Kerudung Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

Aku berjalan dengan riang, rambut dan bajuku terkibar oleh angin dan orang-orang yang saling beramah-tamah kepadaku. sampailah aku di sekolahku “SMAN DAMAI MEKAR”. Ya itulah sekolahku,. baru saja aku ingin melangkahkan kakiku masuk ke sekolah… “AQIRAAAAA…!!!!” sebuah teriakan yang agak kencang memanggilku dari arah belakang, aku menoleh. Rupanya yang memanggilku adalah Annisa. Aku tersenyum sambil berucap, “Ada, apa Annisa? kenapa kau berteriak memanggilku?”
“Ahh… hehe… aku juga tak tahu. oh ya Qira sekarang kan ada tausiah ustadzah Aisyah. Kok kamu malah nggak mengenakan kerudung?”.
“Ooohhhh… nggak ah… males pake kerudung, panas… lagian aku males ngedengerin ceramah Bu Aisyah…” jawab Aqira.
“Qira… Qira… kamu udah dinasehatin berapa kali juga… nggak akan pernah ngerti ya…, coba aja kamu bisa tahu manfaat mengenakan kerudung. Dan apa gunanya…” aisyah berucap.
“Ya udah yuk! dari pada cerita tentang kerudung. Mendingan kita masuk ke kelas aja dulu…”
Mereka pun masuk ke kelas XII IPA 2.

Saat bel berbunyi, anak-anak langsung berdo’a, tadarus al-qur’an, dan literasi. Setelah itu mareka langsung menuju mushola kawasan sekolah mereka. Untuk mendengarkan tausiah ustadzah aisyah dan ustad Hadi.
Saat mereka duduk. Hanya Aqira lah yang selalu mereka pandang, karena tidak mengenakan kerudung. Bu aisyah, yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.

Aqira bergumam, “ihh… kenapa sih… mereka. Memandangku seperti itu?!. aku kan nggak suka!”. Sambil bergumam sendiri, aqira memasang wajah jutek dan cemberut.
Annisa yang berada tepat di sebelah Aqira, langsung berbicara. “ehhh… qira… kita keluar sebentar yukkk… aku kebelet mau buang air kecil…” ajak Annisa.
“Ah… ya udah! ayo kita ke kamar mandi..” Aqira menjawab.

Saat di lapangan, Annisa mencegahnya. “tunggu..!! qira… aku mohon kamu untuk mengenakan kerudungku”. Annisa mengeluarkan kerudungnya dari kantong rok panjangnya.
“Aku sengaja membawa, kerudung dua helai, untukmu. Aku sangat merasa risih, ketika teman-teman memandangmu dengan seperti itu. Jika kau masih ingin dijelek-jelekan dan tak disukai orang. Sekarang juga tolong kenakan kerudung ini… aku mohon Qira…!”.
Aqira yang melihat apa saja yang dilakukan sahabatnya. Hanya membulatkan mata lalu tersenyum tipis. Tangannya bergerak untuk mengambil kerudung yang diberikan annisa. Lalu aqira langsung berbicara, “hehe… makasih banyak… Annisa. Kau… memang sahabat baikku…”.

Mereka pun kembali ke mushola. dan langsung duduk. Untung ceramah ustad Hadi dan ustadzah Aisyah belum dimulai. saat mereka kembali, semua yang ada di sana langsung tersenyum.
Acara tausiah ustad dan ustadzah pun dimulai. Materi yang sedang diajarkan oleh bu Aisyah adalah tentang berkerudung. Semua anak-anak mendengarkan dengan baik, begitu pun Aqira.
Aqira bergumam dalam hati, “kenapa? baru kali ini aku mendengarkan ceramah, yang sangat menarik perhatianku. Padahal aku sudah sangat sering mendengarkan ceramah. Tapi yang kali ini kenapa sangat berbeda ya…?!”.

“Jadi… kita sebagai muslimah yang baik harus menutupi aurat kita. Dengan berkerudung dan mengenakan pakaian yang menutupi aurat kita. Dan allah pun berfirman “barangsiapa yang menutupi aurat mereka dengan sebaik-baiknya, maka mereka adalah penghuni surga. Tetapi barangsiapa yang memperlihatkan bentuk tubuhnya (auratnya) maka ia adalah orang-orang penghuni neraka jahannam.”
Bu Aisyah melanjutkan ceramahnya “kita harus menutupi aurat kita dari bagian tubuh, leher, kepala, rambut, kaki dan lain lain. Yang tidak ditutupi hanyalah telapak tangan dan wajah. Sebagai muslimah yang baik. Jagalah sikap, bertutur katalah yang baik, jaga kesopanan, mempelajari agama dan lain lain.”
“Menutupi aurat itu sangat penting, dan harus dilakukan saat sudah baligh atau pun belum. Jika kalian ingin setiap apa pun dimudahkan oleh allah. Maka laksankanlah kewajiban kalian sebagai mulim dan muslimah…”

Bu Aisyah menutup acara tauziahnya. Aqira masih saja termenung, mencerna setiap kata-kata dan kalimat yang ditausiahkan oleh bu Aisyah.

Saat ceramah sudah usai. Semua siswa dan siswi bubar, dan segera memasuki kelas masing-masing. Untuk memulai pelajaran berikutnya.
Pada saat Aqira dan Annisa baru saja berjalan. Tiba-tiba saja bu Aisyah memanggil mereka, “Aqira… Annisa… tolong kemari dahulu. Ada yang ingin ibu sampaikan kepada kalian berdua.”
Aqira dan Annisa yang dipanggil langsung menghampiri bu Aisyah. “Ada apa bu memanggil kami? apa yang ingin ibu sampaikan kepad kami?”
“Ibu, sangat senang sekali sewaktu Aqira tadi, mengenakan kerudung. Yang pastinya itu adalah karena ajakan dari Annisa… benar, begitu bukan?…” Ibu Aisyah menarik nafas sejenak, lalu melanjutkan bicaranya, “ibu, mohon Aqira… walaupun berat, apapun harus kamu tanggung. Itulah kewajiban muslimah. Untuk menjaga auratnya. Tolong mulai sekarang ibu minta kamu untuk mengenakan kerudung. Seperti yang menjadi dalil dalam menutup aurat ini… Apa kamu ingin segera menutup auratmu..?”
Aqira langsung menjawab, “ya… insya allah bu, saya akan memperhitungkannya lagi untuk yang lebih matang untuk bisa menjadi keputusan saya”. Ibu Aisyah tersenyum kecil “jika begitu, ibu mulai merasa agak tenang. Ibu sebagai guru di sini, memang seharusnya mendidik kamu seperti ini. Jadi mohon maaf saja Aqira jika ibu memaksamu seperti ini”.
Setelah mereka berbincang-bincang lagi dengan bu Aisyah. Mereka langsung bergegas ke kelas mereka yang sudah sangat ramai.

Waktu sekolah, sudah usai. Banyak siswa dan siswi yang berlalu lalang di area sekolah. Yang salah satunya adalah Aqira yang sedang berjalan pulang dengan muka yang masam.
Pikiran Aqira mengulang setiap apa yang ia dengar di tausiah bu Aisyah di mushola, tadi pagi. Ia, tetap fokus terhadap pikirannya sendiri, dan tidak sadar jika ia berada tepat di depan masjid. Secara tiba-tiba ia mendengarkan alunan nada yang sangat indah yang mampu membuat kita terbuai oleh keindahannya… ya itulah suara azdan yang sedang dikumandangkan.

Aqira menatap bangunan besar yang merupakan tempat ibadah yang ditempati untuk orang yang baragama muslim. Lama ia menatap, ia pun beralih menatap beberapa orang yang mengenakan mukena, kerudung, baju koko dan sarung. Yang sedang memasuki masjid.
Ia terus mengamati dan mengamati. Sampai pada akhirnya ia pun tersadar, dan ikut masuk ke masjid untuk melaksanakan sholat. Saat aqira menjalankan sholat, ia terus memikirkan apa yang telah terjadi pada hari ini. Dan saat sholat berjamaah usai, ia memilih untuk berdo’a dan berdzikir.

“YA… ALLAH… YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG. Berikanlah aku sebuah jalan yang lurus. aku ingin segera merubah segala apapun yang telah aku perbuat selama ini… aku telah membiarkan auratku terbuka selama ini… ampunilah.. hamba… berilah hamba petunjuk yang membuat hamba bisa mengerjakan sesuatu dengan mudah… AAMIIN…
Kuakhiri do’aku dengan berdzikir. Setelah semua usai aku menuju rumahku untuk pulang. Ya… sekarang aku sudah mempunyai tekad yang sangat kuat… aku akan segera menjaga auratku… tubuhku… dan selalu berada di sisi allah swt. Ya… rupanya memang benar… aku akan segera menjaga auratku… untuk bisa mendapatkan kerudung terindah di mata allah swt…”

Cerpen Karangan: Nur Habibah
Haii… aku senang sekali menulis untuk mengisi waktu luang….
Teruslah berkarya!!… demi masa depan nanti…!!!

Cerpen Kerudung Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Uzlah Adalah Solusi

Oleh:
Di petilasan hanya ada cakil dan abi. Mereka berdua lagi asyik membaca buku-buku yang ada di petilasan. Di petilasan itu banyak sekali buku khazanah islam dan buku novel filsafat

Kau Hebat Nak

Oleh:
Sinar matahari masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun menyadari, Jika aku… Aku kesiangan!!. Aku pun bergegas bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi. “Aduh, Aku

Ku Pilih Kekasihku atau Agamaku

Oleh:
Vika Laura terlahir dari keluarga yang sederhana. Tepatnya di Banyumas, dia di kenal seorang gadis yang baik, ceria, pintar dan pandai menyanyi bahkan anak yang rajin mengaji. Dari kecil

Senyum Ketabahan

Oleh:
Sungguh menyenangkan di hari ini, namun suasanan serasa dingin bagaikan di dalam kulkas, “mengapa dingin yah, padahal cuaca terang benderang, tiada tampak tanda-tanda hujan…!” seraya berjalan menelusuri taman dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *