Kembali Ke Titik Nol (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 21 March 2014

Sekitar jam 10 an aku sampai di rumah berpagar bambu itu, perjalanan yang melelahkan! bagaimana tidak melelahkan, kali ini aku turun di terminal blok M padahal biasanya aku turun di depan Polda. ya, rupanya laju bis yang tersendat sendat jalannya karena volume kendaraan yang padat di tambah semilir angin yang menerobos masuk lewat kaca jendela yang sedikit terbuka membuat mataku mulai berat terkantuk-kantuk hingga aku tersadar oleh suara sepatu orang-orang yang bergegas turun dan suara kenek yang melengking-lengking membangunkanku. ternyata aku sudah di terminal blok M. Masya Allah… kelewatan!. Bergegas aku turun, suara kenek dan deru mesin yang memekakkan telinga serta bau asap yang menyengat membuatku sedikit berlari ke arah jalanan besar kemudian menyetop bis yang menuju ke jalan Senopati.
Dengan sedikit bergeser aku mencondongkan tubuhku ke depan kupanjangkan leherku mencoba mengintip ke dalam rumah dari celah-celah pagar bambu, tak kulihat motornya Dedah, rupanya belum datang sahabat setiaku itu. padahal matahari sudah sepenggal galah. Rupanya tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam, akhirnya ku beranikan diri memijit bel rumah yang terletak di sebelah kiri dinding batu. seorang perempuan berperawakan kecil, kulit hitam dengan rambut diikat ke belakang mengenakan kaos kuning rok bermotif segera menghampiriku.
“ibunya gak ada, mau minta sumbangan ya?” sapanya sedikit tidak ramah sekilas terlihat ada sorot mata meremehkan dari tatapan perempuan itu terlihat garis kerutan di dahinya tanda dia sedikit heran aksen jawa yang medok sedikit dihentakkan membuatku agak kikuk.
aku terperanjat, mendadak dahiku berkerut bibirku langsung sedikit condong ke depan tersenyum kecut mukaku di tekuk, ya ampun! rupanya penampilanku memang lebih pantas menjadi peminta sumbangan di banding pencari ilmu. Mungkin karena cara berpakaianku yang sedikit lusuh karena lengket oleh keringat atau memang mukaku juga lecek ya, hingga aku seperti orang-orang yang berkeliling daerah mencari sumbangan dengan berbagai alasan supaya donator-donatur dadakan, hatinya menjadi trenyuh untuk mengeluarkan amal shadaqah jariyah.
“maaf mba, saya bukan mau minta sumbangan tapi mau belajar dzikir” kataku sedikit berang!
setelah menunggu agak lama, akhirnya datang juga sahabatku itu dengan memboncengkan seorang temannya,
“Erna, tetangganya Dedah…” perempuan itu menyalamiku dengan ramah. Usianya mungkin tidak jauh berbeda denganku, berperawakan lebih tinggi dariku ada segurat kabut tampak di wajahnya, kelehan mungkin karena cuaca panas yang menyengat seolah membakar hingga menimbulkan wajah kuyu.

Kami pun duduk di teras depan memandang ikan-ikan yang meleok-leokan tubuhnya. seorang perempuan lebih muda dengan rambut tergerai sebahu kulit lebih bersih dibanding wanita tadi membawa nampan dengan tiga gelas minuman, kemudian mempersilahkan kami minum. Di cuaca terik seperti jakarta, minum air dingin sangatlah menyenangkan air itu pun melaju dengan cepat membasahi tenggorokan yang kering, wuss… rasanya seperti meneguk air dari surga… dinginnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. apa lagi seperti aku yang sudah kepanasan ditambah kesel karena ketiduran dan terbawa bis kota, nyes… disinilah baru kurasakan nikmatnya minum segelas air dingin berwarna merah… nikmatnya bagaikan orang yang kehausan di padang tandus yang paling ia dambakan adalah air dingin… pantas saja para guru agama selalu bercerita mengumpamakan mencari ilmu Allah bagaikan menemukan air dingin di padang tandus. sekarang baru aku merasakan kenikmatannya. Amazing.

Tiba-tiba suara deru mobil dan kelakson membangunkan lamunanku, kami serentak menengok ke arah datangnya suara, rupanya mba Irma baru datang.
“Assalamualaikum, maaf mba-mba nunggunya lama…” sapanya ramah, matanya yang coklat berbinar menyambut tangan kami.
“gak apa-apa mba”
“ayo masuk yu…” ajaknya, seraya memanggil mba Nur, oh rupanya perempuan tadi yang menyangkaku minta sumbangan itu namanya mba Nur toh. Aduh nama yang bagus Nur “Cahaya” tapi kelakuan menyangka yang tidak-tidak! gumamku dalam hati. Rupanya hatiku masih nge-gerimet juga.

Seperti minggu kemarin, kami pun mengikuti langkah mba Irma dari belakang berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju ruang atas tempat yang sama seperti minggu yang lalu.
“ayo ibu-ibu, kita satukan pikiran kita untuk menyebut nama Allah” serunya
“kaki di lipat, mulut di kunci, tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut, pandangan kita tertuju pada satu titik yaitu hati” demikian mba Irma mengulangi kata-katanya seperti awal kami bertemu, jangan iupa puser ditarik ke dalam dengan maksud karena puser adalah sumber kekuatan manusia. Dari puserlah makanan disuplay oleh ibu kita saat masih di dalam kandungan.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami, hanya terdengar suara mba Irma yang membimbing kami. Aku pun hanyut dalam belaian surgawi, Inilah yang di namakan dzikir qolbu, seperti kata imam Al-Ghazali “Barang siapa mengenal qolbunyq berarti mengenal diri pribadinya maka seolah-olah ia juga telah mengenal Tuhannya” seperti yang disebutkan di Al-Qur’an surat 13 Ar-Ra’ad ayat 28: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram dan ikhlas, adalah sebagai wujud penyerahan diri kepada sang Khalik di zona seperti inilah perasaan positif yang akan menguasai jiwa raga kita seperti rasa syukur, tenang, sabar, dan merasa hidup ini indah. dengan cara seperti ini mba Irma mengajariku berdialog dengan Robb secara langsung tanpa takut salah ucap, tanpa ada pembatas ruang dan waktu tanpa takut di dengar oleh para lelembut, jin, setan, bahkan malaikat pun tidak tau percakapan kita dengan Robbnya. Ini lah cara belajar untuk khusu, untuk meraih keridhoan Allah. khusu dalam melaksanakan solat atau pun khusu dalam melaksanakan ibadah lainnya. Salah satu sebab kita mudah terbawa sakaba-kaba adalah karena kita terlalu memaksakan diri untuk meraih sesuatu tanpa tahu adab-adabnya. Persoalan hidupku seperti benang kusut yang sulit terurai bahkan aku tak akan pernah mampu menguraikannya satu demi satu. Dengan membawa sebungkus benang kusut kehidupan aku menghadapMu ya Robb… aku pasrah dengan ketentuanMu yaa Robb, karena hanya Engkaulah yang mampu membenahi gulungan kesulitanku. Alhamdulillah bisa menembus ruang dan waktu, jiwaku melayang jauuuh mencoba mendekati Robb… kupasrahkan semuanya, karena memang aku tak akan pernah mampu menguraikannya, berharap Engkaulah sang penguasa bumi dan langit dengan seluruh isinya membenahi seluruh perjalanan hidupku. Entah berapa lama jiwaku asyik melayang menembus cahaya Illahi melepaskan kerikil-kerikil tajam yang masih menempel dalam keangkuhanku, perlahan sayup ku dengar suara guruku untuk menahan nafas dengan membaca Al-fatihah kemudian perlahan membuang nafas, yang ketiga kalinya nafasnya ditiupkan ke kedua telapak tangan kemudian diusapkan ke seluruh wajah, tangan dan kaki. Alhamdulillah… hari ini aku legaaa, “plong” rasanya.
Rupanya mba Irma mengerti keadaan perut kami, ku lihat di depanku sudah tersedia hidangan yang menggugah selera. kami pun makan dengan lahapnya. Juadah ini pun tidak lama sudah pindah ke dalam perut kami.

Waktu mulai merambat perlahan, aku bergegas membenahi kerudungku sedikit ku angkat kedua telapak tanganku menyeka air mata yang masih tersisa di pipiku, entah berapa banyak waktuku terbuang hanya untuk menangisi yang sebenarnya tidak perlu ditangisi! Astagfirullaahal’azhiim… aku tidak boleh rapuh! gumamku dalam hati…langkah kakiku semakin cepat, ya hari ini seusai dzikir nanti mba Irma akan membawa aku dan Dedah ke tempat praktek seorang dokter herbalis di komplek Perhutani kali bata, jadi aku harus lebih pagi datangnya supaya tidak kesiangan. Akhirnya aku berobat juga secara medis. Rupanya semua kejadian ada jatahnya masing-masing, karena sesungguhnya yang terjadi di muka bumi ini tidak ada yang kebetulan semua sudah di atur oleh sang Pencipta, bahkan daun jatuh pun sudah diaturNya demikian yang sering kudengar dari mba irma, Benar saja seusai berdzikir kami pun melaju menembus kemacetan Jakarta menuju kali bata, rupanya bu guruku ini selain pendalaman sejarah islamnya luas ternyata lincah juga mengemudikan setir mobil, ini terbukti kami sampai di tempat praktek haji Erna lebih cepat dari perkiraanku padahal jalanan dipenuhi para pengendara sepeda motor dan puluhan mobil yang berseliweran.

Hj Erna nama panggilan dokter herbalis itu ternyata sudah lama mengenal mba Irma ini terlihat dari perlakuan khusus yang diberikan sejak dari mulai pendaftaran sampai berhadapan langsung dengan haji Erna hanya dalam hitungan menit saja. pada hal saat itu pasiennya cukup banyak. Subhanalloh… lagi-lagi aku diberi kemudahan, bayangkan saja seandainya tidak di bawa mba Irma entah berapa jam lagi kami kebagian waktu untuk berkonsultasi belum lagi seluruh biaya pengobatanku di bayar oleh mba Irma… segala puji bagiMu ya Allah yang telah melapangkan hati dan sudah mempertemukanku dengan hambaMu yang dermawan, Semoga Allah memberikan limpahan rizki yang tak terhingga kepada mba Irma dan juga orang-orang yang dermawan lainnya, Aamiin…

Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang sudah disediakan dan membiarkan kaki kananku di pijit oleh hj Erna dari situlah ketauan bahwa di dalam rahimku terdapat miom (penebalan dinding rahim) rupanya sakitku ini sudah menahun pantas saja aku sering merasakan sakit yang luar biasa dan kerap mengalami pendarahan. Setelah berdialog dan diberi resep untuk mengkonsumsi bekatul dan gambir serta daun-daunan yang harus di makan selama tiga bulan berturut-turut kami pun meninggalkan tempat kediaman ibu Hartati, rumah yang selama ini dipergunakan pak haji Erna untuk berpraktek di Jakarta. Kali ini mobil melaju dengan kecepatan sedang, oooo… rupanya mba Irma mengajak kami mampir di sebuah restoran di sekitar jalan Senopati. Nyeees… menikmati segelas es jeruk di iringi gamelan sunda sungguh luar biasa, air dingin itu perlahan menelusuri batang tenggorokanku. entah karena memang sudah waktunya makan siang ataukah karena memang lapar hidangan di atas meja yang di pesan itu ludes habis tak bersisa.

Penerbangan Jakarta-Jeddah dengan pesawat GA 980 mulai merangkak meninggalkan bandara internasional Soekarno hatta, kilasan-kilasan bangunan seputar bandara mulai berkejaran menjauh meninggalkan kesan ngeri di hati. Bismillahi tawakaltu ‘alailahi la haula wala quwwata illa billahil’aliyil’azim… perlahan kubisikan do’a itu di telinga mamaku. Tampak wajahnya pucat pasi seperti mayat, matanya terpejam seakan takut melihat hantu di siang bolong, bibirnya bergerak-gerak sepertinya sedang komat kamit membaca ayat-ayat qur’an yang dia hapal, perlahan kupegang tangannya, dingin bagai es, ya. bagaimana mamaku tidak seperti itu, inilah yang ke dua kalinya mama naik kuda besi yang bisa terbang. kalau bukan karena kuasa Alloh bagaimana mungkin besi yang berbobot ribuan ton itu bisa mengapung di angkasa menembus awan tanpa seutas tali yang terkait ke satu tempat. Kalau ingat itu merinding bulu kudukku, siapapun akan menciut hatinya. Semua nyawa yang duduk di dalamnya tergantung kasih sayang Alloh. Tanpa belas kasihNya benda yang aku tumpangi ini bisa jatuh setiap saat.

Alhamdulillah… aku datang menjadi tamuMu yaa Robb… 8 jam perjalanan menuju Jeddah tak membuatku lelah hawa panas padang pasir menerpa wajahku ketika aku pertama kali menuruni tangga pesawat, kulihat di sampingku tubuh yang renta itu terlihat kuat ada garis senyum di bibirnya seberkas cahaya terpancar di wajah tua, sayup ku dengar mamaku berkali-kali memuji sang Pencipta. Waktu menunjukkan pukul 18.10 waktu King Abdul Aziz Airport, tapi suhu udara sore itu benar-benar panas, semburat warna merah di langit seakan menyambut kedatangan kami. Sambil menggandeng tangan mama bergegas ku ikuti langkah suamiku menuju tempat pemeriksaan dokumen di imigrasi Airport Jeddah.
“Alhamdulillah, gak nyangka bisa sampai di sini” kudengar ibu bergumam, matanya berkaca-kaca bahagia, aku tersenyum tipis. lega rasanya melihat ibu bahagia.

Setelah melewati imigrasi, kami pun menuju bis yang sudah disediakan untuk selanjutnya meneruskan perjalanan menuju Madinah. Jarak tempuh Jeddah – Madinah sekitar 4 jam. Hari mulai merayap malam pandangan mata mulai terbatas karena gelap yang memenuhi padang pasir, tak banyak yang bisa kulihat di sepanjang perjalanan hanya sewaktu waktu ada kilatan cahaya dari kendaraan yang berpapasan dengan bis yang kami tumpangi.

Senin tanggal 3 Mei 2010, jam 4 pagi aku, suamiku serta mamaku untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di masjid Nabawi untuk melaksanakan solat subuh berjama’ah bersama ribuan umat muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Allahu Akbar… aku bersimpuh di atas hamparan sajadah panjang, Masjid Nabawi terletak di pusat kota madinah, dulunya Madinah bernama Yatsrib, kemudian Rasullulah ketika berhijrah menamainya madinah, yang berarti bercahaya. Dinamakan demikian karena dari sinilah agama Islam memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru dunia. Pada masa Rasullulloh saw dan Khulafur Rasyidin Madinah menjadi pusat dakwah dan pengembangan ajaran Islam sekaligus menjadi ibu kota negara Islam pertama dalam sejarah, dimana segala pusat kegiatan dakwah, pengajaran dan pengembangan Islam oleh Rasullulloh, sebagai tempatnya beliau mendirikan sebuah masjid, yaitu masjid Nabawi. Masjid Nabawi sendiri dinamakan demikian karena Rasullulloh saw selalu menyebut dengan “Masjidku”. Dalam salah satu hadits, Rasullullah saw bersabda “Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali daripada di masjid lain, kecuali masjidil Haram” (HR Bukhari & Muslim). demikian sekilas sejarah yang ku dengar dari pemandu kami di bis tadi malam.

Saat matahari mulai menampakan sinarnya aku ada di dalam tempat cahaya Islam yang pertama bersama orang-orang tercinta, Subhanalloh… “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” berkali-kali ayat itu di tulis di dalam surat Ar-Rahmaan. bagai mana mungkin aku mendustakannya sedangkan aku diberikan kenikmatan yang luar biasa. Ini lah tempat yang terindah ke dua setelah Mekah. Di dunia ini tidak ada tempat se indah ke dua tempat itu.

Tak henti-hentinya aku berdzikir menyebut asma Allah seperti yang di ajarkan mba Irma menjelang keberangkatanku ke tanah Haraam. Luar biasa aku diberikan segala kemudahan, sampai ke Raudhah pun di berikan kelancaran. Bayangkan saja di antara ratusan orang wanita-wanita berbadan besar aku dan mama dengan mudahnya bisa melaksanakan solat dhuha dan hajat tepat di pintu pagar besi yang konon itulah antara rumahnya Rasullullah dan mimbarnya. Rasanya lapang saja tidak merasa terburu-buru karena sepengetahuanku sedikit saja orang yang lalu lalang di depan kami. Wallahualam bisawab tepat atau tidaknya aku solat.
Semoga Allah mengabulkan do’a-do’a kami, Aamiin Yaa Robb’

Setelah melaksanakan salat dhuhur berjama’ah di masjid nabawi, kami pun bersiaap=siap meninggalkan kota madinah untuk meneruskan perjalanan menuju Makkah. Ku lihat suamiku sudah menggunakan kain ihrom. Bis executive itu melaju meninggalkan butiran debu yang keluar dari belakang, bis itu berjalan menuju Bir Ali untuk mengambil miqot jam-jam segini hawa panas mulai terasa menyengat seolah sulur-sulur api yang menjulur keluar dari mulut sang mentari membakar ubun-ubun, ku keluarkan kaca mata hitam dari tas selempang, lumayan pandanganku tidak terlalu silau. Laju bis mulai meningkat menuju jalan bebas hambatan melalui padang pasir yang terbentang luas sejauh mata memandang kaki langit, terlihat rumpun-rumpun tumbuhan padang pasir berwarna hijau kusam bergerak teriup angin. Di Indonesia tidak pernah kulihat rerumputan sekusam ini kalau bukan di musim kemarau. Menjelang matahari terbenam kami pun sampai di Mekah. Subhanalloh… sebuah kota dengan gunung batu, dan padang pasir yang luas kalau bukan karena rahmatMu sedikit sekali menjanjikan hidup sebab disini seteguk air berarti rahmat tetapi di kaki Ismail sebuah telaga zam-zam telah menjanjikan surga milyaran manusia dari seluruh pelosok bumi. Tangan alloh telah menunjukkan kekuasanNya “Fa bi ayyi aalaa=I rabbikumaa tukadzdziban. Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?”aku lumat dalam do’a yamg tak berkesudahan. Setetes air mata jatuh di punggung kain putih yang membalut tangan, kucium tanah Harom, kupeluk erat anganku… syuuuuur… seluruh jiwa ragaku seakan menembus gerbang langit. Yaa Robb tenggelamkan aku dalam lautan cintaMU, basuh aku dengan air kasihMU… deraian air mata sudah tak terbendung membanjiri seluruh jiwa ragaku… samar di kejauhan bangunan hitam bercahaya terkena cahaya bulan sudah terlihat. Nyanyian langit jelas mengiringiku ke pelataraan Masjidil Harom. Subhanalloh… aku bersimpuh dengan lumuran dosa seluas lautan memohon ampunaMU, memohon keridhoanMu… Gaung Allohu Akbar bergetar bersama tangis dan desah nafas jutaan manusia, bulan sabit itu pasti ikut bahagia barangkali ada Jibril mengintip di sana membawa segudang rahmat berpedar bersama milyaran do’a, tepat diatas ka’bah menjulang ke lazuardi barangkali ada Arasy, disana pasti ada jannah. Allohu Akbar… bergema di seluruh relung jiwaku… Yaa Robb berilah kemuliaan kepadaku, kepada mamah, kepada suami, kepada anak-anak dan turunan-turunanku sebagai mana orang-orang terdahulu yang Engkau beri kemuliaan, Aamiin…

Note:
sakaba-kaba = terbawa yang tidak-tidak dalam arti negatip.
Pustaka:
1.Al-Qur’an dan terjemahannya (Terjemahan Departemen Agama, 1990)
2.Quantum Ikhlas (karya erbe sentanu, Elek media komputindo, 2011)
3.Bekal Berbuat Baik (karya Dr H Entjep hadjar Sp, THT, Pengajian Tawakal Jakarta 2012}
4.Al-Ghajali, Menjelang Hidayah (Bandung Mizan)
5.Cordova Family (smart Umroh 1431H)

persembahan untuk ibu guruku yang sudah hampir 4 tahun membimbing untuk berdzikir, juga untuk sahabatku Dedah hamidah yang tidak pernah bosan-bosannya mengingatkanku tentang kebaikan. Tulisan ini tidak ada artinya apa-apa dibanding ilmu yang telah di berikannya padaku. Semoga Alloh memberikan keluasan ilmu yang tiada terhingga kepada mereka berdua. Aamiin…

Cerpen Karangan: Susy
Facebook: susy lesmanawati Suganda

Cerpen Kembali Ke Titik Nol (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hawa-Hawa Berharga

Oleh:
“Wahai Manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) nya; …….” (An Nisa’, 1). Kepalaku tertunduk kaku

Saudara Shiratal Mustaqim

Oleh:
Namaku Muhammad Akbar Madinah. Bersekolah di SMPN Perjuangan dan duduk di kelas 8. Aku mempunyai 3 kawan yang bernama Fasmi, Zika, dan Vero. Mereka tiga kawan yang akrab denganku

Fi Sabilillah

Oleh:
Malam yang sunyi bersama angin yang menari-nari memeluk diriku. Sentuhan angin yang kian menembus kulitku sampai tulang belulangku. Aku termangu menatap lurus, diam membisu tanpa suara, aku tak tau

Pemuda Idaman Islam

Oleh:
Mengkilat kartu memancar ketika seorang pemuda menunjukan kartu pelajar. “AKU kini sudah resmi menjadi murid sekolah menengah atas” katanya, sambil memperlihatkan kartu pelajar yang baru diperolehnya dari ruang tata

Sakit Hati Yang Luar Biasa

Oleh:
Di setiap pagi kujumpai orang-orang yang kusayang, hari-hari kujalani dengan keceriaan dan kesedihan yang bergiliran mengiringi jalan hidupku. Aku tahu aku tidak sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik allah swt,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *