Kesempatan Kedua (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 June 2015

“..allah huakbar allah huakbar…” adzan subuh yang terdengar keras dari masjid kecil di dekat rumah sunarto langsung membangunkan si sunarto yang merupakan duda dengan satu orang anak ini dari tidur nyenyaknya. Walaupun mata terasa berat karena dia tidur baru sekitar tiga jam setelah lembur semalam, tapi ia berusaha melangkahkan kakinya ke sumur yang berada di luar rumah untuk mensucikan dirinya dengan air wudhu.
“hayya alal falaah…”
“laa haula walaa quwwata illa billah” jawab Sutarno, tapi tak sampai dua detik setelah ia menjawab adzan, terdengar suara remaja tanggung dengan kalimat “..nanti dulu laaah.. mumpung masih muda..” Yang sangat keras dan berasal dari dalam kamar di rumah sutarno.
“Apaan nih si rama! Bukannya jawab adzan, malah teriak-teriak yang gak karuan, habis mab*k barangkali nih anak semalam!” gerutu sunarto kepada anak laki-lakinya dalam hati. Setelah selesai mengambil wudhu, sunarto menuju kamarnya untuk sholat. Beberapa langkah menuju kamarnya, tak sengaja ia melihat pintu kamar rama terbuka dan melihat anaknya terbaring di dipan tanpa menggunakan baju. Ia pun menghampiri anaknya, bukan karena si rama tidak menggunakan baju, tetapi ia melihat sebuah tato ala anak punk di punggung anaknya.
“woi! Rama!.. sejak kapan kamu punya tato kayak gini?” bentak sunarto, yang langsung membuat anaknya terbangun dan balik membentak “ahh! apaan sih, nih kepala botak! Bentak-bentak gak karuan! Orang enak-enakan lagi mimpi”
“kurang ajar kamu, bapak tanya sekali lagi!, ngapain kamu bertatoan kayak gini? mau jadi preman kamu?”
“oh, tato ini pak, gimana? Keren kan? Bapak pengen juga tato kayak gini? Kalo pengen, ke tempat Tato mang udin aja” Jawab anaknya yang ngelantur. Sunarto menjawab dengan agak santai “Pantesan aja kamu teriak-teriak gak karuan dari tadi malem rupanya kamu habis minum minuman keras tadi malam”.
“kok tau… sih? Padahal aku kan gak kasih tau bapak?”
Ahhh! sudahlah dari pada wudhuku jadi batal karena bicara dengan anak tak tahu diri ini lebih baik aku cepat sholat, pikir jumadi. Ia pun segera keluar dan menutup pintu dengan bantingan yang keras.

Matahari sudah bersinar dengan sempurna, jumadi pun bersiap untuk pergi mencari makan dengan menarik angkot. Namun baru ia melangkah di depan pintu keluar rumah, tiba-tiba handphonenya berdering. Ternyata ibu sunarto menelpon, “assalamualaikum, bu, ada apa? pagi-pagi gini kok nelpon?” tanya jumadi
“gini to, ibu sekarang mau nganterin makanan buat kamu sama si rama untuk makan siang nanti, kan jarang-jarang ibu bawain makanan buat kamu”
“oh gitu” tapi sekarang narto harus narik angkot bu! oh, tapi gak papa lah biarin saya suruh si rama yang bukain pintu buat ibu”
“emangnya si rama gak sekolah hari ini”
“ah, gimana mau sekolah!, tadi malem aja pulang larut banget, matanya merah lagi, habis mab*k barangkali” kalau anak itu suruh kesekolah hari ini, kan malu maluin aja!
“kenapa kamu gak tegur dia to?”
“alahh.. sudah berkali-kali aku tegur si rama, tapi dia malah bentak balik bapaknya, bosan aku menegur anak itu”
“ya sudahlah! ibu lagi pusing sekarang, ibu tutup dulu ya teleponya.”
“iya bu, asalam mualaikum..”
Setelah memberi tahu romi bahwa neneknya akan datang, sunarto pun langsung bergegas berangkat menarik angkot.

Pada saat jumadi tengah mengantar penumpang, tiba-tiba telponnya kembali berdering dan ada nomor tak dikenal menelponya!
“Halo, ini siapa?”
“saya adalah wali kelas di kelas XII sos sma tuna negara, benarkah ini orangtua dari Rama tadianto”
“benar sekali” jawab sunarto.
“bisakah bapak datang ke sekolah besok”
“memangnya ada pak?” tanya sunarto
“ini, rama tadianto ini sudah 10 hari tidak masuk sekolah” memangnya anak ini ada halangan apa pak? tanya wali kelas itu”
“ah.. anak itu! malas saya mengurusnya! sejak ibunya meninggal 5 tahun lalu! Ia berkelakuan seperti anak set*n!”
“jadi bagaiman ini pak? tanya kembali wali kelas itu”
“ah terserahlah! kalau mau berhentikan anak itu silakan aja pak! saya gak peduli! pusing saya mengurusnya!”
sunarto langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam!

Tak berapa lama kemudian! Handphone sunarto kembali berdering, kali ini ibu jumadi mengirim pesan singkat. Alangkah terkejutnya sunarto setelah dibuka pesan yang bertuliskan “to, to ibu sampe di rumah sekarang, kamu cepetan pulang sekarang, si rama sekarang dadanya kesakitan sambil manggil manggil nama kamu, mukanya pucat dan tangannya dingin banget tolong, to pulang sekarang”.
Sunarto yang ternyata juga khawatir dengan anak semata wayangnya langsung bergegas menurunkan penumpangnya secara mendadak dan langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah

Bersambung

Cerpen Karangan: Rahmat Septian
Facebook: Romi Herton
Saya akan menyambung cerita cerpen ini dengan cerita yang diluar perkiraan anda saat ini,
bagi anda yang membaca cerpen ini pasti menganggap bahwa cerpen bagian pertama saya ini mudah ditebak, membosankan, pasaran dan tidak nyambung dengan judulnya. namun Tunggu sampai anda melihat cerita bagian keduanya! Dipastikan anda akan terperangah dengan alur ceritanya! Saya berjanji akan memberikan kejutan cerita di cerpen bagian kedua saya, apabila cerpen saya ini diizinkan untuk tampil di cerpenmu.com ini, saya sangat berterima kasih sekali.
Dimohon kepada admin untuk segera menampilkan cerpen karya perdana saya ini.
Terima kasih

Cerpen Kesempatan Kedua (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terpisahkan

Oleh:
Namaku Keyla. Duduk di bangku SMP kelas 3. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Meyla. Dia adalah kembaranku. Dari di perut ibuku aku sudah berteman dengannya. Dialah satu-satunya sahabatku di

Kenangan di Hari Terakhir

Oleh:
Hai teman-teman!Nama lengkapku, Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah. Aku sering di panggil Nadhif. Ini adalah ceritaku saat berlibur bersama kedua Orangtuaku dan seorang Kakakku. Semoga kalian bisa menikmati cerita ini

Ketinggalan

Oleh:
Pada hari minggu, Fika menemani mamanya ke pasar kecil di sebuah gang. Dari rumahnya menuju ke pasar tersebut mungkin sekitar 2 km sehingga Fika dan mamanya menggunakan motor. Saat

Don’t Give Up Clara

Oleh:
Namanya Clara, ia adalah sahabatku yang sangat pasrah akan segala hal. Ia tidak pernah percaya diri dan merasa terendah dari semua orang. Teman-teman sekolahku pun tak ada yang mau

Tergantung Niat

Oleh:
Lembayung senja menemani langkah Fatin. Bergegas ia menuju ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum yang akan mengantarnya pulang ke rumah. “Lagi dan lagi, saya sendiri.” Ucap Fatin lirih.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *