Ketika Kebaikan Mendatangkan Ujian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 31 March 2016

“Kesabaran adalah senjata seorang muslim dalam menghadapi setiap cobaan dan musibah.” Kata-kata bijak Kakak masih terbayang begitu jelas di telinga ini.

Kakak selalu menasihatiku dengan kata-kata bijaknya ketika aku tidak sabar dalam menghadapi cobaan yang aku alami. Aku ingin sekali menjadi seperti Kakak. Menjadi seorang muslim yang sabar dalam menghadapi cobaan, selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan, selalu bertutur kata dan berperilaku dengan baik, serta menjadi seorang muslim yang taat akan perintah-Nya. Kakak saja bisa seperti itu, kenapa aku tidak? Padahal, kami lahir dari rahim Ibu yang sama, Ayah kami sama, kami dididik dan dibesarkan dengan orangtua yang sama. Tapi, Kakak dilahirkan sebagai Kakakku, dan aku dilahirkan sebagai Adiknya. Aku pasti bisa seperti Kakak, asalkan aku mau belajar dan berusaha untuk merubah sikap dan sifatku agar bisa menjadi seperti Kakak.

“Hayo, malam-malam kok melamun? Mikirin apa sih?” Suara indah Kakak menyadarkanku dari lamunanku yang sedang memandang langit gelap yang dihiasi oleh bintang-bintang. “Eh, Kakak! Nggak kok, aku lagi gak mikirin apa-apa!” Aku menggeleng dengan senyum yang selalu ku ukir untuknya. Kakak mengambil kursi yang ada di depan meja belajarku, lalu, dia menduduki kursi itu setelah memposisikannya tepat di sampingku kiriku.
“Kamu pasti kangen sama Ayah dan Bunda kan?” Kakak menaruh tangan kanannya di atas tangan kiriku. Perlahan-lahan jari tangannya mencengkeram jari tanganku, dari cengkeramannya itu seakan-akan mentransfer sebuah kehangatan yang membuat tangan ini menjadi hangat, padahal sebelumnya terasa dingin.

Aku juga mencengkeram jari tangan Kakak sebagai jawaban dari pertanyaannya tadi. Dia selalu saja mengetahui apa yang sedang ku pikirkan atau yang sedang ku rasakan. Aku melihat Kakak yang sedang memperhatikan bintang-bintang yang berkelap-kelip. Kakak sangat tampan jika dilihat dari dekat, dengan baju lengan panjang yang selalu dia pakai, membuatnya terlihat seperti lelaki yang saleh. Kakak yang sadar diperhatikan olehku langsung menatapku. Sejenak kami saling tatap menatap. “Kakak juga kangen sama Ayah dan Bunda. Bagaimana ya kabar mereka?” Kakak menyandarkan kepalanya di bahuku, tangannya masih tetap mencengkeram tanganku.

Biasanya Ayah dan Bunda selalu mengabariku dan Kakak setiap satu minggu sekali, memberitahu kabar mereka, dan menanyakan bagaimana kabar kami. Tapi, sudah dua bulan ini Ayah dan Bunda tidak ada kabar. Kami sudah mencoba untuk menghubunginya, tapi tidak bisa. Semoga saja mereka dalam keadaan baik, seperti yang selalu aku dan Kakak harapkan. “Sudah malam, tidur Dek!” Kakak beranjak dari duduknya. “Jangan tidur malam-malam ya, nanti kesiangan!” Dia mengecup kepalaku yang dibaluti jilbab merah muda. Aku sangat suka warna itu. Warna merah muda itu cantik, dan melambangkan kelembutan.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Aku selalu merasa seperti Adik kecilnya dulu jika dia mencium kepalaku. Setelah Kakak ke luar dari kamarku, aku langsung menaiki kasurku, lalu menarik selimut, dan mulai memejamkan mataku. Mata ini terbuka saat telingaku mendengar suara alarm handphoneku berbunyi yang bertepatan dengan kumandang adzan Subuh yang baru saja dikumandangkan. Dunia masih gelap, dan dingin menyelimuti tubuhku. Memang enak rasanya melanjutkan tidur sampai siang nanti di saat dinginnya udara di pagi buta seperti ini, tapi aku tidak bisa melakukan itu, kewajibanku sebagai seorang muslim untuk melaksanakan ibadah sudah menunggu, dan segala aktivitas pun akan ku lakukan hari ini.

“Shodakallaahul’adziim..” Aku menghentikan bacaan Qur’anku yang selalu ku baca dengan Kakak seusai salat Subuh. bacaan Qur’anku hampir sedikit lagi khatam untuk yang kesekian kalinya. Karena, selain subuh aku juga selalu membaca Al-Qur’an sehabis salat Maghrib.

Dengan sabar Kakak mengajariku, menjadi guru yang akan membenarkanku ketika bacaanku salah. Bukan hanya membenarkan bacaanku ketika aku salah, Kakak juga mengajariku hukum bacaan yang ada di dalamnya, yang biasanya disebut dengan hukum tajwid. Dengan mempelajari hukum bacaannya, aku menjadi tahu bagaimana cara membacanya. Sehingga, aku tidak akan salah lagi dalam membacanya. Awalnya memang sulit, sangat sulit. Jika kita sabar dalam belajarnya, pasti kita akan bisa nantinya, meski tidak secepat yang kita inginkan. Matahari perlahan-lahan menampakkan wajahnya ke dunia. Dunia yang gelap tadi berubah menjadi terang berkat sinarnya. Sinarnya juga memberi kehangatan untukku yang sedang menikmati sarapan. Nasi goreng buatan Kakak menjadi menu sarapan pagi ini. Meski Kakak laki-laki, masakannya sangat enak, aku saja yang perempuan tidak bisa memasak seenak Kakak. Setelah menghabiskan sarapan, aku pun berangkat ke sekolah.

“Aku sekolah dulu ya, Kak!” Ucapku sambil mencium tangannya.
“Iya Dek! Mau Kakak antar sampai ke kelas?” Tanyanya, karena biasanya Kakak mengantarku sampai ke kelas.
“Tidak perlu, Kak. Aku sendiri saja!” Jawabku.
“Ya udah, Kakak juga berangkat dulu ya. Belajar yang baik ya, Adikku!” Kakak mengelus kepalaku yang dibaluti oleh jilbab putih.
“Siap Kak!” Aku tersenyum manja padanya.

Baru pertengahan jalan untuk menuju kelas, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari arah belakang. Dari suaranya aku mengenali orang tersebut. Setelah aku membalikkan badan untuk melihatnya, ternyata benar itu dia. Dia langsung berlari menghampiriku ketika aku sudah melihatnya. Aku mengerutkan keningku melihat perilakunya itu. Aneh. Tidak biasanya dia seperti itu padaku.

“Maryam, maafkan aku ya?! Aku sudah jahat sama kamu. Aku sadar, sebagai seorang muslim tidak seharusnya aku jahat sama kamu. Aku selalu mengejek-ejek kondisi fisik kamu yang seperti ini, padahal yang tidak sempurna itu aku. Fisikku memang sempurna, tapi hatiku tidak sesempurna hati kamu. Kamu selalu sabar setiap kali aku berlaku yang tidak baik padamu. Tidak pernah menyimpan dendam atas apa yang telah ku perbuat padamu. Sekali lagi maafkan aku, Maryam!” Katanya sambil menggenggam erat kedua tanganku dengan posisi badannya yang bersimpuh di depanku. Aku masih tidak percaya dia mengatakan itu padaku setelah apa yang sudah dia perbuat.

Aku terdiam sejenak. Memperhatikan wajahnya yang bisa ku lihat ada penyesalan darinya. “Tidak apa-apa, Virda! Aku tahu kamu orang yang baik, terkadang kita bisa lupa diri dengan fisik yang sempurna. Tapi, aku bangga sama kamu, kamu sudah mau berubah untuk menjadi yang lebih baik, juga meninggalkan sifat dan sikap buruk kamu dulu.” Aku juga menggenggam erat tangannya. “Jadi kamu mau memaafkanku?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum sebagai pengganti jawabanku. Seketika itu dia memelukku.

“Kamu mau kan menjadi temanku?!”
“Sudah pasti mau Virda! Siapa sih yang tidak mau punya teman?”
“Makasih ya Maryam, kamu baik banget sama aku!” Virda melepas pelukannya.
“Sama-sama Virda, aku senang deh, akhirnya hubungan kita bisa baik seperti ini!”

Mendengar ucapanku tadi, Virda tersenyum padaku untuk yang pertama kalinya. Senyumnya sangat manis. Aku tidak menyangka dia berubah menjadi baik seperti itu padaku. Ternyata benar apa yang dibilang Kakak, kita harus sabar dalam menghadapi sikap seseorang yang tidak baik kepada kita, dengan kesabaran kita sendiri bisa membuat dia berubah menjadi baik kepada kita. Ketika sampai di kelas, semua orang yang ada di dalamnya terheran-heran melihatku datang berdua dengan Virda, terutama Ana yang membelalakkan matanya melihat kami, karena biasanya aku dan Virda itu tidak pernah sedekat ini. Virda mengantarkanku sampai ke tempat dudukku. Sebelum itu, dia membisikkan sesuatu yang membuat diri ini begitu terkejut.

“Mulai sekarang, aku relakan Zidan untukmu!” Begitulah bisikannya. Mataku pun terbelalak setelah mendengarnya. Aku melihatnya yang sedang berdiri di belakangku. Dia menganggukkan kepala dan tersenyum padaku, seakan-akan mengetahui apa yang akan ku katakan padanya. Zidan, ya, Zidan. Seseorang yang membuatku semangat melalui hariku di sekolah selain Kakak, seseorang yang sangat baik denganku selain Ana, dan seseorang yang peduli denganku di saat yang lain acuh padaku. Ternyata Virda bisa merelakannya untukku begitu saja. Padahal, dia selalu mencuri-curi perhatiannya ketika di dalam kelas, selalu tidak suka jika melihatku berdua dengannya, dan selalu bilang bahwa aku tidak pantas dengannya karena kondisiku yang seperti ini.

“Kamu kok bisa datang berdua dia? Maryam, kamu gak diapa-apain kan sama Virda?” Tanya Ana.
“Nggak, Ana, nggak! Aku gak diapa-apain kok sama Virda! Sekarang Virda sudah berubah, dia sudah mengakui bahwa perbuatannya selama ini salah padaku.” Jawabku.
“Serius kamu?” Ana pasti masih tidak percaya dengan perubahan Virda sekarang.
“Serius Ana! Kamu lihat sendiri kan bagaimana sikapnya tadi padaku?” Aku meyakinkannya bahwa Virda memang benar sudah berubah. Ana melihat ke arah Virda yang duduk di baris kedua sebelahku. Virda tersenyum padanya ketika tahu Ana melihatnya. Raut wajah Ana masih terlihat tidak yakin pada perubahan Virda. Tapi dia pasti percaya bahwa setiap manusia bisa berubah menjadi yang lebih baik lagi, begitu juga dengan Virda.

Sebentar lagi dunia akan berubah menjadi gelap, itu tandanya hari menjelang malam. Selagi menunggu waktu salat maghrib tiba yang akan berkumandang 30 menit lagi, biasanya aku habiskan untuk menonton tv atau mengobrol dengan Kakak tentang aktivitas hari ini. Tapi kali ini aku habiskan untuk menonton tv, karena Kakak sedang ada tugas, sehingga tidak bisa mengobrol denganku untuk menceritakan aktivitas masing-masing. Disaat sedang asyiknya menonton tv, tanpa ku sadari ada seseorang yang mengucap salam dari luar sana. Aku langsung membukakan pintu untuk mengetahui siapa yang datang. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui siapa yang datang. Orang yang aku dan Kakak rindukan sekarang berada di hadapanku.

“Ayah, Bunda!” Kataku sumbringah dengan sedikit mengeraskan suara. Aku langsung mencium tangan mereka. Mereka pun sama terkejutnya denganku, tapi mereka terkejut karena melihat keadaanku yang sekarang, yang duduk di kursi roda.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Bunda sambil melihatku dari ujung kaki sampai kepala. Ayah hanya mengusap kepalaku, lalu masuk ke dalam.
“Kakak mana?” Sambung Bunda.

Bunda pasti akan memarahi dan menyalahkan Kakak atas apa yang telah terjadi padaku. Seperti dulu ketika aku masih kecil saat aku memintanya untuk mengajariku naik sepeda. Lututku terluka karena terjatuh dari sepeda. Bunda memarahi Kakak ketika melihatku sedang menangis di pangkuannya dengan lutut yang berdarah. Aku terjatuh dari sepeda bukan karena Kakak, tapi aku yang belum mempunyai keseimbangan untuk menaikinya. Marah Bunda tidak seperti Ibu-ibu yang lain, yang berkata kasar dalam memarahinya, dan mungkin juga memukul. Tapi, Bunda hanya memberi nasihat kepada anak-anaknya ketika marah. Walaupun begitu, aku tetap tidak mau Kakak dimarahi Bunda.

Kakak muncul ketika Bunda menanyakannya. Pasti karena terganggu dengan suaraku tadi. “Kamu gak menjaga Adik kamu, Kak?” Kata Bunda saat Kakak menghampiri kami. Wajah Kakak yang tadinya senang melihat kedatangan Ayah dan Bunda berubah menjadi wajah penyesalannya dulu ketika telat menjemputku sepulang MOPD.
“Bunda jangan marahi Kakak ya?! Apa yang terjadi padaku bukan karena Kakak!” Aku cepat-cepat angkat bicara sebelum Kakak menjawab Bunda. Dia pasti menyalahkan dirinya sendiri setiap kali sesuatu hal buruk menimpaku. Ayah yang sedang beristirahat duduk di sofa langsung menghampiri aku, Kakak, dan Bunda untuk menanyakan apa yang telah terjadi denganku dan Kakak.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi pada kalian selama Ayah dan Bunda tidak di rumah?” Ayah menatap Kakak.
Lagi-lagi aku yang langsung menjawab pertanyaan itu sebelum Kakak menjawabnya.
“Sewaktu pulang MOPD di hari yang terakhir, Kakak telat menjemputku. Aku marah sama Kakak karena itu. Mungkin Allah tidak suka aku marah dengan Kakak, sehingga Allah buat aku menjadi seperti ini.” Aku juga menatap Kakak yang sedang berdiri di samping kananku, yang juga masih memasang wajah penyesalannya.
“Maafin Kakak Yah, Bun! Kakak tidak berhasil menjalankan perintah Ayah dan Bunda untuk menjaga Maryam.” Maaf Kakak karena merasa gagal menjagaku. Bunda mendekati Kakak.

“Maafin Bunda ya Kak? Bunda sudah marah-marah dan menyalahkan kamu. Padahal kamu sudah menjaga Adik kamu dengan baik.” Kata Bunda sambil mengelus lembut bahunya. “Maafin Ayah juga ya? Kalian jadi tidak terurus dengan baik oleh kami karena pekerjaan kami.” Ayah juga meminta maaf karena sibuk dengan pekerjaannya.
“Gak apa-apa Yah! Ayah dan Bunda melakukan semua itu juga kan untuk aku dan Maryam. Kami mengerti kok!” Kakak tersenyum, memberikan isyarat kepada mereka bahwa kami baik-baik saja.

Hubungan keluarga kami menjadi harmonis seperti dulu lagi setelah sekian lama berpisah. Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Semua ini bagaikan sinetron yang sudah ditentukan jalan ceritanya yang endingnya bahagia. Aku pikir Virda tidak akan baik denganku atas apa yang sudah dia perbuat kepadaku. Namun ternyata aku salah, dia meminta maaf atas sikap buruknya selama ini. Dan kami pun kini berteman baik. Ternyata Allah akan memberikan kebahagiaan setelah kita berhasil melewati setiap ujian yang diberikan-Nya kepada kita, begitu juga yang aku dan Kakak alami. Ujian yang membuat kita lebih kuat dalam menjalani hidup ini dan sabar menghadapi setiap masalah yang akan datang.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Ketika Kebaikan Mendatangkan Ujian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


B Melt

Oleh:
Jika ingin tahu bagaimana dia? Seperti apa dia?, apakah punya sifat peduli atau biasa aja atau malah cuek tidak peduli antar satu dengan yang lainnya. Mengetahui kebiasaan dia, mengetahui

Salam Untuk Dunia

Oleh:
“Seseorang yang menjadi budak dari hawa nafsunya tidak dapat mengisi hatinya dengan ingat kepada Allah, maka dengan segera dia kehilangan kebijaksanaan. Al-Qur’an merujuk orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang

Apatah Arti Namaku?

Oleh:
Dua puluh tiga tahun yang lalu menjadi momen bahagia bagi kedua orangtuaku. Keduanya melakukan beberapa tradisi kehamilan dalam adat Jawa seperti tujuh bulanan atau yang sering disebut “Tingkeban/mitoni”. Tingkeban/mitoni

Ketika Doa Ibu Menembus Langit

Oleh:
Terik matahari menyinari kampung itu. Allahu Akbar, Allahu Akbar… Allahu Akbar, Allahu Akbar! Siang itu, terdengar naungan suara Adzan Dzuhur. Terlihat sebuah rumah yang bangunannya tidak terlalu besar. Seorang

Serambi Kemuliaan Hawa (Part 1)

Oleh:
Di ufuk barat, kitab yang terbentang mewujudkan ayat-ayat kauniyah terindah milik-Nya, dimana jingga mengambang seolah menaungi gugusan bebukitan dari ujung utara sampai ke selatan yang menjadi benteng barisan minang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *