Kau Hebat Nak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

Sinar matahari masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun menyadari, Jika aku… Aku kesiangan!!. Aku pun bergegas bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi. “Aduh, Aku pasti diceramahi lagi”, Kataku sambil keluar dari kamar mandi. Aku pun bergegas memakai pakaian sekolahku dan pergi ke sekolah. Saat aku sampai di depan pintu, “Nak, Ke sini sebentar.” Panggil Ibuku. Aku pun segera berpaling dari pintu dan segera menemui ibuku di ruang tamu. “Nak, Berubahlah dari sekarang, jika kamu seperti ini terus, kau tidak akan pernah bisa maju.”, Kata Ibuku sambil memegang pundakku. “Kau ini kebiasaan. Sholat 5 waktu tinggal, Baju sekolah berantakan, Nilaimu selalu turun belakangan ini.” Kata Ibuku sambil berdiri meninggalkanku. Aku pun keluar dari rumah dan tidak memikirkan ocehan ibuku tadi.

Aku pun berdiri di seberang jalan sambil menunggu angkutan umum. 15 menit telah berlalu, tidak ada satupun angkutan umum yang melintas. Aku pun melihat jam tanganku dan setelah kulihat dengan cermat, Aku menyadari sesuatu. “Aku terlambat!.” Aku segera berlari dan melewati segala rintangan yang ada. Ketika aku sudah sampai di depan gerbang sekolahku, Aku melihat gerbang sudah ditutup. “Sial!, Terlambat lagi” Kataku sambil menendang tong sampah yang terletak di dekat gerbang. Muncullah sesosok guru yang sepertinya sudah lama menungguku. Dia pun menghampiriku. “Dino, Dino. Lagi-lagi kamu terlambat. Sudah terlambat, Baju berantakan. Sekarang, berani-beraninya kamu menendang tong sampah itu!”. Kata Pak Guru Membentakku. “Maaf pak, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” “Sudah sana. Seperti biasa, kamu tegak di depan tiang bendera sampai jam istirahat”. Akhirnya, aku tegak di depan tiang bendera.

Tiang bendera selalu menemani hari-hariku. Ia selalu mendengarkan curahan hatiku baik dalam suka maupun duka. Hampir 5 menit sebelum bel istirahat, Aku melihat sesosok bidadari melewati tiang bendera yang sedang kuhormati ini. Dia adalah primadona di sekolah ini, namanya Fitri. Dia adalah seseorang yang rajin menunaikan ibadah, selalu sopan terhadap orang tua, dan bajunya selalu rapi, sedangkan aku malah sebaliknya. “Aku akan berusaha mendapatkannya” Pikirku.

Bel istirahat pun tiba. “Aku bebas!” Kataku seperti seseorang yang baru keluar dari penjara. Seperti biasa, aku pun pergi ke kantin untuk sarapan pagi. Seusai sarapan, aku pun ke kelasku. Saat aku sampai di depan kelas, aku kembali bertemu dengan Fitri. “Hai Fitri!” Sapaku. “Hai.” Sapanya sambil tersenyum. “Manis banget.” Pikirku. Aku pun melewatinya dan masuk ke kelas.

Inilah kelasku, kelas terbaik bagiku. Di sinlah tempatku selalu dihukum dan ditertawakan oleh teman-temanku. Namun, aku tak peduli. Aku masih mempunyai teman baik, namanya Rizky. Dia selalu memberikanku saran untuk setiap masalah yang kuhadapi. Saat ini, dia sedang duduk di kursiku. “Apa kabar ky?” Sapaku. “Alhamdulilllah. Seperti biasa. Apa kabar dino?.” Sapanya. “Buruk. Seperti biasa.” Kami pun tertawa. Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Seperti biasa, saya dihukum di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas. Pukul 12 lewat, sayup-sayup terdengar adzan dzuhur. “Yuk, sholat.” Kata Rizky mengajakku. “Kamu duluan saja.” Kataku cuek. “Inilah yang kubenci dari dirimu Dino. Kau selalu menunda-nunda waktu. Sholatlah sebelum kau disholatkan.” Katanya sambil beranjak pergi meninggalkanku.

Tak lama setelah Rizky pergi, aku melihat primadona itu lagi. Dia terlihat sedang bercengkrama dengan temannya di luar kelasku. Aku pun menghampirinya. “Hai Fitri. Kamu lagi ngapain?.” Tanyaku. Dia pun melihatku sambil memperlihatkan wajah sedih dan kemudian pergi meninggalkanku. “Apa maksudnya itu?.” Pikirku. “Dia sebenarnya menyukai dirimu dino. Tetapi setelah melihat dirimu tidak melaksanakan sholat, dia pun pergi meninggalkanmu dan terlihat tadi wajahnya sedih sekali.” Kata temannya yang tadi habis bercengkrama dengan Fitri. “Apa salahku?. Aku hanya tidak sholat. Kenapa dia yang sedih?” Pikirku.
Bel tanda masuk kelas pun berdering. Lagi-lagi, aku dihukum di depan kelas sampai bel pulang.

Akhirnya, bel pulang pun berdering. Kali ini, aku pulang sambil memikirkan kejadian tadi siang. “Aku pulang.” Kataku. “Alhamdulillah, nak. Kamu udah pulang. Bagaimana sekolahmu hari ini?” kata Ibuku. Terlihat ibuku sedang memasak di dapur. “Seperti biasa, bu.” Kataku. Aku pun masuk ke kamarku. Jujur saja, aku tidak pernah merapikan kamarku dan terlihat berantakan sekali. Aku pun merebahkan diriku di atas kasur dan mulai tertidur..

Hari-hari kulalui tanpa adanya perubahan sedikit pun. Sampai pada suatu hari, setelah pulang sekolah, ayahku pulang dari dinasnya selama 1 bulan. Aku pun menyambutnya dengan gembira. Tetapi, tidak dengan ayahku. “Dino, Ayah ingin membicarakan tentang sekolahmu.” Kata Ayahku dengan tatapan ingin seperti ingin membunuhku. Aku pun duduk di sampingnya. “Dino, Jujur sama Ayah, kamu pernah dihukum di sekolahmu?” Tanya Ayahku. “Iya, Ayah.” Jawabku. “Seberapa sering kamu dihukum?.” Kata Ayahku. “Setiap hari.” Jawabku santai. Plak!!!. Tamparan keras mendarat di pipiku sampai membuatku terjatuh ke lantai. “Bangun.” Kata ayahku masih dengan tatapan ingin membunuhku. “Sholat 5 waktu?.” Tanya Ayahku. “Tidak, Ayah.” Jawabku. Plak!!!. Tamparan keras kembali mendarat di pipiku. “Dino, kami sebagai orangtuamu sangat kecewa padamu. Kami yang merawatmu dengan baik sejak kecil, sampai sekarang ini untuk membuat masa depanmu cerah. Bukan sebaliknya!.” Kata ayahku. “Mengapa sejak kakekmu telah tiada, kau berubah seperti ini dino?.” Tanya Ayahku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. “Dulu, kau itu rajin sekali beribadah. Apalagi menolong orangtua. Nilai sekolahmu dulu paling baik di sekolah. Kakekmu selalu mengajarkanmu tentang ibadah dan nilai-nilai agama yang baik. Tetapi setelah kakekmu meninggal, kau mengalami perubahan drastis.” Kata Ayahku dan terlihat matanya berkaca-kaca. “Sekarang Ayahmu ingin kau berubah Dino. Mulai dari sekarang, Rubahlah perilakumu yang tidak pernah sholat 5 waktu itu. Mungkin, sekarang kau hanyalah sampah. Tetapi, sampah tersebut bisa didaur ulang kembali menjadi produk yang berkualitas.” Kata ayahku dan berdiri meninggalkanku.

Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku masih memikirkan kata-kata ayahku tadi. “Apa mungkin, aku bisa kembali seperti dulu?” Pikirku. Lambat laun, aku pun mulai tertidur. Lantunan yasin terdengar di telingaku. Aku pun terbangun. “Mengapa ada suara yasin?.” Pikirku. Aku pun turun ke bawah dan melihat dua jenazah terbaring di ruang tamu. “Siapa yang meninggal?.” Tanyaku pada orang-orang yang sedang membaca yasin. Tidak ada satupun yang mendengarkan ucapanku. Aku pun tak peduli dan mencoba melihat sendiri dua jenazah tersebut. Aku pun kaget dan menangis sejadi-jadinya setelah melihat dua jenazah tersebut. Mereka adalah Ibuku dan Ayahku!. “Mengapa ini bisa terjadi?!!!.” Aku pun menjerit sekuat-kuatnya. Tiba-tiba, semuanya hilang seketika. Sekarang, aku berada di tempat yang panas sekali dan muncul api yang berkobar-kobar. Terlihat ada dua sosok manusia yang sepertinya sedang disiksa oleh satu sosok yang bercahaya. Anehnya, aku tidak merasakan panas dari api tersebut. Aku pun mulai mendekati dan mencoba mencari tahu siapa yang disiksa tersebut. Samar-samar mulai terlihat wajah dari kedua orang tersebut. Mereka adalah Ibuku dan Ayahku!. Anehnya, aku tidak bisa berbicara. Aku pun mulai meneteskan air mata setelah melihat kejadian tersebut. Di sampingnya, terdapat satu sosok yang bercahaya sedang menanyakan sesuatu pada kedua orang tuaku. “Mengapa kau tidak mengajarkan sholat 5 waktu kepada anakmu?!!!” Teriak sosok tersebut sambil terus mencambuk orang tuaku. Aku pun shock dan merasa sangat bersalah. Tiba-tiba, semuanya kembali hilang seketika. Sekarang, aku berada di tempat yang sangat menyejukkan. Disaat itulah, muncul satu sosok yang kupikir tidak akan kembali.
“Kakek!.” Teriakku dalam hati. “Nak Dino, apa kabar?.” Kata kakekku. “Alhamdullah. Baik kek.” Jawabku. “Sudah lama kita tak bertemu ya, Nak dino. Ada sesuatu hal penting yang ingin kakek sampaikan padamu. Nak Dino seharusnya tidak berubah jadi seperti ini. Nak dino harus kembali seperti dulu lagi dan menjadi pribadi yang lebih baik. Jika tidak, ibu, ayah, dan Nak dino akan masuk neraka dan akan disiksa oleh Allah Namun sebaliknya, jika Nak Dino selalu beribadah kepada Allah s.w.t. dan tidak membantah orang tua, Maka Orang tua dan Nak dino inshaa allah akan masuk surga-Nya Allah Ingat ini baik-baik ya Nak Dino. Baiklah, mungkin hanya ini saja. Kakek pergi dulu. Assalamu’alaikum.” Kata Kakekku dan lambat laun sosoknya perlahan hilang seperti daun yang ditiup angin. “Wa’alaikumussalam.” Jawabku sambil mengusap air mataku.

Allahu akbar Allahu akbar!. Terdengar suara adzan yang membangunkanku. “Ini hanya mimpi?.” Pikirku heran. “Barusan tadi seperti nyata. Alhamdulillah jika cuma mimpi. Terima kasih ya Allah, aku akan berusaha!.” Kataku sambil beranjak untuk melaksanakan sholat shubuh. Seusai sholat shubuh, aku pun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. “Akhirnya. Selesai juga.” Kataku. Aku pun mempersiapkan perlengkapan sekolahku. Setelah selesai, aku keluar dari kamar dan melihat dua sosok yang sangat kucintai sedang sarapan di meja makan. “Ayah!. Ibu!.” Teriakku kegirangan. Aku pun langsung memeluk keduanya. “Eh, apa-apaan ini.” kata Ibuku keheranan. Ayahku memegang keningku. “Gak demam.” Kata Ayahku heran. Aku pun melepaskan pelukanku dan sarapan pagi. “Tumben kamu sarapan, Nak” Kata Ibuku bertambah heran. “Lagi lapar aja, Bu.” Kataku sambil tersenyum pada mereka. Kami pun tertawa bersama.

3 Tahun Kemudian…
Ini adalah hari yang bersejarah bagiku, yaitu hari kelulusan. Hari ini, kami akan lulus dari sma dan mudah-mudahan bisa masuk perguruan tinggi yang terbaik bagi kami. “Eh, Dino. Ada panggilan dari temanmu.” Kata Rizky sambil memberikan handphone. “Siapa?.” Tanyaku. “Sudah, angkat saja.” Kata Rizky sambil tersenyum. “Halo, Assalamu’alaikum.” Kataku. “Wa’alaikumussalam. Dino?.” Kata seseorang di handphone tersebut. Dari suaranya, aku tahu itu Fitri!. Dia sudah lulus 2 tahun yang lalu, Karena dia 2 tahun lebih tua dariku. “Fitri?. Apa kabar, Fit?” tanyaku. “Alhamdulillah, baik Dino. Oh iya, hari ini kamu kelulusan kan?. Semoga kamu mendapatkan yang terbaik bagimu ya.” Kata Fitri. “Amin. Semoga Tugas-tugas kuliahmu lancar ya.” Kataku. “Amin. Terima kasih, Dino. Cukup sampai di sini dulu, ya. Aku lagi sibuk nih. Assalamu’alaikum.” Kata Fitri. “Wa’alaikumussalam.” Jawabku. Aku pun menutup handphone dan memberikannya kepada Rizky. Hubungan aku dengan Fitri berjalan dengan sangat baik. Dia juga sudah tahu kalau aku menyukainya dan begitu pula sebaliknya.

“Cieeee yang ditelrpon gebetan.” Kata Rizky. “Bilang aja cemburu.” Kataku. “Hahaha. Eh, Dino. Akhirnya kau sudah bisa sholat 5 waktu. Bahkan, kau menjadi murid terbaik 2 tahun belakangan ini. Itu suatu awal yang baik bagi masa depanmu.” Kata Rizky. “Iya. Alhamdulillah. Itu semua karena allah telah memberikan hidayah kepadaku.” Kataku. Pukul sepuluh tepat, kami pun sudah duduk di suatu ruangan untuk mendengarkan hasil pengumuman. “Siswa yang lulus dengan nilai terbaik. Jatuh kepada… Dinoo.” Kata pembawa acara. Aku pun naik ke atas mimbar dengan perasaan yang sangat bahagia. Terlihat Ibuku menangis terharu, Ayahku mengacungkan jempolnya ke arahku, dan Rizky beserta orangtuanya bahagia melihatku. Aku pun menerima tanda penghargaan dan surat tanda kelulusan. Kemudian, aku menyalami semua guru dengan perasaan senang sekaligus sedih karena aku akan meninggalkan sekolahku tercinta ini. Setelah itu, Aku turun dari mimbar dan segera menghampiri Ibuku dan Ayahku. “Ibu, Ayah. Aku lulus!” teriakku dan kemudian aku memeluk Ibuku. “Akhirnya, kau lulus Nak.” Kata ibuku sambil mengusap air matanya. “Ayah sangat bangga padamu dino. Kau Hebat, Nak!” Kali ini, Terlihat Ayahku mengacungkan kedua jempolnya.

Akhirnya, kami semua lulus dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Aku pun akan lebih berusaha menjadi yang terbaik. Kami semua berlari di lapangan dan melemparkan Topi kami. “Hore!!!” Teriakku dan teman-temanku.

Cerpen Karangan: Maulana Putra Alfariski
Facebook: Maulana putra Alfariski
Haii. perkenalkan nama saya maulana putra alfariski. saya bersekolah di sma plus negeri 2 banyuasin III. saya sekarang duduk di kelas 10. selamat membaca ya!

Cerpen Kau Hebat Nak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Sehari

Oleh:
Kegelapan menyelimuti angkasa pada langit hari itu. Tak luput awan hitam turut hadir melengkapi kemuramannya, sedikit mendung pula rupanya. Namun, tak satupun rintik air mata langit menetes tanda hujan.

Tama

Oleh:
DUGHH!!! Akar pohon ketapang yang besar menjalar, membuatku tersungkur. Sepertinya, wajahku rata dengan tanah. Tapi, sebelum aku meringis. “Aaaww!!” Kedua sahabatku dengan lebaynya berteriak histeris. “Lilin lo kenapa?!” Aster

Makcomblang

Oleh:
Mak comblang. Dari judulnya mungkin kalian bisa nebak bahwa ini adalah cerita tentang usaha seseorang dalam menyatukan dua insan manusia yang saling mencintai (saling mencintai? Trus gimana kalau cuma

Penampilan Baru Isha

Oleh:
Aku melihat beberapa anak berpenampilan anggun nan cantik. Memakai jilbab panjang, baju gamis panjang. Sedangkan aku celana jeans robek robek, kaus oblong, pake topi, rambut digerai begitu saja, haduuuh

Yang Ku Ingat, Hanya…

Oleh:
Semilir angin menerpa kerudung panjangku saat ku buka pintu sekretariat akhwat, tempat tongkronganku. Udara yang dingin menepuk-nepuk jilbab sekolahku. Di atas, awan kelabu. Aku rasa pilihanku untuk pulang cepat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *