Kemanakah Kita Akan Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 21 November 2016

Setelah kematianya barulah kita sadar akan tujuan hidup yang sebenarnya. Berlinang air mata keluarga, berdegub jantung setelah mendengar kematian itu, berusaha agar ia dituntun ke tuhannya bersamaan dengan syahadat di ujung lidah pilatnya yang gemetar, setelah rohnya tak ada lagi menginjak bumi. Barulah apa yang menjadi kebencian dalam diri kita akan membuka maaf dan mengingat kebaikan yang telah diberikannya. di ujung keluh resah yang kita rasakan merasa orang itu berhutang budi di kian sakitnya, kini sudah tak ada arti karena rasa itu sudah ditiup angin akhirat, membiaskan dalam genggamnya yang sudah siap akan pertanggung jawabannya di alam sana.

Matahari telah pulang lama keperaduanya, tiada sisa dari warna petang yang terlihat di malam yang kelam, kecipak kaki berlari kecil berhenti dari rumah ke rumah yang ada paut keluarga dan tetangga. rasa yang tidak berasa, meski ditanda hujan dengan basah sekujur tubuh. menuju rumah kami yang tak jauh. terengah dia membuka pintu rumah kami, membuyarkan waktu santai bersama keluarga dimalam itu. “eeng mee…ninggal”. ucap devi terbata. “inallilahiroziunn” kami sentak menyambut ucap berita duka yang dibawa devi. dibalut rasa tak percaya menjawab keterkejutan kami dengan sendirinya bahwa hidup akan kembali pula kepada tuhannya. “yuk cil, mang, tanjung kita ke sana melihat sidin mungkin ini am terakhir melihatnya” kata devi. “Iih yuk kita kesanaan” ucap ibu dan ayahku. “jung yuk”. ajak ibuku. “kena maa ulun kesana. siang kena jaa. mun ulun kesana, siapa yang menjaga rumah” ucapku menyakinkan. “iyalah” sambut ibuku.

Mereka pun pergi ke rumah devi. meninggalkanku di rumah sendiri, dipadu malam sunyi nan sepi dan dari samar kejauhan tadarus qur’an menghentikan hujan yang menandai basah dibulan ramadan. Tersentak aku berfikir kenapa kita masih mengingat harta, kenapa kita masih mengingat rumah dunia bukankah kita semua akan dipanggil juga di sisinya. lalu kenapa kita begitu enggan meluruskan jalan kemudahan untuk saudara kita. “seharusnya aku tidak beralasan itu kepada mama” benakku. Lalu kuambil qur’anku yang sudah berdebu yang hanya menjadi pajangan tanpa dibaca, maka hari ini aku membaca. napasku menghela bacaanku mengirimkanya untuk beliau menancapkan kekhusyuan yang mampu mencakar alam kematian dengan sinar terang di sepanjang jalan yang dilewatinya.

Malam semakin larut, semua mata tertidur lelap. dengan niat menguburkan esok pagi sudah terbesit, memutuskan kesepakatan dengan menguncinya dalam kehiningan malam. tak terkecuali aku yang juga ingin tidur lelap dironai perasaran takut akan didatangi arwah tersebut tetapi lambat laun aku tertidur juga dengan lelap.

Pagi itu tiba dengan sinar cerahnya. devi datang kembali mengajaku. kami pun kesana dengan hati penuh duka. Disana, dengan suasana yang teramat pagi berjejer orang-orang yang berbaik budi meringankan tangan membuat tabla, membentangkan kain kafan panjang, mengiris daun pandan, memotong gadang pisang dan disana gerombolan keluarga dan tetangga bercerita tentang kebersamaan mereka selagi beliau ada. mengisahkan tetesan tangis seakan nostalgia di hari-hari mereka yang tiada tahu umurnya akan berakhir.

Selepas kami membaca yasiin dan membantu orang-orang yang sedang sibuk terasa kegiatan kami usai. aku dan devi pun melangkah gontai ke gerombolan orang-orang yang bercerita tadi disana kami mendapat cerita sejarah kami yang terasa terpotong dalam editan waktu.

Berkilas balik dari umurku beberapa tahun yang lalu, mengundur lebih lagi selagi aku tak ada mengecap bumi. dari masa kecil orangtuaku eeng lah yang merawat mereka. menambah perawatan extra dari orangtua kakek dan nenek yang sibuk bekerja dimasa itu. berkilas balik kedepan orang yang sering dia rawat kini sudah besar dan mempunyai cucu sekarang tugas eeng tidak hanya sampai disitu dia rawat cucu-cucunya. dia begitu mengerti tentang kesibukan orangtuanya. kini mereka bekerja dalam tantangan ringan hingga terbangun rumah besar nan mewah di kampung kami yang juga menggores sejarah dari raut wajah sang eeng, rambutnya putih dengan uban menyeluruh, yang kadang dia semir mengumumkan kepada teman temanya yang sebaya bahwa dia awet muda lagi tetapi dia juga acap kali berkata bahwa pesta akan bubar setidaknya itu yang menjadi slogan dalam hidupnya. Di usia yang sudah tua bukanya menikmati harta tetapi dia masih mencari harta walaupun hanya dapat sepiring nasi sehari itu pun dia hanya meminta kepada keluarga untuk keikhlasan imbalan menjaga cucu. gelar nama kamipun banyak yang diberikanya cincan untuk bunga, bocah ramai untuk melati, meons untuk aku, dan oyet untuk devi. kami masih ingat gelar itu. selebihnya cucu yang lain tidak mendapat gelar mungkin tergerus oleh usia beliau.

Dia begitu amat senang ketika mendapat uang. dibawanya kedalam mimpinya setiap hari meski mimpi hanya ada tambah dan kurang. Dan Jika menjelang lebaran dia habis-habisan membuat ketupat untuk dijual hingga mengalahkan kami. maka orang-orang menjulukinya juragan ketupat.

Uups… aku baru ingat bahwa aku bisa menganyam ketupat itu berkat eeng. diusiaku yang masih kecil dari jari jemari yang belum mampu mencapai bakat diajarkannya aku yang bebal dengan plus amarahnya. karena amarah itulah aku ingat dan kini aku bangga dengan keahlianku dalam membuat ketupat yang masih kecil keberuntungan orang untuk bisa mengayam seni ketupat yang sudah familiar atau tergerus sekalipun di zamannya.

Tak terasa waktu begitu cepat. membuat cerita kami semakin tersingkat ini sudah saatnya ke pemakaman. para gerombolan orang-orang tadi mulai bubar dan berbaris panjang mengiringi jalan di pemakaman. aku berbareng jalan bersama ibuku sambil membawa racikan pandan yang memiliki aroma sakral tersendiri. Setelah tiba di pemakaman barulah rasa terakhir kalinya pun meluap. Di hati kami semua yang menyaksikan, menderaikan air mata penyelesalan, terlebih orang yang tidak menjenguk dimasa sakitnya. andai uang dapat menolong maka mereka-mereka yang sudah sukses akan memilih hilang uang daripada nyawa beliau. tetapi untuk apa karena penyesalan sudah terjadi dan tak berlaku lagi bergeming waktu yang sudah lewat.

Mataku melayang pandang di pojok makam sana. di bawah rindang pohon ketapang bersungkur duduk di tiang atang. mulutnya berkucap-kucap mengenakan pakaian yang sudah kami hafal ciri khasnya. Tetapi lebih hafal lagi dia tentang kakaknya karena sudah bertahun jelang setengah abad umur mereka berdua. Satu suka satu rasa yang memberi makan alil ketika eeng juga makan. Kami hanya dapat melihatnya dengan penuh pertanyaan entah doa magic apa yang dibacakanya tetapi kami semua sudah maklum akan keadaan otaknya yang tidak pernah dirawat atau didiagnosa oleh dokter.

Begitu pemakaman telah usai, tangis yang terisak memerahkan mata seakan mengadu sesal rindu yang lebih di jalan pulangnya. kami usai memakamkan beliau maka terserah saja mau melakukan kegiatan apa. entah sholat ghoib, membaca yasiin, quran, ziarah, silaturahmi, perbanyak amal ibadah atau lain lainya tetapi kami berharap agar keluarga kami terbimbing kejalan yang benar, terhindar dari api neraka dan dapat menambah extra doa keselamatan bagi beliau. Lalu tentang perawatan adik eeng kami masih menguras kebijakan pemikiran agar lebih tepatnya.

Semoga beliau tenang di alamnya, terhindar dari gelap dan siksa kubur. dan kita sebagai manusia juga pernah merasa salah dan khilaf maka meminta maaflah kesalahan kita terhadap orang lain sebelum orang lain memaafkan kita, dan sholatlah sebelum kita disholatkan dan jangan biarkan qur’an anda di rumah hanya menjadi pajangan bacalah selagi kita masih bisa membacanya karena hidup akan kembali juga kepada tuhannya

Cerpen Karangan: Nurani Aisiyah Tanjung
Facebook: Nurani Aisiyah T
bersekolah di smk 3 sampit
alamat jl. iskandar 19

Cerpen Kemanakah Kita Akan Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan

Oleh:
Kereta api ekonomi jurusan Bogor – Jakarta – Yoyakarta. Mereka berempat duduk berhadap-hadapan. Ahz duduk di sebelah Vhanz, dan Natsu duduk di sebelah Juno. Kembali pulang ke Jogja untuk

Karena Ada Hikmahnya

Oleh:
Aku terus menatap tajam jalanan yang semakin padat kendaraan. Terik matahari mulai membakar kulitku. Aku kepanasan, kelaparan dan kebingungan. Hendak kemana sebenarnya aku ini, aku pun tak tahu. Kakiku

Dimana Al-Qur’anku?

Oleh:
Subhanallah. Indahnya langit itu. Sore ini Allah melukiskan beberapa coretan jingga di langit senja sore ini. Senyumku pun bagai burung-burung yang berterbangan dengan anggun di atas garis jingga itu.

Secuil Rindu Dan Doa Untuk Bunda

Oleh:
Malam ini rasanya aku rindu sekali dengan orang-orang di rumah, terutama Ayah dan Bunda. Yaa wajar saja, karena aku sedang merantau untuk melanjutkan studiku. Apalagi bunda sedang diutus untuk

Surau Yang Diwariskan

Oleh:
Sudah dua tahun, Tun ditinggal suaminya. Bukan uang dan juga rumah mewah yang diwariskan oleh suaminya, melainkan hanyalah sebuah gubuk yang dijadikan Surau oleh mendiang suaminya dan juga warga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *