Kebakaran Yang Membawa Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 7 June 2013

Nama saya wahyuni, panggilan keluarga & sahabat saya umi. Saya dilahirkan di tj priok daerah jakarta utara tepatnya di kelurahan lagoa.

Kehidupan memang tidak bisa kita tebak dan kadang apa yang kita duga belum tentu terjadi, ini saya alami karena saya tak percaya bahwa hidup saya akan seperti sekarang.

Mendengar cerita orang dan keluarga saat saya lahir, saya dalam posisi tidak normal begitu beratnya mama melahirkan saya karena posisi saya dubur dulu yang keluar dan dalam keadaan diam tidak menangis dan bergerak, melihat hal itu bapa saya sedih dan menggendong saya kemudian dengan tangannya kaki kanan saya di angkat dalam posisi terbalik kemudian di goyang-goyangkan barulah saya menangis.

Masih jelas dalam ingatan saya, semua anak-anak tak ada yang mau bermain dengan saya dan selalu mengejek saya hanya karena saya semper, kedua kaki saya lemas seolah-olah tak ada tulang tak bisa jongkok apalagi berdiri, kemana-mana saya selalu ngesot.

Mama yang selalu sabar menemani saya. Bapa yang juga sayang selalu membawakan permen ketika pulang kerja untuk membahagiakan saya.

Iri rasanya melihat anak-anak bermain lari-larian, main lompat-lompatan, tapi saya hanya diam melihat dari balik kaca jendela.

Adik saya yang jaraknya cuma 1 tahun di bawah saya juga tak mau bermain dengan saya.
Pernah suatu hari mama menyuruh saya bermain dengan adik saya, tapi adik saya malah berlari pergi meninggalkan saya.
Sedih, pedih dan sakit hati ini tapi apalah dayaku.

Saat itu usiaku (+-) 4 tahun, waktu itu malam hari ketika semua sudah terlelap dalam mimpinya yang indah, saya tidur bersama kedua orang tua saya, sayapun sudah bermimpi indah, saya bermimpi duduk di tengah jalan lalu datang dua orang kakek-kakek dengan berjubah putih dan jenggot yang panjang menggendong saya dan menaruh saya di pinggiran lalu memberikan saya sebuah boneka agar di peluk, ternyata saat saya peluk bapak saya sedang memeluk saya dan banyak orang di rumah saya, sayapun kaget.

Saya bertanya kepada bapak: “ada apa pak?”

Bapak: “alhamdulillah ternyata kamu selamat, tadi ada kebakaran di kamar dan kasurpun habis terbakar, syukurlah kamu tak kenapa-napa”

Saya bingung karena saya tak merasakan apa-apa.

Bapak menatap aku dari bawah sampai atas kemudian memeluk saya kembali
Dan berkata: “ya allah, umi bisa berdiri”

Aku kaget dan melihat kakiku, ternyata benar aku bisa berdiri, ku tatap lagi keadaan sekitar, benar kasur habis terbakar, kelambu habis terbakar hanya sekitar 90 derajat yaitu di tempat posisi aku berdiri tidak terkena api.

Allahu akbar

Allah maha besar yang memberikan pertolongan pada hambanya, tanpa hambanya menduga.

Saya kira saya akan lumpuh selamanya, ternyata saya menjadi anak yg berprestasi dalam olah raga, kecuali renang.

Alhamdulillah

Cerpen Karangan: Wahyuni
Facebook: Bunda Cayang Keluarga

Cerpen Kebakaran Yang Membawa Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan Kepala Puskesmas!

Oleh:
Ruangan itu memang tidak terlalu luas, sehingga tidak cukup menampung semua staf puskesmas yang siang itu hadir, sebagian terpaksa berdiri di luar sambil sesekali mengintip dari balik pintu. Bahkan

Pangeran Bukrah

Oleh:
Malam tampakkan gelap. Memaksa makhluk-makhluk lemah terbatas menyalakan penerangan untuk jalannya. Mengukir hiasan di sepanjang perjalanan pulang Rana. Ia perhatikan kanan, didapatinya barisan lampu jalanan berkolaborasi dengan lampu merah

Ayahku, Raja Hatiku

Oleh:
Segala deritanya kini telah sirna. Penyakitnya sudah Allah angkat. Ada aura bahagia terpancar dari raut wajahnya. Perjuanganku telah berbuat manis dengan cara-Nya. Kini Ayah sembuh, Ayah sehat. — Mari

Date 10 11 12

Oleh:
Cinta tidak memihakku Hati kecil pun membisikku Kejarlah cintamu.. Tetapi hatimu telah terkunci bagiku Dulu kita saling meyayangi Tetapi tidak untuk kini Ku menangis kau terdiam Apakah kita bukan

Kau Tetap Sahabatku

Oleh:
Persahabatan itu memang indah, siapa pun ingin memiliki sahabat yang selalu mengerti dan memahami perasaan sahabatnya, rela berkorban dan selalu ada dalam suka dan duka. Pagi ini aku merasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *