Kebenaran Agama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 5 July 2016

Salahkah jika aku bersenang-senang untuk mengisi hidupku. Setiap saat hanyalah rasa bahagialah yang aku rasakan ‘girl, party, extacy’ seakan menjadi hal yang biasa dan wajar dalam hidupku. Namun suatu saat aku melihat seseorang yang setiap selalu melewati depan rumahku, lebih dari tiga empat kali dalam sehari dia melakukannya. Aku pun berfikir apa yang ia lakukan, kemana dia sebenarnya.

Akhirnya aku pun mengikutinya seperti sherlock holmes. Dia memasuki bangunan besar “ah mungkin itu gereja” pikirku. aku menunggunya di luar karena aku penasaran akan apa yang dia lakukan, bukankah ke gereja hanya pada akhir minggu saja tapi ia melakukannya setiap hari.
“Apakah yang anda lakukan di bangunan seperti gereja ini? Apakah kau sembahyang?” Pertanyaanku sepertinya mengejutkan orang ini. Dan dengan sedikit terkejut orang ini menjawab “ya, kau benar aku sembahyang. Tapi kau salah ini bukan sebuah gereja ini masjid.”, “masjid?” Tanyaku heran, karena aku tidak pernah tau apa itu masjid. “Ya, ini sebuah masjid tempat sembahyang”, “tapi kenapa kau kemari setiap hari? Apakah kau bukan kristiani, lalu siapakah kau.” Tanyaku untuk mendapatkan kejelasan akan apa yang selalu ia lakukan.
“Aku bukan kristiani, aku muslim.”, “muslim? Islam?”. “Ya, kau benar agamaku islam” jawabnya.
“Kenapa kau sembahyang setiap hari? Apakah itu perintah” tanyaku lagi, sepertinya dia tidak terganggu akan apa yang aku lakukan.
“Ya, itu perintah” terangnya “dan apakah kau seorang kristiani?” Sambungnya untuk bertanya kembali padaku.
“Tidak, aku seorang atheis.” Jawabku singkat “apakah pentingnya sebuah agama. Aku percaya tuhan ada tapi apakah agama juga penting? Agama hanya menyebabkan perpecahan.” Sambungku.
Dia pun terdiam sejenak, sepertinya dia sedang berfikir untuk mencerna pertanyaanku tadi sebelum melanjutkan percakapan ini. “Kenapa kau berfikir seperti itu?” Tanyanya padaku. “Bukankah memang begitu” jawabku singkat.
“Tidak kau salah. Bukan agama yang menyebabkan perpecahan tapi pemikiran seseorang bahwa agama mereka yang paling benarlah yang menyebabkannya.” Jelasnya panjang.
“Lalu, apa fungsi agama?” Tanyaku lagi, aku mengharapkan jawaban yang lebih darinya.
“Apakah kau percaya kehidupan setelah kematian?”, “ya, aku percaya.”
“Apakah kau percaya syurga”, “ya, aku percaya”
Dia terdiam.
“Jika kau percaya kehidupan setelah kematian dan juga syurga, kenapa kau menjadi atheis?” Tanyanya heran
“Ya, bukankah untuk masuk ke syurga itu hanya perlu menolong orang lain dan tidak berbuat kejahatan.” Jawabku.
“Sepertinya kau salah pemahaman.”, “salah pemahaman?”
“Jika kau percaya syurga itu ada, maka pasti kau akan menginginkannya bukan?”, “ya, tentu”
“Jadi ibaratkan itu sebagai tujuan, ibaratkan sebagai kelulusan”, “kelulusan?”, “ya, seperti saat kau sekolah.” Sahutnya.
“Maka dapat diibaratkan agama itu sebagai sekolah/universitas itu sendiri. Karena kelulusan takkan kau dapat tanpa kau sekolah. Layaknya dalam sebuah sekolah pasti terdapat peraturan-peraturan dan ujian yang harus ditaati dan dijalani ibaratkanlah itu seperti kewajiban-kewajibanmu untuk sembahyang dan menyembah tuhan, juga ada peraturan-peraturan dan larangan. Jika kau sudah masuk sebuah sekolah, dan mengikuti peraturan, dan menjalani kewajibanmu mengikuti ujian pasti kau akan lulus nanti. Jika kau sudah masuk sebuah agama, dan mengikuti peraturan, patuh akan larangan, dan menjalani kewajibanmu menyembah tuhan pastilah kau lulus ke syurga.” Terang pemuda itu dengan panjang dan rinci yang dapat membuka pemikiran dan juga hatiku tentang agama dan hidup yang benar.
“Menurutmu agama apa yang tepat dan benar untukku” tanyaku pada pamuda itu.
“Itu semua terserah padamu ikutilah apa kata hatimu.” Jawabnya.

Mulai semenjak saat itu aku mempelajari banyak agama, dari agama-agama yang aku pelajari hampir semuanya menyeru untuk berbuat kebaikan dan hidupku sangatlah jauh dari kata kebaikan itu. Dan mulai saat itu pula aku putuskan untuk menjadi muslim. Aku sangatlah berterimakasih pada pemuda itu karena telah membuka hatiku.

Cerpen Karangan: Ebta Dhebta
Facebook: Sholikhul Ebta
sholikhul ebta lahir 29-mei-2000, suka baca cerpen dan petualangan.
cerita ini saya tulis karena saya hanya ingin menyampaikan pemikiran saya tentang agama dan tidak untuk menjelek-jelekkan suatu agama atau meninggikan agama lain.

Cerpen Kebenaran Agama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Bisa!

Oleh:
Hari hari berjalan Seperti biasa layaknya guru pesantren pada umumnya, pagi sebelum matahari menyinari bumi, saya sudah duduk santai sambil bersandar di tembok mushola yang diameternya hanya mampu menampung

Bukan Kamu Yang Dulu

Oleh:
Aku melihatnya. Gadis bertubuh atletis dengan rambut panjang yang diikat satu di tengah dan dengan hidung mancungnya, menggunakan celana jeans ketat dan baju kaos berlengan pendek berwarna hitam yang

Adilkah Untukku? (Part 2)

Oleh:
Sesampainya ia di masjid, ia melihat pak Hambali sudah berada di tempat wudhu yang berada di sebelah kanan masjid. Putra berjalan menuju ke arah pak Hambali dan kemudian kembali

Raket Ajaib

Oleh:
Pada suatu hari, ada seorang anak laki-laki bernama Surya. Ia bersekolah di SMPN Karta dan duduk di kelas 8. Ia mahir berolahraga dan pintar pelajaran Agama Islam. Olahraga favoritnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *