Kang Ahsan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 20 December 2013

Kang Ahsan orang yang tak terpandang tampan, orang yang bukan seorang juragan, bahkan kaya pun tak ingin diharapkan olehnya, tak tampan tak jadi masalah bagi beliau meski hanya satu yang bisa mengagumi dirinya. Kang Ahsan memang tak banyak dikenal di pesantren salafiyah Darul Ihsan. Namun dengan kekayaan hatinya sedikit demi sedikit dia dikenal cukup banyak santri yang mondok disana.

Kang Ahsan sederhana. Namun kesederhanaannya membuat anak-anak kagum kepadanya. Terutama Zainal teman sekamar kang Ahsan. Sebelum kang Ahsan terkenal di pesantren, tingkahnya aneh dia selalu pulang dari masjid tengah malam. Entah apa yang ia lakukan banyak pertanyaan yang ia dapat dari beberapa temannya.
Namun kang Ahsan tersenyum saja menanggapi pertanyaan itu. Kang Ahsan selalu berkata, kalau semua orang suka berubah kapanpun dan dimanapun ia berada. Kang Ahsan tahu kalau dirinya ingin menjadi manusia lebih baik dari yang sebelumnya, banyak anak-anak heran dengan tingkah laku beliau.

“mohon maaf kiai, kalau boleh saya melaporkan pada sampean mengenai tingkah laku kang Ahsan di pesantren” ucap Zainal dengan lugu.
“kau tahu…?” tanya kiai.
“saya tahu kiai, beliau selalu pulang larut malam dari masjid. Entah apa yang dilakukan oleh beliau disana, kami takut kalau nanti ada masalah dengan beliau” adu Zainal pada kiai Nasir.
“apa kau tak selidiki nal..?” tanya kiai.
“saya tidak berani menyelidikinya kiai, takut dikira saya juga pengikutnya”
“sudahlah biarkan saja”

Berbulan-bulan lamanya kang Ahsan tetap saja tidak berubah. Dia lebih suka di masjid dengan menyendiri dari pada di pesantren yang hanya tidur dan makan. Melihat tingkah laku kang Ahsan Zainal selaku teman sekamarnya malu serta merasa jengkel dengan tingkah lakunya. Sesekali tersenyum rapi, zainal kesal dengan perubahan yang terjadi kepada kang Ahsan.
“dia tidak seperti dulu lagi” ucap Zainal dalam hati.
“kang Ahsan memang aneh ya…?” kata beberapa santri.
“dia seperti aliran sesat saja” tanggap zainal.
“saya tahu, kalau dia paling tua di pesantren ini” ucap salah satu santri.
“apa mungkin dia punya ilmu hitam..?” sambung Rusli teman sebelah kang Ahsan.
“ah tak mungkinlah Rus” ucap zainal.
“sudah-sudah dia sudah datang.”
Kang Ahsan berjalan menyusuri jalan menuju ke kamar serambi pesantren. Beberapa dari santri yang lain bingung dan tercengang pada kang Ahsan.
“kang, tumben kau pulang cepat cepat dari masjid” teriak Zainal kepadanya, tanpa sepatah kata yang dia ucapkan kang Ahsan hanya membusung dan keluar lalu kembali lagi ke nmasjid. Zainal sangat kesal terhadap kang Ahsan. Dia bahkan jarang mau ngomong kepadaku. Kang Ahsan jarang sangat jarang kepesantren. tidak juga terlihat lagi di pesantren bahkan dia juga tidak terlihat di masjid. Semua santri di pesantren kaget dengan berita tersebut. Banyak yang dari mereka membicarakan kang Ahsan. Tentang tingkah lakun ya di pesantren, tentang keanehan yang dia lakukan.

Namun beberapa bulan kemudian, dia datang lagi ke pesantren salafiyah Darul Ihsan. Dengan penampilan baru, wajah baru dengan berjanggut panjang dan badan beliau yang berisi, beliau lebih sopan dan murah senyum.
Beberapa kemudian kang Ahsan diangkat menjadi guru ngaji oleh kyai Nasir. Sebab ujiannya sudah ia selesaikan semua.
Banyak santri yang tak menduga, bahkan banyak yang tidak percaya kalau beliau putra dari kiai Nasir. Kang Ahsan jadi inspirasi indah bagi para santri yang mondok di sana.

Cerpen Karangan: Shafwan Maulidi
Facebook: Afwaen Rizael Maulana

Cerpen Kang Ahsan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semangat Puasa Mawar

Oleh:
“Kak, apa itu puasa?” Mawar, adiknya Melati yang masih berusia satu lustrum bertanya. Karena ia sering melihat di channel TV banyak terdapat iklan tentang puasa. Mawar, balita yang lucu

Masjid Impian

Oleh:
Malam itu, malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua umat islam di seluruh penjuru dunia yaitu, malam awal datangnya bulan ramadhan… Anak-anak di desaku serta orang tua banyak yang membuat

Denyut Kehidupan Vallen

Oleh:
“Aduh, pelan-pelan Bu!” “Sakit ya Nak?” Gemetar, bibir ibu yang mulai membuka percakapan kepada buah hatinya ini, air mata yang mengalir lembab di pipi anaknya seakan memberi perintah agar

Lestari

Oleh:
Masa kecil adalah masa yang menyenangkan, berbeda dengan diriku yang hidup di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah yang luas. Saat aku terlahir di dunia, sanak keluargaku sangat bahagia.

Idealis Sang Pendaki

Oleh:
Embun pun masih menempel di dedaunan, sinar sang mentari masih tertutup awan pagi, belum ada tanda-tanda terik hari ini. Di lapangan hijau pagi sekali sudah ramai pecinta olahraga, sibuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *