiaan itu justru tidak aku dapatkan di dalam keluargaku sendiri, karenanya aku sangat bersyukur mengenalnya dan keluarganya.

Sejak saat itu aku semakin rajin beribadah. Meski awalnya karena keterpaksaan, agar tidak merasa malu. Kini aku mulai terbiasa, dan merasa kurang jika ada shalat wajib yang terlewatkan. Dimanapun aku berada dan sesibuk apapun aktivitasku, puasa senin-kamis telah menjadi agenda mingguanku, dan tahajjud pun hampir tak pernah tertinggal tiap-tiap malamku. Selayaknya seorang fans yang terobsesi idolanya, aku pun antusias mengikuti jejak sahabatku ini. Pelajaran berharga yang aku dapat darinya bahwa kebahagiaan itu bukan karena kemewahan dan kesempurnaan, tapi cukup dengan bagaimana kita bisa mensyukuri atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya, maka niscaya kebahagiaan dunia akhirat akan kita dapatkan.

Aku merasa Tuhan telah mengirimkan malaikatnya kepadaku, sebagai penunjuk ke-arah yang benar, sebelum aku terjerumus lebih jauh ke jurang kemaksiatan. Sahabat adalah cerminan diri kita, maka jika kita ingin menjadi orang yang baik, maka bersahabatlah dengan orang yang baik pula. “Mengajarkan kebaikan kepada seorang sahabat, kelak jika dia berada di surga, dia akan memanggil kita ke surga.” Kini dia yang menuntunku menemukan surga, kelak mungkin aku bisa memanggilnya ke surga.

Cerpen Karangan: Iky Adrilianto
Blog: pratamapustaka.blogspot.com
Iky Adrilianto, pemuda kelahiran kota ulama dengan sejuta mimpi yang besar, meski belum mampu membesarkan badannya sendiri. Memiliki hobi membaca dan menulis. Dan sangat menyukai hal-hal baru, serta memiliki keingintahuan yang tinggi. Telah banyak membuat cerpen dan masih menyelesaikan novel-novelnya.

Cerpen Kamulah Surgaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejahilanmu Membuatku Rindu

Oleh:
Nama gue Lilis Susanti. Gue adalah siswa kelas IX disalah satu sekolah di jakarta. Kebiasaan gue setiap hari adalah membaca buku. Gue sangat suka menyanyi. Pagi ini gue berangkat

Sugar Boy

Oleh:
Aku menyeret koper merahku memasuki rumah yang sebentar lagi akan kutempati. Mataku bergerak mengamati sekeliling. Luarbiasa. Rumah ini sangat luas dan rapi. Aku bahkan sampai terkagum-kagum dengan orang yang

Ayah

Oleh:
Tiba disuatu titik aku harus meluapkan semua. Entah itu gembira, bahagia, tangis, dan amarah. Aku bukan tipe pencurhat andal yang mencari sosok orang kuat yang mau mendengar kisahku. Seringkali

My Feel

Oleh:
Sebuah halusinasi datang menghampiriiku, aku hanya terdiam tanpa berkata apapun. Hari ini aku sungguh kesal, masalahnya aku selalu dikhianati oleh temanku sendiri. Aku berasal dari keluarga yang kaya dan

Jilbab

Oleh:
“Piiiit! Mana jilbab Mbak Zahra?” teriak mbak Zahra dari kamarnya. Yang dipanggil cuek sambil terus membetulkan jilbabnya yang belum rapi. Dengan penuh kemarahan Zahra pun berlari ke kamar adiknya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kamulah Surgaku”

  1. hijrah says:

    masya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *