Karena Asyla

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 10 October 2017

Di siang hari yang terik, Vio mempercepat kayuhan sepedanya. Peluh keringat sudah mengucur di dahi dan lehernya. Vio mendesah nafas lega setelah sampai di beranda rumahnya. Tampak Umi yang sedang menyiram bunga anggrek.

“Assalamu’alaikum, Umi.” Vio mencium tangan Umi.
“Wa’alaikumsalam.” Vio dan Umi duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu.
“Umi, Vio boleh minta sesuatu nggak?” pinta Vio.
“Vio minta apa?”
“Vio mau minta HP layar sentuh yang canggih itu, Umi. Semua teman-teman Vio sudah punya. Hanya Vio sendiri di kelas yang belum punya,” rengek Vio manja.
“Tapi, barang itu kan, mahal, Vio,” jawab Umi seraya membelai lembut jilbab Vio. Vio menunduk.
“Selama ini, Vio selalu juara 2 di kelas. Tapi, Umi sama Abi, nggak pernah kasih Vio hadiah. Teman-teman Vio saja yang peringkatnya di bawah 5 besar, dibelikan hadiah sama orangtuanya,” Vio menteskan airmata.
“Terus, Vio mau minta hadiah?” sahut Umi.
“Vio cuma mau HP itu. Vio janji, nggak akan minta yang lain lagi. Vio janji, Umi,” Vio mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Umi. Umi menghapus airmata putri kesayangannya.
“Vio, HP seperti itu tidak akan ada pengaruh apa-apa. Manfaat barang itu apa, Vio? Nanti Vio malah lupa belajar. Vio nggak jadi juara kelas lagi, nanti,” nasihat Umi.
“Nggak Umi, Vio janji. Vio akan tetap rajin belajar dan tetap berusaha menjadi 3 besar. Vio juga akan berusaha untuk menjadi juara 1 di kelas,” ucap Vio yakin.
“Nanti, ya, Vio. Kalau ada rezeki lebih. Saat ini, kita harus benar-benar berhemat. Sebentar lagi, kan, kamu masuk SMP. Biayaanya nggak sedikit. Sabar, ya, Vio. Pasti dibelikan. Tapi, nanti,” jawab Umi dengan senyum manis.
“Tapi, Kak Lie, dibelikan laptop. HP nggak semahal laptop, Umi. Kak Lie juga dibelikan jam tangan, sepatu baru, tas baru. Vio kok nggak Umi?” Vio mulai emosi.
“Astagfirullah, Vio. Laptop memang hal yang penting untuk anak kuliah seperti Kak Lie. Sedangkan yang lain, seperti tas baru, jam tangan, sepatu baru, Kak Lie beli dengan uangnya sendiri. Dia menabung. Kalau Vio mau, Vio harus menabung. Uang jajannya jangan dihabiskan terus,” nasihat Umi lembut.
Vio langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal dan marah. Ia membanting pintu kamarnya dengan keras. Kemudian, menyembunyikan kepalanya di balik bantal. Vio mulai menangis.

Umi dan Abi Vio memang sangat berhemat. Mereka mendahulukan kebutuhan yang benar-benar penting. Keluarga Vio memang bukan keluarga yang berkecukupan. Ayahnya harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.
Saat ini, Kak Lie berkuliah di Bandung. Biaya kuliah tidaklah sedikit. Belum lagi, Vio saat ini kelas 6, pasti membutuhkan banyak uang. Uang ujian, uang perpisahan, beli seragam SMP, kebutuhan-kebutuhan lain. Jadi, untuk membeli sesuatu yang diinginkan, seperti HP Vio, itu akan dibeli jika ada rezeki lebih.

“Hai Vio!” Sapa Qorina begitu melihat Vio sudah datang.
“Hai!” Balas Vio singkat. Ia langsung duduk di kursinya.
“Kamu kenapa? Kok mukamu kelihatannya lagi sebal, gitu,” ucap Qorina.
“Eh gimana, udah beli HP baru belum. Siti aja yang kemarin belum punya, dia udah beli. Warna pink bagus banget. Cantik, deh. Kamu udah beli belum Vio?” Serbu Intan yang ikutan nimbrung.
Dalam hati Vio, sebenarnya ia marah. Ucapan Intan barusan, membuat hati Vio berapi-api. Vio berusaha menyembunyikan perasaan marahnya.
“Aku sudah minta. Tapi, Umi tetap nggak mau. Katanya nggak penting lah, kalau sudah ada rezeki lah, uangnya untuk masuk SMP lah, nabung lah. Macam-macam pokoknya,” Vio menghentak-hentakkan kakinya saking kesalnya.
“Ah, Vio. Nggak setia kawan. Nggak punya HP layar sentuh. Vio bukan teman kita lagi!” Intan menatap lekat-lekat mata Vio.
Vio kaget. Terlonjak seketika. Ia seakan-akan tak percaya dengan apa yang barusan terlontar dari mulut Intan. Qorina dan Intan segera meninggalkan Vio.

Vio menundukkan wajahnya. Ia mengeluarkan airmata.
“Sekarang, aku sudah nggak punya teman,” gumam Vio sedih.
“Hiks…”

Biasanya, jika Vio ada masalah di rumah, Vio selalu menceritakannya kepada Umi. Sebenarnya, Vio ingin menceritakan apa yang terjadi di sekolah tadi dengan Umi. Teapi, entah mengepa, sekarang hati Vio bimbang.
Vio melangkahkan kakinya ke dapur. Tampak, Umi yang sedang mencuci piring.
“Umi, Vio dimusuhi teman Vio,” kata Vio pelan.
“Dimusuhi?” ulang Umi. Vio mengangguk.
“Karena Vio nggak Punya HP layar sentuh itu, Umi.”
Umi mengelus jilbab Vio. “Vio, Umi yakin, nggak semua di kelasmu punya HP layar sentuh. Pasti ada yang nggak punya. Lagipula, barang itu kan, nggak membawa manfaat Lebih baik, digunakan untuk bersedekah. Pahalanya kekal sampai di akhirat nanti.”
“Maksud Umi, Umi nggak mau belikan HP itu untuk Vio?”
“Nggak kok, Vio Sayang. Kalau ada rezeki lebih nanti dibelikan kok. Umi cuma kasih tau aja, kalau ada rezeki lebih, akan lebih baik disedekahkan. Tenang Vio, kalau ada rezeki lebih, dibelikan, kok.”
“Yeee…” Vio bersorak girang.
“Oiya Vio. Kata Abi, kalau Vio mau, mulai sekarang, Vio nggak boleh habiskan uang jajan. Uangnya ditabung. Nanti, akan ditambahkan untuk uang beli HP Vio,” lanjut Umi.
“Oke, Umi!” Vio mengedipkan matanya.

Bel istirahat SD Generasi Bangsa Bermutu berbunyi nyaring. Vio tidak ada niatan untuk pergi ke kantin. Ia memilih diam di kelas. Vio mengambil buku pelajaran IPS dari dalam tasnya.
Mata Vio tertuju pada seorang anak perempuan berkacamata dan berkulit putih, yang juga tengah membaca buku pelajaran IPS. Vio menghampirinya.

“Asyla!” sapa Vio. Asyla menoleh ke arah Vio, dan memberikan seulas senyum. Asyla memang anak yang pendiam di kelas.
“Kamu punya HP layar sentuh?” Tanya Vio. Asyla menggeleng.
“Bagiku, itu nggak penting. Buang-buang uang saja. Aku harus rajin belajar, agar ulangan semester nanti, aku masuk 3 besar, dan saat try out dan ujian nilaiku harus tinggi. Kalau tidak, nanti aku diberhentikan sekolah sama orangtuaku,” jawab Asyla.
Vio terkejut mendengar jawaban Ayla. Ia tercenung. Ulangan kemarin, Asyla mendapat peringkat 6.
“Kok bisa mau diberhentikan?”
“Soalnya, aku memiliki 4 orang adik. Mereka membutuhkan banyak biaya. Kami hidup pas-pasan, atau mungkin… kekurangan. Setiap sebelum dan sesudah sekolah, aku menjajakan kueh-kueh buatan ibuku. Kalau aku tidak masuk 3 besar, aku diberhentikan dari sekolah, dan fokus mencari uang untuk menghidupi adik-adikku.”
Jawaban Asyla membuat hati Vio tersentuh. Kasihan sekali dia. Sedangkan Vio, yang hidup berkecukupan, walaupun masih harus banyak berhemat, meengek-rengek minta dibelikan HP layar sentuh yang sama sekali tak membawa manfaat.
Vio teringat nasihat dari Bu Isti.
“Kita hidup berkecukupan. Kemudian, hartanya dipakai untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat. Ingat, di sekitar kita, banyak yang membutuhkan uang untuk sehari-harinya. Dari pada, dibuang-buang untuk membeli sesuatu yang tak membawa manfaat, lebih baik disedekahkan. Pahalanya menjadi bekal untuk di surga nanti.”
Dalam hati Vio, ada penyesalan karena telah merengek-rengek meminta HP layar sentuh kepada Umi. Sedangkan, ada Asyla yang lebih membutuhkan uang untuk kehidupan keluarganya.

“Alhamdulillah, Vio. Abi dapat rezeki lebih. Abi dapat 10 juta dari kantor pusat di Jakarta. Sekarang, Abi mau belikan kamu HP yang kamu mau,” ucap Abi. Mata Vio berbinar-binar.
“Abi, dari pada uangnya dibeli untuk membeli HP itu, lebih baik disedekahkan. Aku mau bagi-bagi rezeki ke temanku, yang lebih membutuhkan uang.”
Sekarang, giliran mata Abi yang berbinar-binar.
“Subhanallah. Kamu beneran Vio, kan? Abi nggak nyangka, sekarang, hati kamu lebih mulia,” ucap Abi bangga.
“Iyalah, Abi. Semua karena temanku, Asyla. Kalau tidak ada Asyla, mana mungkin, Vio akan begini. Vio pasti sudah berjingkrak-jingkrak mau dibelikan HP nih.”
“Temanmu yang mau kamu kasih uang siapa?” tanya Abi.
“Asyla.”

Di siang yang terik, Vio dan Abinya bersusah payah mencari rumah Asyla. Sempat 2 kali tersesat. Syukurlah, sekarang mereka sudah berada di rumah kayu Asyla. Vio mengetuk pintu rumahnya.
“Asyla, kami ada rezeki sedikit. Dari pada digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat, kami memberinya ke kamu. Semoga bermanfaat untukmu orangtuamu, dan adik-adikmu, ya,” ucap Vio seraya mengedipkan matanya.
Mata Asyla berbinar, seakan tak percaya. Ia memeluk Viona.
“Benar, Vio? Makasih banyak, ya. Makasiiihh bangeeett… aku nggak pernah nyangka punya teman yang hatinya semulia kamu.”
Tangan Asyla bergetar saat menerima amplop coklat berisi uang yang disodorkan Vio Airmatanya menetes di situ.
“Alhamdulillah ya Allah…”
“Semoga berkah dan bermafaat ya, Asyla,” ucap Abi Vio.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak Vio, Om. Kebaikan kalian hanya Allah yang bisa membalasnya. Kamu mau kan, jadi sahabatku?”
“Pasti. Kalau bukan karena kata-katamu kemarin lusa, pasti ini tidak akan terjadi. Terima kasih sudah mau menyadarkanku.”
Abi tersenyum mendengar kata-kata mutiara yang keluar dari mulu Vio.

Abi dan Vio berpamitan dengan Asyla.
“Gimana rasanya bersedekah ke teman?” tanya Abi.
“Lega Abi. Hati Vio sejuk.”
“Besok kita berkunjung ke panti asuhan yuk!” ajak Abi.
“Yipi…” Seru Vio girang.
Semenjak saat itu, Vio dan Asyla bersahabat dengan baik. Ke mana-mana, mereka selalu berdua. Saat try out pun, Vio menjadi peringkat pertama, dan Asyla yang kedua. Nilai mereka selisih sedikit saja.

~Beberapa bulan kemudian…~
“Selamat yaa, Vio, putriku tersayang. Kamu menjadi peringkat kedua nilai UN tertinggi di sekolah,” puji Umi dengan bangga. Beliau mencium kening Vio.
“Alhamdulillah, Umi.”

Abi datang dan menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado. Vio menerimanya dengan rasa heran.
“Alhamdulillah, Vio menjadi peringkat kedua. Nilainya tinggi sekali. Selisih sedikit aja kok, sama Asyla yang peringkat 1. Abi senang. Bangga sekali. Di SMP, harus lebih meningkat lagi. Ini hadiahnya. Dibuka, ya.”
Vio menyobeknya. Ia tersentak kaget dan matanya berbinar-binar.
“Ini HP untuk Vio, Abi?” Vio seakan-akan tak percaya. Ia memeluk kotak itu.
“Terima kasih banyak ya, Abi…” Vio memeluk Abi.
“Vio janji. Vio akan lebih giat lagi belajar. Prestasi Vio, akan Vio tingkatkan di SMP. Vio janji, menggunakan HP ini, untuk hal-hal yang positif. Untuk hal yang bermanfaat.”

Cerpen Karangan: Rafika Widyanasari
Blog / Facebook: catatanliterasirafika07.blogspot.com / Rafika Widyanasari
Namaku Rafika. Aku lahir di Samarinda, 7 Juli 2004. Hobiku membaca dan menulis ^^

Cerpen Karena Asyla merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa Aku Berbeda

Oleh:
Hari-hari yang kulalui semenjak menginjak bangku Tsanwiyah lumayan menyibukkan. Tugas demi tugas yang harus kuselesaikan di setiap pertemuan. Tak jarang aku memiliki waktu untuk sekedar holiday. Bahkan untuk sarapan

Misteri Roh Di Dalam Topeng

Oleh:
Hari ini teman Fifi yaitu Sisi ulang Tahun. Sisi mendapat kado sepesial dari saudaranya yaitu Alya. kado sepesialnya itu adalah topeng berbentuk orang mulutnya menutup dan sedikit mengeluarkan Lidahnya.

I Understand Mom

Oleh:
Hari minggu adalah hari yang aku tunggu, karena pada hari ini aku akan bermain dengan teman sekelasku. Hanya nonton, tapi ini sangat membuatku senang. Karena jarang sekali ibu mengizinkanku

Sayap Bidadari (Part 1)

Oleh:
Tangan mungil itu menggenggam sang bunda dengan erat. Seakan berada dalam detik-detik perpisahan yang membuatnya kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Seakan ia akan kehilangan sentuhan lembut yang

Kasih Seorang Mama

Oleh:
Aku dilahirkan untuk mempunyai mama dengan satu mata. Dia sangat memalukan bagiku. Dia bekerja di tempat aku bersekolah. Dia berjualan di sana. Di suatu hari dia sempat menyapa di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *