Kerudung Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 30 October 2018

Namaku Shilla, aku baru saja meninggalkan kehidupan Pesantrenku dan bersiap untuk menjalani masa putih abu-abu di lembaga pendidikan formal. Berharap menemukan suasana yang baru dan menarik. Namun kenyataannya tak seindah yang kubayangkan. Di sekolah ini gadis yang berkerudung bisa dihitung dengan jari. Jelas sekali aku merasa tak nyaman, karena aku juga berkerudung. Aku merutuki diriku sendiri yang ternyata salah memilih sekolah. Hijrah dari Pesantren menuju sekolah formal memang terasa aneh bagiku. Aneh dalam segalanya, baik lingkungan pergaulan maupun cara berseragam. Namun aku mencoba untuk menyesuaikan semuanya.

Sudah 2 minggu aku berada di sekolah ini, namun aku sudah cukup mempunyai banyak teman, salah satunya adalah teman sebangkuku, Acha. Menurutku ia memiliki pribadi yang baik dan santun, sekalipun ia tidak mengenakan kerudung. Acha juga sangat pintar di semua mata pelajaran. Kenyamanan akan terasa saat kita menemukan lawan bicara yang senada dengan kita. Begituah yang aku rasakan, perlahan aku mulai terbiasa.

Jam pelajaran pertama sudah dimulai dan Acha belum juga datang. Padahal tidak biasanya ia datang terlambat, kalaupun dia tidak masuk maka pagi-pagi sekali surat izinnya akan diantar ke kelas oleh satpam. Namun tidak untuk saat ini. Tidak ada kabar darinya, hingga saat Guru mata pelajaran pertama memasuki ruangan. Aku diam. Kosong. Pikiranku mengembara ‘Ke mana dia??’.

Tak disangka hari ini jam pulang sekolah dicepatkan, dikarenakan para dewan guru ada rapat mendadak. Aku pun bergegas pulang ke rumah, teringat sahabatku yang tak masuk sekolah hari ini. Aku memutuskan untuk mampir dulu ke rumahnya, bermaksud menanyakan kepada orangtuanya mengapa ia tidak hadir di sekolah hari ini. Lagipula jarak antara rumahnya dengan rumahku berkisar 15 meter. Sesampai di rumahnya aku langsung mengetuk pintu, tak lama kemudian wanita cantik bertubuh ramping dan sangat anggun muncul dari balik pintu dan menyambutku dengan ramah. Benar, itu adalah mamanya Acha.

“Ada apa nak Shilla? Kok tumben sekali pulang sekolah mampir?, Acha nya mana?”, tanya wanita itu. Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya yang menanyakan Acha di mana. Aku pun mengurungkan niatku menanyakan putrinya itu, karena takut akan membuatnya khawatir.
“Oh iya tante, enggak kok, mau nitip salam aja buat Acha nya, tolong sampaikan kalau buku catatan saya besok tolong dibawa. Tadi sebenernya mau SMS aja, tapi baru ingat kalo lagi gak punya pulsa tante. Sekali lagi maaf ya tante? Maaf merepotkan..”, akhirnya aku terpaksa berbohong.
“Oh iya nak Shilla, nanti tante sampaikan.”
“Kalau begitu saya pamit dulu ya tante, Assalamualaikum..”, ujarku sembari mencium tangan wanita itu.
“Iya, wa’alaikumsalam..”

Selama perjalanan menuju ke rumahku, aku bertanya-tanya di manakah ia. “mengapa mamanya tidak tahu? Apakah Acha sengaja membolos sekolah? Tapi untuk apa ia membolos? Padahal sepengetahuanku Acha adalah seorang yang tidak pernah berbuat yang aneh-aneh. Aku harus segera mencari tahu tentang hal ini. Ya Allah, bantulah hamba-Mu ini mencari kebenaran.”, gumamku dalam hati.

Sesampainya di rumah, aku mencoba meng-SMS Acha, mencoba menanyakan apa yang sedang terjadi padanya.
Ass..
Cha, kenapa kamu gak masuk sekolah?

Tidak lama kemudian setelah aku mengirim SMS pada Acha, kakakku menelepon, ia mengatakan bahwa kali ini ia akan pulang malam karena banyak tugas yang harus diselesaikan untuk besok, ia juga mengatakan agar aku mengatakan hal ini pada Mama dan Papa. Karena kakakku sudah biasa pulang malam, aku pun hanya mengiyakannya saja. Aku lalu menutup telfonku. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada pesan masuk. tertera nama Acha di display ponselku. Aku segera membaca pesan darinya.

Waalaikumsalam..
iya, aku ga sempat kirim surat, ntar tolong kabari tugasnya yak?

‘Ia berbohong, kenapa..?’, gumamku. Tak terasa setetes air mataku menetes membasahi pipiku.

Jarum jam terus berputar, melewati angka demi angka. Diluar sana, senja semakin meredup. Malam semakin terlihat jelas. Mama dan Papa belum pulang. Aku sendirian. Keheningan mulai merayapi dinding rumahku. Aku teringat masa-masa saat aku berada di Pesantren. Tiada mengenal sepi, semua dilakukan bersama-sama. Akhirnya aku memutuskan untuk mengaji demi menghibur hatiku yang gundah. Begitu pesan Bu Nyai yang disampaikan kepadaku saat aku akan meninggalkan Pesantren. Ayat demi ayat Al-Qur’an kubaca dengan irama sebisaku, kubaca perlahan dan kuresapi maknanya. Air mataku menetes saat membaca Ayat yang menerangkan tentang ‘Celakanya orang-orang yang Zalim’.
Artinya: Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). (Q.S. 11 Huud 106).

Ponselku berdering, pertanda ada panggilan masuk. Aku lalu menghentikan bacaan Al-Qur’an dan segera kuangkat ponsel ku. Suara Mama terdengar di ujung saluran.
“Assalamu’alaikum, sayang, Mama dan Papa gak bisa pulang hari ini. Malam ini akan menginap di hotel. Maaf ya sayang, take care. Assalamu’alaikum”. Hufftt.. Sempurna lah kesendirianku malam ini.

Masih pukul 8. Akhirnya, aku nekat untuk berjalan-jalan ke luar rumah. Kususuri jalan setapak demi setapak. Kendaraan lalu-lalang dengan cepat di jalan. Terlihat dari kejauhan, Nampak sepasang kekasih berjalan terhuyung-huyung. Mabuk. Kemudian sang gadis nampak terjatuh, aku langsung berlari menghampiri mereka.
Betapa terkejutnya aku, saat aku melihat ternyata pasangan ini adalah Kakakku, Ka Rio dan Acha. Acha sudah tak sadarkan diri, kakakku menggendongnya. Aku pun segera mencegat taxi yang lewat, kami buru-buru pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, kakak segera masuk dan membaringkan Acha di sofa ruang tengah. Aku duduk, diam tanpa kata. Hati kecilku menggumam lagi ‘Pasti ada sesuatu di antara mereka’. Setelah suasana agak hening aku pun mulai angkat bicara.

“Kak, kenapa Acha bisa ada dengan kakak?”. Kakakku diam tak menjawab, ia tertunduk.
“Kak?? Jawab aku”, aku mendesak.
“Kakak!! Jawab aku kak! Jangan bohongi aku! Aku tahu kakak menyimpan sesuatu!”, aku membentak dengan tegas. Acha tersadar, mungkin karena bentakanku yang terlalu keras, sehingga ia terusik.
“Shill.. maafkan aku..”, ujarnya dengan suara lemah dan parau. Aku duduk dikursi, menatap mata mereka, siap mendengar penjelasan dari kedua makhluk-Nya ini.
“Shill.. maafkan kakak yang telah mempermalukanmu dan mempermalukan keluarga ini. Kakak juga telah bersedia tidak kamu anggap sebagai saudara. Maafkan kakak yang tidak bisa menjadi contoh yang baik untukmu”, tutur kakakku, nada suaranya tulus. Aku bergeming.
“Maafkan aku juga yang tidak bisa menjadi teman baikmu, aku memang tidak pantas berteman denganmu Shill, aku terlalu kotor untuk semua ini..”, Acha menambahkan. Wajahku memanas mendengar pernyataan ‘Kotor’.
“Cukup!! Aku benci penasaran, ceritakan padaku. Semuanya!”. Aku membentak mereka.

“Ya.. sebenarnya aku dan Acha sudah kenal sejak kamu masuk ke sekolah itu, semua ini adalah salah kakak. Diam-diam kakak mengambil Hpmu dan mencuri nomor Acha. Setelah itu kami pun sering pergi keluar malam berdua, dan hingga akhirnya kami pun jatuh cinta, dan terjadilah hal itu, hal yang seharusnya tidak dilakukan..”, jelas kakakku. Perasaanku benar-benar hancur. Aku paham apa yang dikatakannya. Aku merasa benar-benar terkhianati.

“Shilla..”, Acha menyebut namaku, namun aku menyelanya.
“Cukup Cha, aku kira kamu adalah teman yang baik untukku. Kejadian demi kejadian membuatku semakin jera untuk bersekolah dan satu-satunya harapanku untuk menghapuskan ketakutan itu adalah kamu, tapi kenapa kamu tega mengkhianatiku? Bahkan dengan kakakku sekalipun?. Kak, aku sangat tidak percaya kakak tega mengkhianatiku lagi. Dulu kakak sudah berjanji untuk tidak akan masuk kedalam dunia kelam itu dengan membujukku memberi kerudung biru ini?, untuk apa semua ini kakak lakukan jika pada akhirnya semua ini?.”, aku meremas ujung kerudung berwarna biru pemberian kakak yang aku kenakan. Aku menangis tersedu-sedu. Tak percaya bahwa 2 insan ini melakukan hal yang sangat diharamkan oleh agama.

Aku menghela nafas panjang dan mulai berkata dengan tenang “Kak, aku sangat berterima kasih karena telah memberiku kerudung biru ini saat ulang tahunku, sekaligus kerudung ini juga menjadi saksi atas janji kakak kepadaku untuk tidak kembali ke dunia kelam itu, namun pada kenyataannya kakak sendiri yang kini tengah bersilat lidah di hadapanku dan di depan kerudung ini..”, aku berhenti. Kupandang Acha.

“Cha.. terimakasih karena telah menjadi teman baruku yang baik dan membuatku terbiasa dengan lingkungan sekolah ini, sekalipun semua ini pada akhirnya hanyalah bayangan di tengah sinar kegelapan. Pada akhirnya aku tahu bahwa mungkin Allah membawaku pindah ke sini dan merasakan hidup dengan kalian adalah untuk ini, untuk belajar dan tahu bahwa dunia ini penuh dengan kehidupan.. mungkin selama ini sudah cukup aku memendam semuanya, aku tidak akan pernah menyesali segala cerita yang pernah aku rasakan, aku sangat bersyukur.”, tuturku panjang lebar.

“Kak, maafkan aku yang kali ini tidak bisa menutupi lagi semua kebohongan kakak pada Mama dan Papa. Bicaralah sendiri pada mereka. Tanggunglah semuanya”.
“Shilla.. kakak mohon jangan seperti ini, kakak butuh kamu.”
“Tidak kak, kakak yang sudah jauh lebih bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dosa pun semua menanggung sendiri-sendiri. Maafkan aku kak, aku tidak bisa lagi bersama kalian, aku ingin hidup sendiri saja, belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan yang jauh lebih berada di tangan agama. Biar Allah yang menjadi guruku..”, aku menangis terisedu seraya berjalan kearah pintu. Dengan cepat kakak mencegahku, namun kemudian nafasku terasa berat dan tersengal, jantungku terasa cepat memompa dan perlahan-lahan semakin melemah hingga aku tak bisa berdiri, nafasku kembang-kempis. Yah! Mungkin saja penyakit jantung yang selama ini kuderita dan tak seorangpun tahu tentang ini, kini hadir menemani saat aku merasa terluka oleh keadaan. Perlahan demi perlahan aku tak bisa bernafas dan aku merasa tertidur, entah untuk sementara atau untuk selamanya.

THE END

Cerpen Karangan: Maudy EL-J (Siti Juniafi Maulidiyah)
Blog / Facebook: Maudyelj.wordpress.com / Maudy El J

Biodata Penulis
Nama lengkap: Siti Juniafi Maulidiyah
Nama Pena: Maudy EL-J
Alamat: Jl. Jambangan II RT: 08, RW: 02, Kota Pasuruan, Jawa Timur
Tempat, tanggal lahir: Pasuruan, 27 Juni 1998
Email: juniafi.sch[-at-]gmail.com

Cerpen Kerudung Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebesar Biji Zarah

Oleh:
Waktu menunjukkan bahwa senja segera tiba. Di ruangan sederhana, terlihat jelas barang-barang berserakan, sudah, sangat tidak beraturan. Menggambarkan sang pemilik ruangan, persis. Belum terlalu gelap saat itu, biasan cahaya

Idealis Sang Pendaki

Oleh:
Embun pun masih menempel di dedaunan, sinar sang mentari masih tertutup awan pagi, belum ada tanda-tanda terik hari ini. Di lapangan hijau pagi sekali sudah ramai pecinta olahraga, sibuk

Anak Pesantren

Oleh:
Hari sudah terlampau sore, mentari sebentar lagi akan tenggelam. “Teeett. . . teeett. . .”, terdengar suara bel yang berarti waktu istirahat sudah berakhir. Seorang anak laki-laki yang menuntut

Ketika Si Tomboy Berkerudung

Oleh:
Ratu Anggitha Jovintha namanya. Biasa dipanggil Anggi (sekolah, teman seperumahan) atau Githa (keluarga). Dilihat dari namanya, kalian berpikir bahwa Anggi sosok yang Feminin, bukan? Jika berpikiran seperti itu, kalian

Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1)

Oleh:
Ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Dasar (SD). Ya… berbekal seragam merah putih yang sudah kucel warisan dari kakak pertamaku Wahyu, serta satu buah seragam baru yang dibelikan orangtuaku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kerudung Biru”

  1. nabila says:

    kak apa unsur Intrinsik/amanat dari cerita ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *